jump to navigation

GILA SEPULANG DARI MEKKAH April 19, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , , , ,
trackback

Rasimah ingat pesan ibunya, tetapi sejauh mana nasihat orang tua itu dipatuhinya, wallahu a’lam. Menjelang beberapa hari lagi dia ke mekah, Rasimah menemui ibunya dan setiap anggota keluarganya untuk memohon ma’af. Dia mengakui atas segala kesalahan yang lalu yang membuat anggota keluarganya berkecil hati. Dan mereka pun memaafkan Rasimah.

 

            Namun apa yang dikhawatirkan ibunya ternyata malah terbukti. Selama menunaikan ibadah haji di Mekah, Rasimah selalu mendapat berbagai cobaan dan rintangan, kesehatan  wanita itu terganggu, tubuhnya dirasakan bagai hendak demam, jiwanya terasa tertekan dan pikirannya seolah diselubungi khayalan.

 

            Latif, suami Rasimah telah berusaha semaksimal mungkin mengatasi masalah Rasimah yang tidak stabil itu sepanjang mengerjakan ibadah haji. Beberapa kali dibawanya Rasimah ke dokter, tetapi hasilnya nihil. Begitu juga beberapa orang alim yang didatanginya, semuanya mengatasi penyakit misteri Rasimah.

 

            Ketika musim haji selesai, Rasimah dan suaminya pulang dengan selamat, tapi malangnya, keadaan Rasimah semakin parah. Dibilang sakit, tetapi ia tidak sakit, dia bias makan – minum, berjalan kesana kemari seperti biasa. Namun yang jelas berubah ialah mentalnya, Rasimah mulai bercakap-cakap sendirian, kadang ia tertawa, kadang-kadang ia menangis. Saat lain dia menjerit-jerit bahkan sampai puncaknya, baju yang dipakainya bias dirobeknya sendiri sampai terlihat aurat yang mestinya ditutupi.

 

            Ketika keadaannya tidak dapat diatasi lagi, Rasimah dibawa ke dokter lagi. Dokter yang menanganinya menyatakan wanita itu mengidap penyakit mental. Di rumah sakit, Rasimah ditempatkan di bangsal psikiatri yang berjeriji besi, agar orang-orang yang berpenyakit gila seperti Rasimah tidak dapat melarikan diri, itulah nasib yang dialami oleh Rasimah sepulang dari menunaikan ibadah haji.

 

 

            WANITA ANGKUH

            Melihat keadaannya sekarang, orang tidak menyangka wanita ini dulunya angkuh, egois, cepat marah dan seorang istri yang sok berkuasa. Ketegasan Rasimah mendidik anak-anaknya sangat keterlaluan, mungkin niatnya baik untuk membentuk sikap anak-anaknya agar menghormatinya, tapi cara mendidiknya sangat salah.

 

            “Aku ingin anak-anakku menurut perkataanku!” katanya memberi alas an. Saking merasa berkuasanya terhadap anak-anaknya, suaminya pun dilarang ikut mencampuri urusannya dengan anak-anaknya. “Kamu jangan mencoba ikut campur mengurusi rumah tangga saya dengan anak-anak”, katanya kepada Latif.

 

            Latif yang berwatak lemah lembut itu enggan memperpanjang permasalahan, dia merasa lebih nyaman mengambil sikap berdiam diri kalau dia bertengkar dengan isterinya, menurutnya kalau dia lawan kemauan istrinya, rumah tangganya bisa kacau. Malangnya sikap Latif yang tidak mau mengeruhkan suasana harmonis dalam rumah tangga, malah dipandang sebagai satu kelemahan oleh Rasimah. Dai sendiri melecehkan kelemahan suaminya itu. Dia berpikir, kalau tidak karena ketegasannya anak-anaknya tidak akan berhasil menjalani hidup ini.

 

            Mereka dikaruniai empat orang anak. Anak yang sulung perempuan, berusia 20 tahun, anak keduanya juga perempuan 18 tahun, dan dua anak laki-lakinya berusia 16 dan 14 tahun. Sebenarnya mereka tidak tahan dengan sikap ibunya yang terlalu mengekang. Untuk memprotes sikap ibu mereka, anak-anak ini hanya patuh di depan Rasimah saja, tetapi dibelakang nya mereka masa bodoh

 

            Apabila ada anggota keluarga Rasimah yang mengadu dan menegur kelakuan tidak baik dari dua anak gadisnya itu, Rasimah Marah. “Aku tak percaya anak-anakku berbuat tidak senonoh seperti itu. Kamu semua sengaja mengada-ada cerita untuk memburuk-burukkan keluargaku”, marah Rasimah keada orang-orang yang mengadukan kelakuan anaknya.

 

Sikap Rasimah yang tidak mau mendengar pengaduan keluarganya itu membuat anggota keluarganya tidak lagi mau menegur kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak Rasimah..Buka hanya kepada adik dan kakaknya saja Rasimah bersikap begitu, bahkan ibunya sendiri pun dihardiknya, satu hari ibunya menegur, “Aku lihat kamu ini membiarkan si Liza itu bebas sekali, pakaiannya entah apa, sudahlah ketat, terlihat itu terlihat ini”. Teguran ibunya itu membuat Rasimah marah “Itulah, ibu dan adik-adik iri hati karena anak-anakku pandai dan aku punya uang”, jawabnya kepada ibunya.

 

            Namun Rasimah lupa, sikap congkak dan sombongnya itu akhirnya memakan dirinya juga. Satu hari didepan ibu dan ayahnya, Liza mengungkapkan hasratnya untuk menikah segera. Apa kau sudah gila, ingin segera kawin ? Apakah kamu sadar, sementara kamu sendiri masih belajar!” sanggah Rasimah. Latif dengan sikap tenangnya seperti biasa mendiamkan diri saja. Mendengar ibunya marah besar seperti itu, Liza ketakutan, Rasimah mulai menduga-duga ada sesuatu yang terjadi dengan anak sulungnya itu.

 

“Kamu benar-benar ingin menikah ? lelaki mana yang membuat kamu tergila-gila seperti itu, heh!” hardiknya. Liza menangis meratap, “Ampunkan Liza bu, Liza sudah terlanjur dengan lelaki itu……..”Liza tidak dapat meneruskan kata-katanya. “Astaghfirullahal ‘azim, apa yang telah kamu lakukan Liza………….?” Rasimah mengucap panjang. Langit ini ia rasakan bagaikan mau runtuh menimpanya ketika Liza mengaku bahwa dia telah mengandung hamper dua bulan.

 

            Latif yang selama ini bagaikan terbius dengan sikap sok kuasa istrinya mulai menyalahkan Rasimah. Namun Rasimah tidak mudak mengalah, walaupun lelaki yang menghamili anak gadisnya itu melarikan diri, Rasimah berusaha melindungi aib tersebut dari pengetahuan keluarganya, bahkan hinggalah Liza selamat melahirkan anak diluar nikahnya itu.

Namun seperti kata pepatah, serapi-rapi kita menyimpan bangkai, akhirnya baunya akan tercium juga. Begitu pula dengan aib yang menimpa keluarga itu, sekuat apapun Rasimah menutupi rahasia itu, toh akhirnya terbongkar juga.

 

            Suatu hari, ibu Rasimah yang lama tidak berkunjung kerumahnya, secara mengejutkan tiba-tiba muncul tanpa diundang. Kemunculan ibunya itu membuat Rasimah benar-benar terkejut bukan kepalang.  “Eh………mengapa ibu dating tidak memberitahu dulu?” tanyanya dengan keadaan serba salah, ketika itu ditengah ruang tamu terletak box bayi, diamana seorang bayi berusia enam bulan sedang tidur nyeyak.

 

            “Anak siapa yang tengah tidur dalam buaian itu?” Tanya ibu Rasimah. Serba salah Rasimah menjawabnya, tiba-tiba secara kebetulan, Liza yang baru keluar dari kamar berterus terang memberitahu neneknya “Itu anak Liza, nek” katanya sambil bersalaman dan mencium tangan neneknya.

 

Terkejut orang tua itu “Kapan kau menikah dan tiba-tiba sudah punya anak?”. Rasimah akhirnya terpaksa berterus terang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ibunya mengeluh panjang mendengar pengakuan Rasimah.     “Inilah balasan yang kau terima karena tak mendengarkan perkataanku, kamu harus bertaubat, Simah. Aku dengar kau akan pergi haji. Insaflah dengan apa yang telah kau lakukan selama ini. Kau minta ampun kepada suamimu. Ubahlah sikap kamu Simah!” begitu nasihat ibunya kepada Rasimah.

 

            SUAMI YANG SETIA

            Rasimah menjerit-jerit lagi. Dia memegang kuat-kuat jeriji besi itu bagaikan hendak mematahkan besi yang memisahkan dirinya dengan dunia luar itu. Kini Rasimah harus hidup dibatasi terali besi, tetapi diluar sana, di balik jeruji besi itu, Latif yang begitu setia mengunjunginya setiap hari dan selalu menunggunya, dan keadaan itu berlanjut hingga sekarang.           

 

Source: Hidayah_2_19_0203_Gila Sepulang Dari Makkah

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: