jump to navigation

SATPAM YANG SOLEH MENINGGAL KETIKA MENGIMAMI SHALAT IED April 19, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
trackback

Siapa yang tidak mendambakan khusnul khatimah? Tentu semua muslim mendambakan cita – cita yang indah itu. Bahkan, seorang penjahat sekalipun memiliki hasrat dalam relung hatinya yang dalam agar ia bias menghembuskan nafas terakhirnya di saat yang terbaik, dalam kegiatan yang terbaik pula.

 

Akan tetapi, khusnul khatimah tidak mungkin bisa diraih oleh sembarangan orang. Khusnul khatimah adalah suatu keadaan yang hanya mampu diraih oleh orang-orang yang memahami hakikat kehidupannya di dunia ini yang hanya sementara, sehingga seluruh aktivitas hidupnya tidak pernah lepas dari upaya mempersiapkan diri menghadap sang khalik, Rabbul jalil, Allah swt. Karena itu, beruntunglah mereka yang mendapat keistimewaan dipanggil Allah dalam keadaan khusnul khatimah.

 

            Salah satu manusia yang diberikan momentum terindah khusnul khatimah itu adalah Tubagus Muhammad Afif. Lelaki kelahiran Bogor, 70 tahun silam ini meninggal dalam keadaan yang sangat baik dan indah. Malaikat Maut mengambil nyawanya ketika ia sedang mengimami shalat Idul Fitri, hari Jum’at, tanggal 6 Desember 2002 yang baru lalu.

 

            Hari itu tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan akan terjadi sesuatu pada diri Bapak Afif. Isterinya Halimah yang sudah puluhan tahun menemaninya melihat suaminya melakukan kegiatan sehari-hari dengan biasa.

 

            Menurut isterinya, seperti biasa pada hari itu suaminya bangun pada pukul 03.00 pagi. Pukul 03.30 beliau takbiran di Mushalla Arraudlah dekat rumahnya menunggu waktu Subuh sambil membangunkan jemaah yang masih terlelap tidur. Pekerjaan ini memang kebiasaan rutin beliau. Setelah shalah Subuh, ia makan bersama jamaah di teras mushalla sebagai tanda selesai puasa Ramadhan, yang merupakan tradisi lebaran di mushalla itu. Pak Afif makan seperti biasanya sehingga tidak ada jamaah yang merasa aneh dengan sikap beliau hari itu.

 

            Menurut Bapak Naseh, salah satu pengurus mushalla, disela-sela acara makan itu Pak Afif sempat berkata bahwa baginya walaupun diberi bangunan yang lebih baik tetapi ia lebih suka memilih mushalla itu sebagai tempat aktivitasnya.

 

            Selesai acara di mushalla beliau pulang. Pukul 05.30 beliau mengaji lagi dirumahnya. Isterinya mengingatkan agar ia bersiap-siap shalat Ied dan menjadi khatib di Masjid Fi Sabilillah yang terletak di lingkungan Sekolah Yayasan Patriot, tempatnya bekerja. Setelah selesai mengaji beliau berangkat ke masjid. Tidak ada pesan apapun yang keluar dari mulut beliau kepada isteri dan anak-anaknya, yang menunjukkan ia akan segera kembali kepada Tuhannya.

 

            Sampai di masjid Fi Sabilillah sudah cukup banyak jamaah yang datang. Ia bertemu dengan para pengurus masjid lainnya yang juga tidak melihat tanda-tanda dekatnya kematian pada diri Bapak Afif. Bahkan menurut Bapak Sayuti Na’im salah seorang teman karibnya sesama satpam di Sekolah Patriot, sebelum masuk masjid mereka sempat saling sapa dan bercanda sebentar. Kebetulan pada hari itu Pak Sayuti juga mendapat tugas sebagai bilal.

 

            Tepat pukul 07.00 shalat Ied pun dimulai. Bapak Afif maju ke tempat imam dan memimpin shalat dengan tenangnya. Rakaat pertama berjalan dengan normal. Pak Sayuti yang berdiri di belakang imam mengakui bacaan surat-surat dalam shalat yang dibaca oleh Pak Afif terdengar sangat bagus.

 

            Setelah selesai rakaat pertama Pak Afif pun bangkit dari sujudnya sambil mengucapkan takbir. Setelah posisinya kembali berdiri iapun bertakbir lagi sebanyak lima kali sebagaimana rukun shalat Ied. Setelah selesai takbir lima kali iapun mulai membaca surat Al-Fatihah.

            “Bismillahirrahmaanirrahiim……………

            “Alhamdulillaaaaah………….!” Bruk!

Belum selesai ayat kedua surat Al-Fatihah itu dibaca tiba-tiba Pak Afif terjatuh di tempatnya. Pak Sayuti dan jamaahlainnya yang berdiri di shaf terdepan terkejut melihat imam mereka terjatuh.

 

            “Subhanallah!” teriak mereka. Para jamaah yang shalat di belakang kebingungan sebab tiba-tiba saja bacaan imam terhenti. Pak Sayuti langsung mengambil inisiatif untuk membatalkan shalat. Ia berfikir tidak ada salahnya membatalkan shalat dalam keadaan seperti itu, karena sang imam harus ditolong.

 

            “Saya bilang, batalkan dulu! ini bukan halangan biasa seperti batal wudhunya, tetapi ini orang jatuh. Saya langsung balikkan tubuhnya”, kenang Pak Sayuti yang menjadi saksi mata kejadian tersebut.

 

Pak Sayuti mencoba memberikan pertolongan sebisanya, dengan memijit bagian-bagian tertentu yang dianggapnya mungkin menyebabkan kram pada diri Pak Afif. Tetapi kejadian itu berlangsung begitu cepat. Tiba-tiba ia mendengar Pak Afif mengorok pelan dan bersamaan dengan itu berhembuslah napasnya yang terakhir. Innalilahi wa inna ilaihi raaji’un.

           

Pak Afif sempat dibawa ke Klinik Patriot yang terletak di lingkungan sekolah tersebut. Beliau ditangani oleh Dokter Asep. Akan tetapi nyawanya memang tidak dapat tertolong lagi. Mungkin Allah swt sudah menentukan taqdir dan ajalnya yang demikian indah dan mudah itu.

 

Maka beberapa penguruspun segera menghubungi keluarganya. Mereka memberitahukan bahwa Pak Afif sakit, mereka tidak ingin merusak kebahagian Idul Fitri yang dirasakan oleh keluarganya. Setelah isterinya sampai di klinik barulah ia tahu kalau suaminya telah meninggal dunia.

           

Sementara itu shalt Idul Fitri pun kembali dilanjutkan. Kali ini dipimpin oleh seorang pegawai pertanian yang merupakan jamaah yang biasa shalat di masjid tersebut. Pegawai pertanian itu pulalah yang menggantikan Pak Afif membacakan khutbah Idul Fitri.

 

Demikianlah kronologi kematian seorang anak manusia yang begitu indah dan baiknya, meninggal dalam keadaan mengimami shalat, tidak perlu sakit terlebih dahulu dan melewati proses sakaratul maut dengan mudah dan cepat. Masya Allah!

 

 

LELAKI PENDIAM YANG SUKA DI MASJID

Siapakah lelaki yang mendapatkan kemulian besar ini? Bagaimanakah prilakunya sehari-hari sehingga Allah berkenan mengambilnya dalam keadaan yang baik seperti itu? Tubagus Muhammad Afif adalah seorang manusia biasa. Dia bukan seorang kiyai, ustadz ataupun ulama. Pekerjaan terakhirnya pun hanyalah sebagai seorang satpam di sebuah sekolah swasta di Bekasi yaitu Yayasan Patriot Pendidikan Bekasi.

 

Bagi banyak orang pekerjaan satpam tentu bukan pekerjaan terhormat, apalagi membanggakan. Tetapi bagi Bapak Afif pekerjaannya sebagai satpam bukanlah kendala baginya untuk tetap bersyukur. Bahkan ia menjalankan tugasnya itu dengan bangga, ikhlas dan penuh tanggung jawab.

 

Keikhlasan dan syukurnya itu, ia membuktikan dengan sikapnya sehari-hari yang sangat tenang dan tidak pernah mengeluh. Dimata isterinya, teman-temannya, para tetangga dan pemilik sekolah, sosok lelaki ini adalah sosok seorang yang sederhana dan pendima. Ia tidak pernah marah, apalagi berlaku kasar kepada sembarang orang.

 

Selain itu keikhlasannya dalam menjalankan tugas, baik sebagai satpam maupun sebagai pengelola masjid, diakui oleh Bapak Drs. Uung Sutandi, As. Bapak Uung berkenan diwawancarai mewakili Bapak Ali Suratman, selaku ketua Yayasan Patriot Pendidikan Bekasi yang sedang sakit ketika kami mendatanginya.

           

Menurut Pak Uung, Pak Afif adalah sosok manusia yang sangat jauh dari pamrih dalam bekerja. Berapapun upah yang ia dapatkan, selalu diterima dengan penuh syukur dan rasa terimakasih.

 

“Satu contoh, imam masjid disini saya beri transport dari uang kas, karena rumahnya dekat saya beri beliau Rp. 2.000 sehari, kalau tidak salah dalam satu bulan itu saya beri hanya Rp. 80.000 tetapi ia menerimanya dengan ikhlas dan berterimakasih. Beliau seadanya, kerjaannya juga bagus, kalu dimarahi diam. Saya juga mengagumi karakternya yang sabar”,ungkap Bapak Uung.

 

Bapak Uung menambahkan, “Yang biasa diajak bicara oleh beliau ‘kan saya disini. Sehari-harinya beliau banyak diam, dikantor juga nggak keras. Dia menerima parker motor berapa aja, entah Rp. 100,- terserah yang memberi. Kalau menurut saya, dia memang pantas meninggal seperti itu, kalau kita mau meninggal , mungkin harus menyusahkan keluarga dulu, tapi dia ‘kan tidak”.

           

Sementara itu Pak Sayuti teman dekatnya mengakui kesabaran dan kebaikan Pak Afif selama hidup dan bergaul dengannya. “Dalam bergaul beliau itu baik. Orang nya sabar. Pernah saya marah, tetapi beliau diam saja, tidak marah. Yang menonjol ibadahnya kuat. Setiap shalat Dzuhur selalu menjadi imam. Orangnya jarang ngomong atau mengomentari orang lain. Beliau ngomong hanya seperlunya saja”, ungkap Pak Sayuti.

 

            Orang yang paling tahu kehidupan Bapak Afif tentu saja isterinya sendiri, Ibu Halimah. Menurut Ibu Halimah, suaminya itu merupakan  lulusan sebuah pesantren di daerah sadeng, Bogor. Sejak kecil Bapak Afif diasuh oleh kakeknya di Bogor. Oleh kakeknya ini beliau dimasukkan di sebuah pondok pesantren sejak usia 12 tahun. Mungkin karena pendidikan agama yang didapatnya di pondok pesantren itulah yang membuatnya mampu hidup dengan penuh kesalehan dan kesabaran. Tampaknya ia mengerti betul bagaimana menerapkan ilmu yang didapatnya di pesantren ke dalam kehidupan sehari-hari.

 

            Ibu Halimah menambahkan bahwa sejak dahulu suaminya memang termasuk lelaki yang pendiam dan rajin beribadah. “Dia itu pendiam, shalat terus. Saya sering marah, tetapi dia diam saja, tetap saja shalat. Tidak pernah dia tinggalkan shalat. Dia juga baca Qur’an terus” kenang isterinya.

 

Halimah menceritakan bahwa empat tahun terakhir suaminya bekerja sebagai satpam di Sekolah Patriot, setelah pension dari bengkel tempat kerjanya dulu. Selain menjadi satpam ia juga diminta untuk menjadi imam di masjid Fi Sabilillah yang ada di lingkungan sekolah tersebut. Pihak yayasan sekolah tampaknya mengakui kemampuan lelaki ini dalam bidang agama, terutama dalam membaca al-Qur’an sehingga ia pantas menjadi imam masjid itu.

           

Selain menjadi imam ditempatnya bekerja, Pak Afif juga menjadi pengurus atau marbot di mushalla Ar-Raudlah di lingkungan rumahnya. Di mushalla ini ia lagi-lagi bekerja dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas. Karena keikhlasan dan rasa tanggung jawabnya yang besar itu membuat lelaki ini lebih sering berada di dua rumah ibadah tersebut.

 

Menurut cerita Halima, Pak Afif selalu pulang dari tempat kerjanya pada pukul tiga petang. Begitu sampai rumah, suaminya itu hanya sempat membuka sepatu dan langsung shalat di mushalla. Selesai shalat Ashar ia baru beristirahat tidur siang sebentar. Sekitar pukul lima sore ia kembali lagi ke mushalla untuk membersihkan dan mengepel mushalla, selesai mengepel ia pulang sebentar untuk mempersiapkan diri shalat maghrib berjamaah di mushalla itu lagi.

           

“Saya ‘kan dagang, sehingga jam setengah dua harus bangun, tetapi dia malah sudah bangun jam 12 malam. Pas jam satu dia bangunkan saya. Nanti dia tidur sebentar lalu jam jam setengah tiga sudah ke masjid untuk mengaji. Orangnya saleh……“Jadi Bapak Afif itu suka membersihkan mushalla, membangunkan jamaah untuk shalat subuh, mengaji menjelang subuh dan adzan,” ucap Ibu Halimah mengenang kebaikan dan kesalehan suaminya.

 

Ibadah tampaknya menjadi kebiasaan rutin bagi Pak Afif. Selain itu masjid dan mushalla tampaknya menjadi tempat favorit bagi bapak dari lima anak itu. Ia begitu dekat dengan tempat yang paling disukai Allah ini. Mungkin hati lelaki ini benar-benar sudah terikat kepada masjid dan mushalla, sehingga ia begitu senang berada di tempat seperti itu.

           

Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa pada hari kiamat nanti ada tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah swt, salah satunya adalah orang yang hatinya terpaut di masjid. Mungkin Pak Afif termasuk golongan manusia seperti yang disebutkan Rasulullah saw itu? Wallahu a’lam bish-shawwab.

 

Yang pasti Pak Afif telah menunjukkan kepad kita betapa indah dan damainya menghadap Rabb dalam keadaan khusnul khatimah. Semoga kita semua mampu mengikuti jejek lelaki saleh ini, sehingga Allah berkenan mengirimkan Malaikat Maut kepada kita di saat-saat terbaik dalam kehidupan kita yang pendek ini. Amien.

 

Source:

Hidayah_2_19_0203_Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami shalat Ied

Ridwan dan Imam Ma’ruf

 

Comments»

1. nana - February 4, 2010

kejadian itu yang saya dan keluarga alami saat ini, ayahanda tercita meninggal dalam keadaan shalat (isya).

informationmedia - March 6, 2010

Subhanallah…. terima kasih sudah sharingkan ceritanya kepada seluruh saudara seiman


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: