jump to navigation

DARAH KELUAR DARI LIANG KUBUR April 19, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
trackback

I. Awal Cerita

Kegetiran hidup membawa konsekwensi yang sangat mengkhawatirkan bagi seorang yang rapuh imannya. Apalagi kalau pikirannya selalu digelayuti bayangan kenikmatan dunia. Ragam perhiasan, fasilitas mewah dan kehormatan menjadi sesuatu yang selalu menggang tidurnya. Hawa nafsu lantas menguasai nurani dan membuatnya lupa untuk sejenak merenung bahwa kekayaan hanyalah titpan semata. Tak pernah terpikir segala sesuatu yang diperbuat akan diminta pertanggungjawabannya kelak.

 

            Kesadaran seperti itu tidak sepenuhnya dipahami oleh seorang pedagang rempah-rempah yang bersala dari daerah Blora, Jawa tengah ini. Ia lebih memilih jalan sesat untuk mencapai kesuksesan hidup. Allah pun murka dan memberi azab yang tak terkira pedihnya. Kepala dan sebagian badannya hancur. Keanehan lantas terjadi saat jenazahnya akan dimakamkan. Lubang kubur yang telah disiapkan tiba-tiba mengeluarkan cairan laksana darah yang merembes dari sela-sela tanah. Demi menjaga nama baik keluarganya, semua tokoh di dalam cerita (termasuk nama narasumber) serta lokasi kejadian sengaja kami samarkan.

 

II. Sosok ambisius yang melakukan perselingkuhan

            Sejak usia muda, Rasimah (35thn) telah terbiasa membantu ibunya berjualan rempah-rempah dipasar Rembang. Ia termasuk wanita yang ambisius dank eras kepala, meski pendidikannya hanya sampai di Sekolah Dasar (SD). Saat berusia 18 tahun ia menikah dengan Tumijan (39 thn) yang berprofesi sebagai pekerja di lahan jati milik seorang pengusaha dari Jakarta. Sedangkan Rasimah sendiri sesekali masih membantu ibunya yang berjualan di pasar.

 

            Perjalanan keluarga mereka terbilang harmonis, namun memasuki usia sepuluh tahun perkawinan mulai sering terjadi pertengkaran diantara mereka. Rasima merasa kehidupan ekonominya tak juga berubah, apalagi hanya menyandarkan hidup dari gaji suaminya yang terbilang kecil. Sifat ambisiusnya yang dahulu terpendam kini muncul kembali, ia sudah teramat bosan selalu hidup dalam kemiskinan.

 

            Khayalan akan kesenangan hidup telah membuat Rasimah lupa diri. Diam-diam ia menjalin asmara dengan seorang pedagang kelontong yang cukup sukses di pasar tempat ibunya berjualan. Bahkan ia sampai berani membawa selingkuhannya itu kerumah saat suaminya pergi bekerja, namun “sepintar-pintarnya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga”. Kemudian suaminya tahu dan sempat terjadi pertengkaran sengit. “Tetangga-tetangganya jadi bingung, yang minta cerai itu bukan suaminya, tapi Rasimah, padahal setahu saya meski hati Pak Tumijan sakit, tapi ia masih sayang sama isterinya. Apalagi mereka sudah dikarunia dua orang anak laki-laki. Bisa jadi selama berkeluarga Rasimah lebih mendominasi”, ujar Supriyanto (32 thn) yang termasuk keluarga jauh namun masih tinggal satu desa.

 

            Beberapa bulan kemudian Rasimah melangsungkan perkawainan dengan selingkuhannya, tapi baru sekitar dua tahun mereka resmi berpisah. Suaminya merasa kecewa sebab motivasi Rasimah hanya semata-mata harta. Hebatnya, semua itu Rasimah kemas dengan rayuan manis untuk menutupi kesemuan cintanya.

Suami mana yang tahan kalau setiap hari isterinya hanya bisa berdandan. Parahnya lagi membuat sarapan pagi saja Rasimah tidak mau. Padahal ia sering meminta uang untuk belanja perhiasan dan barang-barang berharga lainnya. Mata hatinya telah dibutakan oleh kesenangan yang belum pernah diperolehnya selama ini.

           

Entah bagaimana kejadiannya, setelah beberapa tahun menjanda, Rasimah rujuk kembali dengan suami yang pertama. Resminya hubungan mereka ditandai dengan syukuran secara sederhana yang dihadiri oleh para saudara dan tetangganya.

 

III. Nekat melakukan pesugihan

            Kesenangan yang baru sebentar dirasakan bersama suami keduanya, membuat Rasimah rindu untuk merengguknya kembali. Kenangan-kenangan itu selalu hadir dan membuatnya pusing, sayang ambisinya untuk hidup enak hanya sebatas khayalan tanpa dibarengi usaha kongkrit. Sampai akhirnya tanpa sepengetahuan suaminya ia pergi melakukan pesugihan.

           

“Entah kemana Rasimah pergi, tapi ada yang bilang kalu ia ingin menemui kakak pertamanya yang tinggal di daerah Purworejo, Jawa Tengah, semanjak pulang dari sana ia sepenuhnya menggantikan ibunya berjualan rempah-rempah, kata orang ia menggunakan penglaris. Bagaimana tidak baru beberapa bulan berjualan ia sudah bisa membeli sepeda motor baru dengan cash. Padahal setahu saya hasil jualan ibunya kemarin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa hari,” ujar Supriyanto hamper tak percaya.

           

Dalam waktu yang tidak terlalu lama kurang dari setahun, Rasimah sudah bisa membangun rumah dan membeli mobil truk berukuran sedang. Kini ia bukan lagi pedagang cabai dan bawang merah yang menepati emperan pasar, ia sudah mempunyai ruko khusus sekaligus menjadi penyalur kebutuhan pedagang rempah-rempah di pasar Rembang dan sekitarnya.

 

            Dua kali seminggu, Rasimah bersama suaminya pergi membeli rempah-rempah, khususnya cabai dan bawang merah kedaerah Brebes. Ia langsung membeli kepada para petani, sebab harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan para tengkulak.

 

IV. Jatuh tertimpa truk

            Suatu malam sejak pukul setengah selapan malam Rasimah bersama suaminya sudah berangkat menuju daerah Brebes, Jawa Tengah. Hari tu ia bersama suaminya sudah punya janji dengan para petani cabai dan bawang merah untuk membeli hasil panen mereka. Aktifitas itu sudah beberapa kali ia lakukan sejak resmi menjadi penyalur rempah-rempah.

 

            Kedua suami isteri itu pergi mengendarai truk berukuran sedang bersama Adna, keponakan dari suaminya yang bertugas sebagai sopir. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan , akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Para petani yang sudah menunggu kedatangannya segera menimbang dan memasukkan cabai serta bawang merah ke dalam karung. Jumlah semuanya sekitar satu ton lebih. Karung-karung tersebut kemudian dimasukkan kedalam truk, sementara Rasimah menghitung uang untuk melakukan pembayaran.

 

Tanpa merasa perlu istirahat mereka segera melanjutkan perjalanan pulang. Sebelumnya Tumijan meminta isterinya agar naik terlebih dahulu dan duduk disebelah sopir, namun dengan alasan lelah dan kantuk, Rasimah bersikeras duduk dibelakang (dibak), sambil menggelar terpal sebagai alasnya.

 

            Mobil berjalan kencang seakan berburu dengan malam yang merambat pagi. Suasana yang lenggang membuat sopir tak ragu menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Padahal ia sudah beberapa kali menguap tanda kantuk tak tertahan. Rokok kretek entah yang keberapa kembali ia nyalakan, kepulan asap dan kenikmatan rasanya tetap tak membuat tegar matanya, terlebih Tumijan yang seharusnya menemaninya mengobrol malah mendengkur sambil kakinya selonjor ke dashboard mobil. Sama halnya dengan Rasimah, kelelahan telah membalutnya mengarungi mimpi meski ditempat seadanya.

 

            Perjalanan panjang telah ditempuh dan mobil mulai memasuki daerah Rembang. Tiba-tiba mobil yang mencapai kecepatan 100 km/jam itu menghantam sebuah lobang lumayan besar. Sopir yang sekejap tertidur kaget dan kehilangan kendali. Laju mobil tak tertahan dan meluncur melewati bahu kiri jalan yang sedikit curam. Operan kopling ke gigi rendah yang dibarengi dengan pengereman, tak membantu usaha sang sopir.

 

            “Ciiiittttttttttt……ciiittttt…….bbbrrrakkkk…….!” denyit suara ban hanya terdengar sesaat, selanjutnya dentuman truk yang terguling menjadi penghias kesunyian pagi itu. Karung cabai dan bawang merah berhamburan tak tentu arah. Rasimah yang masih terlelap tidur pun ikut terlempar keluar bak truk. Naas , Rasimah sedang tak beruntung, ia salah mendarat dan langsung tertimpa badan truk, bayangkan truk yang sekian ton beratnya menimpa tubuh Rasimah, tak ayal kepala Rasimah hancur sampai otaknya keluar. Ceceran otak yang berwarna putih terlihat dilokasi kejadian. Ususnya sedikit terburai akibat gesekan dengan badan truk. Sebab lokasinya sedikit curam dan membuat truk tidak langsung berhenti, tak ayal tubuh Rasimah terseret hingga beberapa meter.

 

            Rasimah meninggal seketika, darah segarnya berceceran dimana-mana bercampur dengan cabai dan bawang merah. Sungguh kejadian trgis yang membuat merinding bulu roma. Akan tetapi kondisi berbeda dialami sopir dan suaminya, mereka hanya terluka ringan akibat terbentur dan terkena pecahan kaca.

 

Tumijan yang mengetahui kondisi isterinya langsung teriak histeris, ia begitu ngeri dan tak tega melihat pasangan hidupnya begitu menderita, tanpa menunggu waktu ia langsung memanggil keponakannya yang masih linglung, untuk minta diberhentikan mobil. Ia berharap isterinya masih bisa diselamatkan dengan membawanya ke Rumah Sakit (RS) terdekat.

 

            Mobil tumpangan membawa Rasimah ke RS di daerah Rembang. Mobil langsung di parkir di depan ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Para dokter yang bertugas segera memberikan tindakan medis. Sayang, nyawa Rasimah memang sudah tidak bisa diselamatkan. Sesuai prosedur, luka-luka Rasimah dijahit agar darahnya tak keluar lagi.

 

            “Pak Tumijan meminta keponakannya, Adnan untuk memberikan kabar kepada keluarganya di Blora. Ada beberapa orang yang lantas menyusul diantaranya ibu dan bapapaknya Rasimah,” jelas Supriyanto yang mengetahui persis mereka berangkat.

 

Jenazah Rasimah langsung dimandikan dan diberi kain kafan. Petugas yang mengurusnya memberi saran agar kain kafannya nanti jangan dibuka, sebab muka Rasimah yang hancur dan badannya yang penuh luka bisa jadi akan membuat ngeri dan tidak tega orang yang melihatnya.

 

V. Cairan darah dari sela-sela dinding kubur

            Kabar kematian Rasimah dengan cepat menyebar . Para kerabat dan tetangganya cemas menunggu kedatangan jenazah dari rumah sakit. Hati mereka penasaran ingin mengetahui kondisi dan cerita sebenarnya yang menimpa Rasimah. Tak lama kemudian mobil ambulance tiba. Jenazah Rasimah langsung dibaringkan diruang tengah rumahnya yang terlihat megah. Sontak tangis anak dan keluarganya memecah ruangan. Mereka ingin sekali melihat wajah Rasimah untuk terakhir kalinya. Namun Tumijan yang ingat pesan petugas di rumah sakit melarang mereka untuk membuka kafannya.

 

            Selepas tengah hari setelah dishalatkan di musholla dekat rumahnya, jenazah Rasimah dibawa ke perkuburan desa, disana telah menunggu beberapa orang penggali kubur yang sedang duduk istirahat. Saat itu belum ada tanda-tanda keanehan yang akan terjadi. Penggali kubur dan seorang kerabat Rasimah tengah siap hendak turun ke liang kubur. Mereka terperanjat dan langsung mengurungkan niatnya sebab terjadi keanehan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Dari sela-sela tanah kubur tampak rembesan cairan berwarna merah pekat, tercium bau anyir darah, namun terlalu menusuk hidung. Semua orang yang melihat terbengong-bengong tak tahu harus berbuat apa. Lama kelamaan cairan yang keluar bertambah banyak bahkan dasar kubur mulai tergenang hampir seukuran mata kaki orang dewasa. Astaghfirullah al-“Adzim.

 

            “Seumur hidup saya belum pernah melihat kejadian seperti itu. Saya langsung mengucapkan istigfar. Orang lain pun banyak mengucapkan kalimat yang sama. Lalu saya perintahkan dua orang penggali kubur untuk menguruknya dengan sedikit tanah. Karena oarang pada ketakutan akhirnya saya berinisiatif untuk turun ke lubang kubur dengan ditemani Pak Tumijan, serta satu orang saudaranya. Sebelumnya mereka meminta agar tanah urukan itu digali lagi. Saya bilang tidak perlu karena beceknya tidak terlalu parah”, kenang ustadz Murtadha (60 thn) menjelaskan perihal kejadian itu.

 

            Bagian-bagian dinding kubur tempat asal mula keluarnya cairan sudah ditutup dengan tanah, meski demikian bercampurnya tanah dengan cairan tadi membuat dasar kubur menjadi becek dan kemerah-merahan, lalu ustadz Murtadha meminta para pengantar untuk mengeluarkan jenazah Rasimah dari keranda untuk dikebumikan, sebab penguburan harus disegerakan.

 

Melihat jenazah Rasimah dimasukkan ke dalam lubang kubur, sontak tangis keluarga, kerabat Rasimah semakin tak tertahankan. Suasana menjadi begitu haru dan mencekam. Bahkan anak lelaki Tumijan yang bekerja di Jakarta dan sempat datang menyaksikan kejadian itu langsung pingsan.

 

            Kain kafan jenazah yang semula putih menjadi kotor, kemudian jenazah segera dimasukan ke liang lahat dan ditutup dengan potongan-potongan papan yang telah disiapkan. Sekitar jam dua petang prosesi penguburan selesai dengan menyisakan beribu pertanyaan. Amalan apa yang telah diperbuat Rasimah semasa hidupnya? Banyak orang yang menarik kesimpulan kejadian itu terkait dengan kongsi (pesugihan) Rasimah dengan setan untuk meminta kekayaan. Naudzubillah tsumma Naudzubillah. Entah benar atau tidak dugaan itu, wallahu a’lam!

 

            Mudah-mudahan kisah nyata ini menjadi teladan bagi kita dalam mempertahankan iman kita. Kalaupun saat ini kita hidup dalam kemiskinan janganlah kita berani menyekutukan Allah, sekedar untuk memperoleh kenikmatan dunia. Memang batasan kemiskinan dan kekufuran begitu tipis. Sebagaimana Rasulullah saw. Bersabda : “Hampir saja kemiskinan (miskin jiwa dan hati) berubah menjadi kekufuran.” (HR> At-Thabrani).

 

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: