jump to navigation

Di Balik Jerat Hutang IMF April 19, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Dana Moneter Internasional (IMF) mendukung rencana penjadwalan kembali utang luar negeri Indonesia senilai 2,1 milyar dollar AS. Perlu diketahui bahwa tahun ini pemerintah RI harus membayar utang luar negeri sebesar 2,1 milyar dollar AS kepada negara-negara donor, karena telah jatuh tempo. Namun kondisi perekonomian dalam negeri yang belum pulih dari terpaan krisis ekonomi menyebabkan pemerintah RI meminta penjadwalan utang luar negeri yang jatuh tempo pada tahun ini. Dan permintaan untuk penjadwalan kembali utang luar negeri ini akan menjadi agenda pertemuan dengan negara-negara donor dalam Paris Club II yang berlangsung pada tanggal 12-13 April ini di Paris, Perancis (lihat Kompas, 11/04/2000).

Sejumlah negara donor menyatakan keberatannya dalam menjadwalkan kembali utang luar negeri Indonesia karena mereka menilai Indonesia tidak mampu menepati butir-butir Letter of Intent (LoI) yang dibuat antara pemerintah RI dan IMF pada akhir Januari lalu. Inilah yang kemudian memicu sikap IMF yang menunda pencairan dananya sebesar 400 juta dollar AS serta memutuskan untuk mengirimkan tim peninjau ulangnya ke Jakarta pada paruh kedua bulan April ini. Ancaman IMF ini membuat pemerintah RI –yang sudah kecanduan dengan utang luar negeri- seperti kebakaran jenggot, sampai-sampai Gus Dur menyatakan kekecewaannya pada kinerja menteri-menterinya yang berhubungan langsung dengan ekonomi.

Masalahnya adalah sampai kapan kita terjerat dalam kubangan utangan luar negeri yang dibuat oleh IMF, dan bagaimana caranya kaum muslimin dapat melepaskan diri dari perangkap utang luar negeri ?

Fakta Utang Luar Negeri

Permintaan pemerintah RI untuk menjadwalkan kembali utang luar negerinya mengingatkan kita pada kenyataan akan besarnya utang luar negeri RI dan bahayanya yang besar bagi kondisi ekonomi secara keseluruhan. Akumulasi utang luar negeri Indonesia saat ini sudah mencapai angka fantastis 150 milyar dollar AS ! Jika utang ini dibagi-bagi kepada setiap penduduk Indonesia, maka setiap orang –termasuk bayi yang baru lahir– akan menanggung utang luar negeri sebesar U$ 750 dollar (setara dengan Rp.5.625.000 bila kurs 1 dollar = Rp.7500). Jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan perkapita penduduk (GNP) Indonesia dalam setahun.

Kalau utang luar negeri itu hanya sekedar pelengkap -–malah dalam APBN tahun 2000 yang disusun pemerintahan Gus Dur sengaja tidak dicantumkan dalam pemasukan– lalu mengapa selama hampir 35 tahun terakhir ini pemerintah selalu mencari pinjaman ke negara-negara donor, baik itu yang tergabung dalam CGI, IMF, maupun Bank Dunia ? Dan mengapa setiap tahunnya jumlah utang luar negeri Indonesia secara akumulatif makin meningkat ? Malah untuk membayar bunganya saja sudah jauh lebih besar dari jumlah utangnya setiap tahun. Hal itu terlihat dari APBN tahun 2000, dimana pemerintahan Gus Dur harus membayar beban bunga utang sebesar Rp. 58,9 trilyun (termasuk bunga rekapitalisasi perbankan).

Jika demikian, bukankah utang luar negeri itu sudah menjadi beban yang tidak mampu dipikul lagi oleh pemerintah Indonesia, dan itu terlihat dari permintaan penjadwalan utang luar negeri yang jatuh tempo tahun ini meski ‘cuma’ sebesar U$ 2,1 milyar dollar. Padahal jumlah utang luar negeri kita sekitar U$ 150 milyar dollar. Lalu siapa yang terbebani untuk membayar utang yang sedemikian besarnya itu ? Tidak lain kembali kepada rakyat yang notabene adalah kaum muslimin. Buktinya pos penerimaan dari sektor pajak –yang tentu hakikatnya dibayar oleh masyarakat- dalam APBN tahun 2000 nilainya mencapai Rp. 97,78 trilyun dari keseluruhan nilai penerimaan APBN sebesar Rp. 137,69 trilyun, atau lebih dari 70% penerimaan anggaran belanja negara diperoleh dari pajak. Dan obyek pajak adalah rakyat !

Lebih celaka lagi bila kita tidak memiliki solusi praktis untuk keluar dari jeratan utang luar negeri yang dipasang oleh negara-negara Barat melalui IMF, lalu tunduk sepenuhnya dengan arahan IMF. IMF lah yang menuntut pemerintah untuk memotong subsidi atas BBM, Listrik, PDAM, dll yang nyata-nyata amat dibutuhkan rakyat. IMF pula yang menentukan program rekapitalisasi perbankan yang menghabiskan uang ratusan trilyun rupiah hanya untuk lembaga-lembaga keuangan, bukan untuk rakyat. IMF juga berperan aktif dalam deregulasi ekonomi dan perdagangan, privatisasi BUMN yang mengakibatkan jatuhnya perusahaan-perusahaan publik yang dimiliki oleh pemerintah ke tangan asing. Belum lagi desakan IMF yang tidak setuju dengan sistem nilai tukar rupiah dengan mata uang asing yang di-peg-kan (dipatok pada nilai tukar tertentu) maupun mengambang terkendali, yang menyebabkan hancurnya rupiah di hadapan mata uang asing. Setelah kita mengalami sendiri bencana ekonomi yang amat parah karena resep-resep yang kita telan begitu saja dari IMF, Bank Dunia dan lembaga keuangan Internasional lainnya, maka masihkah kita percaya pada lembaga-lembaga keuangan tersebut? Tidakkah ummat ini menyadari besarnya bahaya utang luar negeri yang sengaja dipasang untuk menjerat secara perlahan-lahan kaum muslimin ?

Rekayasa Negara-negara Kafir melalui IMF

Sesungguhnya, setiap orang yang melihat dan memperhatikan fakta utang luar negeri, paling tidak terdapat empat bahaya besar yang jelas-jelas tampak, antara lain :

  1.  
    1. Utang yang diberikan negara-negara Kafir Kapitalis kepada negeri-negeri miskin –termasuk di antaranya adalah negeri-negeri kaum muslimin seperti Indonesia– pada hakekatnya adalah salah satu cara yang ditempuh mereka untuk menjajah secara ekonomi negara-negara pengutang –yang memiliki sumber alam melimpah.
    2. Sebelum utang diberikan, negara-negara donor –yang Kapitalistis itu- memberikan syarat-syarat berat terhadap negara-negara pengutang untuk mengetahui kapasitas dan kapabilitas negara pengutang dengan cara mengirimkan pakar-pakar ekonominya untuk memata-matai rahasia kekuatan/kelemahan ekonomi negara tersebut, dengan dalih bantuan konsultan teknis, atau review program. Bahkan team IMF yang berunding dengan pemerintah Indonesia beberapa hari lalu mengintervensi jauh hingga sanggup menentukan jadwal pelantikan Dirjen. Dan itu terlihat dalam time schedule yang diperbaharui untuk merealisasikan LoI yang tidak dapat dipenuhi targetnya hingga akhir Maret lalu.
    3. Utang luar negeri yang diberikan pada dasarnya merupakan senjata politik negara-negara Kapitalis Kafir yang dipimpin oleh AS terhadap negeri-negeri kaum muslimin untuk memaksakan kebijakan politik dan ekonominya atas kaum muslimin. Disini terlihat jelas bahwa tujuan mereka memberikan utang bukanlah membantu negara lain, akan tetapi untuk mencapai kemaslahatan, kepentingan dan keuntungan mereka sendiri. Mereka telah menjadikan negara-negara pengutang sebagai lahan subur tempat mereka bercocok tanam. Sementara kita sebagai pemilik lahan itu, malah menjadi petani penggarap yang diupah amat rendah, itupun dengan dicicil.
    4. Utang luar negeri sebenarnya amat melemahkan dan membahayakan negara pengutang, terutama utang-utang berjangka waktu pendek. Perlu diketahui bahwa utang yang dibayar oleh kita kepada mereka itu dalam bentuk dollar. Jatuhnya nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing ini mengakibatkan beban pembayaran utang makin berat, karena terdepresiasinya rupiah terhadap dollar. Dengan kata lain, meski kita tahun ini tidak berutangpun, beban utang yang harus dibayar semakin besar bukan saja karena bunga utang namun terpuruknya nilai mata uang negara pengutang terhadap nilai mata uang asing.
  2.  

     

Berdasarkan kenyataan ini jelaslah bahaya tersembunyi yang ada di balik ketergantungan Indonesia terhadap utang luar negeri. AS dalam hal ini yang mengendalikan lembaga-lembaga keungan Internasional seperti IMF dan Bank Dunia dengan amat mudah dapat menghancurkan perekonomian negeri-negeri kaum muslimin. Selanjutnya memaksakan kepentingan politik dan ekonominya terhadap negeri-negeri kaum muslimin. Bagi mereka amatlah mudah menundukkan penguasa-penguasa yang ada di negeri muslim –yang selama ini telah bertindak zhalim atas kaum muslimin– lalu meletakkannya sebagai penjaga-penjaga setia bagi kepentingan negara-negara kafir Kapitalis itu, meski dengan menelantarkan dan membinasakan kaum muslimin. penjaga-penjaga setia mereka membangkang kenegara-negara kafir itu, maka mereka akan menggantikannya secara paksa dengan berbagai cara. Tidakkah kita melihat kasus lengsernya Soeharto –sesaat setelah IMF dan bank Dunia membangkrutkan Indonesia lewat krisis moneter yang memaksa Soeharto mundur?!

Putus Hubungan dengan IMF

Setelah kita menyaksikan dan merasakan sendiri sedemikian banyak kesengsaraan yang ditimbulkan oleh IMF dan Bank Dunia, serta sikap tunduk patuh penguasa terhadap negara-negara Barat kafir yang dipimpin oleh AS melalui lembaga-lembaga keuangan Internasionalnya, maka masihkah kaum muslimin tidak mau mengambil pelajaran dari keserakahan AS dan negara-negara kafir Barat lainnya yang tidak pernah merasa puas untuk menguasai negeri-negeri Islam yang kaya dengan sumber alam dan barang tambangnya, lalu menjerat kita dengan utang luar negeri? Sungguh ironis kalau masih ada di antara kita yang justru bersorak gembira memperoleh utang yang disodorkan mereka!

Apakah kita, wahai umat yang berakal, tidak memperhatikan bagaimana AS dan negara-negara barat kafir melalui IMF dan Bank Dunianya menekan dan memaksakan kepentingan serta ideologi mereka kepada kita dengan mengkaitkan utang luar negeri dengan isu-isu HAM, Demokratisasi, Keterbukaan, Reformasi, Lingkungan hidup, perburuhan, dll, yang sesungguhnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan utang luar negeri ?

Sungguh sangat aneh bin ajaib, negeri-negeri Islam yang sungguh sangat kaya dengan sumber alam dan barang tambangnya, namun kaum muslimin miskin dan mengemis pada negara-negara Barat kafir yang tidak memiliki sumber alam dan barang tambang sebanyak negeri-negeri Islam. Lebih-lebih rang-orang kafir itu telah dihinakan oleh Allah SWT, yang tidak layak menguasai dan memimpin ummat yang mulia, umat terbaik, yaitu ummat Islam. Tidakkah kita perhatikan, wahai kaum muslimin, sebab dari keanehan dan keganjilan itu adalah tidak diterapkannya sistem pemerintahan, politik dan ekonomi Islam yang muncul dari aqidah dan keimanan kaum muslimin kepada Allah dan Rasul-Nya. Justru para penguasa kaum muslimin bekerjasama dengan negara-negara kolonialis imperialis Barat menerapkan dan memaksakan sistem pemerintahan, politik, dan ekonomi kapitalis yang muncul dari aqidah sekularisme bangsa Barat yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam! Ditambah lagi korup dan lemahnya penguasa menyebabkan kekayaan umat dinikmati oleh segelintir orang, malah sebagian besarnya dihisap habis oleh negara-negara barat kafir penjajah yang merekayasa sistem kehidupan yang dipaksakan kepada kaum muslimin tersebut.

Setelah jelas semua itu, masihkah ada di antara umat ini yang ingin tetap mempertahankan hubungan dengan IMF?

Khatimah

Maka masihkah kita, wahai kaum muslimin, percaya kepada penguasa yang tidak mau kembali menerapkan syariat yang Islam yang mulia, padahal mereka mengaku seorang muslim? Dan apakah kita tetap akan membiarkan penguasa yang zhalim menggadaikan negeri kita kepada negara-negara barat kafir hanya karena memberikan kelonggaran mencicil utang ?

Dan apakah kita merasa gembira dengan ‘pengorbanan’ negara-negara donor itu dengan pemberian utang? Jangan kita lengah, sungguh orang-orang kafir Barat itu akan mengorbankan apa saja yang mereka miliki untuk menghalangi kaum muslimin kembali berkuasa di muka bumi dan menegakkan syariat Allah SWT –yaitu syariat Islam – secara total melalui berdirinya Daulah Khilafah Islamiyah.

Friman Allah SWT :

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. “ (QS. Al Anfal : 36).

Wallahu ghaalibun ‘ala amrih walaakinna aktsarannaasi la ya’lamuun!

Source: Hizbut Tahrir

Comments»

1. dealer pulsa - December 21, 2010

hutang membuat kita sengsara

2. eko marwanto - May 19, 2011

terima kasih sekali atas sharenya, semoga bermanfaat untuk umat, dan yang membagikan ilmu semaoga selalu bertambah terus ilmunya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: