jump to navigation

Pengangguran Terbuka Capai 8,96 Juta Orang December 28, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , , , , ,
1 comment so far

PATI–Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2009, jumlah pengangguran terbuka di tanah air mencapai 8,96 juta orang atau sekitar 7,87 persen dari jumlah angkatan kerja sebanyak 113,83 juta orang.

“Namun, angka pengangguran sebesar 7,87 persen ini lebih rendah jika dibandingkan dengan angka pengangguran pada Agustus 2008 mencapai 8,39 persen,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar, ketika menghadiri acara peresmian SMK Salafiyah di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jumat.

Menurut dia, salah satu faktor penyebab terjadinya kemiskinan karena banyaknya jumah usai produktif yang menganggur atau tidak bekerja.

Penyebab pengangguran, kata dia, meliputi banyak faktor. Di antaranya, tidak ada keseimbangan antara permintaan dan penawaran. “Saat ini, jumlah penawaran atau pencari kerja jauh lebih besar dari pada jumlah permintaan atau kesempatan kerja yang tersedia,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, tidak adanya kesesuaian antara persyaratan kerja dengan kualifikasi kompetensi yang dimiliki calon tenaga kerja. “Berdasarkan fakta yang ada, penyelenggaraan, job fair, hanya terisi antara 20-30 persen,” ujarnya.

“Pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat krisis keuangan global dan rasionalisasi perusahaan, serta tidak berfungsinya informasi para kerja juga menjadi faktor penyebab munculnya pengangguran,” ujarnya.

Persoalan kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja industri, katanya, menjadi penyebab kesempatan kerja yang tersedia tidak terserap dengan maksimal.

“Kesenjangan ini disebabkan karena perubahan struktur dan persyaratan di pasar kerja relatif lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan lembaga pendidikan dan pelatihan dalam mengantisipasi perubahan tersebut,” ujarnya.

Untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan tersebut, katanya, perlu diciptakan lapangan kerja baru, membuka akses ekonomi, dan memberdayakan ekonomi masyarakat miskin dan produktif.

“Kualitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) juga perlu ditingkatkan. Demikian pula pencari kerja juga perlu difasilitasi agar mempunyai akses dan kesempatan untuk mempresentasikan potensinya melalui pendidikan formal maupun pelatihan kerja berbasis kompetensi,” ujarnya. (Republika online, 25/12/2009)

Hizbut Tahrir Amerika Sekali Lagi Akan Menggoncang Jantungnya Peradaban Kapitalisme December 23, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

Posted: 22 Dec 2009 12:29 AM PST

Di jantungnya peradaban sampah kapitalisme, kembali Hizbut Tahrir bakal menggoncang Amerika. Hizbut Tahrir Amerika (HTA), salah satu cabang partai Islam internasional yang gemar menyerukan Khilafah tersebut akan menggelar sebuah acara publik di pinggiran kota Chicago untuk membicarakan krisis Pakistan, Ahad (20/12/09). Seperti biasa, para pembenci Islam yang menyebut dirinya pembela kebebasan dan demokrasi, berupaya untuk menggagalkan acara tersebut dengan tuduhan-tuduhan palsu yang dipaksakan.

Sebuah kelompok yang bernama Responbility for Equality and Liberty (REAL) telah membuat sebuah tulisan terkait rencana Hizbut Tahrir Amerika tersebut. Di dalam artikel yang dimuat di situsnya, REAL, disebutkan, “Sekali lagi, pinggiran kota di Chicago akan menjadi target acara publik oleh anti demokrasi, organisasi supremasis Islam Hizbut Tahrir pada hari Ahad, 20 Desember-kali ini menggunakan pusat masyarakat yang dikelola pemerintah di Lombard, Illinois.”

Dengan kebencian, kelompok pembela kebebasan tersebut menuduh Hizbut Tahrir sebagai sebuah kelompok ekstrim yang menentang demokrasi dan kebebasan beragama. “Hizbut Tahrir Amerika sedang mengadakan acara terbarunya di desa pinggiran kota Chicago, Lombard, Illinois dengan judul Krisis Pakistan- Kejadian Kini & Arah Masa Depan.”

Dengan penuh kebencian, kelompok yang menyebut dirinya pembela kebebasan tersebut malah berupaya untuk memberikan kebebasan kepada Hizbut Tahrir berbicara. Mereka berupaya menggalkan kegiatan tersebut.

Disebutkan bahwa Hizbut Tahrir Amerika telah menyewa Lombard Community Buiding di Jalan St Charles Timur 433 untuk tanggal 20 Desember 2009 pukul 5:00-6:30 Waktu Pusat.

“Kami yakin bahwa Desa Distrik Lombard Park dan Pemerintah Lombard tidah tahu siapa dan apa Hizbut Tahrir, atau bahkan mereka berfikir untuk bertanya. Kami mendesak para pembaca untuk menghubungi pemerintah dan media Lombard untuk membuat mereka sadar akan hal ini,” sebutnya dalam tulisan di website REAL.

Kelompok REAL juga menyinggung aktivitas Hizbut Tahrir di Kanada yang telah menggunakan fasilitas pemerintah untuk acaranya pada bulan Juli. REAL juga menyebarkan berbagai tuduhan palsu, baik dari media barat ataupun dari sumber-sumber yang tidak difahami.

Dalam komentarnya, kantor berita Hizbut Tahrir Palestina menyebutkan bahwa tulisan dari REAL tersebut penuh dengan kesalahan, kebohongan dan kepalsuan.

“Banyak informasi yang tidak berdasar, sehingga mereka menyesatkan orang-orang Amerika dan mengisinya dengan kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan Muslim. Mereka juga ingin mengirim pesan kepada Muslim di Amerika dan intimidasi kepada Hizbut Tahrir dengan label-label terorisme untuk menghubungkannya dengan Taliban dan Al-Qaeda, sehingga menjauhinya.”

Sebelumnya, REAL juga berupaya menggagalkan acara publik Hizbut Tahrir Amerika untuk pertama kalinya, ketika menggelar Konferensi Khilafah dengan tema “Kejatuhan Kapitalisme dan Kebangkitan Islam”. Namun, acara tetap berlangsung di Hotel Hilton, Oak Lawn Illinois Chicago. Pesan-pesan Islam dan seruan penegakkan Khilafah pun semakin membahana di bumi Amerika. Media setempat memberitakan kegiatan tersebut.

“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (TQS. Ibrahim [14]: 046)

Bagaimana pun juga, kebangkitan Islam telah dijanjikan. Sekuat apa pun upaya kafir barat menghalanginya, fajar kemenangan Islam pasti akan tiba juga hingga Islam benar-benar meliputi ujung timur dan ujung barat bumi ini. Insya Allah.(Syabab.com, 19/12/2009)

PERSATUAN UMAT DALAM NAUNGAN KHILAFAH: KUNCI KEBANGKITAN December 23, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , , ,
1 comment so far

Posted: 22 Dec 2009 02:45 AM PST

[Al-Islam 486] “Persatuan Umat, Kunci Kebangkitan Islam.” Itulah judul sekaligus ringkasan rekomendasi penting dari perhelatan Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia yang diselenggarakan PBNU, 19-20 Desember 2009 di Jakarta (Republika, 21/12/09).

Pada kesempatan yang sama, Menkopolkam Djoko Suyanto menyatakan, “Keterbelahan umat Islam didasari oleh rendahnya pendidikan dan tingkat ekonomi mereka. Kondisi itu semakin diperparah dengan munculnya berbagai pertentangan internal umat, totalitarianisme di sejumlah negara dan standar ganda yang ditetapkan negara-negara Barat…” (Kompas, 20/12/09).

Karena itu, mengakhiri tahun 2009 ini, sekaligus mengawali tahun baru 1431 Hijrah, tentu penting bagi umat Islam untuk mengevaluasi (muhâsabah) diri terkait dengan berbagai fakta keterbelahan dan keterbelakangan umat sekaligus memahami akar penyebabnya. Lebih dari itu, umat tentu harus menyadari apa solusi hakiki dari berbagai fakta fâsid (rusak) tersebut.

Cahaya Kesadaran

Harus diakui, persatuan umat yang berlangsung berabad-abad lamanya kini terkoyak. Kaum Muslim yang berjumlah 1,4 miliar lebih seolah tak ada artinya dalam kancah kehidupan dunia. Kaum Muslim dipecah-belah oleh penjajah ke dalam negara-bangsa, lebih dari 50 negara. Mereka kemudian dijadikan bahan bulan-bulanan penjajah.

Kenyataan ini persis seperti yang digambarkan Baginda Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Hampir saja bangsa-bangsa lain menyerang kalian dari berbagai penjuru, bagaikan rayap-rayap menyerang tempat makan mereka.” Para Sahabat bertanya, “Apakah hal itu karena kita pada waktu itu jumlahnya sedikit?” Rasulullah menjawab, “Tidak. Bahkan kalian pada waktu itu banyak. Namun, kalian saat itu bagaikan buih air bah. Sesungguhnya Allah mencabut kewibawaan kalian dan pada waktu yang sama Allah menanamkan wahn dalam hati kalian.” Para Sahabat bertanya, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

Kondisi keterpecahan itu semakin diperparah dengan hadirnya para penguasa pengkhianat yang menjadi penyambung lidah para penjajah. Bak anjing pudel, para penguasa ini mengabdi kepada tuannya, penjajah Barat, meski harus dengan mengorbankan rakyatnya sendiri.

Konflik-konflik antar anak umat muncul di berbagai negeri tak pernah berhenti. Contoh: kasus perseteruan Sunni dan Syiah di kawasan yang bergolak saat ini, Irak, mencuat setelah serangan Amerika ke negeri 1001 malam tersebut tahun 2003. Sunni dan Syiah tak hanya beradu mulut, tetapi saling menumpahkan darah. Padahal mereka tak pernah bertikai sebelum serangan Amerika itu. Ini jelas tidak lepas dari skenario jahat Barat/AS untuk terus memecah-belah umat Islam.

Di Palestina dua kubu saling beradu. Hamas dan Fatah yang lahir dari kondisi keterjajahan ternyata tak rukun ketika menghadapi penjajah. Fatah justru dekat dengan Israel dan dengan berani mengakui Israel sebagai sebuah negara. Atas arahan Barat, para pemimpin negeri-negeri Islam membebek menyerahkan nasib Palestina di bawah agresor Zionis Israel. Para penguasa pengkhianat umat tersebut malah membuatkan benteng dan penjara besar bagi umat Islam di Palestina, yang menjadikan mereka setiap harinya hidup dengan ‘menu’ derita nestapa di atas tumpukan mayat, darah dan linangan air mata.

Umat juga menyaksikan bagaimana Afganistan dibuat porak-poranda oleh agresor Amerika atas dukungan para penguasa bonekanya yang bercokol di sana. Para penguasa pengkhianat itu bahkan rela menumpahkan darah kaum Muslim yang notabene adalah saudara seiman mereka.

Ketertindasan umat Islam yang minoritas juga menjadi pemandangan yang tidak pernah berakhir. Kaum Muslim di Cina, India, Moro, Rohingya, Kirghistan, dll, termasuk di sejumlah negeri Barat sendiri, saat ini terus-menerus diintimidasi di luar batas kemanusiaan.

Di Indonesia kaum Muslim juga tak kalah memprihatinkan. Partai-partai politik yang berafiliasi ke pemilih Muslim saling bersaing. Alih-alih memperjuangkan tegaknya kehidupan islami dengan berusaha menerapkan syariah Islam, para aktivis partai-partai Islam hanya duduk di kursi parlemen untuk kepentingannya sendiri, paling banter untuk kepentingan partainya. Suara-suara perjuangan Islam nyaris tak terdengar, kecuali kalau terkait dengan kepentingan mereka.

Dalam kondisi seperti itu, serangan Barat terus menusuk ke jantung pertahanan kaum Muslim. Barat melemparkan berbagai jargon dan labelisasi yang menjadikan umat makin terbelah. Barat menyebut moderat kalangan Islam yang mau dekat dengannya. Sebaliknya, mereka melabeli siapapun dari kalangan Muslim yang dengan gigih memperjuangkan tegaknya Islam dengan label fundamentalis, teroris dan radikal. Perpecahan pun tak terelakkan, kendati masih terkendali.

Namun demikian, lambat-laun keadaan sekarang berbalik. Rekomendasi yang dibacakan dalam kegiatan di atas sedikitnya mengisyaratkan bahwa cahaya kesadaran mulai tumbuh dan menyentuh semua level umat Islam, dari kalangan cendekiawan hingga orang awam. Perasaan senasib sepenanggungan memancar dari benak umat. Derita dan nestapa di berbagai penjuru Dunia Islam menjadi pemicu cita-cita bersama: mewujudkan persatuan umat Islam sedunia!

Persatuan Umat: Butuh Khilafah

Persatuan umat Islam sedunia secara spiritual dan politik adalah keniscayaan yang tidak bisa terbantahkan. Pentingnya persatuan umat sedunia ini dilandasi oleh: (1) aspek normatif (syariah), yakni perintah dalam al-Quran dan as-Sunnah mengenai kewajiban umat untuk bersatu; (2) aspek historis (sejarah), yakni umat Islam selama berabad-abad bersatu dalam sejarah emas Kekhilafahan Islam; (3) fakta empirik saat ini, yakni umat memang butuh untuk membangun persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan global ke depan.

Aspek pertama: secara normatif umat Islam tidak hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan yang satu (Allah SWT), menghadap ke kiblat yang satu (Ka’bah), berpedoman pada kitab yang satu (al-Quran) serta meneladani Rasul saw. yang sama (Rasulullah saw. Muhammad saw.). Mereka juga diperintahkan hidup bermasyarakat di bawah kepemimpinan yang satu. Itulah Khilafah Islamiyah yang dipimpin seorang khalifah. Persatuan umat di bawah Khilafah inilah yang merupakan persatuan dan kesatuan yang sesungguhnya. Di bawah seorang khalifah, kepemimpinan Islam sedunia ini akan mempersatukan seluruh negeri-negeri Islam; mengatur dan mengurus mereka dengan syariah Islam; menghimpun potensi dan kekuatan umat Islam di seluruh dunia untuk mengukir kembali kejayaan Islam serta mengembalikan tanah-tanah dan berbagai sumberdaya alam kaum Muslim yang telah dirampas dan direbut secara paksa oleh rezim penjajah. Di bawah Khilafah pula umat ini bisa mengibarkan bendera jihad dan panji dakwah Islam ke seluruh dunia hingga dunia merasakan kebahagiaan hidup dalam naungan Islam.

Sebaliknya, Islam telah melarang perpecahan umat Islam yang akan berakibat pada kegagalan. Allah SWT antara lain berfirman:

Janganlah kalian berbantah-bantahan hingga mengakibatkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan (QS al-Anfal [8]: 46).

Rasulullah saw. bahkan bersabda:

Jika ada dua orang khalifah dibaiat (diangkat) maka bunuhlah yang terakhir dibaiat (‘khalifah tandingan’) (HR Muslim).

Hadis di atas menegasakan keharaman lebih dari satu orang imam/khalifah yang memimpin umat Islam. Dalam hadis itu pun terdapat kewajiban umat Islam untuk memerangi khalifah yang dibaiat terakhir untuk mencegah terjadinya perpecahan yang akan mengakibatkan umat Islam tidak bersatu.

Aspek kedua: umat Islam lebih dari sepuluh abad hidup dalam satu kepemimpinan, yakni Khilafah yang dipimpin seorang khalifah. Khalifah menjadi perisai tempat umat berlindung, bahkan menjadi benteng dari segala hal yang akan menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan mereka. Khalifah juga menjadi penjaga stabilitas kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik dan pemerintahan.

Aspek ketiga: kenyataan empirik saat ini menunjukkan bahwa sejumlah bangsa dan negara mulai cenderung untuk ‘bersatu’ dalam berbagai aspek (ekonomi, militer dan hukum) untuk menghadapi tantangan globlal ke depan. Uni Eropa adalah salah satu contohnya. Gagasan Uni Eropa muncul sejak tahun 1950-an. Setelah melalui proses perundingan yang tidak pernah berhenti, ide besar itu baru terwujud pada tahun 1992, yakni ketika perjanjian ditandatangani di kota Maastrich, Belanda. Artinya, kesatuan Eropa baru terwujud 40 tahun kemudian. Pada awalnya Uni Eropa hanya diikuti oleh 12 negara. Sekarang tidak kurang dari 23 negara ikut dalam Uni Eropa. Mereka didorong oleh rasionalitas, bahwa konsep negara-bangsa (nation state) makin kehilangan daya untuk menghadapi percaturan global saat ini dan pada masa yang akan datang. Karena itu, Uni Eropa menjadi kebutuhan mereka.

Khilafah: Kunci Kebangkitan Umat Islam

Dibandingkan dengan Uni Eropa yang tidak punya landasan historis, teoretis apalagi teologis, gagasan Khilafah Islam jelas memiliki semua landasan untuk tegak berdiri: teologis (akidah), normatif (syariah) maupun historis (sejarah). Ide Khilafah Ini juga sangat rasional. Jika Khilafah Islam tegak maka ia berpotensi menyatukan 1,4 miliar umat Islam di seluruh dunia; menghimpun sebagian besar kekayaan sumberdaya alam yang umumnya di miliki negeri-negeri Islam; bahkan menggalang kekuatan militer/tentara dalam jumlah amat besar.

Potret masa depan umat Islam yang besar inilah yang tidak dikehendaki oleh Barat. Sebab, mereka sadar, jika Khilafah tegak dan mempersatukan umat Islam sedunia, dominasi dan penjajahan mereka akan segera berakhir. Karena itu, umat Islam harus sadar bahwa keterbelahan umat Islam sejak awal memang menjadi cita-cita kaum penjajah Barat dan mereka akan terus membuat skenario untuk memeliharan keterbelahan umat tersebut. Salah satunya adalah dengan terus-menerus memojokkan ide Khilafah sekaligus memerangi kaum Mulsim yang berjuang untuk menegakkan Khilafah.

Karena itu, umat harus sadar, Khilafah adalah kunci persatuan umat Islam sedunia. Khilafah pula yang bakal menegakkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan, yang tentu bakal menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

Walhasil, penting bagi Muslim manapun untuk terus menyuarakan persatuan umat Islam sedunia. Namun, lebih penting lagi umat ini untuk terus menyuarakan, bahwa persatuan umat Islam sedunia tak akan pernah benar-benar bisa terwujud, kecuali dalam satu kepemimpinan Khilafah Islamiyah. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. []

KOMENTAR AL-ISLAM:

Arifin Ilham: Permasalahan besar umat dan bangsa saat ini adalah kerusakan moral (Republika, 22/12/2009).

Kerusakan moral hanyalah salah satu akibat dari kerusakan sistem yang diterapkan di negeri ini, yakni sistem sekular.

HIJRAH: SAATNYA MENINGGALKAN REZIM DAN SISTEM JAHILIAH December 16, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , , , ,
3 comments

Posted: 15 Dec 2009 04:00 AM PST

[Al-Islam 485] Waktu terus bergulir. Umat Islam tidak terasa memasuki tahun baru Hijriah 1431 H, meninggalkan tahun 1430 H. Hampir di setiap penjuru negeri-negeri Muslim, momentum pergantian tahun ini diisi dengan peringatan dan serimoni tahunan. Pergantian tahun hijriah kali ini hendaknya menjadi titik penting untuk melakukan muhâsabah (evaluasi diri) atas capaian-capaian umat Islam pada tahun-tahun yang lalu. Umat juga perlu merenungkan sejauh mana mereka menyusuri lorong waktu dan setiap kesempatan yang dikeruniakan Allah SWT dengan membuktikan rasa syukur dalam bentuk pengabdian (ibadah) kepada Allah SWT semata. Syukur dan pengabdian itu dibuktikan dengan cara menyelaraskan seluruh amal perbuatan dengan tuntunan yang datang dalam al-Quran dan uswah (teladan) hidup yang diberikan Baginda Rasulullah saw.

Pemaknaan hijrah yang utuh akan menjadikan umat Islam menyadari betapa saat ini kehidupannya masih jauh dari nilai-nilai hijrah seperti yang telah dicontohkan Baginda Nabi saw. dalam wujud kehidupan nyata di Madinah al-Munawarah (Yastrib).

Makna Hijrah

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Hijrah dalam as-Sunnah secara mutlak dimaknai: meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dâr al-Islâm karena ingin mempelajari dan mengamalkan Islam. Jadi, hijrah yang sempurna (hakiki) adalah meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah SWT, termasuk meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dâr al-Islâm.

Para fukaha mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam. (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276). Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum Muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam.

Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam). Artinya, Rasulullah berpindah dari satu negeri yang menerapkan sistem Jahiliah ke negeri yang kemudian menerapkan sistem Islam.

Pertama kali Rasulullah saw. menginjakkan kaki di Bumi Yastrib (Madinah al-Munawarah), hari Jumat pagi, 16 Rabiul Awal tahun ke-13 dari kenabian, bertepatan dengan 2 Juli tahun 622 Miladiah, setelah bersama sejumlah Sahabat menempuh perjalanan sangat bersejarah nan melelahkan; penuh derita dan ancaman kematian.

Tujuh belas tahun kemudian, Khalifah Umar bin al-Khaththab mengukirnya menjadi titik tolak kalender (penanggalan) untuk umat Islam, yang dimulai pada awal bulan Muharam karena begitu pentingnya peristiwa hijrah ini.

Rasulullah saw. Membangun Umat Terbaik

Pada awal kedatangan Rasulullah saw. di Tanah Yastrib (Madinah), beliau membangun Masjid Quba, kemudian Masjid Nabawi, dilanjutkan dengan mempersaudarakan kaum Muslim dari kalangan Muhajirin dan kaum Anshar atas dasar ikatan akidah tauhid “Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh”. Saat itu Rasulullah saw. secara de facto menjadi kepala negara di Tanah Yastrib (Madinah al-Munawwarah). Beliau membangun masyarakat istimewa yang berdiri di atas ideologi wahyu (Islam). Beliau melahirkan peradaban mulia. Ideologi Islam mewarnai setiap aspek kehidupan masyarakat Islam. Baik di ranah keyakinan, ibadah ritual maupun ruang publik (kehidupan politik), Islam sejak saat itu menjadi nilai sekaligus sistem yang melekat sepanjang perjalanan hidup kaum Muslim. Dari Darul Muhajirin (Darul Islam) ini, Islam diemban ke seluruh pelosok negeri untuk menebar kabar gembira dan mengajak setiap insan menghamba hanya kepada Allah SWT. Mereka diajak untuk mengikuti tuntunan Islam yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menenteramkan kalbu.

Rasulullah saw. selama sepuluh tahun di Madinah telah meletakkan pondasi bangunan masyarakat islami dalam wujud yang teraba dan terasa. Masyarakat islami ini menjadi kenyataan sejarah yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Hijrah Rasulullah saw. ke Madinah juga dirasakan hakikat dan tujuannya oleh orang-orang Quraiys yang berada di Makah al-Mukaramah pasca Futuhat terjadi. Sebagian besar mreka menekuk wajah karena malu saat mengingat masa lalu perlawanan mereka terhadap Rasulullah saw. Padahal akhirnya mereka merasakan bahwa kehidupan mereka sebelumnya adalah Jahiliah dalam ruang kegelapan nilai serta sistem hidup yang fasad (rusak), menuhankan akal dan menyembah sesama hamba; juga dalam sistem sosial yang hewani dan sederet kerusakan lain yang menjadi inti dari seluruh aspek kehidupan mereka. Hijrah pada akhirnya memisahkan antara haq dan batil serta antara hidup dalam kegelapan dan hidup dalam naungan cahaya terang-benderang. Sebagian besar manusia yang telah tersentuh dengan cahaya Islam enggan kembali pada sistem Jahiliahnya karena telah memahami perbedaannya secara hakiki.

Bagaimana Umat Islam Saat ini?

Prihatin. Di tingkat global negeri-negeri Islam menjadi obyek penjajahan gaya baru dari bangsa Barat. Irak dan Afganistan porak-poranda oleh AS dan sekutunya. Palestina tetap dalam cengkeraman Zionis Israel. Konflik terjadi di berbagai negeri Islam karena intrik dan kepentingan negara asing terhadap potensi-potensi strategisnya. Di negeri-negeri Barat diskriminasi atas umat Islam yang minoritas juga menjadi pemandangan saban hari. Sebaliknya, di negeri-negeri Islam sendiri kaum Muslim berada dalam tawanan penguasanya sekalipun mereka mayoritas. Negeri-negeri Islam masih terpecah-belah dan dipasung dalam ‘ashabiyah modern yang disebut nasionalisme.

Di dalam negeri, sepanjang tahun 1430 H (2009 M) nasib umat Islam belum berubah, sekalipun sudah berganti DPR, dan lahir kabinet pemerintahan baru. Inilah fakta sepanjang tahun 2009 (1430H) yang berlalu. Negeri yang oleh para pujangga dulu disebut zamrud khatulistiwa ini juga tetap diwarnai oleh banyak sekali bencana berupa gempa bumi, banjir dan tanah longsor. Bencana tersebut menyisakan sebuah ironi. Selain karena faktor manusia, bencana terjadi karena qudrah (kekuatan) dan irâdah (kehendak) Allah SWT. Karenanya, kita sering diajak berdoa agar terhindar dari segala bencana. Namun anehnya, mengapa pada saat yang sama kita tidak juga mau tunduk dan taat kepada Allah dalam kehidupan kita? Buktinya, hingga kini masih sangat banyak larangan Allah (riba, pornografi, kezaliman, ketidakadilan, korupsi dan sebagainya) yang dilanggar; masih sangat banyak pula kewajiban Allah (penerapan syariah, zakat, ‘uqûbat, shalat, haji, dan sebagainya) yang tidak dilaksanakan. Haruskah ada bencana yang lebih besar lagi untuk menyadarkan kita agar segera tunduk dan taat kepada Allah? Tentu tidak.

Jika demikian, ada beberapa catatan penting sebagai bahan muhâsabah (renungan) kita semua terkait dengan berbagai situasi dan kondisi yang meliputi kehidupan umat Islam saat ini di berbagai belahan dunia dan di negeri Indonesia khususnya.

Pertama: Menilik berbagai persoalan yang timbul di sepanjang tahun 2009 (1430 H), dapat disimpulkan bahwa ada dua faktor utama di belakangnya, yakni faktor sistem dan manusianya. Kemiskinan, kriminalitas dan masalah sosial lain, intervensi asing, ketidakadilan, Islamophobia (ketakutan terhadap Islam) dan berbagai bentuk kezaliman yang ada sepenuhnya terjadi akibat pemimpin yang tidak amanah dan sistem yang buruk, yakni sistem Kapitalisme-sekular. Karena itu, jika kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan di atas, maka kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Zat Yang Mahabaik. Itulah syariah Islam. Adapun pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu.

Kedua: Di sinilah sesungguhnya inti dari seruan ”Selamatkan Indonesia dengan Syariah”. Sebab, hanya dengan sistem berdasarkan syariah, dan dipimpin oleh orang amanah saja Indonesia benar-benar bisa menjadi lebih baik. Dengan sistem ini pula terdapat nilai keimanan dan takwa dalam setiap aktivitas sehari-hari yang akan membentengi tiap orang agar bekerja ikhlas dan penuh amanah. Dengan syariah problem kemiskinan, intervensi asing, ketidakadilan, kezaliman dan berbagai persoalan masyarakat bisa diatasi dengan sebaik-baiknya sehingga kerahmatan Islam bagi seluruh alam bisa diwujudkan secara nyata.

Ketiga: Karena itu, diserukan kepada seluruh umat Islam, khususnya mereka yang memiliki kekuatan dan pengaruh seperti pejabat pemerintah, para perwira militer dan kepolisian, pimpinan orpol dan ormas, anggota parlemen, para jurnalis dan tokoh umat untuk berusaha dengan sungguh-sungguh memperjuangkan tegaknya syariah di negeri ini. Hanya dengan syariah saja kita yakin bisa menyongsong tahun mendatang dengan lebih baik. Lain tidak.

Keempat: Untuk mewujudkan kesatuan umat di seluruh dunia dan penerapan syariah secara kâffah mutlak diperlukan Khilafah. Dengan kesatuan itu, umat akan menjadi kuat dan dengan kekuatan itu segala penjajahan dan kezaliman di Dunia Islam bisa diatasi secara sepadan. Insya Allah.

Khatimah

Berdasarkan pemaparan di atas, peringatan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. sudah saatnya dijadikan sebagai momentum untuk segera meninggalkan sistem Jahiliah, yakni sistem Kapitalisme-sekular yang diberlakukan saat ini, menuju sistem Islam. Apalagi telah terbukti, sistem Kapitalisme-sekular itu telah menimbulkan banyak penderitaan bagi kaum Muslim.

Awal tahun Tahun Baru Hijrah dan hari-hari ke depan adalah hari untuk menggelorakan kebangkitan Islam menuju perubahan hakiki dan mendasar. Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang dapat menyelesaikan secara tuntas seluruh persoalan kaum Muslim di seluruh dunia saat ini. Perubahan semacam itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan dua hal sekaligus. Pertama: membangun kekuatan politik internasional Khilafah Islam yang menyatukan seluruh potensi kaum Muslim, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Kedua: menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam Khilafah Islam tersebut. Hanya dengan cara inilah kaum Muslim akan mampu mengakhiri kondisi buruknya di bawah kekuasaan sistem Kapitalisme global menuju kehidupan mulia dan bermartabat di bawah payung institusi global Khilafah Islam.

Apakah hukum Jahiliah yang kalian kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Wallâhu a‘lam bi ash-ash-shawâb. []

KOMENTAR AL-ISLAM:

SBY Terancam Century Gate! (Inilah.com, 15/12/2009).

Skandal Century makin membuktikan bobroknya rezim dan sistem di negeri ini.

TUNDUK DAN BERKORBAN DEMI TEGAKNYA SYARIAH DAN KHILAFAH December 8, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , ,
add a comment

Posted: 24 Nov 2009 01:53 AM PST

[Al-Islam 482] Hari ini kaum Muslim di seluruh dunia kembali merayakan Hari Raya Idul Adha. Pada hari yang agung ini, kaum Muslim menggemakan takbîr, tahmîd, tashbîh dan tahlîl; berbondong-bondong menunaikan shalat Id dan mendengarkan khutbah, kemudian diteruskan dengan menyembelih dan membagi-bagikan hewan kurban. Selama Hari Tasyriq, alunan kalimat thayyibah itu pun masih akan terus terdengar. Pada saat yang sama, di Tanah Haram, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul memenuhi panggilan Allah, bersama-sama menunaikan ibadah haji dengan segala rangkaian manasiknya. Mereka berbaur menjadi satu tanpa dibatasi sekat kebangsaan, warna kulit dan aliran.

Realitas ini menunjukkan bahwa sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu. Mereka diikat dengan akidah yang sama, yakni akidah Islam; diatur dengan hukum yang sama, yaitu hukum Islam; memiliki kitab yang sama, yakni al-Quran; serta menghadap kiblat yang sama, yaitu Baitullah al-Haram.

Namun sayang, persatuan itu hanya sesaat dan terbatas dalam perkara ibadah ritual. Di luar itu, kondisi mereka amat memprihatinkan. Pertikaian, konflik hingga pertumpahan darah sesama umat Islam masih menjadi problem serius yang belum teratasi. Ukhuwah Islamiyah masih sebatas seruan dan persatuan umat baru sebatas dambaan. Mengapa ini bisa terjadi? Karena umat Islam saat ini tidak lagi hidup dalam satu kepemimpinan dan satu institusi negara. Padahal selain dipersatukan oleh akidah, hukum, rasul, kitab dan kiblat yang sama, umat Islam juga wajib hidup dalam satu kepemimpinan dan satu institusi negara. Itulah Khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah, yang memerintah dengan syariah Islam.

Sesungguhnya kesatuan umat dalam kepemimpinan dan institusi Khilafah ini amat penting. Sedemikian pentingnya hingga perkara ini ditetapkan sebagai salah satu al-qâdhiyyah al-mashîriyyah (perkara utama) umat ini, karena menyangkut hidup-matinya umat Islam. Bahkan Baginda Rasulullah saw. menegaskan, bahwa siapa pun yang berani memecah-belah kesatuan umat dalam kepemimpinan Khilafah ini harus dihukum mati! Beliau bersabda:

Siapa saja yang mendatangi kalian—sementara urusan kalian berada di tangan seseorang (khalifah)—dengan maksud hendak memecah-belah kesatuan dan jamaah kalian, bunuhlah dia! (HR Muslim).

Hadis ini amat jelas menunjukkan kewajiban umat Islam berada dalam satu kepemimpinan Khilafah. Ketika mereka berada dalam satu jamaah di bawah kepemimpinan seorang khalifah, lalu ada orang lain yang datang ingin memecah persatuan dan jamaah mereka, maka orang tersebut wajib dijatuhi hukuman mati.

Kita semua telah menyaksikan betapa umat Islam saat ini menderita saat tidak hidup dalam satu kepemimpinan Khilafah. Selama tiga belas abad umat Islam hidup dengan penuh keberkahan dalam institusi Khilafah. Sebaliknya, mereka kini menderita dan terpecah-belah dalam puluhan negara kecil. Umat yang dulu disegani ini pun berubah menjadi umat yang lemah. Keadaan ini diperparah oleh sikap rezim penguasa di negeri-negeri Islam yang tidak peduli terhadap Islam dan umatnya. Akibatnya, meskipun kaum kafir telah nyata-nyata menumpahkan darah, menguras harta kekayaan dan menginjak-injak kehormatan kaum Muslim, para penguasa itu hanya diam. Bahkan saat Rasulullah saw. dilecehkan dalam gambar-gambar kartun, al-Quran dihinakan dan mushafnya dimasukkan ke dalam WC di Penjara Guantanamo, Islam dicerca sebagai agama teroris dan Masjid al-Aqsha dikangkangi, dibakar dan hendak dirobohkan oleh kaum kafir Yahudi, para penguasa itu pun tidak merasa terusik. Kondisi umat Islam benar-benar laksana buih yang diombang-ambing oleh gelombang. Sungguh amat menyedihkan!

Setiap Hari Raya Idul Adha, kita selalu diingatkan kisah tentang ketundukan, ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as. dan putranya dalam menjalankan perintah Allah SWT. Saat Nabi Ibrahim as. diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as., keduanya segera bergegas melaksanakan perintah Allah. Tak tampak sama sekali keraguan, keengganan apalagi penolakan. Keduanya dengan ikhlas menunaikan perintah Allah SWT meski harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga dan dicintai. Ibrahim rela kehilangan putranya. Ismail pun tak keberatan kehilangan nyawanya (Lihat: QS ash-Shaffat [37]: 102-104).

Ketundukan dan pengorbanan sesungguhnya telah menjadi tabiat para kekasih Allah (khalîlu-Llâh). Dalam menyebarkan risalahnya, Qudwatunâ wa Uswatunâ Rasulullah saw. telah mempertaruhkan semua yang dimilikinya. Berbagai penentangan dan perlawanan orang-orang kafir sama sekali tidak membuat beliau mundur. Bahkan beliau bersumpah tidak akan berhenti berjuang hingga Islam Allah menangkan atau beliau binasa karenanya.

Ketundukan dan pengorbanan juga ditunjukkan oleh para Sahabat Nabi saw. Lihatlah peristiwa heroik yang ditunjukkan oleh generasi awal umat terbaik ini. Di antaranya adalah Muhaishah, Sahabat Rasulullah saw., yang mengikuti perintah beliau untuk membunuh seorang Yahudi dalam sebuah peperangan. Yahudi yang dibunuhnya itu tak lain adalah pedagang yang biasa memberi pakaian kepadanya. Kakak Muhaishah, yang belum memeluk Islam, yaitu Huwaishah, marah kepada adiknya itu, seraya memukul dan menghardiknya, “Apakah kamu membunuhnya? Demi Allah, makanan di dalam perutmu itu berasal dari hartanya.” Muhaishah menjawab, “Demi Allah, sekiranya orang yang memerintahkan aku untuk membunuhnya memerintahkan pula untuk membunuhmu, pasti aku akan memenggal lehermu.” Dengan nada heran Huwaishah bertanya lagi, “Demi Allah, kalau Muhammad memerintahkan kamu membunuhku, kamu akan membunuhku?” Muhaishah menjawab dengan tegas, “Benar!”

Allahu Akbar! Inilah perwujudan ketaatan generasi emas: generasi para Sahabat Rasulullah saw.

Bercermin pada ketundukan mereka, kita pun patut bertanya kepada diri kita: Sudahkah kita memiliki ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya? Ataukah sebaliknya, kita hanya mau tunduk pada sebagian perintah-Nya, namun menolak sebagian perintah-Nya yang lain?

Saat Allah SWT memerintahkan shalat, puasa atau haji, kita segera bergegas mengerjakannya. Saat Allah SWT melarang berzina, mencuri atau memakan babi, kita pun tak keberatan untuk meninggalkannya. Namun, saat Allah SWT memerintahkan untuk menerapkan syariah-Nya dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan pidana, mengapa di antara kita masih ada yang mempertanyakan, merasa keberatan bahkan menyatakan penolakannya? Mengapa itu bisa terjadi? Bukankah akidah yang kita yakini menuntut kita untuk memiliki ketundukan dan ketaatan total kepada seluruh syariah-Nya?

Apakah kita tidak tahu bahwa sikap mengimani sebagian dan mengingkari sebagian lainnya dapat mengantarkan pelakunya pada kekufuran, kehinaan di dunia dan siksa yang pedih di akhirat? (Lihat QS al-Baqarah [2]: 85, al-Nisa [4]: 150-151).

Apakah kita juga tidak sadar dengan kalimat tauhid—Lâ ilâha illâl-Lâh—yang kita ucapkan berulang-ulang itu? Ketahuilah, bahwa kalimat tauhid itu bukan hanya berisi pengakuan tentang keesaan Allah SWT semata, namun di dalamnya terkandung ikrar bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Zat yang berhak dan wajib disembah dan ditaati. Konsekuensinya, kita harus tunduk dan patuh pada seluruh hukum-Nya. Ucapan yang keluar dari seorang Mukmin dalam merespon semua seruan-Nya hanyalah sami’nâ wa atha’nâ (Lihat: QS an-Nur [24]: 51).

Kita juga patut bertanya: Sejauh manakah pengorbanan kita dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT? Sudahkah kita sanggup merelakan harta, jabatan, keluarga, bahkan jiwa dan raga kita demi menegakkan agama-Nya? Ataukah kita masih merasa berat dan enggan melakukannya? Jangankan nyawa; berkorban dengan sedikit tenaga, pikiran, harta dan waktu saja kadang masih terasa sulit. Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah kita dituntut untuk meletakkan kecintaan kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya melebihi segalanya? (Lihat: QS at-Taubah [9]: 24).

Di antara kiat memupuk jiwa mudah berkorban adalah dengan memperkokoh keimanan pada akhirat. Kita harus meyakini bahwa besarnya pengorbanan yang kita berikan di dunia jauh lebih kecil dibandingkan dengan balasan yang bakal kita terima: surga beserta ragam kenikmatan di dalamnya. Sebaliknya, sikap mengabaikan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya hanya akan menjerumuskan pelakunya ke dalam siksa neraka yang amat dahsyat.

Keyakinan inilah yang mampu menjadikan kaum Muhajirin terasa ringan melangkahkan kaki meninggalkan harta dan keluarga untuk berhijrah ke Madinah. Keyakinan ini pula yang membuat kaum Anshar bersedia menyerahkan kekuasaannya kepada Rasulullah saw. dan menerima saudaranya dari kalangan Muhajirin dengan penuh rasa cinta. Karena keyakinan ini pula, kaum Muslim bersemangat melakukan futûhât hingga wilayah kekuasaan Islam terbentang luas dalam waktu yang amat cepat.

Kini telah 88 tahun umat Islam hidup tanpa Khilafah. Padahal umat Islam hanya diberi masa tenggang selama tiga hari hidup tanpa seorang khalifah. Ini berarti, ketiadaan khalifah telah jauh melampaui batas waktu yang dibolehkan. Keadaan ini harus semakin melecut semangat kita untuk terus berjuang menegakkan Khilafah dan mengangkat kembali seorang khalifah.

Maka dari itu, inilah saatnya kita berkorban! Saatnyalah kini kita tampil ke depan membawa panji-panji Islam, berjuang dengan segenap daya dan kemampuan menyongsong kemenangan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Hari ini kita diperintahkan untuk berkurban. Perintah ini semestinya menjadi ibrâh untuk mengorbankan apa saja yang bisa kita korbankan; tidak hanya berhenti pada berkorban dengan kambing, sapi atau unta. Lebih dari itu, kita harus sanggup mengorbankan harta, waktu jiwa dan raga kita demi tegaknya agama Allah di muka bumi.

Sekaranglah saat yang tepat bagi kita untuk membuktikan ketundukan dan pengorbanan kita dalam berjuang menegakkan agama-Nya. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini karena Allah SWT telah melebihkan derajat orang yang berjuang sebelum tegaknya Khilafah. Allah SWT berfirman:

Tidaklah sama di antara kalian orang yang berinfak dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang berinfak dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik (QS al-Hadid [57]: 10).

Akhirnya, semoga Allah SWT memberi kita kesabaran, kekuatan dan kekompakan dalam upaya kita menegakkan Khilafah Islamiyah yang akan menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh kehidupan kaum Muslim sekaligus menyebarluaskan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Amin. [Disarikan dari naskah Khutbah Idul Adha 1430 H yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia]

KOMENTAR ALISLAM:

Amien Rais: SBY Belum Penuhi Harapan Rakyat (Republika.co.id, 24/11/2009).

Harapan rakyat hanya akan terpenuhi oleh penguasa yang menerapkan syariah Islam.

Analisis : Persaingan Cina – Amerika December 3, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , ,
add a comment

Posted: 01 Dec 2009 10:12 PM PST

Pada bulan Oktober 2009, Cina memperingati 60 tahun Revolusi dimana ia merdeka dari Cina dan mengalahkan kaum Nasionalis dengan terbentuknya Republik Sosialis Cina. Sejak awal abad ke 21 para analis memandang bangkitnya Cina sebagai tantangan terbesar terhadap Amerika Serikat (AS) dan banyak anggapan bahwa Cina akan berkembang menjadi negara adidaya. Cepatnya Cina menjadi negara yang diperhitungkan dalam peta politik dunia membuat banyak kalangan terkesima dan memprediksi adanya pergeseran kekuatan global dari Barat ke Timur. Cina tidak pernah menjadi kekuatan politik dan sejarah masa lalunya yang kelam akibat penjajahan brutal oleh Jepang selalu menjadi memori bagi Cina di masa paska Perang Dunia II. 60 tahun Revolusi pada negara terbesar di dunia merupakan realita baru dan untuk pertama kalinya diperhitungkan sebagai kekuatan adidaya.
Kunjungan Obama ke negeri-negeri Asia Tenggara diikuti lawatan ke Korea Selatan, Jepang, Singapur dan Cina, dimana ini merupakan kunjungan pertama kalinya sejak Obama menjadi presiden terpilih. Dari semua lawatan ini, kunjungan ke Cina merupakan aspek terpenting dari perjalanan Obama ini.

Cina membangun dirinya sejak tahun 1978 dengan mengembangkan sains dan teknologi, yang didorong dengan kepentingan militer. Pembangunan ini dimulai sejak jaman pemerintahan Mao. Mao menginginkan terbangunnya ‘militerisasi’ yang kuat diatas segala-galanya. Proyek ‘militerisasi’ inilah yang menjadi tulang punggung kebijakan Deng Xiao Ping. Tujuan Deng adalah untuk mendiversifikasi ekonomi Cina sehingga tidak hanya sektor hankam tetapi juga menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sipil. Konsep Deng yang berisi 16 butir tuntunan di awal 1980an secara gamblang menegaskan : mengintergrasikan petumbuhan sektor militer dan rakyat sipil, dengan memastikan memenuhi kebutuhan militer, mempertahankan kemampuan militer, dan menggunakan ekonomi sipil demi upaya modernisasi militer.”[1]

Sebelumnya Cina telah menerapkan sistem ekonomi terpimpin ala Soviet yang terbukti gagal. Deng lalu menggunakan sistem ekonomi yang berorientasi kepada pasar, terutama pada Zona Ekonomi Spesial yang terletak di kota-kota Guangdong, Fujian, dan Hainan. Hasilnya luar biasa. Cina merubah ekonominya secara radikal dari pengekspor komoditas bermutu rendah menuju komoditas teknologi tinggi. Negeri ini berubah dari ekonomi yang terbelakang menjadi mesin pengekspor kelas dunia. Ekspor Cina naik sepuluh kali lipat (antara 1990 – 2003 bernilai sekitar $436 trilyun.)[2]

Kini nilai ekspor Cina melampui 1 juta trilyun dolar dan merupakan ekonomi terbesar di dunia setelah AS dan Jerman.  Sejak 1978, Cina mereformasi ekonominya dari model ekonomi terpimpin ala Soviet menuju ekonomi yang berorientasi ke pasar, namun dengan sistem politik yang dikuasai oleh Partai Komunis Cina. Sistem ini disebut sebagai ‘Sosialisme dengan Karakter Cina’ dan merupakan sistem ekonomi campuran. Reformasi yang dimulai sejak tahun 1978 telah mengangkat derajat jutaan manusia dari garis kemiskinan, menurunkan kemiskinan hinga 53% dari populasi negeri itu di tahun 1981 dan 8% di tahun 2001.

Kebijakan luar negeri Cina juga mencerminkan perubahan penting dari pendekatan Beijing yang sempit dan reaktif pada masa lalu. Cina sudah meninggalkan mentalitas yang memandang dirinya  sebagai korban (victim mentality) akibat penderitaan selama 150 tahun dan mengadopsi mentalitas adidaya (great power mentality-daguo xintai). Konsekuensinya, Cina mulai mengambil peran aktif dalam isu global, dimana generasi penggeraknya belum lahir semasa Revolusi Cina sehingga tidak memandang Cina dari perspektif sejarah Cina. Pemimpin kontemporer seperti Hu Jintao, yang lahir hanya beberapa tahun sebelum Revolusi adalah pemimpin Cina pertama yang tidak ikut serta dalam long march yang terkenal karena berhasil mengalahkan kaum Nasionalis dan menaikkan partai komunis ke panggung kekuasaan di tahun 1949. Pemimpin yang menanggalkan victim mentality dan yang mengambil mentalitas adidaya adalah tipe pemimpin yang kini memimpin Cina dan memiliki visi sebagai negara adidaya.

Hubungan AS dan Cina
Pembuat kebijakan AS membuat strategi menghadapi Cina dalam dokumen “Tuntunan Perencanaan Pertahanan” (1994-99), yang merupakan bentuk pernyataan resmi AS pada masa paska runtuhnya Uni Sovyet, “Kita harus sekuat mungkin mencegah kekuatan asing manapun yang bisa mendominasi suatu wilayah yang sumber alamnya, ketika terkontrol secara solid, akan mampu mendukung terbentuknya kekuatan global.”[3] Ketika George Bush menjadi Presiden AS, hanya Cina yang memiliki kapasitas ekonomi dan militer yang mampu mengimbangi AS sebagai negara adidaya. AS membuat kebijakan yang mengisolasi Cina supaya tetap pada perbatasannya, ketimbang menghadapinya secara langsung karena hanya akan menghabiskan energi AS.

Kebijakan mengisolasi Cina ini tersirat dari tulisan Condoleezza Rice ketika ia menjadi penasihat kebijakan luar negeri George W Bush, yang saat itu masih menjadi Gubernur Texas, saat pemilu presiden tahun 2000 dalam artikel majalah Foreign Affairs,” Cina adalah kekuatan besar yang memiliki masalah yang belum selesai terutama dengan Taiwan. Cina juga tidak menyukai peran AS di wilayah regional Asia Pasifik.” Oleh karena itu, Rice mengatakan,” Cina bukanlah kekuatan ‘status quo’, tapi ia adalah kekuatan yang berkeinginan merubah keseimbangan kekuatan di Asia yang sesuai dengan kepentingannya. Kenyataan ini menjadikan Cina sebagai pesaing, bukan ‘mitra strategis’ sebagaimana yang didengungkan oleh pemerintahan Clinton. AS harus memperkuat hubungan dengan Jepang dan Korea Selatan dan mempertahankan komitmen untuk memiliki keberadaan pasukan AS di wilayah regional tersebut. ” Washington juga harus “memperhatikan secara seksama terhadap peran India dalam keseimbangan politik dan membawanya ke dalam lingkaran persekutuan yang anti Cina.”[4]

Namun demikian, sepuluh tahun berikutnya AS dan Cina berada dalam posisi interdependen. Ketika AS mendominasi wilayah regional di awal abad ini, perang Afghanistan, Iraq, dan krisis ekonomi global membuat AS tidak mampu mendominasi Cina. Ini terlihat dalam fakta berikut:
AS merupakan konsumen terbesar dunia dimana mayoritas barang yang ia konsumsi berasal dari  dan diproduksi oleh Cina .Akibatnya, AS memilki defisit perdagangan dengan Cina senilai 268 trilyun. Dengan demikian sekitar 1 juta trilyun mata uang dolar dikuasai Cina

Cadangan dolar yang sangat besar yang dimiliki Cina membuat Cina memiliki kemampuan untuk membeli saham keuangan AS, yang digunakan AS untuk membiayai defisit perdagangannya
Hal ini berakibat kepada ekspansi perindustrian Cina, dimana industri tersebut membutuhkan pasokan minyak dan energi yang lebih besar lagi.Berikutnya, pengangguran di sektor industri AS pun meningkat karena kalah bersaing dengan kualitas produksi Cina yang lebih superior

Kebijakan AS terhadap Cina terlihat kontradiktif. Faksi Kanan AS, yang dipimpin kaum korporasi melihat Cina dari aspek komersial karena populasi Cina yang besar merupakan pasar yang menjanjikan keuntungan, sehingga ia melobi pemerintah AS untuk menarik Cina ke dalam pasar bebas global dan memaksa Cina untuk membuka pasar domestiknya. Faksi Kiri AS, yang sejak dulu memandang Cina sebagai ancaman, selalu menghantam Cina dengan isu hak asasi manusia, sensor internet, dan perseteruan Cina dengan Taiwan. Dari segi komersial, perusahaan seperti Google, Yahoo, Microsoft, dan industri perbankan AS meraup keuntungan dari hubungan komersial AS dan Cina.

Mereka yang memandang Cina sebagai ancaman memaksa pemerintah AS untuk terus mengisolasi Cina. AS meningkatkan kerjasama keamanan dengan Jepang dan mendukung seruan Jepang untuk mengembangkan nuklir, yang berarti meninggalkan sikap Jepang tentang kebijakan defensif yang telah berlangsung selama ini. Namun, bagi AS perkembangan di Jepang merupakan penyeimbang kekuatan Cina di wilayah Timur. Di wilayah Barat, AS mendekati India dengan berbagai kerjasama ekonomi, transfer teknologi nuklir, dan upaya pemberian status permanen dalam Dewan Keamanan PBB. Lebih jauh lagi, AS menormalisasi hubungannya dengan Vietnam, mengubur dendam masa lalu, dan membangun kerjasama bilateral. AS berhasil menggaet Vietnam dari pengaruh Cina sehingga memutus aliansi tradisional Cina di wilayah pasifik ini. Hingga saat ini Vietnam sendiri juga memiliki konflik perbatasan dengan Cina di seberang utara.

AS juga menggunakan konfliknya dengan Korea Utara untuk mengisolasi Cina. AS tidak banyak bereaksi terhadap program nuklir Pyongyang ketimbang program semacamnya di Iran, ketika Cina berusaha keras mengorganisir perundingan 6-negara untuk menghindari krisis yang lebih meluas di seberang perbatasannya sendiri. Pernyataan dari perundingan yang berlangsung memang nampak kontradiktif.

Ketika Cina menyatakan pesimismenya, AS justru menyatakan hal yang optimis dalam proses negosiasi. Malahan AS mendapatkan justifikasi untuk tetap mempertahankan militernya di Korea Selatan. AS juga memgumumkan di bulan September 2009 untuk meninggalkan kebijakan sangsi terhadap rezim Myanmar dan memulai hubungan langsung dengan rezim militer Myanmar. Myanmar memainkan peran penting dalam strategi luar negeri Cina tentang energi. Adanya kerjasama yang langsung antara AS dan Myanmar merupakan bentuk untuk membatasi pengaruh Cina di Asia.

Kebangkitan palsu

Dalam 5000 tahun sejarahnya, Cina tidak pernah menjadi kekuatan adidaya dan tidak pernah mempengaruhi politik internasional. Bahkan ketika Cina mengadopsi Komunisme, ia tidak mampu mengembannya lebih jauh dari batas negerinya sendiri apalagi mempengaruhi negara lain. Selama 5000 tahun, Cina lebih sering berperang dengan dirinya sendiri dan sibuk untuk menyatukan wilayah.

Kebijakan politik luar negeri Cina juga berpusat pada pembangunan ekonomi domestik dan menguasai sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhannya. Cina memang melawan strategi AS untuk mengisolasi dirinya dengan melemahkan negeri-negeri yang dirancang AS sebagai alatnya. Misalnya, Cina juga menawarkan kerjasama bilateral dengan Australia, India, Jepang dan Korea Selatan agar hubungan negeri-negeri ini dengan AS menjadi lebih kendor.

Realita ini membuat Cina terlalu fokus pada wilayah regional dan tidak memiliki ambisi untuk lebih dari itu. Hal ini akan berubah apabila Cina merubah ambisi regionalnya menuju ambisi global. Tanpa adanya perubahan ambisi, maka Cina tidak akan menjadi kekuatan global. Dengan pandangan regional yang sempit, Cina tidak akan mampu menandingi AS. Apa yang dilakukan Cina di Afrika sebenarnya tidak untuk menantang AS tapi sekedar usaha mendapatkan akses kepada energi minyak, dimana Cina akan semakin tergantung kepadanya. Di sinilah Cina menghadapi isu penting yang akan menentukan status masa depannya.

Cina juga menghadapi berbagai masalah yang memerlukan solusi, dan tanpa ideologi yang jelas maka Cina tidak akan menyelesaikan masalahnya secara konsisten pula. Tanpa ideologi, Cina akan terus didikte isu sebagai akibat tidak terselesaikannya isu yang lain. Pembangunan ekonomi Cina yang semakin tergantung kepada pasokan minyak membuat Cina harus membangun kerjasama yang koheren yang memiliki minyak. Tanpa ideologi, Cina sudah menghadapi masalah integrasi Tibet dan Xinjiang. Pertanyaannya, tanpa ideologi, bagaimana  Cina akan mengintegrasikan Tibet dan Xinjiang, dan dengan ideologi apa penduduk tersebut akan diintegrasikan?

Secara domestik Cina memang diperintah oleh Komunisme, karena memang Cina masih dipimpin oleh sistem 1 partai. Akan tetapi Cina mulai beranjak ke sistem pasar bebas. Di saat yang sama, Cina juga bersikap nasionalistik yang memancing seruan disintegrasi dari beberapa wilayah, dimana AS berperan dalam memberikan dukungan diam-diam secara konsisten. Sampai pada satu titik Cina memutuskan apa jati dirinya, negeri ini akan terus ditarik ulur ke arah yang berbeda-beda dan Cina pun tidak akan mampu bangkit untuk menandingi adidaya manapun.

Kesimpulan
Cina saat ini menandingi AS dalam hal ekonomi yang menyebabkan timbulnya pertengkaran perdagangan di antara mereka. AS telah menetapkan batasan terhadap impor Cina dan kini Cina berada dalam posisi sebagai obyek dari kasus WTO (World Trade Organisation) dari praktik anti kompetisi.

Bagi AS Cina merupakan ancaman di Asia Tenggara, maka AS ingin membatasi ambisi politik Cina tapi di saat yang sama ingin menguasai pasar domestik Cina senilai 1,4 trilyun dolar. Model pembangunan Cina menunjukkan bahwa negara manapun akan mampu untuk berkembang ke arah manapun.

Namun suatu pembangunan pada hakekatnya adalah kemampuan untuk memiliki pandangan hidup (worldview) yang khas yang berperan sebagai fondasi semua aspek dari suatu negeri baik dari sisi ekonomi, hukum, politik luarnegeri, energi, integrasi, pemerintahan, dan relasi pria dan wanita. Dengan pandangan hidup yang khas, maka suatu negeri akan menyelesaikan semua isu secara konsisten, terarah, dan menciptakan kemajuan. Tanpa ideologi, suatu negeri mungkin akan maju, tapi akan mendapatkan dirinya dalam suatu dilema yang tidak bisa ia selesaikan. (Adnan Khan, www.khilafah.com)

[1] Scobell A, 2003, China’s use of military force, Cambridge university press

[2] Hassan R, (2005) ‘China: pretender or contender,’ new civilisation magazine, http://www.newcivilsation.com

[3] L C, Douglas  and Young, Thomas-Durell, (Sep 2005) ‘US Department Of Defense Strategic Planning: The Missing Nexus,’ http://www.strategicstudiesinstitute.army.mil/pdffiles/pub329.pdf

[4] Condoleezza Rice, Campaign 2000: Promoting the National Interest, Foreign Affairs, January/February 2000,
http://www.foreignaffairs.org/20000101faessay5/condoleezza-rice/campaign-2000-promoting-the-national-interest.html

Rabi Yahudi Menyerukan Kepada Umat Islam Untuk Memisahkan Agama dan Politik November 17, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , ,
add a comment


Posted: 15 Nov 2009 06:48 PM PST

Kepala rabi di Inggris menyerukan kepada umat Islam untuk membiasakan diri hidup sebagai kaum minoritas di Inggris, dan belajar memisahkan agama dari kekuasaan.

Jonathan Sacks berkata bahwa kaum Muslim dan Kristen belum memandangnya dengan tulus terhadap dimensi pelajaran dari kejahatan yang telah dilakukan terhadap orang-orang Yahudi dengan membuangnya ke Babilonia.

Dia juga mengatakan “salah satu keistimewaan besar menjadi seorang Yahudi adalah mengetahui bagaimana menyanyikan nada rendah”, “sejak pembuangan ke Babilonia kami mendapatkan pengalaman hidup selama 26 abad sebagai kaum minoritas di tengah-tengah suatu budaya yang tidak toleran terhadap pandangan hidup kami. Sementara Kristen dan Islam tidak mendapatkan keahlian seperti itu.”

Dia menambahkan bahwa “orang-orang Kristen telah belajar toleransi, tetapi itu hanya setelah 100 tahun dari konflik berdarah di antara sesama mereka di seluruh wilayah Eropa.” “Saya yakin bahwa Islam akan menemukan cara untuk bisa sampai ke substansi yang telah dicapai oleh Yahudi dan Kristen, yaitu masalah pemisahan agama dari kekuasaan.

Tetapi tidak ada cara yang cepat untuk sampai ke sana. Sebab hal itu mengharuskan proses yang sulit dan menyakitkan dalam agama. Hanya saja umat Islam pasti bisa melakukannya. Tidak seorang pun dari luar yang dapat memberitahu (mengintervensi) mereka. Karena ini akan dianggap sebagai penghinaan. Sementara menurut saya hal itu merupakan tindakan yang secara moral tidak dapat diterima.

Dan saya telah melihat bahwa beberapa di antara kaum Muslim yang memiliki kelebihan dan keistimewaan sedang menempuh proses yang indah ini, baik di negara ini maupun di tempat-tempat lain, di Irak dan bahkan di Iran.” (kantor berita HT, 15/11/2009)

Konflik di Palestina Sengaja Diciptakan oleh Barat October 30, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , , ,
2 comments

Konflik di Palestina Sengaja Diciptakan oleh Barat

Posted: 28 Oct 2009 08:18 PM PDT

Gaza

JAKARTA–Konflik palestina dengan Israel, merupakan sesuatu yang memang disengaja oleh dunia barat. Ini ditegaskan Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah dalam diskusi buku karya Trias Kuncahyono bertajuk ‘Jalur Gaza, Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis’ di Jakarta, Rabu malam (28/10).

”Jadi memang ini dinamakan dengan teori konspirasi, yang banyak mengemuka belakangan ini mengapa Israel selalu menyerbu dan menyerang Palestina. Dunia Barat takut sekali kalau Timur Tengah berkembang dan kemudian pro pada dunia Timur. Karena antara lain Timur Tengah kaya akan minyak. Kalau mereka berkembang dan pro Barat, itu tidak masalah,” kata Komarudin.

Inilah salah satu alasan kuat, sehingga menurut Komarudin, selalu diciptakan kegaduhan serta konflik di Palestina. ”Konflik di Palestina memang sulit untuk diselesaikan, karena begitu rumit dan kompleks. Pasalnya ini menyangkut kepentingan sejumlah negara dan merupakan konspirasi besar,” kata Komarudin.

Di satu sisi menurut Komarudin, negara-negara Timur Tengah sendiri, khususnya yang berdekatan dengan Palestina, tidak solid. ”Arab sendiri misalnya, susah dijawab apakah Arab lebih dekat ke Palestina atau ke Amerika. Demikian juga Mesir. Ibarat gunung pasir, kadang muncul dan mudah hilang. Artinya kadang di saat tertentu, satu negara berpihak pada negara lain. Namun pada situasi lain, keberpihakan itu bkisa ditarik dan berbalik,” kata Komarudin.

Sementara rakyat Palestina menurut Komafrudin, memiliki tiga alasan kuat mengapa mereka juga terus melakukan perlawanan. ”Mereka memiliki militansi tinggi karena tanah air dan tanah kelahirannya diusik. Kedua, orang rela berpefrang karena harta rampasan. ketiga, Unsur keyakinan agama yang membuat mereka menjadi semakin militan. Ini ditakuti oleh Barat dan Israel,” papar Komarudin.

Pada kesempatan yang sama, pengajar di FISIP UI, Kusnanto Anggoro mengungkapkan hal senada. ”Konflik di Palestina dan Gaza sulit betul untuk diselesaikan. Karena tidak memiliki batasan-batasan yang jelas,” papar Kusnanto. Dikatakannya, negara-negara di sekitar Palestina, secara tidak langsung sebenarnya menghendaki konflik di Palestina terus berlangsung. (Republika online, 29/10/2009)

Hizbut Tahrir Dari Sudut Pandang Barat (1) October 29, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

Hizbut Tahrir Dari Sudut Pandang Barat (1)

Posted: 27 Oct 2009 06:07 PM PDT

Jika Anda ingin berbicara tentang Hizbut Tahrir dari sudut pandang Barat, itu artinya Anda akan berbicara tentang sebuah partai politik yang menjadikan penegakan kembali Khilafah sebagai qadhiyah mashiriyah (urusan terpentig)-nya, Anda akan berbicara tentang sebuah partai yang benar-benar mengerti tujuannya, serta sebuah partai yang menempuh sebuah jalan yang telah benar-benar terang petunjuk-petunjuknya dan sehelai rambut-pun ia tidak akan melenceng darinya. Jika Anda bicara tentang Hizbut Tahrir, itu artinya Anda berbicara tentang sebuah partai yang dikenal kuat gagasan-gagasan dan argumentasinya, Anda berbicara tentang sebuah partai yang kekuatannya semakin membesar pada level dunia, Anda berbicara tentang perintis pemikiran Islam yang ‘ekstrim’, dan Anda berbicara tentang bahaya yang sedang tumbuh mengancam kepentingan Amerika di Asia Tengah.

Karena itulah, Hizbut Tahrir dan dakwahnya yang terwujud dalam penegakan Khilafah terus menjadi obyek kajian dan penelitian dari para pemikir dan pusat-pusat kajian Barat. Dan meskipun telah diupayakan berbagai macam kampanye negative media atas kegiatan-kegiatan Hizbut Tahrir dan menutup-nutupinya dari umat, hanya saja lensa pemebesar itu terus mengarah pada kegiatan-kegiatan Hizbut Tahrir di seluruh penjuru dunia. Hal ini karena mereka ingin mengkaji faktor, situasi dan kondisi apa yang menyebabkan pertumbuhan dan dakwah Hizb terus membesar di Asia Tengah, Indonesia, Malasia, Pakistan, Bangladesh, Eropa, Rusia dan Amerika, dan masih ditambah di berbagai negeri-negeri di dunia Islam.

Meskipun Hizbut Tahrir sejak saat pertama kelahirannya telah menjadi obyek perhatian kekuatan Barat penjajah yang mengkokohkan dominasinya atas sistem-sistem politik di dunia Islam, akan tetapi Barat lebih memilih memerangi Hizb dan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi dan melalui sarana-sarana dan berbagai alat yang membantu mereka untuk tujuan ini. Barat tidak secara langsung dan terang-terang melakukan konfrontasi dengan Hizb. Negara-negara ini, dan juga berbagai perwakilannya dari berbagai sistem politik yang ada, seringkali, dan masih terus berlanjut, memilih melakukan perang media yang terwujud dalam pembungkaman dan pengendalian media yang amat kuat untuk menyerang Hizb. Hal ini tak lain karena ketakutan mereka jika berhadap-hadapan dengan dakwah Hizbut-Tahrir dan para pengembannya. Sebab, mereka jelas tidak memiliki kemampuan mengadu hujjah dengan hujjah dan bukti (al-burhân) dengan bukti dalam forum diskusi dan debat pemikiran dan politik. Hanya saja, pertumbuhan Hizb telah mencapai pada titik yang tidak pernah mereka perkirakan. Pertumbuhan Hizb telah benar-benar melewati garis-garis merah dalam standard mereka. Hal inilah yang membangkitkan kemarahan mereka dan mendorong mereka untuk mengirimkan lembaga-lembaga riset dan para pemikir mereka untuk mengkaji ‘fenomena’, berbagai sebab dan faktor serta kondisi yang meliputinya. Karenanya, meskipun ada pembatasan media ; meskipun berbagai penangkapan yang dilakukan, pelarangan dan penyerangan yang terjadi di berbagai negeri kaum Muslim, juga Barat; meskipun terbatasnya fasilitas dan meskipun minimnya daya upaya, dakwah menuju penegakan Khilafah telah benar-benar mencuat dan tersebar bagai api ditengah-tengah semak belukar yang kering, dan bahkan menjadi harapan sebagai sebuah sistem yang akan menyelamatkan dan membebaskan umat.

Jadi, kajian-kajian dan penelitian dari para pemikir dan lembaga riset itu sebenarnya tak lain dalam rangka turut andil dalam menggariskan politik penghalangan dan pencegahan terhadap ide Khilafah dan Hizbut Tahrir. Namun, bagaimana mungkin mereka dapat menghalangi sinar matahari dengan ayakan setelah mendungnya tersingkap? Dan bagaimana mungkin mereka dapat menghalangi dakwah kebenaran setelah terbukti kebohongan propaganda-propaganda batil mereka.

Berikut ini beberapa statmen, analisa dan beberapa tulisan yang mengangkat Hizbut Tahrir –sebagai sebuah jama’ah pelopor, memiliki ciri khusus berdakwah demi tegaknya Khilafah, –sekaligus memberikan peringatan akan bahayanya dan mempropagandakan untuk mengancurkannya:

Ariel Cohen, seorang peneliti Amerika keturunan Yahudi spesialis studi Rusia dan Rusia-Eropa di lembaga Catherine dan Shelby Cullom Davis untuk penelitian internasional di yayasan Heritage, memberikan sebuah laporan yang disampaikan pada sebuah konferensi yang diselenggarakan di Istambul pada Mei 2003 M. Dalam laporan itu, Ariel Cohen menghimbau Amerika dan razim-razim yang sedang berkuasa di negeri-negeri kaum Muslim agar menyadari bahaya besar yang terdapat di dalam Hizbut Tahrir, dan mempropaganda mereka untuk mengahncurkannya. Cohen diantaranya menyatakan :

“Hizbut Tahrir sesungguhnya adalah merupakan bahaya yang tertinggi (terbesar) bagi kepentingan Amerika di Asia Tengah, Asia Selatan dan Timur Tengah. Hizbut Tahrir adalah organisasi politik Islam fundamental yang bersifat rahasia (Under ground). Tujuan yang didengung-dengungkan selama ini adalah jihad melawan Amerika dan merevolusi sistem politik yang ada saat ini dan menggantikannya dengan Khilafah… Hizbut Tahrir adalah ancaman tertinggi bagi kepentingan Amerika di Asia Tengah dan wilayah-wilayah dunia Islam lainnya yang menerapkan sistem moderat…Titik tolak aktivitas Hizbut Tahrir ini sesuai dengan islamic globalization (al-‘aulamah al-Islâmiyah), sementara, ideologi mereka merupakan bentuk tantangan langsung bagi tujuan Barat untuk mewujudkan globalisai sekular (al-‘aulamah al-‘almâniyah)….Diantara keistimewaan yang terpenting bagi Hizbut Tahrir adalah penolakannya terhadap sistem politik yang ada saat ini, perkembangannya yang sangat cepat, pandangannya yang jauh kedepan dan permusuhannya terhadap Amerika. Hizbut Tahrir menuduh bahwa Amerika telah mengumumkan perang melawan umat Islam dengan berlindung dengan alasan memerangi terorisme (war on terrorism)… Karena itu, Amerika dan sekutu-sekutunya harus melihat bahwa Hizbut Tahrir merupakan ancaman yang terus meningkat di Asia Tengah. America dan sekutu-sekutunya sudah semestinya terus mengembangkan strategi yang komprehensip untuk membendung pengaruh Hizbut Tahrir”.

Jean-Francois Mayer, –seorang penulis asal Switzerland dan sekaligus pengamat aliran-aliran agama modern. Ia memiliki puluhan karya buku dan berbagai makalah yang memberikan perhatian khusu terhadap kajian-kajian perkembagan agama di dunia kontemporer. Dia bekerja sebagai analis dalam urusan strategi dan kenegaraan bagi pemerintah Swiss Federal. Dialah penanggung jawab rancangan pembahasan yang berkaitan dengan program seputar, “Al-Ta’addud al-Tsaqafy wa al-Huwiyah al-Wathaniya/ Multi Kultural dan Identitas Bangsa” –menulis sebuah makalah dengan judul, “Akankah Hizbut Tahrir Menjadi al-Qaeda di Masa Mendatang?”, yang di publikasikan pada 08/09/2003 M, melalui kantor berita Roozbalt. Dalam tulisan itu ia mengatakan:

“Hizbut Tahrir merupakan sebuah kondisi yang tiada duanya sebagai sebuah partai Islam internasional. Dimana ia memiliki cabang di berbagai negara di dunia ini, termasuk dunia Barat. Yang lebih mencengangkan lagi, Hizbut Tahrir di berbagai negeri itu ternyata mengikuti tharîqah (metode) dan uslûb (cara) yang sama. Hal itu menunjukkan sebuah langkah yang sangat berani demi menjaga kohesi wujud dan ideologinya. Tak diragukan lagi, seruan Hizbut Tahrir merupakan seruan yang ekstrim, sedang penjelasan-penjelasannya merupakan penjelasan yang keras. Jika kita mau mengabil pelajaran, kita ini hidup dalam sebuah masa yang banyak terpengaruh dengan media, maka, patut diragukan jika Hizbut Tahrir menyebarkan data-datanya dan penjelasan-penjelasannya yang sangat provokatif itu hanya dengan tujuan mencari perhatian dan hanya sekedar menyebarkan suratnya saja….

Hizbut Tahrir menolak secara keseluruhan negara-negara bangsa (nation state). Hizbut Tahrir ingin mendirikan negara Islam tunggal yang akan menyatukan seluruh negeri Islam, dan pada puncaknya, seluruh dunia. Terkadang mereka memiliki sebuah harapan yang mirip dongeng; untuk mengembalikan Khalifah…Dalam berbagai selebarannya, Hizbut Tahrir selalu mengungkapkan dibutuhkannya Khilafah sebagai sebuah solusi bagi seluruh problem yang menimpa dunia Islam.

Karena tergila-gilanya Hizbut Tahir dengan Khilafah, seorang penulis dari Hizbut Tahrir menampilkan pada halaman atas di beberapa situsnya di internet sebuah emblim (lencana); “Negara Islam (Khilafah) Telah Dirobohkan Secara Resmi Pada 28 Rajab 1342 H/03/03/1924 M”. Setiap harinya, ia menambahkan satu angka pada angka terakhir; misalnya, angkanya telah mencapai 28956 hari pada 06/06/2003 M.

Anggota Hizbut Tahrir tidak menganggap bahwa mereka saja-lah yang benar-benar Islam. Mereka tidak menganggap orang-orang Muslim biasa sebagai orang-orang Muslim yang buruk. Hal sepenuhnya berbeda dengan pandangan sebagian kelompok Islam ekstrim yang menganggap anggotanya saja yang benar-benar Muslim, sedangkan kaum Muslim yang lain dalam kondisi murtad.

Hizbut Tahrir tidak merasa perlu meminta maaf dari apa yang dilakukan oleh kaum Muslim. Ia lebih memilih berada dalam posisi menyerang (ofensif) dari pada berada dalam posisi mempertahankan diri (devensif). Analisanya telah mengantarkan Hizbut Tahrir pada sebuah kesimpulan bahwa perang melawan teroris (war on terrorism) pada faktanya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslim.

Dapat ditegaskan bahwa Hizbut Tahrir bukan gerakan perdamaian. Akan tetapi, pada fase ini Hizbut Tahrir tidak menggunakan kekerasan dalam berbagai aktivitasnya meskipun kritiknya dan seruannya sangat ekstrim. Sungguh amat mengherankan, banyak anggotanya yang benar-benar dapat mengontrol emosinya meskipun penekanan semakin bertambah. Jean-Francois Mayer mengakhiri perkataannya, “Mungkin saja, masadepan mereka benar-benar akan cemerlang”. (bersambung kebagian ke-2) (hizbut-tahrir.or.id)

Komunitas Al-Waie Di Universitas Arab Amerika Adakan Seminar Tentang Khilafah October 27, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

Komunitas Al-Waie Di Universitas Arab Amerika Adakan Seminar Tentang Khilafah

Posted: 25 Oct 2009 09:14 PM PDT

HT1

Jenin. Dalam suasana interaktif, dan dihadiri oleh banyak mahasiswa universitas, komunitas Al-Waie—sebuah organisasi mahasiswa milik Hizbut Tahrir—di Universitas Arab Amerika pada hari Sabtu (24/10/2009) mengadakan seminar bertemakan “Tanggung Jawab Syabab Menyambut Kabar Gembira Akan Kembalinya Lagi Khilafah”.

Setelah pembukaan seminar dengan pembacaan ayat-ayat suci dari Al-Qur’an, komunitas Al-Waie menyambut peserta, dan menekankan pentingnya Khilafah, yang merupakan bagian dari hidayah bagi umat manusia; serta menekankan bahwa Khilafah adalah harapan umat Islam, bahkan umat Islam tidak berharap kepada selain Khilafah. Sementara mereka yang berusaha menegakkan Khilafah telah menyiapkan semua yang dibutuhkannya untuk tegaknya Khilafah, dan mereka sedang berjalan di tempat yang tingi menuju yang lebih tinggi. Selanjutnya, komunitas Al-Waie menyeru semua syabab (pemuda) dan kaum Muslim untuk bergabung ke dalam kelompok yang sedang beraktivitas uktuk tegaknya Khilafah.

Dalam kata sambutan oleh komunitas Al-Waie di Univerisitas Al-Najah yang turut berpartisipasi dalam seminar ini menekankan bahwa untuk rencana menegakkan Khilafah diperlukan lebih banyak lagi orang-orang yang mengambilnya untuk dipikul di pundaknya. Bahkan ia memilai bahwa saat ini bukan waktunya lagi untuk meratap dan menangis, namun sekarang waktunya untuk beraktivitas dan berusaha mendirikan Khilafah. Dan ia menyerukan kepada semua kaum Muslim agar menjadi di antara orang-orang yang membela dan mempertahankan tanah air kaum Muslim.

Dan dalam menyoroti realitas politik dan ekonomi, Prof. Abdur Rahman Az-Zuyud  melihat bahwa berbagai perubahan sedang menyelimuti dunia, bahkan ia menilai semua perubahan ini sebagai pembuka jalan bagi masa depan yang disebutnya dengan era lahirnya (Khilafah), yang merupakan satu-satunya alternatif pengganti peradaban kapitalisme yang rusak. Pembicara ini juga menyampaikan beberapa kabar gembira tentang akan kembalinya Khilafah, yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia menjelaskan bahwa semua kabar gembira ini bukanlah seruan untuk sekedar kepercayaan dan berdiam diri (hanya menunggu dan menunggu), melainkan seruan yang mendorong untuk semangat beraktivitas dan menggerakkan umat Islam agar bersama-sama melangkah menuju tegaknya kembali Khilafah.

HT2

Sementara dalam presentasinya tentang keprihatinan dan tanggung jawab para pemuda (syabab), Dr. Yahya Jaber menjelaskan keadaan dan kondisi yang menyelimuti para pemuda. Dimana mereka sudah tidak memiliki lagi kepedulian, dan kalau pun adan terbatas pada masalah-masalah sederhana dan murahan, bahkan ada sebagian dari mereka yang sudah jatuh dalam jeratan untuk meniru Barat dalam berpakaian dan lainnya, setelah sebelumnya para pemuda menjadi sandaran Islam, dan di pundak mereka dibangun negara Islam yang pertama. Dan ia menilai bahwa di antara kewajiban semua kaum Muslim, khususnya para pemuda adalah memikul tanggung jawab umat Islam dalam menegakkan kembali Khilafah.

Dan ia menyeru kelompok anak-anak muda (syabab) agar beraktivitas untuk menegakkan Khilafah, dan terlibat dalam aktivitas ini sesegera mungkin sebelum terlambat, dan sebelum Khilafah berdiri, “pahala aktivitas menegakkan Khilafah sebelum beridirnya Khilafah lebih besar dari pada orang yang beraktivitas setelah berdirinya,” katanya.

Pada sesi akhir seminar kedua pembicara menjawab semua pertanyaan peserta yang semuanya tampak interaktif dan bersemangat. (www.nablustv.net, 25/10/2009)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.