jump to navigation

Syariah Marketing December 27, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

by Syakir Sula
Kata “syariah” (asy-syari’ah) telah ada dalam bahasa Arab sebelum Al-Quran. Kata yang semakna dengannya juga ada dalam Taurat dan Injil. Kata syari’at dalam bahasa Ibrani disebutkan sebanyak 200 kali, yang selalu mengisyaratkan  pada makna “ kehendak Tuhan yang diwahyukan  sebagai wujud kekuasaan-Nya atas segala perbuatan manusia”.[1]

Kata-kata itu disebutkan pertama kali dalam kitab Keluaran: “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa dan Harun: Inilah kewajiban (ordinance) mengenai Paskah … Satu syari’at (law) saja akan berlaku untuk orang asli dan untuk orang asing yang menetap di tengah-tengah kamu.” (Kitab Keluaran 12: 43-49). Kemudian disebutkan dalam kitab Imamat, “Inilah syari’at tentang korban sajian. Anak-anak Harun haruslah membawanya kehadapan Tuhan  ke depan Mezbah” (Kitab Imamat 6:14). “Inilah syariat tentang tentang korban penebus salah. Korban korban itu ialah persembahan Mahakudus.”[2]

Pada kalam al-Masih yang ada dalam Injil disebutkan, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya’ melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini,satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”. (Matius 5: 17-18).

Kata namus (Taurat) dalam beberapa teks diartikan sebagai syari’ah, sebagaimana kata anbiya’ (para nabi) bisa diartikan sebagai risaalaat (risalah-risalah). Oleh karena itu ada teks yang berbunyi: ”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan syari’ah atau risalah-risalah”. Al Masih a.s. bersabda: “Kalian telah meninggalkan Namus (Taurat) terberat: (yaitu) kebenaran, kasih sayang, dan keimanan.” Yang dimaksud dengan kata Namus oleh al-masih adalah syari’ah dalam pengertian yang umum, yang berarti aturan orang-orang yang dekat. Ia juga diartikan dengan ruh agama dan syari’ah Musa a.s., sebagaimana pemahaman yang sudah ada sebelum risalahnya (al-masih).[3]

Sedangkan kata syari’ah dalam al-Qur’an, disebutkan hanya sekali, yaitu pada surat al-Jaatsiyah,  “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. Al-Jatsiyah, 45:18).

Kemudian kata itu muncul dalam bentuk kata kerja (fi’il) dan derivatnya sebanyak tiga kali:

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kapada Ibrahim, Musa, dan Isa …” (QS. Asy-Syuura, 42:13).

“Untuk tiap-tiap ummat diantara kamu, Kami berikan aturan (syi’ah) dan jalan”.(QS. Al-Maidah, 5:48).

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”. (QS. Asy-Syuura, 42:21).

Kata syariah berasal dari kata syara’a al-syai’a yang berarti menerangkan atau menjelaskan sesuatu. Atau, berasal dari kata syir’ah dan syari’ah yang berarti suatu tempat yang dijadikan sarana untuk mengambil air secara langsung sehingga orang yang mengambilnya tidak memerlukan bantuan alat lain[4]

Syekh Al-Qaradhawi,[5] mengatakan cakupan dari pengertian syari’ah menurut pandangan Islam,  sangatlah luas dan konprehensif (al-Syumul), didalamnya mengandung makna mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari aspek ibadah (hubungan manusia dengan Tuhannya), aspek keluarga (seperti nikah, talak, nafkah, wasiat, warisan), aspek bisnis (perdagangan, industri, perbankan, asuransi, utang piutang, marketing, hibah), aspek ekonomi (permodalan, zakat, bait al mal, fa’i, ghanimah) , aspek hukum dan peradilan, aspek undang-undang, hubungan antar negara dan sebagainya.

Adapun marketing, adalah salah satu bentuk muamalah yang dibenarkan dalam Islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara dari hal-hal yang terlarang oleh ketentuan syariah.

Kami mendefenisi marketing syariah sebagai sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan , penawaran, dan perubahan values dari suatu inisiator kepada stakeholders-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalat (bisnis) dalam Islam (marketing syariah is a strategic business discipline that directs the process of creating, offering, and changing value from one initiator to its stakeholders, and the whole process should be in accordance with muamalah principles in Islam).

Defenisi di atas, didasarkan pada salah satu ketentuan dalam bisnis Islami yang tertuang dalam  kaidah fiqih yang mengatakan, “al-muslimuuna ‘alaa syuruuthihim illa syarthan harroma halaalan aw ahalla haraaman” (kaum muslimin terikat dengan kesepakatan-kesepakatan bisnis yang mereka buat, kecuali kesepakatan yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan  yang haram). Selain itu, kaidah fiqih lain mengatakan “al-ashlu fil muaamalahtil ibahah illah ayyadulla daliilun ‘alaa tahriimihaa” (pada dasarnya semua bentuk muamalah (bisnis) boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan)

Ini artinya bahwa dalam marketing syariah, seluruh proses, baik proses penciptaan, proses penawaran maupun proses perubahan nilai (value),  tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang Islami.  Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimpangan prinsip-prinsip muamalah Islami  tidak terjadi, dalam suatu transaksi atau dalam proses suatu bisnis, maka bentuk transaksi apapun dalam marketing dapat dibolehkan.

Pada bagian ini kami ingin mengeksplor apa yang kami maksudkan dengan marketing syariah. Ada 4 (empat) karakteristik marketing Syariah, yang dapat menjadi panduan bagi para marketer sebagai berikut:

1.    Teistis (Rabbaniyyah)

2.    Etis (Akhlaqiyah)

3.    Realistis (Al-Waqiah)

4.    Humanistis (Insaniyyah)

Sumber: syakirsula.com dikutip dari buku Marketing Syariah, Penulis Hermawan Kertajaya dan Muhammad Syakir Sula


[1] Encyclopedia Britannica, X, (Micropeadia), hal 49. Saya kutib dari Muhammad Said Al-Asymawi, Ushul Asy-Syari’ah (Nalar Kritis Syariah), Kairo, Mesir. 1978

[2] Muhammad Said Al-Asymawi, Ushul As-Syari’ah (Nalar Kritis Syari’ah), Kairo, Mesir, 1978.

[3] Ibid

[4] Lihat Mu’jam Alfazh al-Qur’an al-Karim, Kairo: majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, juz 2, hal 13

[5] Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Op., Cit.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: