jump to navigation

Jeritan Remaja 14 Tahun untuk Palestina December 30, 2009

Posted by informationmedia in video.
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

more about “Jeritan Remaja 14 Tahun untuk Palestina“, posted with vodpod

10 Kerusakan dalam Perayaan Tahun Baru December 29, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , ,
3 comments

tahun baru new year Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]

Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.

Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram

Perlu diketahui bahwa perayaan (’ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,

“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]

Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.

Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:

  1. Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.
  2. Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.
  3. Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.

Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:

  1. Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau
  2. Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-

Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.

Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir

Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]

An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]

Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.

Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).

Beliau bersabda,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]

Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru

Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.

Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”

Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,

Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Ibnu Mas’ud lantas berkata,

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]

Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.

Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru

Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).

Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]

Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu

Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.

Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]

Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.

Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.

Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat

Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!

Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina

Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]

Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin

Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]

Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!

Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan

Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)

Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]

Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga

Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]

Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.

Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]

Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]

Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.

Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh Rumaysho.com


[1] Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru
[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.
[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.
[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.
[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
[14] HR. Muslim no. 1163
[15] HR. Bukhari no. 568
[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
[17] HR. Muslim no. 6925
[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[22] Al Fawa’id, hal. 33
[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.

// // //

Riset: Zionis Gagal Pinggirkan Islam December 15, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , ,
1 comment so far

Posted: 13 Dec 2009 10:55 PM PST

JEDDAH–Sikap permusuhan yang ditunjukkan sebagian warga Eropa terhadap Islam terus mereda tahun-tahun belakangan ini. Sebaliknya, saat ini lebih banyak warga Eropa yang memaklumi ketidaksukaan orang terhadap kaum Yahudi akibat kebijakan yang diambil pemerintah Israel. Meredanya tingkat kebencian warga Eropa terhadap Islam, merupakan kegagalan dari target global kaum Zionis untuk memojokkan dan menguncilkan Islam.

Kesimpulan itu diungkapkan dalam hasil studi yang dilakukan terhadap kelompok tertentu yang berbeda (group focussed enmity) oleh Universitas Bielefeld, Jerman baru-baru ini yang dilaporkan harian Saudi Post, Sabtu. Hasil riset itu mengungkapkan, 45,7 persen warga Eropa yang menjadi responden mengamini bahwa Israel melancarkan aksi pembasmian (extemination) terhadap bangsa Palestina.

Sementara 31 persen responden sepakat bahwa Yahudi pada umumnya tidak peduli dengan apapun atau siapapun selain (kepentingan-red) bangsa mereka dan 37,4 persen menyatakan bisa mengerti kenapa orang tidak menyukai Yahudi. Mengutip hasil studi tersebut, Saudi Post menyebutkan, kebencian terhadap
kelompok muslim turun, sebaliknya kebencian terhadap Yahudi meningkat.

Harian itu juga mengutip koran terkemuka negara Yahudi Ynet yang mengakui bahwa tingkat kebencian terhadap kelompok paling minoritas menurun, begitu pula terhadap perbedaan gender yang turun secara signifikan serta meredanya sikap Islamophobia, kecuali terhadap homophobia dan anti-semitism (Yahudi). Menurut laporan Ynet, persentase orang yang menganggap seolah-olah terlalu banyak pemeluk agama Islam tinggal di negaranya cukup tinggi justru di negara-negara yang warganya yang beragama Islam sedikit jumlahnya.

Menurut riset Universitas Bielefeld itu, sangat banyak warga Eropa yang prihatin terhadap dominasi dan kekuasaan kaum Yahudi. Namun riset itu juga melaporkan berita menggembirakan bagi kaum Yahudi dengan menyebutkan bahwa 61,9 persen budaya Yahudi juga ikut memperkaya budaya Eropa khususnya Belanda, Inggeris dan Jerman.

Harian Ynet juga menulis bahwa semangat Zionisme yang pada awalnya bertujuan untuk menciptakan masyarakat yahudi yang beradab dan dicintai, telah menemui kegagalan. Hal itu mencerminkan kegagalan Israel dan lobi-lobinya untuk menginternalisasikan makna universal sesungguhnya mengenai holocaus. Tim ilmuwan dari Universitas Amsterdam, Bielefeld, Budapest, Grenoble, Lisbon, Marburg, Oxford, Paris, dan Warsawa menemukan bahwa 41,2 persen warga Eropa meyakini bahwa Yahudi telah mencoba mengambil mafaat untuk memposisikan diri sebagai korban pada era Nazi dulu. (Republika online, 13/12/2009)

Israel Sedang Mempertimbangkan Larangan Azan Shubuh Untuk Semua Masjid Di Yerusalem December 8, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

Posted: 03 Dec 2009 11:12 PM PST

Beberapa media Israel melaporkan pada hari Kamis (3/12) bahwa Knesset Israel sedang mempertimbangkan sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) baru yang melarang azan shubuh untuk masjid-masjid di Al-Quds (Yerusalem), dan kota-kota yang padat penduduk Palestina.

Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut diajukan oleh anggota parlemen dari partai “Kadima”, Aryeh Bibi, yang mengklaim bahwa dirinya telah menerima permintaan tertulis dan lisan yang menyatakan dimana jutaan orang Yahudi merasa terganggu oleh azan shubuh, katanya. Ia berkata bahwa apabila kaum Muslim ingin mendengarkan azan, maka mereka harus membuat cara yang tidak mengganggu orang lain.

Bibi yang mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut menjelaskan dengan  mengatakan: “Jika mereka terpaksa harus mendengarkan azan, maka mereka harus mencari cara lain untuk mengumandangkan azan tanpa mengganggu orang lain.”

Bibi mengatakan bahwa masalah ini telah menjadi masalah global di setiap negara di mana kaum Muslim tinggal bersama komunitas dari agama lain,” katanya. Ia menambahkan, “Apa yang terjadi di Swiss, yaitu larangan membangun menara masjid merupakan bukti bahwa masyarakat sudah mulai untuk mengatasi masalah ini,” seperti yang ia klaimkannya. (alarabiya.net, 3/12/2009)

Penghancuran Al-Aqsha Masuki Tahap Akhir November 24, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , ,
add a comment


Posted: 20 Nov 2009 08:08 PM PST

HEBRON- Anggota legislatif Hamas, Samirah Halayiqah, mengingatkan efek berhaya dari sikap diam dunia Arab dan internasional terhadap rencana Israel menghancurkan Al-Aqsha dan yahudisasi Al-Quds. Sebab rencana Israel sudah mamasuki tahap akhir.

Dalam pernyataan yang diterima Infopalestina hari ini Jumat (20/11) Halayiqah mengecam keras “kondisi mati” bangsa Arab dan umat Islam terhadap apa yang menimpa Al-Quds dan masjid Al-Aqsha. Apalagi upaya Israel melakukan pembersihan sistematis terhadap eksistensi Arab dan Islam di kota suci itu sudah memasuki tahap akhir.

Ia menyayangkan kasus penghancuran masjid Al-Aqsha hanya menjadi sekedar berita sekilas bagi pejabat-pejabat politik Arab dan internasional. Ia meminta agar Arab dan Islam serius membantu warga Al-Quds yang mengalami “kanker raksasa” yang beroperasi siang dan malam untuk menghabisi eksistensi mereka di kota tersebut. Mulai dari penggusuran rumah, satu kampung penuh, menghabisi identitas dan mengusir warga dengan berbagai cara represif tanpa sandaran hukum atau pertimbangan manusiawi.

Hal itu diungkapkan oleh Halayiqah usai pengumuman Yayasan Al-Aqsa soal aktivitas penggalian Israel puluhan meter dari barat masjid Al-Aqsha yang mengancam peninggalan bersejarah Islam di daerah itu termasuk mengancam bangunan masjid Al-Aqsha. Yayasan menyebutkan penggalian itu untuk membangun dua terowongan koridor dan tangga escalator yang mengubungan halaman Al-Barraq dan gerbang Magharibah. (Republika online, 21/11/2009)

 

Rabi Yahudi Menyerukan Kepada Umat Islam Untuk Memisahkan Agama dan Politik November 17, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , ,
add a comment


Posted: 15 Nov 2009 06:48 PM PST

Kepala rabi di Inggris menyerukan kepada umat Islam untuk membiasakan diri hidup sebagai kaum minoritas di Inggris, dan belajar memisahkan agama dari kekuasaan.

Jonathan Sacks berkata bahwa kaum Muslim dan Kristen belum memandangnya dengan tulus terhadap dimensi pelajaran dari kejahatan yang telah dilakukan terhadap orang-orang Yahudi dengan membuangnya ke Babilonia.

Dia juga mengatakan “salah satu keistimewaan besar menjadi seorang Yahudi adalah mengetahui bagaimana menyanyikan nada rendah”, “sejak pembuangan ke Babilonia kami mendapatkan pengalaman hidup selama 26 abad sebagai kaum minoritas di tengah-tengah suatu budaya yang tidak toleran terhadap pandangan hidup kami. Sementara Kristen dan Islam tidak mendapatkan keahlian seperti itu.”

Dia menambahkan bahwa “orang-orang Kristen telah belajar toleransi, tetapi itu hanya setelah 100 tahun dari konflik berdarah di antara sesama mereka di seluruh wilayah Eropa.” “Saya yakin bahwa Islam akan menemukan cara untuk bisa sampai ke substansi yang telah dicapai oleh Yahudi dan Kristen, yaitu masalah pemisahan agama dari kekuasaan.

Tetapi tidak ada cara yang cepat untuk sampai ke sana. Sebab hal itu mengharuskan proses yang sulit dan menyakitkan dalam agama. Hanya saja umat Islam pasti bisa melakukannya. Tidak seorang pun dari luar yang dapat memberitahu (mengintervensi) mereka. Karena ini akan dianggap sebagai penghinaan. Sementara menurut saya hal itu merupakan tindakan yang secara moral tidak dapat diterima.

Dan saya telah melihat bahwa beberapa di antara kaum Muslim yang memiliki kelebihan dan keistimewaan sedang menempuh proses yang indah ini, baik di negara ini maupun di tempat-tempat lain, di Irak dan bahkan di Iran.” (kantor berita HT, 15/11/2009)

Rabi Israel Mengeluarkan Fatwa Untuk Membunuh Anak-Anak Dan Bayi Dari Non-Yahudi November 11, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Posted: 09 Nov 2009 08:29 PM PST

rabi

Dua orang rabi Israel mengeluarkan fatwa untuk membunuh semua orang yang beragama selain Yahudi, dan khususnya mereka yang mengancam bagi eksistensi Yahudi, termasuk pembunuhan terhadap anak-anak dan bayi sekalipun.

Fatwa tersebut terdapat dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh dua orang rabi, Yitzhak Shapira dan Yossi Elitzur. Kedua orang rabi ini berasal dari pemukiman Yitzhar dekat kota Nablus di utara Tepi Barat.

Dua orang rabi ini, dalam bukunya yang dibagikan kepada warga pemukim, yang berjudul “Taurah Al-Mulk, Kekuasaan Taurat”, menyerukan agar membunuh setiap orang yang membahayakan bagi Israel, meskipun ia seorang anak-anak atau bayi.

Koresponden Aljazeera di Yerusalem, Elias Crum mengatakan bahwa buku itu menjadi panduan (legalitas) yang mengesahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang asing bagi orang-orang Yahudi. Yang jelas, buku itu diarahkan untuk orang-orang Arab, dan warga Palestina pada khususnya.

Dia menambahkan bahwa ada perundang-undangan Israel yang melarang penghasutan, namun dalam kenyataannya itu  tidak berlaku, kecuali bagi orang-orang Arab yang sedang diadili atas tuduhan penghasutan. Sementara terhadap orang-orang Israel yang yang jelas-jelas melakukan penghasutan menutup mata, sebagai contoh adalah penghasutan pembunuhan mantan Perdana Menteri Yitzhak Rabin, katanya. (mediaumat.com, 10/11/2009)

Noam Chomsky: Obama, “Godfather” Baru AS November 10, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , ,
add a comment

USA

Posted: 08 Nov 2009 07:03 PM PST

Intelektual asal AS Noam Chomsky mengingatkan dunia internasional agar tidak terlalu banyak berharap Presiden AS Barack Obama akan melakukan perubahan signifikan dalam gaya pemerintahan dan kebijakan negeri Paman Sam itu. Menurut Chomsky, AS di bawah kepemimpinan Barack Obama masih akan mempertahankan apa yang disebut Chomsky “prinsip-prinsip mafia” dalam kebijakan luar negerinya.

“Ketika Obama resmi menjadi presiden, Condoleezza Rice bilang Obama akan melanjutkan kebijakan Bush dan sedikit banyak itulah yang terjadi. Yang berbeda cuma gaya retorikanya saja. Padahal yang dibutuhkan adalah perbuatan baik buka cuma retorika. Tindakan yang baik akan memunculkan cerita yang berbeda,” ujar Chomsky.

Ia mengungkapkan hal tersebut dalam ceramahnya di School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, Inggris. Pada kesempatan itu, Chomsky membeberkan berbagai contoh doktin-doktrin kebijakan luar negeri AS sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai masa pemerintahan Obama.

Menurutnya, tidak ada perubahan mendasar dalam konsep fundamental kebijakan luar negeri AS. AS masih tetap berpegang pada keyakinan tradisionalnya bahwa jika AS bisa menguasai dan mengkontrol sumber-sumber energi di Timur Tengah, maka AS bisa menguasai dan mengendalikan dunia. Chomsky menyebut doktrin yang diterapkan AS dalam kebijakan luar negerinya untuk medominasi dunia itu sama dengan “prinsip mafia”.

Iran dan Irak

“Seorang Godfather (sebutan untuk bos mafia) tidak mentoleransi ‘para pembangkangnya, apalagi jika pembangkang itu sukses’. Bagi AS, bersikap seperti itu sangat berbahaya dan oleh sebab itu bagi AS, pembangkang harus disingkirkan agar yang lain tahu bahwa ketidakpatuhan pada AS bukan sebuah pilihan. Pembangkang yang sukses, bagi AS merupakan “virus” yang bisa menular kemana-mana,”papar Chomsky.

Dan salah satu “virus” yang ditakutkan AS sampai saat ini adalah Iran. Ketakutan itu sudah ditunjukkan AS saat menumbangkan parlemen Iran yang terpilih secara demokratis pada tahun 1953. “Tujuan AS waktu itu adalah ingin mengendalikan sumber-sumber minyak Iran,” kata Chomsky.

Tapi AS kembali harus menghadapi “virus” pembangkangan pada tahun 1979, ketika pecah revolusi Islam Iran. Kali ini, upaya AS untuk memusnahkan “virus” itu dengan membujuk militer Iran, gagal total. Dan AS beralih memberikan dukungan pada pemimpin Irak, Saddam Hussein saat untuk melakukan invasi ke Iran.

“Sampai detik ini, AS masih terus ‘menyiksa’ Iran dengan sanksi dan alat tekanan lainnya,” sambung Chomsky.

Ia mencibir tudingan yang menyebutkan kemungkinan Iran membangun program nuklirnya untuk membuat persenjataan. Ia malah menyebutkan bahwa AS-lah yang sudah menyiapkan senjata-senjata anti-misil di Israel, bukan untuk pertahanan negara tapi untuk sewaktu-waktu menyerang Iran.

Chomsky juga mengingatkan kembali hubungan mesra AS dengan mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein. Hubungan itu berlanjut hingga selesainya perang Irak-Iran di era tahun 1980-an. AS mengundang para ilmuwan Irak dan memberikan pelatihan dalam bidang program nuklir. AS mulai kesal dengan Saddam Hussein ketika pemimpin Irak itu melakukan invasi ke Kuwait pada tahun 1990-an yang juga salah satu sekutu dekat AS di Timur Tengah.

“AS dengan cepat berubah. Saddam yang tadinya teman akrab AS menjadi sosok yang dianggap seperti reinkarnasi Hitler oleh AS,” tukas Chomsky.

Akhirnya dengan segala cara dan alasan yang manipulatif, AS melakukan agresi ke Irak dan melakukan “genosida” terhadap rakyat sipil di Negeri 1001 Malam itu. Begitu pula di Afghanistan dan kawasan Timur Tengah lainnya, kepentingan AS cuma satu, yaitu menguasai sumber alam berupa hasil minyak bumi yang melimpah di kawasan tersebut dengan atau tanpa kekerasan.

Dan lewat media massa serta sejumlah intelektual pro-pemerintah, pemerintah AS berhasil memanipulasi publik AS dengan mengatakan bahwa kejahatan dan kekejaman yang dilakukan AS adalah untuk “pertahanan” negara atau “intervensi demi kepentingan kemanusiaan.”

Chomsky menambahkan, Obama telah memperluas perang Bush di Afghanistan dengan melibatkan NATO yang digunakan AS bukan untuk memperkuat kontrol AS terhadap suplai energi tapi juga untuk menjaga agar Eropa tetap dibawah kendali AS.

Sumber-sumber minyak di Timur Tengah, kata Chomsky, merupakan “sumber dari kekuatan strategis” dan “salah satu material yang paling berharga dalam sejarah dunia”. Ia mengutip pernyataan mantan presiden AS Eisenhower yang mengatakan bahwa Timur Tengah dan sumber minyaknya merupakan “wilayah yang secara strategis paling penting di dunia.”

Jika AS berhasil menguasai sumber minyak Timur Tengah, maka AS secara subtansial bakal menjadi penguasa dunia. Untuk itu, AS harus memberikan dukungan pada regime yang brutal dan kejam serta menghalangi pembangunan serta demokratisasi di Timur Tengah. Satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan retorika AS selama ini yang katanya ingin menegakkan demokrasi di kawasan itu.

Somalia, Darfur dan Israel

Peran AS dalam kekacauan di Somalia menurut Chomsky, salah satunya adalah kampanye perang melawan teror yang dikobarkan AS. AS berhasil menimbulkan opini bahwa lembaga amal Muslim di Somalia, Barakat adalah salah satu organisasi yang memberikan bantuan pada teroris, sehingga lembaga itu ditutup.

Penutupan Barakat merupakan pukulan berat bagi Somalia karena lembaga ini memainkan peran yang cukup besar dalam perekonomian Somalia. Lembaga amal itu bukan hanya memberikan bantuan bagi orang-orang miskin di Somali tapi juga mengelola bank dan sejumlah perusahaan di negeri itu.

“Barakat adalah bagian penting perekonomian Somalia. Menutup lembaga itu memberikan kontribusi yang besar bagi melemahnya kondisi sosial rakyat Somalia,” ujar Chomsky.

Mengomentari konflik berkepanjangan di Darfur, Chomsky menilai Darfur menjadi korban permainan para aktivis humanis dari Barat yang mendistorsi akar konflik yang sebenarnya terjadi di negeri itu. “Darfur menjadi populer di kalangan humanis Barat. Mereka mendistorsi penyebab konflik dan dengan mudahnya mengkambinghitamkan ‘orang-orang Arab’ dan menyebut ‘para penjahat’ sebagai otak dari kekacauan di Darfur,” tukas Chomsky.

Itu semua pada dasarnya strategi licik yang dimainkan Barat, termasuk AS seperti yang mereka mainkan di negara Kongo dan Rwanda. Di kedua negara itu, mereka membiayai para milisi untuk membunuh dan membantai siapa saja yang menghalangi Barat untuk menguasai sumber-sumber mineral di negeri itu.

Sementara terkait konflik Israel-Palestina, Chomsky berpendapat Obama tidak melakukan upaya yang nyata untuk menekan Israel agar memenuhi kewajiban-kewajibannya, meski sikap Obama terhadap Israel terkesan lebih keras dibandingkan Bush. Pemerintah AS dibawah kepemimpinan Obama, tetap tidak berani menghentikan bantuannya untuk Tel Aviv sehingga Israel merasa tidak perlu mendengarkan kritikan dan mematuhi seruan Washington dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

Chomsky menegaskan, publik di AS dan Inggris kini makin terbuka matanya dengan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di Palestina. Tapi sikap Israel tidak akan berubah jika ada tekanan yang kuat dari Barat.

“Masih banyak yang harus dilakukan negara-negara Barat, utamanya AS untuk menekan Israel agar mengubah kebijakan-kebijakannya atas Palestina,” tandas Chomsky. (eramuslim.com, 3/11/2009)

Aksi Solidaritas Al-Aqsa-Palestine – Kedubes AS jakarta – 8 Nov 2009 November 10, 2009

Posted by informationmedia in Photoes.
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

Para Profesor Norwegia: Tutup Universitas Israel! November 9, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Para Profesor Norwegia: Tutup Universitas Israel!

Source: http://eramuslim.com/berita/dunia/para-profesor-norwegia-tutup-universitas-israel.htm

norwegia

 

Bukan dari Negara Arab. Atau dari negeri Muslim lainnya. Tapi gelombang penolakan terhadap Israel justru lebih banyak muncul dari Negara-negara yang mayoritas sama sekali bukan Muslim. Setelah Brazil, Spanyol, dan Turki, sekarang muncul dari Norwegia.

Kemarin Selasa (3/11), sekelompok profesor di Norwegia menyerukan memboikot terhadap akademisi Israel karena diskriminasi “sistematis” terhadap mahasiswa Palestina. Para profesor ini juga menyatakan bahwa akademisi Israel sudah mengubah sejarah untuk mengembangkan ideologi Zionis.

Universitas Sains dan Teknologi (NTNU) “sistematis”, di mana para profesor ini bekerja, melakukan aksi boikot terhadap Israel setelah menerima usulan dari 30 para profesor yang mengatakan tujuan mereka adalah menempatkan “tekanan” pada Israel untuk mengakhiri penajajahan tanah Palestina.

“Kami, yang telah menandatangani surat ini, yakin bahwa sudah waktunya lembaga-lembaga akademis memberikan kontribusi terhadap tekanan internasional terhadap Israel sehingga perundingan antara Israel, pihak berwenang Palestina yang terpilih secara demokratis dan masyarakat internasional dapat dimulai,” begitu isi petisi mereka.

Kelompok professor ini juga menyebutkan bahwa universitas dan institusi pendidikan tinggi Israel memainkan “peran penting dalam kebijakan penindasan” dan berkata “sejarawan dan arkeolog menduduki posisi penting dalam perkembangan ideologi Zionis dan penolakan terhadap sejarah Palestina dan identitasnya.”

Contohnya adalah serangan ke Gaza yang menimbulkan ” penderitaan besar manusia.” Surat itu juga mengecam lembaga Israel yang diskriminasi terhadap staf dan mahasiswa Palestina. Para professor ini mengatakan Israel tidak menghargai “cita-cita universitas dan kebebasan akademik.”

Kelompok ini menyerukan untuk “menutup pendidikan, penelitian, dan lembaga-lembaga kebudayaan dari negara Israel dan wakil-wakil mereka, tanpa memandang agama atau kebangsaan” dan mengatakan mereka berharap itu akan terus “sampai dikeluarkan jaminan bahwa pendudukan tanah Palestina akan dihentikan. “

Dewan direksi di NTNU, universitas terbesar kedua di Norwegia yang terletak di kota barat Trondheim, telah setuju untuk mempertimbangkan gerakan ini. Anne Katherine Dahl, seorang penasehat presiden dari NTNU, mengatakan, “Dari NTNU tidak akan ada komentar lebih lanjut sampai dewan menyimpulkan pada 12 November nanti.”. Dewan terdiri dari 11 anggota: empat wakil dari negara, empat dari staf universitas, dua perwakilan mahasiswa dan satu dari staf sementara. Nah, negeri Muslim, mengapa masih diam saja? (sa/aby)

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.