Jeritan Remaja 14 Tahun untuk Palestina December 30, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: gaza, islam, israel, kafir, konflik, muslim, palestina, remaja, yahudi
add a comment
Riset: Zionis Gagal Pinggirkan Islam December 15, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: eropa, islam, israel, muslim, yahudi, zionis
1 comment so far
Posted: 13 Dec 2009 10:55 PM PST
JEDDAH–Sikap permusuhan yang ditunjukkan sebagian warga Eropa terhadap Islam terus mereda tahun-tahun belakangan ini. Sebaliknya, saat ini lebih banyak warga Eropa yang memaklumi ketidaksukaan orang terhadap kaum Yahudi akibat kebijakan yang diambil pemerintah Israel. Meredanya tingkat kebencian warga Eropa terhadap Islam, merupakan kegagalan dari target global kaum Zionis untuk memojokkan dan menguncilkan Islam.
Kesimpulan itu diungkapkan dalam hasil studi yang dilakukan terhadap kelompok tertentu yang berbeda (group focussed enmity) oleh Universitas Bielefeld, Jerman baru-baru ini yang dilaporkan harian Saudi Post, Sabtu. Hasil riset itu mengungkapkan, 45,7 persen warga Eropa yang menjadi responden mengamini bahwa Israel melancarkan aksi pembasmian (extemination) terhadap bangsa Palestina.
Sementara 31 persen responden sepakat bahwa Yahudi pada umumnya tidak peduli dengan apapun atau siapapun selain (kepentingan-red) bangsa mereka dan 37,4 persen menyatakan bisa mengerti kenapa orang tidak menyukai Yahudi. Mengutip hasil studi tersebut, Saudi Post menyebutkan, kebencian terhadap
kelompok muslim turun, sebaliknya kebencian terhadap Yahudi meningkat.
Harian itu juga mengutip koran terkemuka negara Yahudi Ynet yang mengakui bahwa tingkat kebencian terhadap kelompok paling minoritas menurun, begitu pula terhadap perbedaan gender yang turun secara signifikan serta meredanya sikap Islamophobia, kecuali terhadap homophobia dan anti-semitism (Yahudi). Menurut laporan Ynet, persentase orang yang menganggap seolah-olah terlalu banyak pemeluk agama Islam tinggal di negaranya cukup tinggi justru di negara-negara yang warganya yang beragama Islam sedikit jumlahnya.
Menurut riset Universitas Bielefeld itu, sangat banyak warga Eropa yang prihatin terhadap dominasi dan kekuasaan kaum Yahudi. Namun riset itu juga melaporkan berita menggembirakan bagi kaum Yahudi dengan menyebutkan bahwa 61,9 persen budaya Yahudi juga ikut memperkaya budaya Eropa khususnya Belanda, Inggeris dan Jerman.
Harian Ynet juga menulis bahwa semangat Zionisme yang pada awalnya bertujuan untuk menciptakan masyarakat yahudi yang beradab dan dicintai, telah menemui kegagalan. Hal itu mencerminkan kegagalan Israel dan lobi-lobinya untuk menginternalisasikan makna universal sesungguhnya mengenai holocaus. Tim ilmuwan dari Universitas Amsterdam, Bielefeld, Budapest, Grenoble, Lisbon, Marburg, Oxford, Paris, dan Warsawa menemukan bahwa 41,2 persen warga Eropa meyakini bahwa Yahudi telah mencoba mengambil mafaat untuk memposisikan diri sebagai korban pada era Nazi dulu. (Republika online, 13/12/2009)
Israel Sedang Mempertimbangkan Larangan Azan Shubuh Untuk Semua Masjid Di Yerusalem December 8, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: Adzan, aqsa, israel, masjid, palestina, palestine, quds, subuh, yahudi
add a comment
Posted: 03 Dec 2009 11:12 PM PST
Beberapa media Israel melaporkan pada hari Kamis (3/12) bahwa Knesset Israel sedang mempertimbangkan sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) baru yang melarang azan shubuh untuk masjid-masjid di Al-Quds (Yerusalem), dan kota-kota yang padat penduduk Palestina.
Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut diajukan oleh anggota parlemen dari partai “Kadima”, Aryeh Bibi, yang mengklaim bahwa dirinya telah menerima permintaan tertulis dan lisan yang menyatakan dimana jutaan orang Yahudi merasa terganggu oleh azan shubuh, katanya. Ia berkata bahwa apabila kaum Muslim ingin mendengarkan azan, maka mereka harus membuat cara yang tidak mengganggu orang lain.
Bibi yang mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut menjelaskan dengan mengatakan: “Jika mereka terpaksa harus mendengarkan azan, maka mereka harus mencari cara lain untuk mengumandangkan azan tanpa mengganggu orang lain.”
Bibi mengatakan bahwa masalah ini telah menjadi masalah global di setiap negara di mana kaum Muslim tinggal bersama komunitas dari agama lain,” katanya. Ia menambahkan, “Apa yang terjadi di Swiss, yaitu larangan membangun menara masjid merupakan bukti bahwa masyarakat sudah mulai untuk mengatasi masalah ini,” seperti yang ia klaimkannya. (alarabiya.net, 3/12/2009)
Penghancuran Al-Aqsha Masuki Tahap Akhir November 24, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: aqsha, islam, israel, masjid, palestina, quds, yahudi
add a comment
Posted: 20 Nov 2009 08:08 PM PST
HEBRON- Anggota legislatif Hamas, Samirah Halayiqah, mengingatkan efek berhaya dari sikap diam dunia Arab dan internasional terhadap rencana Israel menghancurkan Al-Aqsha dan yahudisasi Al-Quds. Sebab rencana Israel sudah mamasuki tahap akhir.
Dalam pernyataan yang diterima Infopalestina hari ini Jumat (20/11) Halayiqah mengecam keras “kondisi mati” bangsa Arab dan umat Islam terhadap apa yang menimpa Al-Quds dan masjid Al-Aqsha. Apalagi upaya Israel melakukan pembersihan sistematis terhadap eksistensi Arab dan Islam di kota suci itu sudah memasuki tahap akhir.
Ia menyayangkan kasus penghancuran masjid Al-Aqsha hanya menjadi sekedar berita sekilas bagi pejabat-pejabat politik Arab dan internasional. Ia meminta agar Arab dan Islam serius membantu warga Al-Quds yang mengalami “kanker raksasa” yang beroperasi siang dan malam untuk menghabisi eksistensi mereka di kota tersebut. Mulai dari penggusuran rumah, satu kampung penuh, menghabisi identitas dan mengusir warga dengan berbagai cara represif tanpa sandaran hukum atau pertimbangan manusiawi.
Hal itu diungkapkan oleh Halayiqah usai pengumuman Yayasan Al-Aqsa soal aktivitas penggalian Israel puluhan meter dari barat masjid Al-Aqsha yang mengancam peninggalan bersejarah Islam di daerah itu termasuk mengancam bangunan masjid Al-Aqsha. Yayasan menyebutkan penggalian itu untuk membangun dua terowongan koridor dan tangga escalator yang mengubungan halaman Al-Barraq dan gerbang Magharibah. (Republika online, 21/11/2009)
Rabi Yahudi Menyerukan Kepada Umat Islam Untuk Memisahkan Agama dan Politik November 17, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: islam, politics, politik, yahudi
add a comment
Posted: 15 Nov 2009 06:48 PM PST
Kepala rabi di Inggris menyerukan kepada umat Islam untuk membiasakan diri hidup sebagai kaum minoritas di Inggris, dan belajar memisahkan agama dari kekuasaan.
Jonathan Sacks berkata bahwa kaum Muslim dan Kristen belum memandangnya dengan tulus terhadap dimensi pelajaran dari kejahatan yang telah dilakukan terhadap orang-orang Yahudi dengan membuangnya ke Babilonia.
Dia juga mengatakan “salah satu keistimewaan besar menjadi seorang Yahudi adalah mengetahui bagaimana menyanyikan nada rendah”, “sejak pembuangan ke Babilonia kami mendapatkan pengalaman hidup selama 26 abad sebagai kaum minoritas di tengah-tengah suatu budaya yang tidak toleran terhadap pandangan hidup kami. Sementara Kristen dan Islam tidak mendapatkan keahlian seperti itu.”
Dia menambahkan bahwa “orang-orang Kristen telah belajar toleransi, tetapi itu hanya setelah 100 tahun dari konflik berdarah di antara sesama mereka di seluruh wilayah Eropa.” “Saya yakin bahwa Islam akan menemukan cara untuk bisa sampai ke substansi yang telah dicapai oleh Yahudi dan Kristen, yaitu masalah pemisahan agama dari kekuasaan.
Tetapi tidak ada cara yang cepat untuk sampai ke sana. Sebab hal itu mengharuskan proses yang sulit dan menyakitkan dalam agama. Hanya saja umat Islam pasti bisa melakukannya. Tidak seorang pun dari luar yang dapat memberitahu (mengintervensi) mereka. Karena ini akan dianggap sebagai penghinaan. Sementara menurut saya hal itu merupakan tindakan yang secara moral tidak dapat diterima.
Dan saya telah melihat bahwa beberapa di antara kaum Muslim yang memiliki kelebihan dan keistimewaan sedang menempuh proses yang indah ini, baik di negara ini maupun di tempat-tempat lain, di Irak dan bahkan di Iran.” (kantor berita HT, 15/11/2009)
Rabi Israel Mengeluarkan Fatwa Untuk Membunuh Anak-Anak Dan Bayi Dari Non-Yahudi November 11, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: baby, bayi, islam, israel, muslim, palestina, yahudi
add a comment
Posted: 09 Nov 2009 08:29 PM PST

Dua orang rabi Israel mengeluarkan fatwa untuk membunuh semua orang yang beragama selain Yahudi, dan khususnya mereka yang mengancam bagi eksistensi Yahudi, termasuk pembunuhan terhadap anak-anak dan bayi sekalipun.
Fatwa tersebut terdapat dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh dua orang rabi, Yitzhak Shapira dan Yossi Elitzur. Kedua orang rabi ini berasal dari pemukiman Yitzhar dekat kota Nablus di utara Tepi Barat.
Dua orang rabi ini, dalam bukunya yang dibagikan kepada warga pemukim, yang berjudul “Taurah Al-Mulk, Kekuasaan Taurat”, menyerukan agar membunuh setiap orang yang membahayakan bagi Israel, meskipun ia seorang anak-anak atau bayi.
Koresponden Aljazeera di Yerusalem, Elias Crum mengatakan bahwa buku itu menjadi panduan (legalitas) yang mengesahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang asing bagi orang-orang Yahudi. Yang jelas, buku itu diarahkan untuk orang-orang Arab, dan warga Palestina pada khususnya.
Dia menambahkan bahwa ada perundang-undangan Israel yang melarang penghasutan, namun dalam kenyataannya itu tidak berlaku, kecuali bagi orang-orang Arab yang sedang diadili atas tuduhan penghasutan. Sementara terhadap orang-orang Israel yang yang jelas-jelas melakukan penghasutan menutup mata, sebagai contoh adalah penghasutan pembunuhan mantan Perdana Menteri Yitzhak Rabin, katanya. (mediaumat.com, 10/11/2009)
Noam Chomsky: Obama, “Godfather” Baru AS November 10, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: godfather, islam, israel, obama, palestina, USA, yahudi
add a comment
Posted: 08 Nov 2009 07:03 PM PST
Intelektual asal AS Noam Chomsky mengingatkan dunia internasional agar tidak terlalu banyak berharap Presiden AS Barack Obama akan melakukan perubahan signifikan dalam gaya pemerintahan dan kebijakan negeri Paman Sam itu. Menurut Chomsky, AS di bawah kepemimpinan Barack Obama masih akan mempertahankan apa yang disebut Chomsky “prinsip-prinsip mafia” dalam kebijakan luar negerinya.
“Ketika Obama resmi menjadi presiden, Condoleezza Rice bilang Obama akan melanjutkan kebijakan Bush dan sedikit banyak itulah yang terjadi. Yang berbeda cuma gaya retorikanya saja. Padahal yang dibutuhkan adalah perbuatan baik buka cuma retorika. Tindakan yang baik akan memunculkan cerita yang berbeda,” ujar Chomsky.
Ia mengungkapkan hal tersebut dalam ceramahnya di School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, Inggris. Pada kesempatan itu, Chomsky membeberkan berbagai contoh doktin-doktrin kebijakan luar negeri AS sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai masa pemerintahan Obama.
Menurutnya, tidak ada perubahan mendasar dalam konsep fundamental kebijakan luar negeri AS. AS masih tetap berpegang pada keyakinan tradisionalnya bahwa jika AS bisa menguasai dan mengkontrol sumber-sumber energi di Timur Tengah, maka AS bisa menguasai dan mengendalikan dunia. Chomsky menyebut doktrin yang diterapkan AS dalam kebijakan luar negerinya untuk medominasi dunia itu sama dengan “prinsip mafia”.
Iran dan Irak
“Seorang Godfather (sebutan untuk bos mafia) tidak mentoleransi ‘para pembangkangnya, apalagi jika pembangkang itu sukses’. Bagi AS, bersikap seperti itu sangat berbahaya dan oleh sebab itu bagi AS, pembangkang harus disingkirkan agar yang lain tahu bahwa ketidakpatuhan pada AS bukan sebuah pilihan. Pembangkang yang sukses, bagi AS merupakan “virus” yang bisa menular kemana-mana,”papar Chomsky.
Dan salah satu “virus” yang ditakutkan AS sampai saat ini adalah Iran. Ketakutan itu sudah ditunjukkan AS saat menumbangkan parlemen Iran yang terpilih secara demokratis pada tahun 1953. “Tujuan AS waktu itu adalah ingin mengendalikan sumber-sumber minyak Iran,” kata Chomsky.
Tapi AS kembali harus menghadapi “virus” pembangkangan pada tahun 1979, ketika pecah revolusi Islam Iran. Kali ini, upaya AS untuk memusnahkan “virus” itu dengan membujuk militer Iran, gagal total. Dan AS beralih memberikan dukungan pada pemimpin Irak, Saddam Hussein saat untuk melakukan invasi ke Iran.
“Sampai detik ini, AS masih terus ‘menyiksa’ Iran dengan sanksi dan alat tekanan lainnya,” sambung Chomsky.
Ia mencibir tudingan yang menyebutkan kemungkinan Iran membangun program nuklirnya untuk membuat persenjataan. Ia malah menyebutkan bahwa AS-lah yang sudah menyiapkan senjata-senjata anti-misil di Israel, bukan untuk pertahanan negara tapi untuk sewaktu-waktu menyerang Iran.
Chomsky juga mengingatkan kembali hubungan mesra AS dengan mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein. Hubungan itu berlanjut hingga selesainya perang Irak-Iran di era tahun 1980-an. AS mengundang para ilmuwan Irak dan memberikan pelatihan dalam bidang program nuklir. AS mulai kesal dengan Saddam Hussein ketika pemimpin Irak itu melakukan invasi ke Kuwait pada tahun 1990-an yang juga salah satu sekutu dekat AS di Timur Tengah.
“AS dengan cepat berubah. Saddam yang tadinya teman akrab AS menjadi sosok yang dianggap seperti reinkarnasi Hitler oleh AS,” tukas Chomsky.
Akhirnya dengan segala cara dan alasan yang manipulatif, AS melakukan agresi ke Irak dan melakukan “genosida” terhadap rakyat sipil di Negeri 1001 Malam itu. Begitu pula di Afghanistan dan kawasan Timur Tengah lainnya, kepentingan AS cuma satu, yaitu menguasai sumber alam berupa hasil minyak bumi yang melimpah di kawasan tersebut dengan atau tanpa kekerasan.
Dan lewat media massa serta sejumlah intelektual pro-pemerintah, pemerintah AS berhasil memanipulasi publik AS dengan mengatakan bahwa kejahatan dan kekejaman yang dilakukan AS adalah untuk “pertahanan” negara atau “intervensi demi kepentingan kemanusiaan.”
Chomsky menambahkan, Obama telah memperluas perang Bush di Afghanistan dengan melibatkan NATO yang digunakan AS bukan untuk memperkuat kontrol AS terhadap suplai energi tapi juga untuk menjaga agar Eropa tetap dibawah kendali AS.
Sumber-sumber minyak di Timur Tengah, kata Chomsky, merupakan “sumber dari kekuatan strategis” dan “salah satu material yang paling berharga dalam sejarah dunia”. Ia mengutip pernyataan mantan presiden AS Eisenhower yang mengatakan bahwa Timur Tengah dan sumber minyaknya merupakan “wilayah yang secara strategis paling penting di dunia.”
Jika AS berhasil menguasai sumber minyak Timur Tengah, maka AS secara subtansial bakal menjadi penguasa dunia. Untuk itu, AS harus memberikan dukungan pada regime yang brutal dan kejam serta menghalangi pembangunan serta demokratisasi di Timur Tengah. Satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan retorika AS selama ini yang katanya ingin menegakkan demokrasi di kawasan itu.
Somalia, Darfur dan Israel
Peran AS dalam kekacauan di Somalia menurut Chomsky, salah satunya adalah kampanye perang melawan teror yang dikobarkan AS. AS berhasil menimbulkan opini bahwa lembaga amal Muslim di Somalia, Barakat adalah salah satu organisasi yang memberikan bantuan pada teroris, sehingga lembaga itu ditutup.
Penutupan Barakat merupakan pukulan berat bagi Somalia karena lembaga ini memainkan peran yang cukup besar dalam perekonomian Somalia. Lembaga amal itu bukan hanya memberikan bantuan bagi orang-orang miskin di Somali tapi juga mengelola bank dan sejumlah perusahaan di negeri itu.
“Barakat adalah bagian penting perekonomian Somalia. Menutup lembaga itu memberikan kontribusi yang besar bagi melemahnya kondisi sosial rakyat Somalia,” ujar Chomsky.
Mengomentari konflik berkepanjangan di Darfur, Chomsky menilai Darfur menjadi korban permainan para aktivis humanis dari Barat yang mendistorsi akar konflik yang sebenarnya terjadi di negeri itu. “Darfur menjadi populer di kalangan humanis Barat. Mereka mendistorsi penyebab konflik dan dengan mudahnya mengkambinghitamkan ‘orang-orang Arab’ dan menyebut ‘para penjahat’ sebagai otak dari kekacauan di Darfur,” tukas Chomsky.
Itu semua pada dasarnya strategi licik yang dimainkan Barat, termasuk AS seperti yang mereka mainkan di negara Kongo dan Rwanda. Di kedua negara itu, mereka membiayai para milisi untuk membunuh dan membantai siapa saja yang menghalangi Barat untuk menguasai sumber-sumber mineral di negeri itu.
Sementara terkait konflik Israel-Palestina, Chomsky berpendapat Obama tidak melakukan upaya yang nyata untuk menekan Israel agar memenuhi kewajiban-kewajibannya, meski sikap Obama terhadap Israel terkesan lebih keras dibandingkan Bush. Pemerintah AS dibawah kepemimpinan Obama, tetap tidak berani menghentikan bantuannya untuk Tel Aviv sehingga Israel merasa tidak perlu mendengarkan kritikan dan mematuhi seruan Washington dalam proses perdamaian Israel-Palestina.
Chomsky menegaskan, publik di AS dan Inggris kini makin terbuka matanya dengan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di Palestina. Tapi sikap Israel tidak akan berubah jika ada tekanan yang kuat dari Barat.
“Masih banyak yang harus dilakukan negara-negara Barat, utamanya AS untuk menekan Israel agar mengubah kebijakan-kebijakannya atas Palestina,” tandas Chomsky. (eramuslim.com, 3/11/2009)
Aksi Solidaritas Al-Aqsa-Palestine – Kedubes AS jakarta – 8 Nov 2009 November 10, 2009
Posted by informationmedia in Photoes.Tags: aqsa, Hizb, hizbut tahrir, indonesia, islam, israel, mui, palestine, yahudi
add a comment
Para Profesor Norwegia: Tutup Universitas Israel! November 9, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: islam, israel, norwegia, professor, universitas, university, yahudi
add a comment
Para Profesor Norwegia: Tutup Universitas Israel!
Source: http://eramuslim.com/berita/dunia/para-profesor-norwegia-tutup-universitas-israel.htm

Bukan dari Negara Arab. Atau dari negeri Muslim lainnya. Tapi gelombang penolakan terhadap Israel justru lebih banyak muncul dari Negara-negara yang mayoritas sama sekali bukan Muslim. Setelah Brazil, Spanyol, dan Turki, sekarang muncul dari Norwegia.
Kemarin Selasa (3/11), sekelompok profesor di Norwegia menyerukan memboikot terhadap akademisi Israel karena diskriminasi “sistematis” terhadap mahasiswa Palestina. Para profesor ini juga menyatakan bahwa akademisi Israel sudah mengubah sejarah untuk mengembangkan ideologi Zionis.
Universitas Sains dan Teknologi (NTNU) “sistematis”, di mana para profesor ini bekerja, melakukan aksi boikot terhadap Israel setelah menerima usulan dari 30 para profesor yang mengatakan tujuan mereka adalah menempatkan “tekanan” pada Israel untuk mengakhiri penajajahan tanah Palestina.
“Kami, yang telah menandatangani surat ini, yakin bahwa sudah waktunya lembaga-lembaga akademis memberikan kontribusi terhadap tekanan internasional terhadap Israel sehingga perundingan antara Israel, pihak berwenang Palestina yang terpilih secara demokratis dan masyarakat internasional dapat dimulai,” begitu isi petisi mereka.
Kelompok professor ini juga menyebutkan bahwa universitas dan institusi pendidikan tinggi Israel memainkan “peran penting dalam kebijakan penindasan” dan berkata “sejarawan dan arkeolog menduduki posisi penting dalam perkembangan ideologi Zionis dan penolakan terhadap sejarah Palestina dan identitasnya.”
Contohnya adalah serangan ke Gaza yang menimbulkan ” penderitaan besar manusia.” Surat itu juga mengecam lembaga Israel yang diskriminasi terhadap staf dan mahasiswa Palestina. Para professor ini mengatakan Israel tidak menghargai “cita-cita universitas dan kebebasan akademik.”
Kelompok ini menyerukan untuk “menutup pendidikan, penelitian, dan lembaga-lembaga kebudayaan dari negara Israel dan wakil-wakil mereka, tanpa memandang agama atau kebangsaan” dan mengatakan mereka berharap itu akan terus “sampai dikeluarkan jaminan bahwa pendudukan tanah Palestina akan dihentikan. “
Dewan direksi di NTNU, universitas terbesar kedua di Norwegia yang terletak di kota barat Trondheim, telah setuju untuk mempertimbangkan gerakan ini. Anne Katherine Dahl, seorang penasehat presiden dari NTNU, mengatakan, “Dari NTNU tidak akan ada komentar lebih lanjut sampai dewan menyimpulkan pada 12 November nanti.”. Dewan terdiri dari 11 anggota: empat wakil dari negara, empat dari staf universitas, dua perwakilan mahasiswa dan satu dari staf sementara. Nah, negeri Muslim, mengapa masih diam saja? (sa/aby)
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.

















