jump to navigation

Ketika Hukum Allah Diabaikan (II) November 16, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Posted: 13 Nov 2009 06:01 PM PST

Artikel Terkait:
Ketika Hukum Allah Diabaikan (I)

 

4. Terhalang dari mendapatkan taufiq untuk bertaubat

Balasan yang paling mengerikan yang dapat menimpa seseorang yang mengabaikan hukum Allah di dunia adalah mereka terhalang mendapatkan taufiq untuk melakukan taubat. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari perbuatan mereka yang sangat buruk di sisi Allah.

Al-Quran telah menjelaskan bahwa diantara amal yang dapat menjadi sebab seseorang terhalang untuk melakukan taubat adalah menolak dan bahkan mengubah apa yang diturunkan Allah serta mempelakukan semaunya dengan mengambil dan menolaknya berdasarkan hawa nafsunya. Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang Munafiq merupakan pentolan pelaku perbuatan keji tersebut. Oleh karena itulah Allah swt memperingatkan Rasul-Nya agar tidak bersedih atas perbuatan mereka itu.

“Wahai Rasul janganlah engkau bersedih atas orang-orang yang bersegera dalam kekufuran dari orang-orang yang berkata: kami beriman dengan mulut mulut-mulut mereka namun hati mereka tidak beriman; dan dari orang-orang Yahudi yang memperdengarkan kedustaan dan memperdengarkan terhadap kaum yang lain yang tidak datang kepada mereka. Mereka mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya dimana mereka mengatakan jika engkau diberikan ini maka terimalah dan jika kalian tidak diberikan maka jauhilah. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah fitnah darinya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Allah suatu apapun. Mereka itulah yang tidak dikehendaki Allah untuk disucikan hatinya. Bagi mereka didunia adalah kehinaan sementara di akhirat mereka akan mendapatkan azab yang pedih.” (QS. Al-Maidah [5] : 41)

Ibnu Katsir berkata: “ayat-ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang bersegera melakukan kekufuran, tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mendahulukan pendapat dan hawa nafsu mereka daripada syariat Allah swt.

Adapun maksud firman Allah: “kami beriman dengan lisan mereka namun hati mereka tidak beriman,” artinya mereka menampakkan keimanan dengan lisan mereka sementara hati mereka kosong dan bahkan menentangnya. Mereka itulah orang-orang munafiq yang merupakan musuh Islam dan pemeluknya. Mereka itulah yang menyimpang dari syariat dengan mengambil sebagian dan melakukan perubahan dengan mentakwilkannya maka mereka mendapatkan balasan yang sangat keras yang selaras dengan buruknya dosa mereka.

Sementara firman Allah: “mereka itulah yang tidak dikehendaki Allah untuk disucikan hatinya,” yakni Allah telah memastikan pada mereka bahwa mereka tidak akan bertaubat atas kesalahan mereka dengan menutup taufiq atas mereka sehingga mereka tidak kembali dari kekufuran mereka. mereka itulah yang dikehendaki Allah untuk membersihkan diri mereka dari kekufuran dan kemusyrikan pada diri mereka dengan kesucian dan keteraturan Islam sehingga mereka bertaubat.”

Di sisi lain, orang-orang yang bersedia tunduk pada syariat yang dibawa oleh Rasulullah maka mereka akan bertaubat kepada apa yang mereka lakukan sehingga diampuni dan dikasihi oleh Allah swt.

“Dan tidaklah kami mengutus seorang rasul kecuali untuk ditaati dengan izin Allah meskipun mereka mendzalimi diri mereka sendiri mereka datang kepadamu. Maka memohon ampunlah kepada Allah dan Rasul pun memohon ampun kepada mereka maka niscaya Allah mereka akan menemukan Allah maha penerima taubah dan maha penyayang (64) Maka demi tuhanmu mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau sebagai hakim terhadap berbagai persoalan yang terjadi diantara mereka kemudian mereka tidak menemukan rasa berar pada diri mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan lapang dada.” (QS. An-Nisa [4] : 64-65)

5. Agama yang rapuh dan keimanan yang lemah

Orang-orang yang tidak diatur dengan syariat maka iman mereka melemah berdasarkan kadar pelanggaran mereka terhadap hukum-hukum Islam. Sebaliknya mereka yang beriman dan taat akan mendapatkan kondisi sebaliknya, yakni keimanan yang kokoh. Keadaan tersebut merupakan sifat dari hukum Allah yang mampu memberikan cahaya, memperbaiki akhlak, memudahkan dalam beribadah serta meringankan beban pelakunya. Sebaliknya mereka yang ingkar akan hidup dalam kegelapan, kesulitan, serta dihiasi dengan perangai dan akhlak yang buruk. Allah swt berfirman:

“Allah befrmaksud menjelaskan kepada kalian dan memberikan petunjuk kepada kalian tentang sunnah orang-orang sebelum kalian dan memberikan ampun kepada kalian dan Allah maha mengetahui dan maha bijaksana. Allah menginginkan untuk memberikan taubat pada kalian smentara orang-orang yang mengikuti syahwatnya menginginkan agar kalian berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). Allah bermaksud meringankan atas kalian dan menciptakan manusia dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa [4] : 26)

Menolak syariat sama dengan menolak untuk mendapatkan hidayah, taubat, ketenangan dan keimanan. Tidak ada ayat yang lebih tegas yang menjelaskan bahaya penolakan dari keimanan. Allah swt berfirman:

Maka demi tuhanmu mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau sebagai hakim terhadap berbagai persoalan yang terjadi diantara mereka kemudian mereka tidak menemukan rasa berat pada diri mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan lapang dada.” (QS. An-Nisa [4] : 64-65)

Realitas ummat saat ini telah mengkonfirmasi hal tersebut. Ketika mereka tidak diatur oleh syariat maka keyakinan dan perilaku mereka menjadi buruk. Sebaliknya generasi muslim terdahulu yang tunduk pada syariat, aqidah dan perbuatannya pun kuat dan mulia. Dengan kata lain ketundukan pada al-Quran dan as-Sunnah menjadikan seseorang mulia dari sisi aqidah dan sekaligus perilaku.

6. Mencegah orang lain dari jalan Allah

Mencegah manusia dari jalan Allah merupakan salah satu dampak buruk dari berhukum kepada selain Allah. Di dalam Al-Quran terdapat hubungan yang sangat erat antara kedua hal tersebut. Al-Quran misalnya menggambarkan kaum musyrik Arab yang menolak mengikuti syariat Allah maka mereka pun terdorong untuk mencegah orang-orang untuk masuk Islam. Allah swt berfirman:

“Mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit lalu mereka menhalangi (kalian) dari jalan Allah. Itu adalah seburuk-buruk apa yang mereka lakukan.”(QS. at-Taubah: 9)

Al-Quran juga telah mendeskripsikan ahlu kitab dengan dua kelompok yang saling bertolak belakang. Allah swt berfirman:

“Akibat kedzaliman orang-orang Yahudi maka kami haramkan atas mereka hal-hal yang baik yang sebelumnya dihalalkan atas mereka. (demikian pula) akibat mereka banyak menghalangi dari jalan Allah (160) dan mereka mengambil riba yang telah telah dilarang atas mereka; dan mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil. Dan Kami siapkan bagi orang-orang kafir azab yang pedih (161) akan tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya dari mereka dan orang-orang beriman terhadap apa yang diturunkan Allah kepadamu dan yang diturunkan sebelum kalian, orang-orang yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan orang-orang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Mereka itulah yang akan mendapatkan pahala yang banyak.” (QS. An-Nisa [4] :160-162)

Ayat di atas menjelaskan bahwa para ahlu kitab yang saling memberikan suap kepada para penguasa maka mereka pun memakan riba dan memakan harta manusia dengan cara yang batil. Akibat dari semua itu mereka pun mendapatkan siksa yang pedih. Sementara itu golongan ahlu kitab yang beriman pada syariat mereka kemudian beriman kepada syariat yang haq yang menasakh syariat sebelumnya.

Hal tersebut juga dinyatakan dalam firman Allah swt:

“Orang-orang kafir dan menghalangi dari jalan Allah maka Allah menyesatkan mereka dengan amal-amal mereka (1) dan orang-orang beriman dan beramal shaleh dan beriman terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad dan ia merupakan kebenaran dari tuhan mereka. Allah meghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS.Muhammad [49] : 1-3)

Golongan pertama yang mengikuti setan dan berbagai kebatilannya maka mereka menjadi kafir dan menghalangi orang lain dari jalan Allah. Sementara golongan yang mengikuti kebenaran maka dosa mereka dihapus dan dielokkan perbuatannya.

“Penghuni surga menyeru penghuni neraka: “Kami telah telah mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepada dengan sebenarnya. Apakah kalian mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kalian dengan sebenarnya?” Mereka berkata:” Betul.” Maka penyeru menyatakan bahwa laknat Allah atas orang-orang yang dzalim.”(QS. Al-A’raf [7]: 44-49)

Menyimpang dari syariat Allah dan menghalangi manusia dari jalan Allah merupakan perbuatan keji sehingga pelakunya berhak menerima laknat dan tercegah dari rahmat Allah. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang dzalim (44) yaitu orang-orang yang mencegah (manusia) dari jalan Allah dan berupaya melakukan penyimpangan dan ingkar terhadap Hari Akhir.” (QS. Al-’Araf: 44-45)

Sebagaimana diketahui, para penguasa yang berhukum pada selain yang diturunkan Allah merupakan pucuk pelaku kedzaliman. Ini karena mereka mencegah manusia untuk melaksanakan agama mereka, hidup berpoya-poya dan lupa akhirat. Di saat mereka diperintahkan untuk menyebarkan agama mereka dan diberi amanah untuk menjaga syariat, mereka malah mengabaikan syariat, merintangi dakwah, bahkan menimpakan sanksi yang kejam bagi para penyerunya. Sangat wajar jika mereka mendapatkan laknat karena merekalah yang bertanggung jawab terabaikannya syariat yang sebelumnya berdiri kokoh.[Muhammad Ishak – Lajnah Tsaqafiyyah]

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: