jump to navigation

Dakwah Menegakkan Khilafah: Jalan Untuk Menegakkan Kalimat Tauhid (Meluruskan Kesalahpahaman & Menegakkan Kebenaran) November 5, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , ,
trackback

Dakwah Menegakkan Khilafah: Jalan Untuk Menegakkan Kalimat Tauhid (Meluruskan Kesalahpahaman & Menegakkan Kebenaran)

HTI3

Sumber: seruan-global.com

Syariahpublications.com – Al-Haitsamiy dalam ash-Shawâ’iq al-Muhriqah berkata, “Ketahuilah, para shahabat ra telah bersepakat, bahwa hukum mengangkat imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman nubuwwah (kenabian) adalah wajib. Bahkan, mereka telah menjadikan hal ini sebagai kewajiban yang terpenting. Buktinya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban tersebut, dan menunda penguburan jenazah Rasulullah Saw.” (al-Haitsamiy, ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hal. 17).

Dalam kitab as-Siyasah asy-Syar’iyah, Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah berpendapat, “Usaha untuk menjadikan kepemimpinan (khilafah) sebagai bagian dari agama dan sarana untuk bertaqarrub kepada Allah adalah kewajiban. Taqarrub kepada Allah dalam hal kepemimpinan yang dilakukan dengan cara mentaati Allah dan RasulNya adalah bagian dari taqarrub yang paling utama……”[1] Ibn Taimiyyah dalam kitab yang sama juga menyatakan: “Bahkan, agama ini tidak akan tegak tanpa adanya khilafah Islamiyyah……”[2]

Dakwah Menanamkan Aqidah Adalah Salah Satu Fase Dakwah

Sesungguhnya, tidak ada khilaf di antara kaum muslim, bahwa aqidah adalah sendi dasar yang akan membangun seluruh masalah-masalah cabang (furu’). Kaum muslim juga tidak pernah berbeda pendapat, bahwa seruan pertama yang harus disampaikan ke tengah-tengah masyarakat adalah seruan kepada kalimat tauhid, La Ilaha Illa al-Allah Muhammad Rasulullah. Mereka juga memahami bahwa masyarakat Islam ditegakkan di atas landasan aqidah Islamiyyah. Mereka juga memahami, bahwa tujuan dari dakwah Islam adalah menanamkan aqidah Islamiyyah dan menegakkan syari’at Islam di tengah-tengah masyarakat; sedangkan Khilafah Islamiyyah merupakan satu-satunya thariqah (jalan) bagi penerapan dan penyebaran kalimat tauhid ke seluruh penjuru dunia. Khilafah Islamiyyah bukanlah tujuan dari dakwah, akan tetapi ia adalah thariqah untuk mewujudkan dan merealisasikan tujuan (penyebaran aqidah dan penerapan syari’at Islam).

Sangatlah salah memahami bahwa khilafah adalah tujuan dari dakwah. Tujuan dari dakwah adalah mewujudkan seluruh ajaran Islam baik yang menyangkut aqidah maupun syariah di dalam kehidupan negara dan masyarakat.

Setelah menentukan tujuan dakwah, selanjutnya kita mesti memahami, jalan atau cara untuk meraih tujuan tersebut, sarana-sarana apa saja yang dibutuhkan, dan prioritas apa yang mesti dijadikan agenda utama dakwah Islam.

Sesungguhnya, satu-satunya jalan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan adalah dengan cara menegakkan Khilafah Islamiyyah. Sebab, Khilafah Islamiyyah adalah satu-satunya thariqah syar’i bagi penerapan Islam secara menyeluruh dan penyebaran risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan jihad dan dakwah. Dengan kata lain, jika penerapan Islam secara menyeluruh dan sempurna merupakan tujuan dari dakwah, maka Khilafah Islamiyyah adalah satu-satunya thariqah (jalan) untuk merealisasikan tujuan tersebut. Dengan demikian, agenda utama yang mesti diselesaikan oleh umat Islam adalah tegaknya Khilafah Islamiyyah sebagai jalan bagi penerapan Islam, baik yang menyangkut masalah aqidah maupun syari’at.

Namun demikian, dakwah menyeru tertegaknya Khilafah Islamiyyah tidak boleh diartikan meninggalkan tahap-tahap dakwah sebelumnya yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Dengan kata lain, dakwah menegakkan khilafah Islamiyyah harus diawali dengan tahap penanaman dan pemantapan aqidah, membentuk kelompok dakwah, menyampaikan dakwah secara terang-terangan, kemudian menegakkan Daulah Khilafah Islamiyyah; sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Tahap-tahap dakwah ini harus dijalani seluruhnya, sebagai bentuk ketaatan kita kepada Rasulullah Saw. Oleh karena itu, meskipun prioritas dakwah adalah menegakkan Khilafah Islamiyyah, akan tetapi tahap pertama yang harus disampaikan dan ditanamkan kepada umat adalah aqidah Islamiyyah, baru kemudian hukum-hukum syari’at. Sebab, aqidah Islamiyyah kelak akan dijadikan sebagai asas bagi masyarakat, serta Daulah Islamiyyah yang hendak ditegakkan oleh kaum muslim. Oleh karena itu, langkah-langkah dakwah yang harus dilakukan oleh kaum muslim untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah, atau untuk mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islam harus ditempuh sejalan dengan metode perubahan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Bila kita teliti secara jernih dan mendalam sirah dakwah Nabi Saw, maka akan kita temui bahwa dakwah Nabi Saw melewati beberapa tahapan penting yang satu dengan yang lain tidak bisa dipisah-pisahkan, dan tidak bisa dikatakan bahwa salah satu tahapan itu lebih penting dibandingkan tahapan yang lain. Tahapan paling awal adalah tahapan membina para shahabat dengan aqidah dan syari’at Islam (dakwah sirriyah). Kedua, tahapan menyampaikan Islam secara terang-terangan kepada masyarakat (dakwah jahriyyah). Ketiga, menegakkan Daulah Islamiyyah, yang ditandai dengan peristiwa bai’at ‘Aqabah II; setelah sebelumnya melakukan thalab al-nushrah kepada kepala-kepala kabilah Arab. Adapun nama-nama kabilah yang pernah didatangi Rasulullah saw dan menolak adalah, (1) Banu ‘Aamir bin Sha’sha’ah, (2) Bani Muharib bin Khashfah, (3) Bani Fazârah, (4) Ghassan, (5) Bani Marah, (6) Bani Hanifah, (7) Bani Sulaim, (8) Bani ‘Abas, (9) Bani Nadhar, (10) Bani Baka’, (11) Bani Kindah, (12) Kalab, (13) Bani Harits bin Ka’ab, (14) Bani ‘Adzrah, (15) Bani Hadhâramah (Nama-nama kabilah ini merujuk dari Thabaqat Ibn Hisyam).

Oleh karena itu, dakwah untuk mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islam mesti melewati tahap-tahap tersebut di atas. Dakwah untuk mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islam tidak boleh terhenti hanya pada tahapan pertama saja, yakni penanaman aqidah dan memahami syari’at Islam, tanpa beranjak menuju fase-fase dakwah berikutnya, yakni tahap menyampaikan Islam secara terang-terangan ke tengah-tengah masyarakat, dan kemudian menegakkan Daulah Islamiyyah untuk penerapan dan penyebaran Islam.

Sebagian umat Islam seringkali rancau dalam memahami tujuan dakwah, tahapan dakwah, prioritas dakwah, dan wasilah dakwah. Akibatnya, ada yang menyatakan bahwa menanamkan aqidah lebih penting dibandingkan menegakkan Khilafah Islamiyyah, atau menyatakan bahwa dakwah Rasulullah Saw adalah berkutat dalam masalah aqidah belaka, seraya menyibukkan dan melarutkan diri pada persoalan-persoalan aqidah yang sangat sempit, seperti pemberantasan bid’ah sekitar wudlu, sholat, dan sebagainya. Padahal, penanaman aqidah merupakan salah satu aspek penting, bahkan kunci untuk perjuangan selanjutnya, yakni menerapkan Islam secara menyeluruh dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia. Rasulullah Saw, setelah berhasil menanamkan aqidah di sanubari para shahabat, beliau kemudian memerintah mereka untuk menyampaikan Islam secara terang-terangan, mencari nushrah, hingga kemudian menegakkan Daulah Islamiyyah di Madinah. Oleh karena itu, sangatlah tidak tepat, jika dakwah kaum muslim masa kini hanya terhenti pada tahap penanaman aqidah belaka, tanpa ada usaha sadar dan terencana untuk menyampaikan Islam secara terang-terangan, mengkriitik aqidah dan hukum kufur, serta menegakkan Daulah Islamiyyah.

Anehnya, sebagian kaum muslim yang mengklaim telah beraqidah Islam, serta sudah melakukan dakwah menanamkan aqidah Islam, belum juga konsens, atau beranjak untuk mengkritik penyimpangan penguasa muslim yang menerapkan sistem dan aturan-aturan kufur, akan tetapi malah menyibukkan diri pada bid’ah-bid’ah yang ada pada ibadah mahdlah. Padahal, jika kita mau jujur terhadap diri sendiri, tentunya, kita akan menyimpulkan bahwa cara yang paling efektif memberantas bid’ah-bid’ah itu adalah dengan cara memegang tampuk kekuasaan yang digunakan sebagai wasilah untuk menghancurkan bid’ah-bid’ah tersebut. Kenyataan ini mengharuskan kita untuk memberikan penjelasan tuntas mengenai masalah ini, agar dakwah Islam benar-benar sejalan dengan tuntunan Rasulullah Saw.

Dakwah Yang Hakiki: Antara Tujuan, Jalan, Dan Wasilah

Tujuan dari segala tujuan (ghayat al-ghayah) adalah ridha Allah. Adapun tujuan dari dakwah Islam adalah menegakkan Islam (baik aqidah dan syari’at). Adapun jalan syar’i dan satu-satunya bagi penerapan dan penegakkan Islam secara sempurna adalah penegakkan Khilafah Islamiyyah. Dengan kata lain, dakwah menegakkan Khilafah Islamiyyah harus dijadikan sebagai prioritas utama agar tujuan utama dakwah bisa diwujudkan dengan segera. Namun, hal ini tidak boleh ditafsirkan, bahwa dakwah menegakkan Khilafah Islamiyyah menafikan atau mengabaikan aktivitas-aktivitas dan fase-fase lain yang tidak kalah pentingnya, yakni penanaman aqidah dan syari’at Islam. Dakwah menegakkan Khilafah Islamiyyah tetap harus ditempuh melalui tahapan penanaman aqidah yang benar, serta menanamkan pemahaman syari’at Islam secara menyeluruh ke tengah-tengah masyarakat. Penanaman aqidah dan syari’at Islam di benak kaum muslim merupakan langkah utama tapi bukan satu-satunya langkah, untuk mengubah masyarakat jahiliyyah menuju masyarakat Islam.

Adapun wasilah-wasilah yang mesti dipersiapkan oleh kaum muslim adalah wasilah-wasilah mubah yang dapat mendukung dan membantu terrealisasinya dakwah Islam. Adapun wasilah-wasilah yang bertentangan dengan syari’at Islam, maka ia tidak boleh diambil atau digunakan sebagai perantara dakwah.

Aqidah Seperti Apa?

Selain itu, penanaman aqidah di sini tidak boleh terhenti hanya pada jargon-jargon yang masih samar dan kabur, tanpa ada perincian yang menyeluruh dan mendalam. Dengan kata lain, memahamkan umat dengan aqidah Islamiyyah harus berujud pemahaman aqidah yang benar, komprehensif, dan menyeluruh, bukan sepotong-potong. Misalnya, memahami aqidah Islamiyyah hanya sebatas pada masalah-masalah bid’ah hari raya, bid’ah kubur, sholat dan sebagainya. Padahal, seseorang yang mengaku beraqidah Islamiyyah harus merefleksikan aqidahnya dengan cara menyakini aturan Allah sebagai satu-satunya aturan yang berhak mengatur urusan manusia (tauhid uluhiyyah), bukan sekedar keimanan kepada Allah dari sisi rububiyyah dan asma’ wa shifat.

aqidah semacam ini tentunya akan membawa dirinya untuk memahami bahwa ia harus berjuang demi terterap dan tertegaknya aturan-aturan Allah SWT (syari’at Islam) di muka bumi; dan tidak mencukupkan dirinya pada pembahasan-pembahasan aqidah yang bersifat sempit. Selanjutnya, ia akan termotivasi dan berjuang secara terus menerus untuk menegakkan “thariqah” (jalan syar’i) bagi tertegaknya syari’at Allah, yakni Khilafah Islamiyyah, dan konsens dalam masalah itu (penegakkan khilafah Islamiyyah). Sebab, ia memahami bahwa tauhid uluhiyyah tidak mungkin sempurna kecuali jika ia hidup di bawah aturan-aturan Islam; dan ia juga memahami, bahwa syari’at Islam tidak mungkin bisa diterapkan secara sempurna tanpa keberadaan khilafah Islamiyyah.

Cara memahami aqidah semacam ini tentunya akan menjadikan seorang muslim untuk membenci aturan-aturan kufur yang diterapkan kepadanya, kemudian berjuang bersama-sama dengan kaum muslim yang lain untuk mengganti sistem yang kufur tersebut dengan sistem Islam. Oleh karena itu, kita bisa mengerti, mengapa dakwah pertama yang disampaikan oleh Rasulullah Saw kepada manusia adalah Kalimat Tauhid yang dipahami secara utuh, bukan kalimat Tauhid yang dipahami secara sempit. Sebab, beliau diperintahkan untuk memerangi seluruh umat manusia hingga seluruhnya mengucapkan tidak ada Ilah kecuali Allah. Dan beliau memahami, bahwa tersebarnya Kalimat Tauhid ke seluruh dunia mutlak memerlukan sebuah institusi yang kuat, yakni Negara Islam. Rasulullah Saw bersabda:

“Aku (Nabi Muhammad Saw) diperintah memerangi manusia hingga mereka mengucapkan La ilaha Illa al-Allah, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Jika mereka mengerjakan yang demikian itu, niscaya mereka terpelihara darah dan harta benda mereka dariku.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Akan menjadi sangat aneh, jika seseorang mengklaim memiliki aqidah Islamiyyah yang kuat, sementara itu ia tidak mengkonsentrasikan dirinya untuk perjuangan tertegaknya Syari’at Islam, melalui tegaknya Khilafah Islamiyyah. Bahkan, malah asyik masyuk dengan sistem kufur dan menjadi antek-antek para penguasa Arab yang telah menghambakan dirinya kepada orang-orang kafir.

Pemahaman terhadap aqidah Islamiyyah yang benar akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang dan tingkah laku kaum muslim. Kita bisa menyaksikan, betapa sebagian besar umat Islam telah memiliki aqidah Islamiyyah dan mengaku telah mentauhidkan Allah SWT, namun, anehnya, mereka justru berdiam diri terhadap aturan-aturan kufur yang diterapkan kepada dirinya. Mengapa umat yang telah beraqidah Islamiyyah itu tidak juga bergerak bersama-sama untuk mengentaskan umat dari keterpurukan dan kemunduran akibat diterapkannya sistem kufur? Mengapa mereka terus mengalami kemerosotan, dan tidak mampu bangkit? Sebab, aqidah Islamiyyah yang dipahami oleh kaum muslim adalah aqidah Islamiyyah yang telah dipersempit dan dikerdilkan. Akibatnya, aqidah yang mereka miliki tidak mampu memotivasi dirinya untuk berjuang sebagaimana para shahabat dan Rasulullah Saw. Untuk itu, sudah saatnya kita tinggalkan aqidah yang sempit itu, menuju pemahaman aqidah yang paripurna.

Walhasil, aqidah Islamiyyah, syari’at Islam, dan khilafah adalah tiga serangkai yang tidak mungkin dipisah-pisahkan lagi.

Aqidah Islamiyyah mesti direfleksikan dengan penerapan syari’at Islam, dan penerapan syari’at Islam bisa terwujud secara sempurna dengan khilafah Islamiyyah. Oleh karena itu, aqidah Islamiyyah, syari’at Islam, dan Khilafah Islamiyyah adalah tiga serangkai yang tak mungkin dipisah-pisahkan lagi.

Hukum Mengangkat Seorang Khalifah

Hukum mengangkat seorang imam (pemimpin) adalah wajib. Imam asy-Syaukani, dalam kitab Nailul Authar (jld 9, hal. 146-147) mengatakan, “Jumhur ulama berpendapat bahwa mengangkat imam hukumnya adalah wajib. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menetapkan, apakah kewajiban itu ditetapkan secara ‘aqli atau syar’i. Sebagian menyatakan wajib secara ‘aqli. Menurut al-Jahidz, al-Balkhi dan Hasan al-Basri, kewajiban mengangkat imam itu ditetapkan secara akal dan syar’i.”

Imam al-Qurthubi, dalam al-Jâmi’ li al-Ahkâm al-Qur’an (jld. 1, hal. 264) menyatakan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya mengangkat khilafah di kalangan umat Islam dan juga di kalangan imam madzhab, kecuali pendapat yang dituturkan oleh orang yang tuli terhadap syari’at (al-‘asham), dan siapa yang mempropagandakan atau mengikuti pendapat dari madzabnya.”

Imam al-Mawardi, dalam kitab al-Ahkâm as-Sulthaniyyah (hal. 5.) menyatakan, “Menegakkan Imamah di tengah-tengah umat merupakan kewajiban yang didasarkan pada ijma’ shahabat.”

Abu Ya’la al-Firai dalam kitab al-Ahkâm as-Sulthâniyyah berkata, “Hukum mengangkat seorang imam adalah wajib.” Imam Ahmad, dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh Muhammad bin ‘Auf bin Sofyan al-Hamashi, menyatakan, “Fitnah akan muncul jika tidak ada imam yang mengatur urusan manusia.”[3]

Dalam kitab as-Siyasah asy-Syar’iyah (hal. 161), Ibn Taimiyyah berpendapat, “Usaha untuk menjadikan kepemimpinan (khilafah) sebagai bagian dari agama dan sarana untuk bertaqarrub kepada Allah adalah kewajiban. Taqarrub kepada Allah dalam hal kepemimpinan yang dilakukan dengan cara mentaati Allah dan RasulNya adalah bagian dari taqarrub yang paling utama….” Ibn Taimiyyah dalam kitab yang sama juga menyatakan, “Bahkan, agama ini tidak akan tegak tanpa adanya khilafah Islamiyyah.”[4] Di dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (jld. 28, hal. 62), Syaikh al-Islam juga berkata, “Kemashlahatan anak Adam di kehidupan dunia dan akherat tidak akan sempurna, kecuali jika mereka selalu berkumpul, tolong menolong, dan saling membantu untuk memperoleh kemanfaatan dan menolak kemudlaratan. Oleh karena itu, menurut watak alamiahnya, manusia dikatakan sebagai makhluk sosial. Jika mereka berkumpul, mereka pasti memiliki berbagai urusan yang harus dikerjakan —untuk memperoleh kemashlahatan— dan mempunyai beberapa urusan yang harus dihindari, karena di dalamnya mengandung kemafsadatan. Mereka harus mentaati seseorang (pemimpin) yang mengeluarkan perintah untuk memperoleh kemanfaatan tersebut dan mencegah mereka dari mafsadat. Untuk itu, setiap anak Adam harus memiliki orang yang berhak mengeluarkan perintah dan larangan…”

Ibn Taimiyyah dalam kitab as-Siyasah asy-Syar’iyah (hal. 64) mengatakan, “Atas dasar itu, Nabi Saw memerintahkan umatnya untuk mengangkat para penguasa (wulât al-amri) atas mereka, dan memerintahkan penguasa tersebut untuk menunaikan amanah kepada yang berhak. Jika mereka menetapkan hukum di tengah-tengah manusia, mereka harus menetapkannya dengan adil. Allah juga telah memerintahkan umat manusia untuk menaati para penguasa tersebut dalam ketaatan kepada Allah.”

Imam ‘Ali pernah berkata, “Manusia harus memiliki pemimpin (khalifah) entah yang baik maupun yang buruk.” Lalu, ada yang bertanya kepada beliau, “Amirul mukminin, kalau yang baik kami sudah mengetahuinya, akan tetapi bagaimana dengan pemimpin yang dzalim?” Imam ‘Ali menjawab, “Asalkan dia tetap menjalankan hudud, mengamankan jalan-jalan umum, berjihad melawan musuh, dan membagikan harta fai’.’[5]

Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah (hal. 167) berkata, “Sesungguhnya, mengangkat seorang imam (khalifah) adalah wajib. Kewajibannya dalam syari’at telah diketahui berdasarkan ijma’ shahabat dan tabi’in. Tatkala Rasulullah Saw wafat, para shahabat segera membai’at Abu Bakar ra dan menyerahkan pertimbangan berbagai macam urusan mereka kepadanya. Demikian pula yang dilakukan kaum Muslim pada setiap masa setelah Abu Bakar. Untuk itu, pada setiap masa yang ada, tidak pernah terjadi anarkhisme di tengah-tengah umat manusia. Kenyataan semacam ini merupakan ijma’ yang menunjukkan adanya kewajiban mengangkat seorang imam (khalifah).”

Ibn Hazm dalam kitab al-Fashl fi al-Milâl wa al-Ahwâ’ wa al-Nihâl (jld. 4, hal. 87) mengatakan, “Mayoritas Ahlu Sunnah, Murji’ah, Syi’ah, dan Khawarij bersepakat mengenai wajibnya menegakkan imamah (khilafah). Mereka juga bersepakat, bahwa umat Islam wajib mentaati imam adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka dan memimpin mereka dengan hukum-hukum syari’at yang dibawa Rasulullah Saw.”

Al-Haitsamiy dalam ash-Shawâ’iq al-Muhriqah (hal. 17) berpendapat, “Ketahuilah, para shahabat ra telah bersepakat, bahwa hukum mengangkat imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman nubuwwah (kenabian) adalah wajib. Bahkan, mereka telah menjadikan hal ini sebagai kewajiban yang terpenting. Buktinya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban tersebut, dan menunda penguburan jenazah Rasulullah Saw.”

Imam an-Nawawi, dalam Syarah Muslim (jld. 12, hal. 205) berkomentar, “Mereka (imam madzhab) telah bersepakat, bahwa kaum muslim wajib mengangkat seorang khalifah.”

Syaikh ‘Abdurrahman ‘Abdu al-Khâliq, dalam bukunya asy-Syura (hal. 26), mengatakan, “Imamah al-‘Amah (kepemimpinan umum) atau khilafah adalah institusi yang dibebani tugas untuk menegakkan syari’at Allah SWT, memutuskan hukum dengan KitabNya, menjalankan urusan kaum muslim, memperbaiki keadaan mereka, dan melancarkan jihad terhadap musuh mereka. Tidak ada perbedaan pendapat diantara kaum muslim mengenai kewajiban tegaknya Khilafah dan keharusan eksistensinya (keberadaannya). Mereka akan mendapatkan dosa jika lalai dari upaya mendirikannya.”

Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Audah, dalam bukunya al-Islâm wa Awdla’unâ as-Siyâsiyah (hal. 124), menyatakan, “Khilafah dianggap sebagai salah satu kewajiban diantara fardlu kifayah yang lain, seperti halnya jihad dan peradilan (qadla’). Jika kewajiban ini telah dilaksanakan oleh orang yang memenuhi syarat, maka gugurlah kewajiban ini dari seluruh kaum muslim. Akan tetapi, jika tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka seluruh kaum Muslim berdosa hingga orang yang memenuhi syarat dapat melaksanakan kewajiban Khilafah ini. Sebagian ulama berpendapat, bahwa dosa hanya menimpa dua golongan saja dari kalangan kaum muslim; yakni pertama, ahlu al-ra’yi (kalangan ulama) hingga mereka mengangkat salah seorang dari kaum muslim sebagai khalifah; kedua, orang-orang yang telah memenuhi syarat sebagai khalifah hingga seorang dari mereka terpilih sebagai khalifah. Pendapat yang benar adalah; dosa tersebut akan menimpa seluruh kaum muslim. Sebab, seluruh kaum Muslim telah menjadi obyek taklif (khithab) dari syari’at, dan mereka berkewajiban untuk menegakkannya….Jika pemilihan khalifah ini diserahkan kepada satu golongan dari kalangan kaum muslim, maka kewajiban seluruh umat adalah mendorong golongan tersebut untuk menunaikan kewajibannya. Jika tidak, umat turut memikul dosanya…”

Syaikh Dr. Mahmud al-Khalidi, dalam bukunya Qawâ’id Nidzâm al-Hukm fi al-Islâm (hal. 248), mengatakan, “Tidak ada kehinaan yang menimpa kaum Muslim —yang menjadikan mereka hidup di pinggiran dunia—, mengekor berbagai umat, dan terbelakang dalam sejarah, kecuali kelalaian mereka dalam berjuang untuk mendirikan Khilafah, serta tidak bersegeranya mereka untuk mengangkat seorang Khalifah bagi mereka. Semua ini dikarenakan adanya kewajiban untuk selalu terikat dengan hukum syari’at yang telah menjadi perkara yang sudah lazim (ma’lum min al-diin wa al-dlarurah), seperti halnya sholat, puasa, dan haji. Melalaikan tugas untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam adalah kemaksiyatan terbesar. Untuk itu, mengangkat seorang khalifah bagi kaum muslim adalah kewajiban dan merupakan keharusan dalam rangka menerapkan hukum-hukum syari’at atas kaum muslim, dan mengemban dakwah Islam ke seluruh pelosok dunia.”

Pendapat-pendapat senada juga diketengahkan oleh ulama-ulama terkemuka, misalnya, Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Muslim, at-Tirmidzi, ath-Thabarani, serta ashhâb as-sunan yang lainnya; Imam az-Zujaj, al-Baghawi, Imam az-Zamakhsyari, Ibn Katsir, Imam Baidhawi, Imam ath-Thabari, al-Qalqasyandi, dan lain-lain.[6] Wallahu A’lam bi Murâdihi [Fathi Syamsuddin Ramadhan al-Nawi].

[1] Ibn Taimiyyah, as-Siyasah asy-Syar’iyah, hal. 161.

[2] Ibn Taimiyyah, as-Siyasah asy-Syar’iyah, lihat pada Mauqif Bani al-Marjah, Shahwah al-Rajul al-Maridl, hal. 375.

[3] Abu Ya’la al-Farra’i, al-Ahkâm al-Sulthâniyyah, hal. 19.

[4] Ibn Taimiyyah, as-Siyasah asy-Syar’iyah, lihat pada Mauqif Bani al-Marjah, Shahwah al-Rajul al-Maridl, hal. 375.

[5] Lihat dalam Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, jld. 28, hal. 297.

[6] Ibn Mandzur, Lisân al-‘Arab, hal. 26; al-Qalqasyandi, Mâtsir al-Inâfah fi Ma’âlim al-Khilâfah, jld. 1, hal. 16; az-Zamakhsyari, Tafsir al-Kasysyaf, jld. 1, hal. 209; al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl, hal. 206; ath-Thabari, Tarîkh al-Umam wa al-Mulk, jld. 3; hal. 277; Ibn Taimiyyah, Minhâj as-Sunnah an-Nabawiyyah, jld. 1, hal. 137-138; Ibn ‘Abd al-Barr, al-Isti’âb fi Ma’rifah ash-Ashhâb, jld. 3, hal. 1150, dan sebagainya.

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: