Amerika Akan Runtuh Pada Tahun 2010 December 10, 2009
Posted by informationmedia in Economics.Tags: amerika, Economics, ekonomi, hancur, runtuh, USA
2 comments
Posted: 08 Dec 2009 09:46 PM PST
Profesor Rusia, Igor Panarin, mengatakan bahwa beberapa kejadian terus menegaskan prediksinya yang pertama kali dibuatnya lebih dari 10 tahun yang lalu, bahwa Amerika Serikat akan sepenuhnya runtuh seperti runtuhnya Uni Soviet sebelum akhir 2010, dan memperingatkan bahwa kekacauan bisa mulai terjadi paling sedikit dalam dua bulan.
Panarin, seorang doktor dan profesor ilmu politik dari Akademi Diplomatik Rusia Kementerian Luar Negeri, mengatakan kepada para wartawan dalam peluncuran buku terbarunya bahwa Presiden Obama tidak melakukan apapun untuk mencegah krisis yang sedang melanda dengan cepat.
“Obama adalah” presiden harapan “, tetapi dalam satu tahun tidak akan ada harapan,” kata Panarin.
“Dia seperti seorang Gorbachev yang lain – dia suka berbicara namun belum benar-benar berhasil melakukan sesuatu.
Gorbachev setidaknya telah menjadi sekretaris administrasi partai komunis, sedangkan Obama hanya seorang pekerja sosial. Mentalitasnya benar-benar berbeda.
Dia seorang yang baik dan berbicara dengan baik – tetapi dia bukan seorang pemimpin dan akan membawa Amerika kepada sebuah kehancuran. Ketika Amerika menyadari itu – hal itu seperti sebuah ledakan bom. ” (khilafah.com, 4/12/2009)
Tarik Jilbab, Wanita AS Terancam Dipenjara December 8, 2009
Posted by informationmedia in syariah.Tags: america, amerika, AS, islam, jilbab, kerudung, muslimah, Penjara, USA
add a comment
Posted: 23 Nov 2009 10:35 PM PST
ILLINOIS–Islamofobia belum sepenuhnya hilang dari benak sebagian warga Barat. Kejadian yang menimpa Amal Abusumayah, Muslimah 28 tahun yang tinggal di Tinley Park, Illinois, ketika jilbabnya ditarik secara sengaja oleh Valerie Kenney, warga setempat, adalah salah satu buktinya.
Akibat perbuatannya itu, kini pelaku harus bersiap menjalani proses pengadilan pada 3 Desember mendatang, tuduhannya telah melakukan kekerasan karena kebencian. Dia terancam hukuman tiga tahun penjara serta denda 25 ribu dolar. Kejadiannya sendiri berlangsung tiga hari setelah peristiwa penembakan di Fort Hood, Texas, yang menewaskan 13 tentara Amerika pada Kamis (5/11) lalu.
Saat itu, keduanya sedang berbelanja di pasar swalayan. Tiba-tiba, Kenney mendekati Amal dan langsung memakinya. “Pelaku penembakan di Texas bukan orang Amerika, tapi berasal dari Timur Tengah,” teriak Kenney, merujuk pada Mayor Nidal Malik Hasan, si pelaku penembakan.
Amal mengacuhkan penghinaan itu. Namun, hal itu justru kian memancing emosi Kenney, yang langsung menarik jilbabnya secara kasar. Tak terima diperlakukan semena-mena, Amal melapor ke polisi, dan Kenney pun diamankan. Kasus tersebut segera menjadi perbincangan hangat di AS.
Christina Abraham, seorang penggiat hak-hak asasi manusia, mengatakan, kasus kekersan bermotif agama di Illinois memang berpotensi terjadi, terutama setelah kejadian seperti berlangsung di FortHood. “Ada dorongan kebencian terhadap etnis dan pemeluk agama tertentu. Ini jelas memprihatinkan,” katanya.
Pernyataan itu dikuatkan oleh hasil penelitian Pew Research Center, akhir September lalu. Disebutkan bahwa warga Muslim Amerika menghadapi lebih banyak tindakan diskriminasi dibanding penganut agama lain. Akan tetapi, Pew mencatat ada pula momen ketika persentase aksi tercela tersebut mengalami penurunan pasca tragedi 11 September.
Pada 2007 misalnya, dari 1.477 kasus kekerasan berlatar belakang agama, hanya sembilan persen saja yang menimpa umat Islam AS. Muncul keberatan terhadap hukuman bagi si pelaku. Meski perbuatan itu tidak terpuji, namun Richard Roeper, kolumnis Sun Times, menilai hukuman penjara terlalu berat. Menurutnya, akan lebih baik jika diganti dengan
hukuman pelayanan ke masyarakat sekaligus meminta maaf.
Sementara itu, Kepala Polisi Michael O’Connel menegaskan, pihaknya tidak menoleransi terjadinya kejahatan karena kebencian. “Hal itu melukai harga diri orang lain yang berbeda ras, agama, atau etnis,” paparnya. (Republika online, 24/11/2009)
Wartawan AS: Siapa Dibelakang Serangan 9/11 Makin Terkuak December 3, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: 9/11, america, new york, teroris, USA, wtc
add a comment
Posted: 25 Nov 2009 11:37 PM PST
Wartawan investigasi AS, Christopher Bollyn menemukan sejumlah fakta baru yang menguak takbir misteri seputar tragedi serangan 11 September 2001 terhadap gedung kembar World Trade Center.
Dalam laporan hasil investigasinya yang dimuat di situs berita Rebel News, Bollyn mempertanyakan keganjilan yang terjadi saat detik-detik gedung kembar WTC itu ambruk ke tanah. Ia menulis, saat kejadian, sekitar 425.000 kubik meter beton dari gedung berlantai 220 itu hancur menjadi puing sebelum benar-benar ambruk ke tanah, sehingga menimbulkan debu panas membentuk asap piroklastik yang sangat tebal dan bergulung-gulung di jalan-jalan Manhattan.
Bollyn juga mengungkap fakta baru bahwa ketika serangan 11 September terjadi, seluruh gedung kembar World Trade Center statusnya dibawah kepemilikan atau sedang disewakan pada seorang inevstor Yahudi Zionis yang cukup berpengaruh di AS, bernama Larry Silverstein. Silberstein ternyata seorang pengusaha “hitam” karena sejak masa pemerintahan Presiden Bill Clinton, Silverstain dikenai dakwaan kasus penyelundupan narkoba.
Fakta tentang latar belakang investor Yahudi itu, tulis Bollyn, kemungkinan bisa menjelaskan apa sebenarnya yang telah menyebabkan gedung kembar WTC bisa luluh lantak dan ambruk. Bollyn meragukan teori yang selama ini dikedepankan kelompok-kelompok Zionis dan kelompok lobi Israel pada pemerintah AS dan media massa, bahwa gedung kembar itu roboh dengan bentuk seperti kue panekuk. Karena menurut Bollyn, tidak ada sisa beton dan serpihan mental yang masih saling menempel, yang bisa ditemukan dalam puing reruntuhan.
Dalam artikelnya Bollyn menegaskan, jika dilihat dari serpihan beton menara kembar dan debu berbentuk asap piroklastik serta adanya zat aktif super-termit yang ditemukan di sisa-sisa debu, sulit menyimpulkan bahwa kehancuran total menara kembar disebabkan oleh tabrakan pesawat yang menghantam bagian atap gedung.
Dalam artikelnya, Bollyn juga menjelaskan mengapa ia memutuskan pindah ke Jerman dengan membawa serta keluarganya. Ia mengatakan, keputusannya pindah bertepatan dengan “perang melawan teror” yang dirancang Israel dan kemudian dilaksanakan oleh mantan presiden AS, George W. Bush.
“Dari riset awal saya terhadap bukti-bukti dan laporan-laporan media, ada indikasi kuat bahwa intelejen militer Israel lah pelaku serangan 11 September 2001 yang menghancurkan menara kembar. Operasi teroris itu dilakukan untuk menjadikan pimpinan Al-Qaida, Usamah bin Ladin sebagai kambing hitamnya. Kaum Zionis yang sudah mengendalikan pemerintahan AS dan media massa, menjadikan tragedi 11 September untuk mendorong invasi dan penjajahan di Afghanistan,” tulis Bollyn.
Ia juga mengungkap dan membeberkan insiden serangan yang dialaminya pada bulan Agustus 2006. Sekelompok polisi yang menyamar, masuk ke dalam rumahnya dan menyerangnya hingga sikunya patah. “Saya pun sadar bahwa insting saya pada tahun 2001 benar dan AS bukanlah tempat yang aman untuk menyelidiki peristiwa serangan 11 September,” ungkap Bollyn.
Di akhir bulan November 2001, Bollyn berkesempatan bertemu dengan mantan anggota parlemen yang juga pakar intelejen, Andreas von Bülow di rumahnya di dekat kawasan Cologne, Jerman. Mereka berdiskusi dan sepakat bahwa ada peran intelejen Israel dalam serangan 11 September 2001 yang dikamuflasekan sebagai serangan teroris yang dilakukan oleh kelompok Al-Qaida.
Untuk melengkapi investigasinya, Bollyn juga menjumpai Markus “Mischa” Wolf, seorang Yahudi Jerman yang dikenal sebagai mata-mata ulung dan pernah memimpin operasi-operasi intejen di Jerman Timur selama 35 tahun. Bollyn menulis, Markus Wolf yang lahir pada tahun 1923 di selatan Jerman, berasal dari keluarga Yahudi yang cukup berpengaruh. Selama masa Perang Dunia II, Wolf dan keluarganya yang komunis menetap di Uni Sovyet. Setelah perang usai, keluarga Wolf dikirim ke Berlin bersama Walter Ulbricht, seorang pendiri kelompok totalitarian DDR di Jerman Timur.
“Dia (Wolf) bekerja sebagai wartawan di sebuah stasiun radio di wilayah Jerman yang masih dikuasai Soviet dan menjadi salah satu saksi mata dalam proses persidangan Nuremberg,” tulis Bollyn. Persidangan Nuremberg adalah persidangan untuk mengadili para tentara Nazi setelah kalah dalam Perang Dunia II. Wolf, tambah Bollyn, meninggal pada 9 November 2006 bertepatan dengan peringatan 17 tahun runtuhnya tembok Berlin.
Selain Wolf, tokoh Yahudi lainnya yang ditemui Bollyn adalah Frau Marek yang bekerja untuk sejumlah agen intelejen termasuk agen intelejen Israel, Mossad. “Marek punya latar belakang ilmu fisika dan ia mengatakan pada saya bahwa ia punya informasi tentang senjata sinar infra merah yang bisa diarahkan energinya dan senjata itu dikembangkan oleh Uni Soviet,” tulis Bollyn.
Mengutip keterangan Marek, Bollyn mengatakan bahwa senjata infra merah itu kemungkinan digunakan dalam peristiwa serangan 11 September 2001 ke menara kembar WTC. Senjata itu menurut Marek mampu meluluhlantakkan menara-menara beton seperti menara kembar WTC di New York. (eramuslim.com, 26/11/2009)
Analisis : Persaingan Cina – Amerika December 3, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: amerika, cina, islam, perdagangan, politik, USA
add a comment
Posted: 01 Dec 2009 10:12 PM PST
Pada bulan Oktober 2009, Cina memperingati 60 tahun Revolusi dimana ia merdeka dari Cina dan mengalahkan kaum Nasionalis dengan terbentuknya Republik Sosialis Cina. Sejak awal abad ke 21 para analis memandang bangkitnya Cina sebagai tantangan terbesar terhadap Amerika Serikat (AS) dan banyak anggapan bahwa Cina akan berkembang menjadi negara adidaya. Cepatnya Cina menjadi negara yang diperhitungkan dalam peta politik dunia membuat banyak kalangan terkesima dan memprediksi adanya pergeseran kekuatan global dari Barat ke Timur. Cina tidak pernah menjadi kekuatan politik dan sejarah masa lalunya yang kelam akibat penjajahan brutal oleh Jepang selalu menjadi memori bagi Cina di masa paska Perang Dunia II. 60 tahun Revolusi pada negara terbesar di dunia merupakan realita baru dan untuk pertama kalinya diperhitungkan sebagai kekuatan adidaya.
Kunjungan Obama ke negeri-negeri Asia Tenggara diikuti lawatan ke Korea Selatan, Jepang, Singapur dan Cina, dimana ini merupakan kunjungan pertama kalinya sejak Obama menjadi presiden terpilih. Dari semua lawatan ini, kunjungan ke Cina merupakan aspek terpenting dari perjalanan Obama ini.
Cina membangun dirinya sejak tahun 1978 dengan mengembangkan sains dan teknologi, yang didorong dengan kepentingan militer. Pembangunan ini dimulai sejak jaman pemerintahan Mao. Mao menginginkan terbangunnya ‘militerisasi’ yang kuat diatas segala-galanya. Proyek ‘militerisasi’ inilah yang menjadi tulang punggung kebijakan Deng Xiao Ping. Tujuan Deng adalah untuk mendiversifikasi ekonomi Cina sehingga tidak hanya sektor hankam tetapi juga menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sipil. Konsep Deng yang berisi 16 butir tuntunan di awal 1980an secara gamblang menegaskan : mengintergrasikan petumbuhan sektor militer dan rakyat sipil, dengan memastikan memenuhi kebutuhan militer, mempertahankan kemampuan militer, dan menggunakan ekonomi sipil demi upaya modernisasi militer.”[1]
Sebelumnya Cina telah menerapkan sistem ekonomi terpimpin ala Soviet yang terbukti gagal. Deng lalu menggunakan sistem ekonomi yang berorientasi kepada pasar, terutama pada Zona Ekonomi Spesial yang terletak di kota-kota Guangdong, Fujian, dan Hainan. Hasilnya luar biasa. Cina merubah ekonominya secara radikal dari pengekspor komoditas bermutu rendah menuju komoditas teknologi tinggi. Negeri ini berubah dari ekonomi yang terbelakang menjadi mesin pengekspor kelas dunia. Ekspor Cina naik sepuluh kali lipat (antara 1990 – 2003 bernilai sekitar $436 trilyun.)[2]
Kini nilai ekspor Cina melampui 1 juta trilyun dolar dan merupakan ekonomi terbesar di dunia setelah AS dan Jerman. Sejak 1978, Cina mereformasi ekonominya dari model ekonomi terpimpin ala Soviet menuju ekonomi yang berorientasi ke pasar, namun dengan sistem politik yang dikuasai oleh Partai Komunis Cina. Sistem ini disebut sebagai ‘Sosialisme dengan Karakter Cina’ dan merupakan sistem ekonomi campuran. Reformasi yang dimulai sejak tahun 1978 telah mengangkat derajat jutaan manusia dari garis kemiskinan, menurunkan kemiskinan hinga 53% dari populasi negeri itu di tahun 1981 dan 8% di tahun 2001.
Kebijakan luar negeri Cina juga mencerminkan perubahan penting dari pendekatan Beijing yang sempit dan reaktif pada masa lalu. Cina sudah meninggalkan mentalitas yang memandang dirinya sebagai korban (victim mentality) akibat penderitaan selama 150 tahun dan mengadopsi mentalitas adidaya (great power mentality-daguo xintai). Konsekuensinya, Cina mulai mengambil peran aktif dalam isu global, dimana generasi penggeraknya belum lahir semasa Revolusi Cina sehingga tidak memandang Cina dari perspektif sejarah Cina. Pemimpin kontemporer seperti Hu Jintao, yang lahir hanya beberapa tahun sebelum Revolusi adalah pemimpin Cina pertama yang tidak ikut serta dalam long march yang terkenal karena berhasil mengalahkan kaum Nasionalis dan menaikkan partai komunis ke panggung kekuasaan di tahun 1949. Pemimpin yang menanggalkan victim mentality dan yang mengambil mentalitas adidaya adalah tipe pemimpin yang kini memimpin Cina dan memiliki visi sebagai negara adidaya.
Hubungan AS dan Cina
Pembuat kebijakan AS membuat strategi menghadapi Cina dalam dokumen “Tuntunan Perencanaan Pertahanan” (1994-99), yang merupakan bentuk pernyataan resmi AS pada masa paska runtuhnya Uni Sovyet, “Kita harus sekuat mungkin mencegah kekuatan asing manapun yang bisa mendominasi suatu wilayah yang sumber alamnya, ketika terkontrol secara solid, akan mampu mendukung terbentuknya kekuatan global.”[3] Ketika George Bush menjadi Presiden AS, hanya Cina yang memiliki kapasitas ekonomi dan militer yang mampu mengimbangi AS sebagai negara adidaya. AS membuat kebijakan yang mengisolasi Cina supaya tetap pada perbatasannya, ketimbang menghadapinya secara langsung karena hanya akan menghabiskan energi AS.
Kebijakan mengisolasi Cina ini tersirat dari tulisan Condoleezza Rice ketika ia menjadi penasihat kebijakan luar negeri George W Bush, yang saat itu masih menjadi Gubernur Texas, saat pemilu presiden tahun 2000 dalam artikel majalah Foreign Affairs,” Cina adalah kekuatan besar yang memiliki masalah yang belum selesai terutama dengan Taiwan. Cina juga tidak menyukai peran AS di wilayah regional Asia Pasifik.” Oleh karena itu, Rice mengatakan,” Cina bukanlah kekuatan ‘status quo’, tapi ia adalah kekuatan yang berkeinginan merubah keseimbangan kekuatan di Asia yang sesuai dengan kepentingannya. Kenyataan ini menjadikan Cina sebagai pesaing, bukan ‘mitra strategis’ sebagaimana yang didengungkan oleh pemerintahan Clinton. AS harus memperkuat hubungan dengan Jepang dan Korea Selatan dan mempertahankan komitmen untuk memiliki keberadaan pasukan AS di wilayah regional tersebut. ” Washington juga harus “memperhatikan secara seksama terhadap peran India dalam keseimbangan politik dan membawanya ke dalam lingkaran persekutuan yang anti Cina.”[4]
Namun demikian, sepuluh tahun berikutnya AS dan Cina berada dalam posisi interdependen. Ketika AS mendominasi wilayah regional di awal abad ini, perang Afghanistan, Iraq, dan krisis ekonomi global membuat AS tidak mampu mendominasi Cina. Ini terlihat dalam fakta berikut:
AS merupakan konsumen terbesar dunia dimana mayoritas barang yang ia konsumsi berasal dari dan diproduksi oleh Cina .Akibatnya, AS memilki defisit perdagangan dengan Cina senilai 268 trilyun. Dengan demikian sekitar 1 juta trilyun mata uang dolar dikuasai Cina
Cadangan dolar yang sangat besar yang dimiliki Cina membuat Cina memiliki kemampuan untuk membeli saham keuangan AS, yang digunakan AS untuk membiayai defisit perdagangannya
Hal ini berakibat kepada ekspansi perindustrian Cina, dimana industri tersebut membutuhkan pasokan minyak dan energi yang lebih besar lagi.Berikutnya, pengangguran di sektor industri AS pun meningkat karena kalah bersaing dengan kualitas produksi Cina yang lebih superior
Kebijakan AS terhadap Cina terlihat kontradiktif. Faksi Kanan AS, yang dipimpin kaum korporasi melihat Cina dari aspek komersial karena populasi Cina yang besar merupakan pasar yang menjanjikan keuntungan, sehingga ia melobi pemerintah AS untuk menarik Cina ke dalam pasar bebas global dan memaksa Cina untuk membuka pasar domestiknya. Faksi Kiri AS, yang sejak dulu memandang Cina sebagai ancaman, selalu menghantam Cina dengan isu hak asasi manusia, sensor internet, dan perseteruan Cina dengan Taiwan. Dari segi komersial, perusahaan seperti Google, Yahoo, Microsoft, dan industri perbankan AS meraup keuntungan dari hubungan komersial AS dan Cina.
Mereka yang memandang Cina sebagai ancaman memaksa pemerintah AS untuk terus mengisolasi Cina. AS meningkatkan kerjasama keamanan dengan Jepang dan mendukung seruan Jepang untuk mengembangkan nuklir, yang berarti meninggalkan sikap Jepang tentang kebijakan defensif yang telah berlangsung selama ini. Namun, bagi AS perkembangan di Jepang merupakan penyeimbang kekuatan Cina di wilayah Timur. Di wilayah Barat, AS mendekati India dengan berbagai kerjasama ekonomi, transfer teknologi nuklir, dan upaya pemberian status permanen dalam Dewan Keamanan PBB. Lebih jauh lagi, AS menormalisasi hubungannya dengan Vietnam, mengubur dendam masa lalu, dan membangun kerjasama bilateral. AS berhasil menggaet Vietnam dari pengaruh Cina sehingga memutus aliansi tradisional Cina di wilayah pasifik ini. Hingga saat ini Vietnam sendiri juga memiliki konflik perbatasan dengan Cina di seberang utara.
AS juga menggunakan konfliknya dengan Korea Utara untuk mengisolasi Cina. AS tidak banyak bereaksi terhadap program nuklir Pyongyang ketimbang program semacamnya di Iran, ketika Cina berusaha keras mengorganisir perundingan 6-negara untuk menghindari krisis yang lebih meluas di seberang perbatasannya sendiri. Pernyataan dari perundingan yang berlangsung memang nampak kontradiktif.
Ketika Cina menyatakan pesimismenya, AS justru menyatakan hal yang optimis dalam proses negosiasi. Malahan AS mendapatkan justifikasi untuk tetap mempertahankan militernya di Korea Selatan. AS juga memgumumkan di bulan September 2009 untuk meninggalkan kebijakan sangsi terhadap rezim Myanmar dan memulai hubungan langsung dengan rezim militer Myanmar. Myanmar memainkan peran penting dalam strategi luar negeri Cina tentang energi. Adanya kerjasama yang langsung antara AS dan Myanmar merupakan bentuk untuk membatasi pengaruh Cina di Asia.
Kebangkitan palsu
Dalam 5000 tahun sejarahnya, Cina tidak pernah menjadi kekuatan adidaya dan tidak pernah mempengaruhi politik internasional. Bahkan ketika Cina mengadopsi Komunisme, ia tidak mampu mengembannya lebih jauh dari batas negerinya sendiri apalagi mempengaruhi negara lain. Selama 5000 tahun, Cina lebih sering berperang dengan dirinya sendiri dan sibuk untuk menyatukan wilayah.
Kebijakan politik luar negeri Cina juga berpusat pada pembangunan ekonomi domestik dan menguasai sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhannya. Cina memang melawan strategi AS untuk mengisolasi dirinya dengan melemahkan negeri-negeri yang dirancang AS sebagai alatnya. Misalnya, Cina juga menawarkan kerjasama bilateral dengan Australia, India, Jepang dan Korea Selatan agar hubungan negeri-negeri ini dengan AS menjadi lebih kendor.
Realita ini membuat Cina terlalu fokus pada wilayah regional dan tidak memiliki ambisi untuk lebih dari itu. Hal ini akan berubah apabila Cina merubah ambisi regionalnya menuju ambisi global. Tanpa adanya perubahan ambisi, maka Cina tidak akan menjadi kekuatan global. Dengan pandangan regional yang sempit, Cina tidak akan mampu menandingi AS. Apa yang dilakukan Cina di Afrika sebenarnya tidak untuk menantang AS tapi sekedar usaha mendapatkan akses kepada energi minyak, dimana Cina akan semakin tergantung kepadanya. Di sinilah Cina menghadapi isu penting yang akan menentukan status masa depannya.
Cina juga menghadapi berbagai masalah yang memerlukan solusi, dan tanpa ideologi yang jelas maka Cina tidak akan menyelesaikan masalahnya secara konsisten pula. Tanpa ideologi, Cina akan terus didikte isu sebagai akibat tidak terselesaikannya isu yang lain. Pembangunan ekonomi Cina yang semakin tergantung kepada pasokan minyak membuat Cina harus membangun kerjasama yang koheren yang memiliki minyak. Tanpa ideologi, Cina sudah menghadapi masalah integrasi Tibet dan Xinjiang. Pertanyaannya, tanpa ideologi, bagaimana Cina akan mengintegrasikan Tibet dan Xinjiang, dan dengan ideologi apa penduduk tersebut akan diintegrasikan?
Secara domestik Cina memang diperintah oleh Komunisme, karena memang Cina masih dipimpin oleh sistem 1 partai. Akan tetapi Cina mulai beranjak ke sistem pasar bebas. Di saat yang sama, Cina juga bersikap nasionalistik yang memancing seruan disintegrasi dari beberapa wilayah, dimana AS berperan dalam memberikan dukungan diam-diam secara konsisten. Sampai pada satu titik Cina memutuskan apa jati dirinya, negeri ini akan terus ditarik ulur ke arah yang berbeda-beda dan Cina pun tidak akan mampu bangkit untuk menandingi adidaya manapun.
Kesimpulan
Cina saat ini menandingi AS dalam hal ekonomi yang menyebabkan timbulnya pertengkaran perdagangan di antara mereka. AS telah menetapkan batasan terhadap impor Cina dan kini Cina berada dalam posisi sebagai obyek dari kasus WTO (World Trade Organisation) dari praktik anti kompetisi.
Bagi AS Cina merupakan ancaman di Asia Tenggara, maka AS ingin membatasi ambisi politik Cina tapi di saat yang sama ingin menguasai pasar domestik Cina senilai 1,4 trilyun dolar. Model pembangunan Cina menunjukkan bahwa negara manapun akan mampu untuk berkembang ke arah manapun.
Namun suatu pembangunan pada hakekatnya adalah kemampuan untuk memiliki pandangan hidup (worldview) yang khas yang berperan sebagai fondasi semua aspek dari suatu negeri baik dari sisi ekonomi, hukum, politik luarnegeri, energi, integrasi, pemerintahan, dan relasi pria dan wanita. Dengan pandangan hidup yang khas, maka suatu negeri akan menyelesaikan semua isu secara konsisten, terarah, dan menciptakan kemajuan. Tanpa ideologi, suatu negeri mungkin akan maju, tapi akan mendapatkan dirinya dalam suatu dilema yang tidak bisa ia selesaikan. (Adnan Khan, www.khilafah.com)
[1] Scobell A, 2003, China’s use of military force, Cambridge university press
[2] Hassan R, (2005) ‘China: pretender or contender,’ new civilisation magazine, http://www.newcivilsation.com
[3] L C, Douglas and Young, Thomas-Durell, (Sep 2005) ‘US Department Of Defense Strategic Planning: The Missing Nexus,’ http://www.strategicstudiesinstitute.army.mil/pdffiles/pub329.pdf
[4] Condoleezza Rice, Campaign 2000: Promoting the National Interest, Foreign Affairs, January/February 2000,
http://www.foreignaffairs.org/20000101faessay5/condoleezza-rice/campaign-2000-promoting-the-national-interest.html
Noam Chomsky: Obama, “Godfather” Baru AS November 10, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: godfather, islam, israel, obama, palestina, USA, yahudi
add a comment
Posted: 08 Nov 2009 07:03 PM PST
Intelektual asal AS Noam Chomsky mengingatkan dunia internasional agar tidak terlalu banyak berharap Presiden AS Barack Obama akan melakukan perubahan signifikan dalam gaya pemerintahan dan kebijakan negeri Paman Sam itu. Menurut Chomsky, AS di bawah kepemimpinan Barack Obama masih akan mempertahankan apa yang disebut Chomsky “prinsip-prinsip mafia” dalam kebijakan luar negerinya.
“Ketika Obama resmi menjadi presiden, Condoleezza Rice bilang Obama akan melanjutkan kebijakan Bush dan sedikit banyak itulah yang terjadi. Yang berbeda cuma gaya retorikanya saja. Padahal yang dibutuhkan adalah perbuatan baik buka cuma retorika. Tindakan yang baik akan memunculkan cerita yang berbeda,” ujar Chomsky.
Ia mengungkapkan hal tersebut dalam ceramahnya di School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, Inggris. Pada kesempatan itu, Chomsky membeberkan berbagai contoh doktin-doktrin kebijakan luar negeri AS sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai masa pemerintahan Obama.
Menurutnya, tidak ada perubahan mendasar dalam konsep fundamental kebijakan luar negeri AS. AS masih tetap berpegang pada keyakinan tradisionalnya bahwa jika AS bisa menguasai dan mengkontrol sumber-sumber energi di Timur Tengah, maka AS bisa menguasai dan mengendalikan dunia. Chomsky menyebut doktrin yang diterapkan AS dalam kebijakan luar negerinya untuk medominasi dunia itu sama dengan “prinsip mafia”.
Iran dan Irak
“Seorang Godfather (sebutan untuk bos mafia) tidak mentoleransi ‘para pembangkangnya, apalagi jika pembangkang itu sukses’. Bagi AS, bersikap seperti itu sangat berbahaya dan oleh sebab itu bagi AS, pembangkang harus disingkirkan agar yang lain tahu bahwa ketidakpatuhan pada AS bukan sebuah pilihan. Pembangkang yang sukses, bagi AS merupakan “virus” yang bisa menular kemana-mana,”papar Chomsky.
Dan salah satu “virus” yang ditakutkan AS sampai saat ini adalah Iran. Ketakutan itu sudah ditunjukkan AS saat menumbangkan parlemen Iran yang terpilih secara demokratis pada tahun 1953. “Tujuan AS waktu itu adalah ingin mengendalikan sumber-sumber minyak Iran,” kata Chomsky.
Tapi AS kembali harus menghadapi “virus” pembangkangan pada tahun 1979, ketika pecah revolusi Islam Iran. Kali ini, upaya AS untuk memusnahkan “virus” itu dengan membujuk militer Iran, gagal total. Dan AS beralih memberikan dukungan pada pemimpin Irak, Saddam Hussein saat untuk melakukan invasi ke Iran.
“Sampai detik ini, AS masih terus ‘menyiksa’ Iran dengan sanksi dan alat tekanan lainnya,” sambung Chomsky.
Ia mencibir tudingan yang menyebutkan kemungkinan Iran membangun program nuklirnya untuk membuat persenjataan. Ia malah menyebutkan bahwa AS-lah yang sudah menyiapkan senjata-senjata anti-misil di Israel, bukan untuk pertahanan negara tapi untuk sewaktu-waktu menyerang Iran.
Chomsky juga mengingatkan kembali hubungan mesra AS dengan mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein. Hubungan itu berlanjut hingga selesainya perang Irak-Iran di era tahun 1980-an. AS mengundang para ilmuwan Irak dan memberikan pelatihan dalam bidang program nuklir. AS mulai kesal dengan Saddam Hussein ketika pemimpin Irak itu melakukan invasi ke Kuwait pada tahun 1990-an yang juga salah satu sekutu dekat AS di Timur Tengah.
“AS dengan cepat berubah. Saddam yang tadinya teman akrab AS menjadi sosok yang dianggap seperti reinkarnasi Hitler oleh AS,” tukas Chomsky.
Akhirnya dengan segala cara dan alasan yang manipulatif, AS melakukan agresi ke Irak dan melakukan “genosida” terhadap rakyat sipil di Negeri 1001 Malam itu. Begitu pula di Afghanistan dan kawasan Timur Tengah lainnya, kepentingan AS cuma satu, yaitu menguasai sumber alam berupa hasil minyak bumi yang melimpah di kawasan tersebut dengan atau tanpa kekerasan.
Dan lewat media massa serta sejumlah intelektual pro-pemerintah, pemerintah AS berhasil memanipulasi publik AS dengan mengatakan bahwa kejahatan dan kekejaman yang dilakukan AS adalah untuk “pertahanan” negara atau “intervensi demi kepentingan kemanusiaan.”
Chomsky menambahkan, Obama telah memperluas perang Bush di Afghanistan dengan melibatkan NATO yang digunakan AS bukan untuk memperkuat kontrol AS terhadap suplai energi tapi juga untuk menjaga agar Eropa tetap dibawah kendali AS.
Sumber-sumber minyak di Timur Tengah, kata Chomsky, merupakan “sumber dari kekuatan strategis” dan “salah satu material yang paling berharga dalam sejarah dunia”. Ia mengutip pernyataan mantan presiden AS Eisenhower yang mengatakan bahwa Timur Tengah dan sumber minyaknya merupakan “wilayah yang secara strategis paling penting di dunia.”
Jika AS berhasil menguasai sumber minyak Timur Tengah, maka AS secara subtansial bakal menjadi penguasa dunia. Untuk itu, AS harus memberikan dukungan pada regime yang brutal dan kejam serta menghalangi pembangunan serta demokratisasi di Timur Tengah. Satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan retorika AS selama ini yang katanya ingin menegakkan demokrasi di kawasan itu.
Somalia, Darfur dan Israel
Peran AS dalam kekacauan di Somalia menurut Chomsky, salah satunya adalah kampanye perang melawan teror yang dikobarkan AS. AS berhasil menimbulkan opini bahwa lembaga amal Muslim di Somalia, Barakat adalah salah satu organisasi yang memberikan bantuan pada teroris, sehingga lembaga itu ditutup.
Penutupan Barakat merupakan pukulan berat bagi Somalia karena lembaga ini memainkan peran yang cukup besar dalam perekonomian Somalia. Lembaga amal itu bukan hanya memberikan bantuan bagi orang-orang miskin di Somali tapi juga mengelola bank dan sejumlah perusahaan di negeri itu.
“Barakat adalah bagian penting perekonomian Somalia. Menutup lembaga itu memberikan kontribusi yang besar bagi melemahnya kondisi sosial rakyat Somalia,” ujar Chomsky.
Mengomentari konflik berkepanjangan di Darfur, Chomsky menilai Darfur menjadi korban permainan para aktivis humanis dari Barat yang mendistorsi akar konflik yang sebenarnya terjadi di negeri itu. “Darfur menjadi populer di kalangan humanis Barat. Mereka mendistorsi penyebab konflik dan dengan mudahnya mengkambinghitamkan ‘orang-orang Arab’ dan menyebut ‘para penjahat’ sebagai otak dari kekacauan di Darfur,” tukas Chomsky.
Itu semua pada dasarnya strategi licik yang dimainkan Barat, termasuk AS seperti yang mereka mainkan di negara Kongo dan Rwanda. Di kedua negara itu, mereka membiayai para milisi untuk membunuh dan membantai siapa saja yang menghalangi Barat untuk menguasai sumber-sumber mineral di negeri itu.
Sementara terkait konflik Israel-Palestina, Chomsky berpendapat Obama tidak melakukan upaya yang nyata untuk menekan Israel agar memenuhi kewajiban-kewajibannya, meski sikap Obama terhadap Israel terkesan lebih keras dibandingkan Bush. Pemerintah AS dibawah kepemimpinan Obama, tetap tidak berani menghentikan bantuannya untuk Tel Aviv sehingga Israel merasa tidak perlu mendengarkan kritikan dan mematuhi seruan Washington dalam proses perdamaian Israel-Palestina.
Chomsky menegaskan, publik di AS dan Inggris kini makin terbuka matanya dengan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di Palestina. Tapi sikap Israel tidak akan berubah jika ada tekanan yang kuat dari Barat.
“Masih banyak yang harus dilakukan negara-negara Barat, utamanya AS untuk menekan Israel agar mengubah kebijakan-kebijakannya atas Palestina,” tandas Chomsky. (eramuslim.com, 3/11/2009)
Departemen AS : Israel Bukan Masyarakat yang Toleran November 9, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: aqsa, AS, gaza, islam, israel, muslim, palestina, USA, yahudi
add a comment
Departemen AS : Israel Bukan Masyarakat yang Toleran
Posted: 07 Nov 2009 01:51 AM PST
Surat kabar harian Israel Haaretz, melaporkan bahwa menurut laporan terbaru dari Departemen negara AS, Israel telah gagal memenuhi semua persyaratan dari sebuah masyarakat yang pluralistik toleran.
Laporan tersebut juga menambahkan bahwa Israel tidak cukup menunjukkan sikap yang toleransi terhadap masyarakat minoritas, dan tidak menerapkan kesetaraan bagi kelompok-kelompok etnis yang lain, serta tidak memperlihatkan keterbukaan masyarakatnya dan tidak memiliki rasa hormat terhadap tempat-tempat suci dan tempat bersejarah lainnya, seperti dilaporkan Haaretz.
Laporan tersebut ditulis oleh Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Tenaga Kerja AS.
Hal ini menunjukkan bahwa Israel melakukan tindakan diskriminasi terhadap umat Islam, umat dari sekte Saksi Yehova, Kristen, perempuan, Badui, dan bahkan terhadap Yahudi yang pro Reformasi.
Laporan ini juga menyatakan bahwa meskipun Israel telah memiliki hukum di tempat itu sejak tahun 1967 tentang perlindungan bagi semua tempat suci di Yerusalem, dan masih berlaku untuk perlindungan terhadap situs-situs bersejarah Yahudi namun hal itu tidak berlaku terhadap situs suci lain yang dianggap suci oleh umat lain.
Lebih lanjut Haaretz melaporkan bahwa semua 137 situs secara resmi diakui suci oleh kaum Yahudi, namun mereka mengabaikan beberapa tempat-tempat suci umat Muslim dan Kristen, oleh karena itu, tempat-tempat suci non-Yahudi harus tunduk pada eksploitasi dari Otoritas Israel dan pengusaha real estat Israel.
Tindakan diskriminasi bahkan mencapai lebih dari 300.000 imigran yang diduga Yahudi namun tidak diakui Yahudi oleh rabi-rabi hukum yahudi Israel, karena itu mereka tidak bisa menikah atau bercerai di negera Israel, dan tidak dapat dimakamkan di pemakaman yahudi. (eramuslim.com, 7/11/2009)
Nahda Productions – the Official Launch Trailer! November 6, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: islam, khilafah, palestine, USA, video, yahudi
add a comment
Orang Swedia Yakin Bahwa Amerika Yang Merencanakan Serangan 11 September November 4, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: 9/11, america, islam, muslim, qaeda, swedia, terorist, USA, wtc
add a comment
| Orang Swedia Yakin Bahwa Amerika Yang Merencanakan Serangan 11 September
Posted: 02 Nov 2009 07:47 PM PST
Hasil sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa satu dari setiap 5 orang Swedia di bawah usia 30 tahun percaya bahwa pemerintah AS berperan dalam serangan 11 September 2001. Menurut kantor berita Swedia (TT), jajak pendapat yang dilakukan oleh Tovous Opinion atas permintaan program televisi Swedia (Kala Vakta) menjelaskan bahwa sejumlah besar di antara pemuda Swedia percaya dengan teori-teori konspirasi yang diadopsi oleh “Gerakan Kebenaran”, yang juga dikenal sebagai Masyarakan Peneliti (Research Society) 11 September. Kantor berita tersebut mencatat bahwa sekelompok orang mengadopsi pemikiran yang mengatakan bahwa jaringan teroris Al-Qaeda tidak bertanggung jawab atas serangan 11 September, tetapi semua itu tidak lain hanyalah sebuah insiden yang direkayasa oleh mantan Presiden Pemerintahan Amerika, George Bush untuk membenarkan perang melawan terorisme. Dari hasil jajak pendapat terhadap seribu rakyat Swedia diketahui bahwa 70% dari responden percaya bahwa Al-Qaeda yang telah melakukan serangan itu, sementara ada 7% responden yang menolaknya. Sedangkan pada kelompok usia di bawah usia 30 tahun diketahui bahwa hanya 58% saja yang meyakini bahwa militan Islam yang bertanggung jawab atas serangan itu, sebaliknya 15% tidak meyakininya, dan ada 18% yang percaya bahwa pemerintah AS yang memainkan peran dalam semua serangan. Namun dalam hal ini, kantor berita tersebut tidak menjelaskan kapan waktu pelaksanaan jajak pendapat itu, dan juga tidak menjelaskan seberapa kemunkinan margin kesalahannya. (mediaumat.com, 3/11/2009) |
20 Kebangkrutan Terbesar AS November 3, 2009
Posted by informationmedia in finance.Tags: america, AS, bank, bankrut, Economics, finance, investment, islam, syariah, ukm, USA
add a comment
Posted: 01 Nov 2009 09:05 PM PST
Washington – Bank UKM terbesar di AS, CIT Group akhirnya mendaftarkan perlindungan kebangkrutan pada Minggu (1/11/2009). Kebangkrutan bank yang sudah menerima dana bailout pemerintah AS sebesar US$ 2,33 miliar itu kini menjadi salah satu yang terbesar di AS.
CIT didirikan pada tahun 1908 dan mencatat sejarah sebagai salah satu bank untuk segmen UKM yang terbesar di AS. Seiring terjadinya krisis, CIT Group pun tak luput dari goncangan.
CIT berharap statusnya sebagai kreditor sektor UKM bisa memenangkan dukungan politik setelah berjuang keras sejak awal tahun ini. Namun pada Juli, Federal Deposit Insurance Corp menolak untuk menjadi penjamin dalam penerbitan surat utang CIT. Perseroan pun harus berjuang keras untuk mencari pendanaan sendiri.
Sebuah kelompok pemegang obligasi CIT akhirnya memberikan pinjaman sebesar US$ 3 miliar pada Juli. Para pemegang saham juga bersedia menukar surat utang lama sebesar US$ 1 miliar dengan surat utang baru.
Langkah tersebut memang memberikan waktu bagi CIT untuk bernafas, meski masih memiliki utang yang tidak dijamin dan jatuh tempo pada November sebesar US$ 800 juta. Dan lebih dari US$ 3 miliar utang yang tidak dijamin jatuh tempo pada akhir Maret.
Pekan lalu, CIT berhasil mengamankan tambahan pendanaan sebesar US$ 4,5 miliar dari investor yang akan membantu mereka melewati proses kebangkrutan. Icahn pada Jumat lalu juga telah sepakat untuk memberikan fasilitas kredit sebesar US$ 1 miliar.
CIT akhirnya mendaftarkan perlindungan Chapter 11 di pengadilan Manhattan demi memperlancar proses restrukturisasi utangnya. Bank yang sudah berusia 101 tahun itu melaporkan total aset sebesar US$ 71 miliar dengan liabilities US$ 65 miliar, sehingga tercatat sebagai salah satu rekor kebangkrutan terbesar.
Berikut daftar 20 kebangkrutan terbesar di AS berikut nilai asetnya sejak tahun 1980, yang dikutip dari AFP, Senin (2/11/2009).
- Lehman Brother (bank), 15 September 2008, US$ 691 miliar
- Washington Mutual (bank), 26 September 2008, US$ 327,9 miliar.
- WorldCom (telekomunikasi), 21 Juli 2008, US$ 103,9 miliar.
- General Motors (otomotif), 1 Juni 2009, US$ 91 miliar.
- CIT (bank pinjaman), 1 November 2009, US$ 71 miliar.
- Enron (perdagangan energi), 2 Desember 2001, US$ 65,5 miliar.
- Conseco (asuransi), 17 Desember 2002, US$ 61,4 miliar.
- Chrysler (otomotif), 30 April 2009, US$ 39,3 miliar.
- Pacific Gas and Elctric (utilitas), 6 April 2001, US$ 36,1 miliar
- Texaco (minyak), 21 April 1987, US$ 34,9 miliar.
- Financial Corporation of America (bank), 9 Seotember 1988, US$ 33,8 miliar.
- Refco (perdagangan), 17 Oktober 2005, US$ 33,3 miliar.
- Indymac (bank), 31 Juli 2008, US$ 32,7 miliar.
- Global Crossing (telekomunikasi), 28 Januari 2002, US$ 30,1 miliar.
- Bank of New England (bank), 7 Januari 1991, US$ 29,7 miliar.
- Lyondell (kimia), 6 Januari 2009, US$ 27,4 miliar.
- Calpone (perusahaan listrik), 20 Desember 2005, US$ 27,2 miliar.
- New Century Financial Corporatuon (perdagangan), 2 April 2007, US$ 26,1 miliar.
- United Airlines (maskapai), 9 Desember 2002, US$ 25,2 miliar.
- Colonial Bank (bank), 14 Agustus 2009, US$ 25 miliar.
sumber :detikfinance (2/11/2009)
Kapitalisme Gagal, 9 Bank AS Dilikuidasi dalam Sehari November 2, 2009
Posted by informationmedia in Economics, finance.Tags: bank, ekonomi, islam, keuangan, likuidasi, syariah, USA
add a comment
Kapitalisme Gagal, 9 Bank AS Dilikuidasi dalam Sehari
Posted: 31 Oct 2009 06:42 PM PDT
Sembilan bank yang pailit telah dilikuidasi oleh aparat AS pada hari Jumat(30/10), ini merupakan jumlah terbanyak dalam sehari sejak krisis ekonomi global dimulai.
Sebanyak 115 bank di Amerika Serikat telah bangkrut dalam tahun 2009, ini merupakan jumlah tertinggi sejak 1992.
Dua puluh lima bank telah kolaps pada tahun lalu tetapi hanya tiga bank yang kolaps pada tahun 2007.
Bank California National yang berpusat di Los Angeles merupakan salah satu dari sembilan bank yang dilikuidasi, ini kegagalan bank AS terbesar keempat tahun ini.
Pada hari Jumat, US Bancorp memperoleh sembilan bank yang telah diajukan oleh FBOP Corp, dan menyita $ 15.4 miliar pada deposito dan $ 18.4 miliar aset.
“Kami sedang bersiap-siap untuk mengubah segala sesuatu kepada Bank AS,” kata Roberta Valdez, seorang juru bicara untuk Federal Deposit Insurance Corp menambahkan, “Mereka akan terus beroperasi seperti biasa untuk sementara,” merujuk kepada pemberi pinjaman yang diperoleh dari FBOP.
Selain California National Bank, bank-bank lainnya yang disita Bank USA, NA, di Phoenix, San Diego National Bank; Pacific National Bank di San Fransisco; National Park Bank di Chicago; Komunitas Lemont Bank di Illinois; dan Bank Houston Utara, Madisonville Negara bank, dan Citizens Bank Nasional di Teague, yang semuanya di Texas.
Bank-banak telah hancur karena kegagalan dalam pinjaman perumahan. Bank-bank yang telah meminjamkan kepada perusahaan diduga menderita kerugian karena bangunan kosong. Proyek-proyek pembangunan kolaps dan perlahan-lahan gulung tikar,para pengembang menanggung pinjaman mereka.
Menurut daftar bank bermasalah FDIC, jumlah bank pada daftar melonjak hingga 416 pada akhir Juni dari 305 dalam kuartal pertama, yang merupakan peningkatan tertinggi sejak Juni 1994. Sekitar 13 persen dari bank-bank di daftar tersebut akhirnya gulung tikar. (presstv, 31/10/2009)


