jump to navigation

7 KALI NAIK HAJI TAK BISA MELIHAT KA’BAH April 19, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , ,
trackback

 

“Kubur adalah rumah akhirat pertama. Bila selamat di kubur, maka yang setelahnya menjadi lebih mudah, bila tidak selamat di kubur, maka setelahnya lebih sulit.” (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)

 

            Wanita ini luar biasa kejinya, ia mencari uang dengan berbagai cara, tukar menukar bayi, bahkan memasukkan jimat ke dalam mulut jenazah yang dimandikannya. Ketika ajalnya tiba, bumi tidak mau menerimanya. Ia mati tergulung api.

 

            Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang ibu tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah haji.

 

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu – anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat yang ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam, “Labaikallahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah.”

           

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah)”. Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak bereaksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.

 

Hasan kembali membisikkan ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Diwajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. Beberapa kali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanya kegelapan.

 

Padahal tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tetapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.

 

TUJUH KALI HAJI

            Anak yang sholeh itu bersimpuh dihadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah menghap rahmatNya. Terasa hampa menjadi tamu Allah tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

 

            Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh sungguh, ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya dengan menatap Ka’bah kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Tahun berikutnya kejadian serupa terulang kembali. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah. Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak dimatanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah, hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

 

            Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta didepan Ka’bah. Padahal setiap berada jauh dari Ka’bah pengelihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dar Allah swt. Apa yang telah diperbuat ibunya sehingga mendapatkan musibah seperti itu? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskan untuk mencari seorang alim ulama yang dapat membantu permasalahannya. Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehan dan kebaikannya di Abu Dhabi ( Uni Emirat ).

 

            Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Iapun mengutarakan masalahnya kepada ulama yang saleh itu. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar ibu dari Hasan mau menelponnya. Anak yang berbakti inipun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung sang ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Iapun mau menelpon ulama itu dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci.

 

            Ulama itu kemudian meminta Sarah intropeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah swt. Sarah diminta untuk bersikap terbuka mengatakan dengan jujur apa yang telah dilakukannya.

 

“Anda harus berterus terang kepada saya karena masalah anda bukan masalah sepele”, kata ulama tersebut kepada Sarah. Sarah terdiam sejenak kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percapakan pertama mereka akhirnya Sarah menelpon.

 

“Ustad, waktu masih muda saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit”, cerita Sarah akhirnya. “oh, bagus……..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia”, potong ulama itu. “tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli apakah cara saya itu halal atau haram”, ungkapnya terus terang.

 

            Ulama itu terperangah ia tidak menyangka wanita ini akan berkata demikian “ Disana…….” Sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkannya. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang saya tukar bayi itu sesuai dengan keinginan mereka”.

 

            Ulama tersebut sangat terkejut mendengar penjelasan Sarah. Astagfirullah betapa tega wanita ini menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. Bayangkan betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar tentu nasabnya menjadi tidak jelas padahal nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.

 

            “Cuma itu yang saya lakukan”, ucap Sarah. “Cuma itu?” Tanya ulama terperangah. “Tahukah anda bahwa perbuatan anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah anda hancurkan!” ucap ulama dan dengan nada tinggi “Lalu apalagi yang anda kerjakan?” Tanya ulama itu lagi sedikit kesal.

 

            “Dirumah sakit saya juga melakukan tugas memandikan orang mati”. “Oh bagus itu juga pekerjaan mulia”, kata ulama. “Ya tapi saya memandikan orang mati karena ada kerjasama dengan tukang sihir”. Ilmu sihir atau yang sejenisnya tidak hanya terkenal di Indonesia Negara yang terkesan banyak hal-hal yang sifatnya klenik. Seperti yang kita ketahui pada masa firaun berkuasa banyak ahli-ahli sihir muncul.

 

Ingat peristiwa pertemuan Nabi Musa dan Firaun, dimana Nabi Musa berlomba dengan ahli-ahli sihir. Setelah musuh-musuh Nabi Musa wafat ribuat tahun lalu, ilmu ini tidak hilang begitu saja, masih ada penerusnya sampai sekarang. Di Mesir sampai saat ini masih banyak orang-orang yang menjadikan sihir sebagai pencari nafkah seperti halnya negara ini.

           

“Maksudnya?” Tanya ulama tidak mengerti. “Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang lain, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah melainkan saya masukkna benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.

 

            “Suatu kali, pernah sorang alim meninggal dunia, seperti biasa saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain kedalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental tidak mau masuk walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya emosi saya memuncak saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya, Cuma itu dosa yang saya lakukan.

 

            Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah “Cuma itu yang kamu lakukan? MasyaAllah, saya tidak bisa bantu anda, saya tidak bias menolong anda, saya angkat tangan”. Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah, tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia apalagi seorang wanita yang memiliki hati begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa anda”.

 

            BUMI MENOLAKNYA

            Setelah beberapa lama sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telpon. Ia berharap Sarah telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah sehingga Rahmat Allah dating kepadanya.

 

            Al Qur’an menyebutkan dalam surat Al Baqorah ayat : 218 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharap Rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Setiap dosa, sebesar apapun asalkan kita menyadarinya bahwa perbuatan itu salah dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, InsyaAllah akan diampuniNya. Demikian juga dengan apa yang telah dilakukan Sarah. Ulama itu berharap Allah akan mengampuni segala perbuatannya sehingga Sarah akan mendapatkan jalan kebenaran di dunia dan akhirat.

 

            Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di Mesir. Kebetulan yang menerima telpon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.

 

            “Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad”, ujar Hasan. Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut “ Bagaimana ibu meninggal, Hasan?” Tanya ulama itu. Hasan pun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah , tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras.

 

Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorang pun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Kejadian itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.

           

Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siang pun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hamper maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang. Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang rasanya tidak mungkin.

 

Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri. Dengan ijin Allah lah tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan, kemudian berkata kepadanya, “Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!” kata orang itu. Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut. Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.

           

“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belakang, sampai tiba dirumahmu.” Pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sampai ia diluar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan jenazah ibunya.

 

Sedetik kemudian ia menengok kebelakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Ia seperti di tampar oleh api yang panas itu. Hasan ketakutan, dengan langkah seribu ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.

           

Demikianlah yang diceritakan oleh Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan agar Hasan segera beribadah dengan khusuk dan meminta anpun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya, akan tetapi ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

 

Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya denga ijin Allah akan hilang. Benar saja tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitamannya hilang.

           

Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah swt. Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Amien.

 

 

Source: Hidayah_2_19_0203_7 kali naik haji tak bisa melihat kabah

Siwi Wulandari

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: