jump to navigation

Perempuan Muslimah Tak Boleh Mengenakan Jilbab di Sekolah-Sekolah Jerman December 29, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , ,
trackback

Syabab.Com – Barat kembali mengebiri hak-hak asasi manusia yang biasa mereka gembor-gemborkan. Baru-baru ini, seorang pejabat senior di Jerman mengatakan bahwa perempuan muslim tidak boleh mengenakan jilbab di sekolah-sekolah di Jerman. Pernyataan pejabat senior tersebut menyebabkan perdebatan sengit tentang bagaimana meningkatkan itegerasi dari empat juta Muslim yang tinggal di Jerman, mengatakan “Islam untuk semua.”

Pernyataan rasisme terhadap imigran Turki dan Arab oleh Kepala Bangk Sentral dan juga salah seorang politisi yang paling keras, Thilo Sarrazin terdengar pada awal Oktober dan tidak menyebabkan pengunduran dirinya.

Namun, pernyataannya baru-baru ini yang memberikan proposal untuk menghapus jilbab dari sekolah mendapat dukungan tidak hanya dari politis dari partai, tetapi juga dari para pejabat pendidikan.

“Mereka adalah simbol kekuasaan laki-laki atas wanita,” kata Sarrastin dalam sebuah konferensi mengenai masalah integerasi, yang berlangusng pada 13 Desember di Berlin. “Saya akan melarang jilbab di sekolah-sekolah,” katanya, yang juga menyebut jilbab “bukan religius, tetapi simbol politik.”

Mayoritas Muslim Jerman adalah keturunan Turki yang datang untuk membangun kembali negara ini setelah Perang Dunia Kedua. Pihak berwenang di Jerman semakin khawatir bahwa kurangnya integrasi minorias di dekade mendatang akan mempengaruhi pasar tenaga kerja terampil, dan dengan demikian berpengaru pada perekonomian yang secara tradisional tergantung pada tenaga kerja terampil.

Menurut Sarrastina, perlu untuk memperkenalkan kuota imigrasi yang ketat dan minoritas memerlukan upaya yang lebih besar untuk mengintegrasikan ke dalam masyarakat. Kebijakan tersebut mendapatkan persetujuan dari banyak anggota Partai Konservatif yang berkuasa.

Seorang wakil dari Uni Demokratik Kristen(CDU), Frank Henkel, mengutip contoh sekolah-sekolah umum di Turki, di mana jilbab dilarang, mengatakan jilbab sebagai “penghalang untuk integrasi” harus dicabut dari sekolah-sekolah Jerman.

Menurut Sasha Steur, kepala bidang pendidikan CDU di parlemen di Berlin, “Jilbab adalah suatu bentuk segregasi”. Dia mengatakan bahwa sekolah tampak lebih banyak perempuan Muslim berjilbab, yang memerlukan kekhususan, mencari pembebasan dari pelajaran pendidikan jasmani dan berenang.

Politikus Muslim percaya bahwa wanita dan anak perempuan harus memutuskan untuk diri mereka sendiri apakah harus memakai jilbab atau tidak.

Anggota Parlemen dari Partai Konservatif, Mohammed Badr, yang mewakili kepentingan komunitas Muslim melakukan negoisasi dengan pihak berwenang, yang disebut Kanselir Jerman untuk mengakhiri “budaya perang” yang dilancarkan oleh para politis, seperti Thilo Sarrazin.

“Mereka terus menerus menambahkan bahan bakar ke dalam api, menyalakan sentimen anti Islam di masyarakat,” kara Mohammed.

Referendum baru-baru ini untuk melarang pembangunan menara di Swiss, dianggap sebagai bagian demokrasi ketika mereka menikam kebebasan kaum Muslim untuk membangun menara Masjid. Menurut jejak pendapat baru-baru ini, 44% warga Jerman bersedia untuk berbagi pandangan dengan Swiss yang memilih larangan.

Sementara itu, pekan lalu kampanye anti-Muslim telah mulai digelorakan di Jerman untuk memenangan pemilih menjelang pemilihan daerah di North-Westphalia.

Semakin jelas, demokrasi telah menipu kaum Muslim. Di negeri kaum Muslim mereka menggelorakan demokrasi dan kebebasan. Sementara di negeri Barat, kaum Muslim dikekang kebebasannya untuk melaksanakan perintah Allah Swt. untuk berjilbab. Lalu atas alasan apa, kaum Muslim di negeri ini malah mengikuti kebabasan barat, ketika kebebasan tersebut telah menyebabkan kaum Muslim di barat menderita.

Semakin nyata, kepalsuan demokrasi dan liberalisme yang selalu digembar-gemborkan Barat atas kaum Muslim. Demokrasi dan liberalisme sudah selayakanya dibuang ke tong sampah, dan sudah saatnya kaum Muslim kembali kepada agama mereka, yakni Islam. Kaum Muslim hanya membutuhkan satu kesatuan politik yang akan melindungi para muslimah. Khilafah Islamiyyah insya Allah tidak akan lama lagi. [m/qv/syabab.com]

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: