Jeritan Remaja 14 Tahun untuk Palestina December 30, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: gaza, islam, israel, kafir, konflik, muslim, palestina, remaja, yahudi
add a comment
Ciri Orang yang Dicintai dan Dibenci Allah December 29, 2009
Posted by informationmedia in Hidayah.Tags: ciri, dzikir, haram, Hidayah, islam, muslim, muslimah
add a comment
| Oleh: KH. Najmuddin Muzayyin, M.Ag.
Suatu kali Nabi Musa bertanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala tentang siapa yang Allah kasihi dan tidak kepada hamba-Nya. Pertanyaan itu kurang lebih seperti ini: “Ya Allah bagaimana aku tahu apa ciri orang-orang yang tengah Engkau cintai dan tidak Engkau cintai.” Lalu Allah berfirman: Sesungunya bila AKU mencintai maka orang itu ada tandanya: Pertama, Orang yang selalu berdzikir. Aku berikan tanda kalau Aku mencintainya maka orang-orang ini selalu berdzikir. Dzikir dalam pengertian lebih luas dimaknai sebagai perbuatan apapun yang semata-mata ridho karena Allah Subhanahu Wata’ala. Dan dzikir ini baik dalam bentuk ucapan, perbuatan ataupun lintasan dalam hati, masing-masing memiliki bobot dan nilai yang tinggi di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Salah satu kelebihan itu seperti disabdakan oleh Kanjeng Rasulullah saw: “Barangsiapa yang masuk ke dalam pasar kemudian membaca: “laa ilaaha illalahu wahdahu laa syarikalah, wahua hayun laa yamut, wahua alaa kulli syain qodirr., kataballahulladzi alfa afi sanatin…” maka Allah memberikan pahala yang berlipat ribuan.” Pasar memang mengasikkan tetapi perlu waspada. Di sana tidak sedikit kesempatan orang berbuat curang sangat banyak. Hingga dalam sebuah ayat, celaka besar orang yang menimbang dengan curang. Di pasar itu pulalah sering sekali ditemui timbangan yang dikurangi karena dicurangi. Di pasar juga sering terjadi gejolak harga yang sewaktu-waktu menguras harta dan tiba-tiba memberi keuntungan yang berlipat. Kebohongan, ketidakjujuran dan lain sebagainya paling mudah ditemui di pasar dimana terjadi transaksi barang dan jasa. Kita juga bisa melihat dalam doa-doa harian sebagai dzikir yang diinformasikan oleh para sahabat-sahabat Nabi saw dalam merekam tindakan Rasulullah Saw. Hampir dalam setiap perbuatan Rasulullah saw seperti direkam oleh para sahabatnya melakukan doa. Seperti mau tidur dan setelahnya ada doanya. Demikian hingga memakai baju dan melepaskannya. Bahkan ketika hendak masuk WC (water closet) dan keluarnya semua itu ternyata dimulai dan disudahi dengan doa. Untuk mengetahui doa-doa itu banyak sekali buku-buku mengutip doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw. Atau kalau mau merujuk ke sumber asli (hadits) silahkan membuka kitab-kitab hadits di sana banyak sekali. Kenapa sampai harus membaca do’a-do’a tertentu. Salah satunya misalnya kenapa harus membaca doa saat masuk WC (water closet) doanya seperti berikut: “Ya Allah lindungi kami dan (kejatahan) syetan laki-laki dan perempuan” Dalam sebuah riwayat, orang dikejar-kejar syetan kemudian masuk WC dan membaca doa itu, maka kemudian syetan itu tidak bisa melihatnya. Kelas dzikir kita dimana? Kalau demikian dimanakah kelas (posisi) dzikir kita kepada Allah SwT. Sesuai dengan yang diajarkan Nabi saw seperti saat kita memakai pakaian, lalu berdoa sesuai sesuai yang diajarkan Nabi, saat itulah dalam kondisi berdzikir. Selain dzikir yang berbentuk doa, juga disertai niat: “Saya niat memakai pakaian ini untuk menutup aurat karena Allah“. Atau dengan bahasa lain: “saya niat memakai pakaian supaya jangan masuk angin” dan seterusnya. Niat seperti ini juga termasuk dalam kategori dzikir tingkat tinggi. Kedua, Orang yang dijauhkan dari perbuatan haram. Ciri kedua dari orang yang dicintai Allah adalah ia dijauhkan dari perbuatan haram. Sebab merekalah yang layak masuk surga, dan tidak pantas menerima adzab. Karenanya, kita bersyukur bila kita punya perasaan dan tindakan untuk membenci perbuatan-perbuatan jahat: Seperti membunuh, memfitnah, berjudi, berzina, takabur dll. Jika memliki itu, maka kita memiliki salah satu ciri dicintai Allah subhanahu wata’ala. Namun kita juga waspada sekali kepada dosa-dosa yang samar dan tidak terasa seperti kadan-kadang muncul dengan sendirinya seperti membicarkan kejelekan orang, merasa benar dan sombong sendiri, merasa paling pinter dst. Singkatnya, dua hal tersebut hendaknya menjadi tolok ukur sejauhmana kita berada di sisi Allah subhanahu wata’ala. Jika posisi kita ini tidak seperti dua hal di atas, maka berarti posisi kita sudah bisa diketahui menjadi orang yang tidak dicintai Allah subhanahu wata’ala . Salah satunya adalah nafsu yang terus dibiarkan dan selalu melakukan perbuatan yang haram. Karena orang yang selalu berbuat haram adalah patut mendapat adzab. Sebab mereka yang selalu mengikuti nafsunya sendri. Akhirnya, marilah kita selalu mengedepankan husnudzdzon sekaligus memperbaiki diri guna menjaga amalan-amalan harian agar tetap dalam bimbingan Rasulullah saw. Tentunya dengan terus berupaya meniru dan memperhatikan prilaku kita sebisa mungkin dengan menjaga sunah-sunah dan tentu saja setelah perbuatan yang wajib-wajib diperkekat. Dengan terus berupaya belajar untuk tetap berada dalam rel wahyu dan berada di belakang Kanjeng Nabi Muhammad saw, Insya Allah kita bisa menjadi orang yang dicintai Allah. Sekali lagi orang yang dicintai Allah dan dibenci bisa diketahui dari ciri-cirinya. Karenanya mari kita teliti diri kita sendiri dalam kondisi apakah kita saat ini. Wallahu a’lam. ———– Disampaikan dalam pertemuan bulanan warga Buntet Pesantren Cirebon di rumah Ust. Drs. H. Ahmad Saehu, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu, 9 November 2008. Sumber: buntetpesantren.org |
Hati Menemukan Kedamaian dengan Mengingat Allah December 29, 2009
Posted by informationmedia in Hidayah.Tags: harun, Hidayah, islam, moslem, muslim, yahya
add a comment
![]() |
| Ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. |
Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.
Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai “dampak kejiwaan”. Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. 2
Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. 3
Kenyataan ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur’an dengan kalimat ini “…Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.
Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: “Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, … keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan.” 4
1. Patrick Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World (California: Prima Publishing: 1997), 80-81.
2. Herbert Benson, and Mark Stark, Timeless Healing (New York: Simon & Schuster: 1996), 203.
3. Ibid., 193.
4. Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World, 60-61.
Sumber: harunyahya.com
Tragedi Kiyai Liberal, Akhir Hayatnya Memilukan December 27, 2009
Posted by informationmedia in Hidayah.Tags: islam, JIL, kaffah, khaffah, liberal, liberalisme, murtad, murtadin, muslim
add a comment
“Apa!? kamu hamil?!” Pak tua itu terbelalak mendengar pengakuan putri bungsu yang dicintainya. Dia langsung berdiri dan memburu ke arah sang putri, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, siap mendaratkan tamparannya, tapi…
“Jangan Paa… sabaar..!” istrinya menjerit sambil berusaha menghalangi dengan memeluk erat tubuh gadis kesayangannya. Sang bapak pun mengurungkan niatnya, tapi nampak jelas kemarahan dan kekecewaan luar biasa menguasai dirinya. Tubuhnya bergetar, matanya merah melotot, menatap tajam ke arah putrinya.
“Siapa!? Siapa yang berbuat kurang ajar begini, hah??” bentaknya tiba-tiba.
Sang putri hanya terdiam, terisak dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang ibu.
“Ya Allahhh… kenapa ini terjadi pada keluargakuu..?? Aku yang ditokohkan orang sebagai cendekiawan muslim terkemuka di negeri ini, hanya membesarkan seorang pelacur!!!” Orang tua itu mengeluh dan mengomel seolah ingin memuntahkan seluruh kekesalan dan kekecewaan dari ubun-ubunnya. Sementara, sambil terus memeluk anaknya, sang istri berusaha menenangkan suasana.
“Istigfar Paa, siapa sih yang pelacur? Anak kita kan hanya korban…” belum selesai si istri berbicara, “Korban apa? Wong dia sengaja melakukannya!!!” Pak tua yang masih kesal itu kini bertambah marah mendengar istrinya berusaha membela sang anak.
Suasana langsung hening, sang istri hanya menunduk, tidak mampu berkata apa-apa. Sejenak kemudian lelaki tua itu menarik kursi ke arah istri dan anaknya yang masih saling berpelukan, dan menghempaskan tubuhnya yang mulai renta itu.
“Ufhhh…, kenapa kau lakukan ini, Nak?” nada bicaranya nampak mulai menurun. Lalu dia menunduk sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan keriputnya, seakan tindakan itu bisa menutupi rasa malu yang akan dipikulnya ketika tersiar kabar di media massa infotaintment, “Putri Cendikiawan Muslim Terkemuka, Hamil di Luar Nikah dengan Pemuda Kristen.”
“Pokoknya, kamu harus dicambuk seratus kali!” tiba-tiba dia berucap tegas. Istrinya yang sedari tadi diam, serta-merta menoleh ke arahnya sambil mengernyitkan dahi.
“Apa, Pa? Dicambuk? Bukannya papa pernah bilang cambuk itu hukuman primitif yang tidak pantas untuk diberlakukan lagi? Papa juga sering menulis di buku dan berbagai media bahwa hudud itu sudah tidak relevan dan ketinggalan zaman?!” sang istri memberanikan diri untuk angkat bicara.
Mendengar itu, sang cendekiawan pun semakin terhenyak ke kursinya, dia pun terdiam tak tahu harus bagaimana.
*****
Semenjak kejadian itu, kini lelaki tua tujuh puluh tahunan itu terkulai lemah di atas pembaringan sebuah ruangan gawat darurat sebuah rumah sakit ibu kota. Dia mengalami depresi yang cukup berat. Dalam dirinya terjadi pertentangan batin yang hebat. Dia sadar bahwa selama ini dia terdepan meneriakkan keabsahan nikah beda agama, meneriakkan slogan anti penerapan syariat Islam, menentang jilbab dan menyatakan jilbab bukan ajaran Islam tapi tradisi Arab. “Itu budaya orang Arab, bukan budaya Islam!” tegasnya setiap saat ketika memberikan mata kuliah di depan mahasiswanya.
Tapi, kini nuraninya berontak ketika menyaksikan kedua putri-putrinya menyingkap aurat, berpakaian minim dan sudah tidak seakidah lagi dengannya. Dia ingin menyuruh mereka istiqamah dalam syariat Islam, hidup dalam rumah tangga islami, dan menutup aurat seperti yang diperintahkan Al Quran, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Kedua putrinya justru jadi orang yang gigih mengamalkan ideologi sekuler liberalnya.
Dengan busana gaul ala artis MTV, kini putrinya terjerumus kepada perbuatan zina dengan pemuda non muslim. Nuraninya menuntut untuk menjatuhkan hukuman sesuai dengan syariat Islam. Karena dia sangat mengerti bahwa hukuman di dunia akan membebaskan sang putri dari hukuman yang lebih dahsyat di akhirat nanti.
“Nak, walau bagaimana, kamu adalah seorang muslimah, jika terlanjur melakukan zina, kamu harus bertobat dan dihukum dengan hukuman yang telah ditetapkan oleh Islam.” Entah untuk ke berapa kalinya dia mengatakan itu pada sang putri. Karena tuntutan nuraninya, dia selalu mencoba meyakinkan putrinya agar mau menjalani hukuman cambuk dan pengasingan.
Hingga suatu ketika, saat saat sang putri membesuknya, dia mencoba membujuk putrinya. Tak disangka-sangka sang putri langsung berkata, “Ya sudah, kalau memang dalam Islam seperti itu, aku mau masuk Kristen aja!”
“Apaaa?!” bak disambar petir, pak tua itu langsung terlonjak berdiri. Matanya melotot seolah mau copot. “Kamu sudah gila, ya? Kalo kamu masuk Kristen, kamu berarti Murtad!! Kamu kafir dan…” Ia tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya, karena amarahnya sudah membumbung tinggi. Dengan suara menggelegar dia hardik sang putri yang langsung terdiam, menggigil ketakutan.
“Apa nggak salah denger nih, Pa?” tiba-tiba putri sulungnya yang kebetulan sedang berkunjung, angkat bicara membela adiknya. “Papa ngomong apa sih, murtad.. kafir… Hak Diana dong Pa, untuk masuk Kristen, karena dia sudah merasa tidak cocok dengan Islam. Agama kan, wilayah privat yang tidak bisa dicampuri orang lain. Pindah agama ke Kristen adalah wilayah privat Diana. Papa tidak bisa, dong… ikut campur!”
“Jangan asal ngomong kamu, Len!!” pak tua itu langsung membentaknya.
“Dengar Lena, sebenarnya papa tidak pernah merestui kamu menikah dengan orang Kafir itu. Haram hukumnya muslimah menikah dengan orang kafir!!”
“Sekarang papa berani bilang begitu, lalu kenapa papa selama ini sibuk menulis di buku dan berbagai media bahwa semua agama itu sama kebenarannya? Untuk apa papa berkoar-koar semua pemeluk agama akan masuk surga? Itu semua bohong? Iya, Pa? Papa selama ini hanya menipu orang banyak dengan semua tulisan dan ucapan Papa itu?” Lena memberondong sang ayah yang sudah tua dan sedang sakit itu dengan berbagai pertanyaan yang sangat menyudutkan.
“Diaamm..!!!” dia semakin kalap mendengar ocehan sang putri sulung.
“Kenapa Lena harus diam? Lena kan hanya mengulang ucapan-ucapan yang Papa ajarkan!” Si sulung tidak mau kalah, balas membentak. “Asal Papa tahu, sekarang aku sudah ikut agama Mas Yudha, aku sudah masuk agama Budha!”
“Apaa?! … beraninya kamu murtad Lena.. kamu sudah kafir, akan masuk neraka… darahmu sekarang halal ditumpahkan… akan aku bun… aaaakhhh!”
“Pa..pa..istigfar pa…, istigfaaar!!!” Sang istri berusaha menenangkan suaminya yang berteriak-teriak mengigau. Lelaki itu terus meronta-ronta sambil berteriak tak karuan. “Susteer… tolong susteer..” Sang istri pun menjerit histeris. Tak lama kemudian berdatanganlah beberapa perawat laki-laki, memegangi tangan dan kakinya sampai dia tenang kembali.
“Ahh.. hhh..hhh” lelaki itu nampak terengah, nafasnya memburu..
“Tenang Pak, istigfar..” salah seorang perawat terus berusaha menenangkannya.
Lelaki tua itu pun berangsur tenang, perlahan dia membuka kedua bola matanya, memandang sekelilingnya. Nampak olehnya sang istri yang masih menyisakan cemas di wajahnya. Kedua biji matanya menyapu sekeliling ruangan itu, namun tak didapatinya kedua orang putrinya.
“Ma.. apa.. d..Di..ana jj..jadi masuk kk..Kristen?” mulutnya bergetar, dengan suara yang amat lemah dia berusaha bertanya ke istrinya. Setelah terdiam beberapa saat, bingung harus menjawab apa, sang istri pun memberanikan diri untuk mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
..Kepalanya terkulai lemas, tatapannya kosong, perlahan dia pun kembali memejamkan mata… tiba-tiba.. dia teringat sebuah hadits Nabi yang dulu sangat dihafalnya sejak kecil…
“Fhhhhh…” lelaki itu menghembuskan nafas kuat-kuat, seolah ingin melepaskan semua beban di dadanya. Kepalanya terkulai lemas, tatapannya kosong, perlahan dia pun kembali memejamkan mata… tiba-tiba.. dia teringat sebuah hadits Nabi yang dulu sangat dihafalnya sejak kecil… “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputus seluruh amalannya kecuali tiga perkara… Ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariah, dan anak shaleh yang akan mendoakan..” Dia langsung membelalakkan matanya, “Anak yang shalehhh…” mulutnya berdesis. “Aku tidak punya anak yang shaleeeh… kedua putri ku telah murtaaad!!.. aahhh, siapa nanti yang akan mendoakanku?? Hik..hik..hik..” dia pun terisak, tubuhnya berguncang hebat menahan isakan tangis penyesalannya.
***
Sang cendekiawan tertunduk menatap tajam ke arah gundukan tanah yang masih merah tempat istrinya dibaringkan untuk selama-lamanya. Tanpa disangka, istrinya yang segar-bugar, mendahuluinya menemui sang Khaliq. Sementara sang cendekiawan tua yang belum bisa mengatasi depresi berat itu masih bertahan hidup, meski sakit-sakitan. Kini, tinggallah Kyai Liberal ini dengan dua orang putrinya.
Tiba-tiba dia tersentak, teringat kedua putrinya kini beda agama dengannya, berarti hanya dia sendiri yang muslim.
Ketika hendak beranjak berdiri. Tanpa sengaja bola matanya terpaku pada sebuah nisan berlambang salib, tak jauh dari makam istrinya. “Ya Allah, bila aku mati nanti, akankah namaku terpampang di batu nisan seperti di makam salib itu?” [azz@hra/voa-islam.com]
Muallaf vs murtadin part 15 December 23, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: debat, islam, kristen, muallaf, murtadin, muslim
add a comment
Muallaf vs murtadin part 14 December 23, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: debat, islam, kristen, muallaf, murtadin, muslim
add a comment
Muallaf vs murtadin part.11 December 21, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: islam, kristen, muallaf, murtadin, muslim
add a comment
Muallaf vs murtadin part 10 December 21, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: debat, islam, kristen, muallaf, murtadin, muslim
add a comment
HTI: Kembalinya Peradaban Islam, Pasti! December 21, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: hizbut tahrir, HTI, islam, khalifah, khilafah, muslim, syariah
add a comment
Posted: 16 Dec 2009 12:15 AM PST
JAKARTA–Juru Bicara Hizbut Tharir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto, mengatakan peradaban Islam pasti bangkit kembali. Menurutnya, kunci utama kebangkitan itu adalah kembalinya aqidah, syariah, dan khilafah.
Ismail mengakui peradaban Islam itu ada dan pernah jaya. Ia menilai peradaban Islam adalah peradaban unggul, hal itu bisa dilihat dari kemampuan literasi, tradisi membaca dan menulis serta lahirnya banyak ilmuwan besar. “Keagungan peradaban Islam itu nyata, tidak ada peradaban lain yang memiliki kecuali Islam,” katanya dalam seminar Membangun Peradaban Islam dan Dunia dengan Damai, di Jakarta Islamic Center, Jakarta, Rabu (16/12).
Menurutnya ditengah hegemoni peradaban barat yang tampak mulai jompo ini, bahkan sedang menuju titik balik kearah kehancurannya, masa depan peradaban Islam akan tampil kepermukaan. “Itu pasti. Ini bukan jawaban yang sekedar sebuah apologia. Selama Al-quran ada, potensi kebangkitan kembali peradaban Islam juga tetap ada,” ungkapnya.
Namun Ismail juga mengakui untuk membangkitkan kembali peradaban Islam di masa yang akan datang perlu tenaga untuk merebutnya. Sebab, peradaban Islam bukan sesuatu yang muncul dengan sendirinya tapi muncul karena direbut dan melalui proses yang panjang.”Seperti yang terlihat dalam sejarah,” katanya.
Ia menjabarkan beberapa kunci yang menjadi dasar bangkit kembalinya peradaban Islam tersebut. Pertama adalah aqidah, yakni keyakinan kepada Allah. Kedua, adalah syariah, pengaturan. Ketiga adalah khilafah.”Itulah kunci yang menjadi akar tumbuh peradaban Islam, sekaligus penjaga eksistensi peradaban Islam. Peradaban Islam runtuh karena tidak ada khalifah, kesyariahan dan tidak ada yang menjaga aqidah,” tuturnya.
Ismail juga meyakini peradaban Islam dan peradaban sekuler/barat bisa berdampingan secara mutual aksklusif. Sekarang, tambahnya, tinggal tergantung kitanya, mau jadi aktor, penonton atau pengecam. “Harusnya kita bisa duduk bersama demi Islam yang rahmatan lil alamin, jika peradaban Islam tidak ada maka tidak akan muncul rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Republika online, 16/12/2009)
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.

