jump to navigation

JENAZAH MELEKAT DI KERANDA April 19, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

I. Single Mother dari enam anak

Silih bergantinya kesedihan dan kegembiraan adalah keniscayaan. Tak ubahnya pertemuan yang merindukan perpisahan. Semua selalu berubah dan menemui titik akhir. Bagai siang yang selalu bertukar peran dengan malam. Ungkapan itu, mungkin pas untuk menggambarkan kehidupan rumah tangga Partini (nama samaran, 40 thn). Seorang wanita setengah baya yang terpaksa menjanda karena ditinggal mati suaminya.

 

Dua puluh lima tahun sudah Partini mengarungi bahtera rumah tangga bersama Darmaji (nama samaran, 50 thn), seorang pembuat kusen yang menikahinya saat masih berumur 15 tahun. Perkawinan mereka dikaruniai enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Namun, umur sesorang memang susah ditebak. Saat mereka sedang bahagianya menikmati hidup, Darmaji yang sudah lama mengidap asma, pergi untuk selama-lamanya.

 

Jiwa ibu Partini terguncang. Kepergian suaminya dirasakan begitu cepat. Bagaimana tidak, saat suaminya masih hidup saja, kondisi ekonomi keluarganya masih morat-marit. Apalagi, ia hanya seorang diri menghidupi keenam anaknya. Sempat terbesit harapan kepada anaknya yang sulung, Farhat (nama samaran, 23 thn). Tapi alih-alih membantu, si anak malah lebih asyik menekuni hobinya bermain burung merpati untuk aduan.

 

Demi mencukupi kebutuhan keluarga, ibu Partini mencoba membuka warung kecil-kecilan. Modal awal, ia peroleh dari rentenir yang biasa memberikan pinjaman dengan bunga tinggi. Namun sayang, banyak warga setempat banyak yang tidak berminat membeli ke warungnya. Alasannya Cuma satu, harga yang ditawarkan ibu Partini terlalu mahal bila dibandingkan dengan warung lain. Bagi orang yang tahu, mungkin sedikit bisa memahami. Ibu Partini terpaksa melakukan semua itu, untuk menutupi utangnya di rentenir.

 

Di sisi lain, ibu Partini tidak memiliki pengalaman dalam bidang wirausaha, sehingga memperparah kegagalannya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keinginan ibu Partini menangguk keuntungan, musnah sudah.

 

”Setahu saya, sejak kematian suaminya, ibu Partini membuka warung kecil-kecilan di rumahnya. Tapi, itu hanya berjalan beberapa bulan. Sebab, banyak warga memilih belanja ke tempat lain yang harganya lebih murah. Saya sendiri sempat membeli rokok di warungnya. Harganya memang cukup mahal,” ujar Nuryanto (28 thn).

 

Kegagalan pertama tak membuat ibu Partini menyerah. Apalagi, bunga pinjamannya semakin hari semakin bertambah. Lalu, ia mencoba melamar sebagai buruh di pabrik sepatu. Kebetulan, lokasinya berdekatan dengan tempatnya tinggal. Namun sayang, keinginannya ditolak dengan alasan umurnya yang tak lagi muda. Sampai akhirnya, bibinya yang berjualan nasi di dekat pabrik, memintanya untuk membantu.

 

Penghasilan ibu Partini memang jauh dari cukup. Bisa dibilang, anak-anaknya hanya bisa makan satu kali sehari. Kalau pun dua kali, semua atas kebaikan bibinya yang memberikan nasi dan lauk sisa yang tidak habis terjual. Untungnya, tiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil, diasuh oleh ibu Mertuanya di Boyolali.

 

Rasa frustasi tak urung menghigapi ibu Partini. Begitu berat beban yang harus ia tanggung. Rasa itu semakin tak tertahan, tatkala melihat kelakuan anak sulungnya yang malas-malasan. Anaknya memang pernah bekerja, tapi cepat bosan dan keluar dengan alasan yang macam-macam.

 

”Anak laki-laki ibu Partini yang paling tua, merupakan adik teman saya. Saya kenal, tapi tidak terlalu akrab. Kata adik saya, orangnya itu cepat bosan sama kerjaan. Tapi di sisi lain, orangnya sangat suka dengan burung merpati aduan. Ibu Partini dan bibinya, sudah beberapa kali menasihati, tapi tetap saja tidak mau berubah,” ujar Nuryanto menambahkan.

 

Kondisi demikian, membuat ibu Partini putus asa dan bersikap masa bodoh dengan ketiga anak laki-lakinya. Baginya, mereka sudah cukup besar untuk diperhatikan.

 

 

II. Hamil diluar nikah

Dua tahun menjalani kesendirian, membuat ibu Partini merindukan kembali pendamping hidup. Ia kerap kali terlihat para tetangga, pergi keluar rumah dan pulang hingga larut malam. Warga setempat yang penulis temui, tak satu pun yang bisa memastikan kemana ibu Partini waktu itu pergi. Tapi yang pasti, tidak lama berselang, rumahnya sering dikunjungi seorang lelaki setengah baya.

 

Setiap kali para tetangga bertanya, jawaban ibu Partini selalu sama ”Dia bukan siapa-siapa. Saya dan dia masih punya hubungan saudara.” Lelaki yang bernama Suryo (42 thn) itu, biasanya datang menjelang Magrib. Dia terlebih dahulu melakukan shalat di mushola, sebelum datang ke rumah Partini. Beberapa warga pernah menanyakan maksud dan tujuannya. Dia mengaku hanya sekedar silaturahmi, sebagaimana layaknya saudara. Waktu itu, tidak ada kecurigaan sedikit pun dari warga.

 

Kebohongan mereka akhirnya terkuak. Tanpa sengaja, Farhat pernah memberitahukan seorang temannya, kalau Suryo sama sekali tidak ada hubungan kerabat dengan keluarganya. Statusnya adalah duda bernak dua yang sedang menjalin kasih dengan ibunya.

 

Namanya juga gosip, makin digosok makin sip. Warga yang sudah mengetahui duduk perkaranya menjadi resah. Jangan-jangan ada apa-apa! Sebab, selama ini Suryo diketahui warga sering menginap di rumah Partini. Bahkan, bisa sampai berhari-hari.

 

Ketua RT setempat yang mendapat laporan, mencoba menanyakan kebenaran informasi dari warga. Setelah diinterogasi, Partini bercerita kalau ia bertemu Suryo di suatu tenpat, dan akhirnya suka sama suka. Lantas ketua RT memberikan nasehat dan menyarankan agar mereka menikah saja secara resmi. Tujuannya untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, sudah banyak warga yang marah dan ingin menghakimi mereka. Tapi sayang, Suryo tidak bisa menyanggupi. Alasannya, pekerjaannya sebagai buruh tani, tidak bakal mencukupi untuk menghidupi delapan orang anak, dua dari perkawinannya dulu dan enam dari Partini.

 

Nasehat ketua RT yang mewakili aspirasi warga dianggap angin lalu. Pak Suryo masih saja berkunjung dan menginap di rumah Partini. Samapi suatu ketika, warga sudah demikian muak, termasuk anak pertama dan kedua ibu Partini. Kira-kira jam dua belas siang, Partini dan Suryo yang sednag asyik di dalam kamar, digrebek. Pak Suryo yang lolos melalui pintu belakang menuju arah utara. Warga yang amarahnya sudah memuncak, tetap mengejarnya. Akhirnya, Suryo tertangkap di tengah-tengah pematang sawah dan sempat dihakimi warga.

 

”Sebenarnya, maksud penggerebekan semata-mata agar Pak Suryo mau mempertanggung jawabkan perbuatannya,” jelas Nuryanto yang menjadi saksi mata kejadian tersebut.

 

Para warga mengarak Suryo berkeliling kampung dan membawanya ke rumah Sekretaris Desa (Sekdes). Salah seorang warga diminta oleh Bapak Sekretaris Desa menghubungi polisi untuk menangani perkara itu. Meski sudah berulang kali dipaksa bertanggung jawab, Suryo tetap tidak mau. Dia berasalan, kalau semua yang dilakukan atas kehendak Partini. Sejak kejadian itu, Suryo jera dan tidak pernah datang lagi.

 

”Hasil hubungan gelapnya dengan Pak Suryo, ibu Partini melahirkan seorang anak. Karena malu mempunyai anak tanpa suami dan merasa tidak sanggup menghidupinya, Ibu Partini lantas memberikan anaknya ke seorang pemulung. Kejadian itu membuat warga gemas dan menganggap ibu Partini sudah tidak bermoral,” tambah Nuryanto yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar di sebuah pondok pesantren.

 

Watak manusia memang sulit berubah. Kata insyaf sudah tidak ada lagi dalam kamus kehidupan Ibu Partini. Ia kembali sering keluar rumah. Perilakunya yang dulu kambuh lagi. Hasilnya, ia kembali mengandung dan melahirkan anak diluar nikah. Namun lagi-lagi, tanpa beban dan perasaan bersalah, ia kembali memberikan anaknya kepada orang lain. Rasa keibuannya benar-benar telah hilang. Astagfirullah hal’Adzim.

 

Tidak berhenti sampai disitu, ia kembali berbuat ulah di desanya. Dua orang buruh pabrik yang mengontrak di samping rumahnya diajak untuk berbuat asusila. Kejadian itu dipergoki seorang warga yang merasa heran, di kontrakan yang semuanya laki-laki itu, terdengar suara Partini.

 

Saat itu, dia tidak terlalu ambil peduli, karena sedang bergegas ke mushala untuk shalat Magrib. Waktu dia pulang dan melintasi jalan yang sama, ternyata rumah kontrakan yang tadi terang, kini sudah gelap gulita. Mengetahui gelagat yang mencurigakan, kemudian dia melapor kepada ketua RT dan warga desa. Ibu Partini kembali tertangkap basah berbuat asusila. Perkara itu semakin mencoreng namanya di mata warga desa.

 

”Warga desa sudah mencapnya sebagai wanita lacur. Meski sudah tua, tapi tidak tahu diri. Hebohnya lagi, tahu-tahu terdengar kabar kalau ibu Partini sednag mengandung. Warga desa bertanya-tanya, masak usia empat puluh masih bisa hamil. Pertanyaan lain, dengan siapa ibu Partini berhubungan. Ternyata, kejadian dikontrakan itulah penyebabnya,” cerita Nuryanto.

 

Memasuki usia empat bulan kandungan, ibu Partini mengalami pendarahan hebat. Sepertinya, rahimnya tak lagi mampu menahan beban yang teramat berat. Ia kehabisan banyak darah dan tak tertolong lagi. Saat meninggal, seluruh badannya menghitam dan raut wajahnya memancarkan seseorang yang sedang ketakutan.

 

 

III Jenazah melekat di keranda

Proses pemandian dan pengkafanan jenazah ibu Partini sudah selesai dilakukan. Suasana rumah duka tampak tidak terlalu ramai. Satu dua orang datang silih berganti, terkesan mereka tidak ingin berlama-lama di sana. Mungkin, akibat perilaku selama hidupnya yang sangat buruk. Tak terdengar riuh tangis pilu yang biasa menghiasi kematian seseorang. Keenam anak-anaknya lebih banyak diam, tersirat di wajah mereka rasa kecewa dan malu atas perilaku ibunya.

 

”Lingkunagn di sini masih mempunyai toleransi yang tinggi. Meski pun perilaku ibu Partini terbilang bejat dan keterlaluan, masih ada warga yang meyempatkan diri untuk takziah ke rumahnya. Tapi sehabis menshalatkan, kebanyakan dari mereka langsung pulang. Padahal, biasanya tidak seperti itu,” ujar H.Yakub (39 thn) yang turut bertakziah.

 

Waktu jenazah sudah dishalatkan dan akan dibawa ke kuburan, terjadi keanehan. Warga desa yang mengangkat keranda menuju kuburan, merasakan bobot yang dipikulnya berat sekali.

 

”Saya memperkirakan, ada sekitar sepuluh orang yang mengangkatnya. Sampai-sampai, sisi-sisi keranda untuk dipikul tidak menyisakan ruang, karena saking banyaknya yang memikul,” tambah H.Yakub.

 

Beberapa warga desa sudah mempunyai firasat buruk. Pasalnya, keranda yang hanya terbuat dari bambu tersebut, beratnya di luar kebiasaan. Bahkan, langkah-langkah kaki orang yang memikul, terasa terbebani sesuatu yang maha berat.

 

Kejadian lain berlanjut. Jenazah Partini yang hendak dimasukkan ke dalam kubur, waktu akan diangkat, sama sekali tidak bisa. Benar-benar tidak bisa! Jenazah seakan-akan merekat kuat dengan keranda yang menjadi alat pembawanya. Berulangkali dicoba, tetap saja jenazah Partini tidak bergeming. Bergeser sedikit pun tidak bisa.

 

Orang-orang yang menyaksikan terheran-heran dan bingung. Seperti ada lem yang maha kuat yang menyatukan jenazah Partini dengan keranda. Beberapa orang berinisiatif membaca ayat-ayat suci al-Quran yang diperkirakan bisa membantu, tidak juga membawa hasil.

 

”Kejadian itu berlangsung kira-kira sampai satu jam. Semua orang bingung. Lalu, karena berbagai cara telah dicoba dan tidak membawa hasil, akhirnya pihak keluarga yang berduka, meminta penggali kubur untuk memperbesar lebar kubur dan liang lahatnya seukuran keranda bambu itu.

 

”Mereka terlihat sudah putus asa. Jadi diambil keputusan, jenazah ibu Partini dikubur saja beserta kerandanya. Kalau menurut saya, keputusan itu lebih disebabkan pihak keluarga yang sudah terlalu malu dengan perilaku ibu Partini semasa hidup,” jelas H.Yakub yang ikut menyaksikan kejadian itu.

 

Warga desa menjadi gempar. Orang-orang yang tadinya tidak ikut mengubur, berbondong-bondong datang ingin menyaksikan. Mereka penasaran mendengar berita yang benar-benar tidak bisa dinalar oleh akal itu.

 

Pada akhirnya, warga yang selama ini sudah mengetahui perilaku buruk Partini semasa hidup, hanya bisa mengucap istigfar. Sebab, apa pun yang dikehendaki oleh Allah, sesuatu yang mustahil bisa saja terjadi. Mungkin, itulah balasan bagi orang yang berbuat zinah dan menelantarkan anak hasil hubungan gelapnya. Wallahu’alam.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: