jump to navigation

Jamal Harwood: dari pemeluk kristen yang taat menjadi pejuang Khilafah December 28, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Jamal Harwood
(Aktivis Dakwah, Konsultan Keuangan)

Saya termasuk pemeluk Kristen yang taat sebelum menemukan Islam. Ketika saya masih berusia belasan tahun saya begitu tertarik mendalami ajaran Kristen. Namun, saya memiliki beberapa pertanyaan serius mengenai hal-hal pokok agama Kristen seperti bagaimana peran banyak Nabi yang berbeda, siapa sebenarnya Isa. Saya pun mengalami  kebingungan memahami trinitas, anak tuhan, dan lain-lain.

Itulah yang kemudian membuat saya mulai berpikir bahwa pada suatu saat, mungkin setelah menyelesaikan pendidikan, saya akan melakukan perjalanan dan mencari agama-agama lain di dunia. Saya berharap sepulangnya dari perjalanan itu saya akan memperoleh sesuatu yang lebih jelas dalam hal keimanan yang dapat menjawab semua pertanyaan saya itu dengan meyakinkan. Alhamdulillah, ketika usia saya sekitar 20 tahunan, saya bisa melakukan perjalanan dan melihat agama-agama lain dan hal ini menjadikan saya mulai mempelajari Islam dan akhirnya memeluknya.

Saya pindah ke Inggris beberapa saat sebelum saya memeluk Islam.  Sebelumnya saya tinggal di Kanada. Kaum Muslim yang saya temui di London, khususnya di Masjid Regents Park adalah orang-orang yang paling memberi pengaruh pada saya dan sangat membantu untuk menyarankan buku-buku untuk dibaca dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Semuanya sangat bersahabat dan saya senantiasa masih dekat dengan mereka. Karena saya pernah tinggal di beberapa negara lain saat saya muda dan sering melakukan perjalanan, saya senantiasa senang jika bertemu dengan orang-orang dari negara-negara lain, dengan agama dan kebudayaan yang berbeda.

Akhirnya saya memutuskan memeluk Islam pada 1986. Keputusan saya justru didukung oleh orangtua saya. Ketika itu mereka tinggal di negara lain, jadi kami tidak selalu bisa berhubungan. Tapi saya ingat dengan sangat jelas bahwa ayah saya sebelumnya pernah bekerja dengan orang-orang Muslim dan mengatakan bahwa Islam menekankan pada keluarga jadi dia bilang “Lanjutkan saja “.

Memang tidak mudah mengawali hal yang baru. Banyak tantangan. Mempelajari kewajiban-kewajiban dasar Islam itu perlu waktu. Apalagi saya tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang Islam berarti ada banyak hal yang harus saya pelajari. Tapi tidak ada yang terlalu sulit. Dan saya mempunyai pengalaman yang tidak terlupakan sejak menjadi seorang Muslim yakni pergi haji tahun 1994 melihat Ka’bah untuk pertama kalinya.

Setelah memeluk Islam, saya berbicara kepada saudara laki-laki maupun perempuan saya (semuanya Kristen) mengenai Islam kapanpun saya bisa. Beberapa saudara perempuan saya adalah orang-orang yang memegang teguh agama Kristen tapi kami tetap berhubungan baik, tidak ada kebencian, dan mereka suka anggota keluarga yang lain (yakni istri dan anak-anak saya) jadi hal ini sangat positif. Majalah Time pernah menampilkan suatu tulisan mengenai saya dan ketika itu sebagian besar anggota keluarga saya agak terkejut ketika mereka tahu bahwa saya aktif secara politik di Hizbut Tahrir, bahkan sebagian dari mereka menunjukkan kekhawatirannya bahwa aktivitas politik saya itu bisa menyulitkan saya dengan adanya sentimen-sentimen anti Islam di banyak bagian dunia. Saya katakan pada mereka, “Senantiasa ada risiko atas segala sesuatu tapi lebih baik melakukan sesuatu dengan alasan yang baik daripada menunggu sesuatu terjadi pada Anda.”
Dakwah Bersama HT

Alhamdullillah, saya pertama kali bertemu beberapa anggota HT tahun 1988. Saya prihatin dengan banyaknya ketidakadilan dan kemunduran yang saya lihat di dunia Muslim. Betapa pentingnya gagasan ummah, tapi banyak yang memiliki sedikit pemahaman politik mengenai sebab-sebab kemunduran itu, disamping tidak memiliki solusi untuk mengatasi kemunduran itu. HT berbicara mengenai isu-isu itu dan memberikan solusi-solusi yang jelas.

Ketika saya mulai belajar di HT, saya memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai Usul Fiqh, Ijtihad, dan Syariah, yang kesemuanya adalah penting dalam mengembangkan pemahaman saya mengenai Islam dan lebih baik dari apa yang sebelumnya saya baca dan pelajari. Buku-buku yang telah dikeluarkan partai adalah mengenai Sistem Islam, Konsep-konsep Hizbut Tahrir dan Struktur Partai adalah di antara buku-buku yang sangat bagus bagi yang ingin mendapatkan pemahaman yang baik mengenai dasar-dasar Islam dan keadaan umat pada saat ini. (mediaumat.com)

Prof Hassan Ko Nakata: Dunia Butuh Khilafah December 28, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , , , , ,
1 comment so far

Prof Hassan Ko Nakata
(Cendekiawan Jepang)

Namanya mencuat di Indonesia ketika ada Konferensi Khilafah Internasional (KKI) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Agustus 2007. Ia adalah salah satu pembicara kegiatan akbar yang menghentak dunia pada saat itu. Sebelumnya kaum Muslim di Indonesia tak banyak tahu ada seorang cendekiawan Jepang yang begitu besar perhatiannya terhadap dakwah Islam.

Prof. Hassan Ko Nakata (49) adalah satu dari sedikit kaum intelektual di negeri matahari terbit yang tertarik pada Islam. Ia mengaku masuk Islam pada tahun 1983. Itu pun dilakukannya setelah 15 tahun mempelajari Islam. Cukup lama untuk sebuah keputusan yang buat kebanyakan orang di Indonesia adalah hal biasa, tapi tidak untuk orang Jepang karena agama bagi orang Jepang sudah out of mind (berada di luar semesta pemikiran). Kebanyakan orang Jepang tak lagi memerhatikan agama.

Presiden Asosiasi Muslim Jepang ini masuk Islam ketika menjadi mahasiswa di tahun ketiga di Fakultas Studi Islam di Tokyo University. Sebelumnya ia sangat familiar dengan agama Kristen. Tak heran ketika awal kuliah di Tokyo University, ia mengikuti kelompok kajian Bibel. Di situlah ada kajian tentang perbandingan agama.

Di sana ada perbandingan agama Kristen, Yahudi, Shinto, Budha, dan Islam. Ketika menimbang dan membanding selama sekitar setahun ia merasa ajaran Islamlah yang paling menyeluruh. “Saya menemukan bahwa Islamlah sistem hidup yang paling komprehensif, paling rasional dan konsisten, dan akhirnya atas rahmat Allah SWT saya memutuskan untuk masuk Islam,” tuturnya. Ia pun menambahkan Hassan di depan nama aslinya. Ia pernah mendalami tarekat Naqshabandiyah dan Syaziliah. “Namun saya bukan murid yang baik,” ujarnya.

Usai bergelar sarjana, Hassan ingin lebih memperdalam Islam. Namun belum ada program master Kajian Islam di universitas Jepang. Buku-buku Islam berhuruf kanji pun masih sulit didapat. Untunglah tak lama kemudian Universitas Tokyo membuka program master Kajian Islam. ”Saya menjadi mahasiswa Muslim pertama dan terakhir di jurusan Islamic Studies Universitas Tokyo selama 25 tahun ini,” ujar Profesor ini.

Setelah menyelesaikan masternya di Tokyo University, ia melanjutkan studi doktornya di Universitas Kairo. Disertasianya tentang Pemikiran Politik Ibn Taymiyah (al-Fikratu al-Siyasatu ‘inda Ibni Taymiya). Dalam disertasi itu ia menjelaskan keunikan pemikiran politik Ibnu Taymiyah dalam sejarah pemikiran politik dan pengaruhnya terhadap gerakan politik kontemporer, termasuk terhadap Hizbut Tahrir. Setelah lulus doktor, Hassan sempat menjadi peneliti Kedutaan Jepang di Saudi Arabia (1992-1995). Tak heran ia sangat fasih berbahasa Arab.

Kiprahnya dalam dakwah di Negeri Sakura ini tergolong menonjol. Karakteristik orang Jepang sekarang cuek terhadap agama memacunya mencari jalan untuk bisa mendakwahkan Islam. Terlebih lagi sangat sedikit dai yang berkualitas.
Satu-satunya jalan terbaik untuk menyebarkan Islam di Jepang, menurutnya, adalah melalui pengaruh personal dari pelaku dakwah yang memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang Islam dengan kepribadian yang baik serta memahami budaya Jepang.

Ia bersama minoritas Muslim Jepang melakukan berbagai upaya, di antaranya menerjemahkan sejumlah kitab klasik seperti Tafsir al-Jalalain, al-Siyasah al-Syar’iyyah of Ibn Taimiyyah, dan Zad al-Mustaqni’ al-Hujawi al-Hanbali, juga menerbitkan majalah bulanan yang disebarkan secara cuma-cuma kepada seluruh Muslim Jepang di seluruh dunia sebagai media informasi dan komunikasi.

Hassan Ko Nakata kini menjadi Presiden Asosiasi Muslim Jepang sembari mengajar Kajian Islam di Universitas Doshisha, Kyoto. Mayoritas mahasiswanya justru beragama Kristen. Selama empat tahun menjadi Guru Besar di Doshisha, Hassan berhasil memikat empat mahasiswanya yang semula atheis untuk masuk Islam.

Kontak dengan Hizbut Tahrir
Banyak orang mengira bahwa profesor ini adalah anggota Hizbut Tahrir (HT) sebab pandangan-pandangannya  tentang Islam mempunyai kesamaan dengan pemikiran HT. Ternyata ia memang memiliki kontak dengan anggota HT.

Kontak itu terjadi ketika ia mengunjungi Arab Saudi. Ia bertemu dengan syabab HT di negeri itu. Syabab ini seorang dokter dan kini tinggal di Kanada. Dari dokter inilah ia mengetahui banyak soal pemikiran-pemikiran HT tentang keharusan menegakkan Khilafah.

Ia mengaku sangat terkesan dengan pertemuan itu. Menurutnya, Hizbut Tahrir adalah satu-satunya gerakan politik Islam yang memiliki teori politik yang konsisten dan terintegrasi yang disusun berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap syariah dan realitas Dunia Islam kontemporer.

“Saya tidak yakin bahwa kita, umat Islam, dapat menegakkan kembali Khilafah hanya dengan usaha kita semata. Tapi saya percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menegakkan kembali Khilafah, di luar adanya keajaiban dari Allah, adalah melalui usaha dengan metodologi yang berdasar pada pemikiran politik Hizbut Tahrir. Hanya,  pemikiran itu memerlukan pengembangan dan penyesuaian sesuai dengan perubahan-perubahan kontemporer yang terjadi di dunia,” kata Profesor Hassan.

Ketika berbicara di hadapan 100 ribu orang yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno Agustus 2007, ia mengatakan,  “Dalam konteks dunia Islam kontemporer, hanya Hizbut Tahrirlah yang bisa dikatakan sebagai “gerakan politik Islam” yang memperjuangkan terealisasinya Khilafah yang merupakan panggilan universal; tidak hanya untuk umat Islam, tetapi lebih dari itu.”

Ia mengatakan bahwa Khilafah tidak hanya dapat diterima oleh komunitas non Muslim, namun juga sangat diinginkan oleh mereka yang percaya kepada kesetaraan, keadilan, kebebasan dan kemanusiaan. Alasannya, sistem Khilafah memiliki pemerintahan “membumi” atau “bersifat keduniaan” yang menjamin otonomi komunitas beragama dalam konteks sosial yang sangat beragam. Sistem Khilafah ini juga berfungsi sebagai sarana pembebasan untuk mengentaskan sistem negara bangsa yang eksplotitatif yang memenjarakan dalam penjara “negara bangsa”.
Ia menyebutkan dua peran ganda Hizbut Tahrir, yakni mencerahkan umat Islam akan kewajiban mereka dalam mendirikan kembali Khilafah sesuai dengan hukum syariah dan menjelaskan misi Islam universal dari sistem Khilafah kepada dunia Barat dengan sudut pandang ilmu sosial negara Barat.

Dalam konteks itu, ia  menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan tempat terbaik untuk menjalankan misi Islam ini karena kondisinya yang tidak ditemukan di negeri Muslim lainnya.(mediaumat.com)

Solusi Islam Menghentikan Laju HIV/AIDS December 3, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , ,
1 comment so far

Posted: 30 Nov 2009 06:45 PM PST

Oleh: Kholda Naajiyah

Tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari anti Aids sedunia. Meski tiap tahun diperingati agar orang menyadari bahaya HIV/Aids, nyatanya jumlah penderita Aids makin meningkat. Departemen Kesehatan memperkirakan, 19 juta orang saat ini berada pada risiko terinfeksi HIV. Sedangkan berdasarkan data Yayasan AIDS Indonesia (YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia per Maret 2009, mencapai 23.632 orang. Angka tersebut meningkat tajam bila dibandingkan jumlah penderita HIV/AIDS sepanjang 2008 yang mencapai 22.262 orang.

Tentu saja angka ini ibarat fenomena gunung es, dimana yang terlihat hanya permukaannya saja. Angka sebenarnya jauh lebih besar karena orang dengan HIV/Aids (ODHA) masih banyak yang tidak terdata disebabkan enggan memeriksakan diri karena takut dan malu.

Sejatinya, sudah banyak upaya dilakukan pemerintah dan berbagai pihak yang peduli untuk menghentikan laju HIV/Aids. Secara resmi program pemerintah dituangkan dalam paradigma kesehatan reproduksi, yakni melalui kampanye ABCD. A artinya absentia atau jangan berhubungan seks sama sekali jika tidak ingin terkena HIV/Aids. B atau be faithful, artinya setia pada pasangan. C alias condomisasi, dimana bagi siapa saja yang tidak bisa A dan B, dipersilakan memakai kondom. Dan D atau drugs, artinya jangan pake narkoba.

Namun, kampanye ABCD ini tidak efektif untuk mengerem laju HIV/Aids, malah cenderung semakin memperbesar angka penderita ODHA. Bagaimana tidak, dengan kampanye kondomisasi misalnya, masyarakat seolah diajari untuk melakukan seks bebas karena sudah dijamin aman dari HIV/Aids asal memakai kondom. Ditambah lagi, perilaku yang mengarah pada seks bebas dibiarkan. Seperti maraknya pornografi dan pornoaksi.

Selain itu, pemakai narkoba juga semakin mendapat angin karena berbagai kebijakan malah memberi peluang untuk mengakses barang laknat itu. Misalnya substitusi narkoba dengan metadon, pelegalan jarum suntik untuk pecandu serta adanya wacana untuk tidak menghukum pengguna narkoba. Makin banyaknya pengguna narkoba membuat peluang munculnya ODHA semakin besar. Apalagi Indonesia ditengarai sebagai surga bagi peredaran narkoba.
Solusi Islam

Diakui atau tidak, akar masalah berkembangnya penyakit HIV/Aids adalah perilaku yang menyimpang dari ketentuan Allah Swt. Seperti diketahui, sejarah ditemukannya virus mematikan itu bermula dari kaum homoseksual. Padahal dalam Islam, hubungan seks sesama jenis melanggar syariat alias diharamkan. Adapun penularan HIV/Aids yang kebanyakan melalui jarum suntik pecandu narkoba, adalah juga melanggar larangan Allah Swt. Karena itu, upaya preventif penularan HIV/Aids adalah dengan meninggalkan gaya hidup liberal yang menyimpang dari syariat Islam.

Negara Khilafah wajib memberantas berbagai sarana yang berhubungan dengan penularan penyakit tersebut untuk melindungi seluruh warga negaranya. Terkait dengan penularan HIV/Aids yang kebanyakan terjadi karena pemakaian jarum suntik oleh pecandu narkoba, maka negara wajib menghentikan peredaran narkoba tersebut. Para pelaku yang terlibat dalam jaringan bisnis narkoba harus dihukum berat. Pecandu yang sudah tobat harus diawasi agar tidak kambuh lagi dan yang belum tobat diberi sanksi agar jera melakukan hal yang sama.

Penularan HIV/Aids melalui hubungan seks bisa dicegah dengan menutup lokalisasi pelacuran yang selama ini menjadi lokasi berisiko tinggi terjadi perpindahan virus HIV. Para pelacur yang biasa beroperasi harus diberi sanksi tegas karena telah melakukan perzinaan yang melanggar tata susila di masyarakat. Demikian pula pengguna jasa mereka, harus dikenai sanksi. Mereka pun harus diperiksa apakah sudah terinveksi HIV/Aids. Jika sudah, maka wajib untuk dikarantina.

Departemen Luar Negeri Khilafah wajib membatalkan segala konvensi internasional yang membentuk mindset permissive di tengah masyarakat, dan menfasilitasi perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkotika. Negara juga harus melepaskan diri dari kebijakan-kebijakan lembaga-lembaga internasional dalam hal ini WHO, UINAIDS, NODOC, karena terbukti semakin menguatkan ancaman bahaya HIV dan seks bebas.

Sementara itu dalam negeri, Khalifah menerapkan Islam secara kaafah, yaitu sistem pendidikan Islam yang akan membentuk individu yang berkepribadian islam; sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan semua orang serta menjauhkan dari segala perbuatan maksiat; menerap sistem pergaulan Islam yang membersihkan masyarakat dari perilaku seks bebas dan akhlak yang rendah; menerapkan sistem sangsi yang sesuai syariat yang membuat masyarakat takut dan berhati-hati melanggar aturan Allah swt.

Karena itu Khalifah melarang perzinahan termasuk berduaan tanpa ada kepentingan yang dibolehkan syara’ dan dijatuhkan sangsi bagi pelanggarnya. Yang demikian karena Islam mengharamkan perbuatan ini, sebagaimana hadist Rasulullah saw yang artinya “Jangan sekali-kali seorang lelaki dengan perempuan menyepi (bukan muhrim) karena sesungguhnya syaithan ada sebagai pihak ketiga“. (HR Baihaqi). Adapun larangan perbuatan zina, Allah SWT sampaikan pada QS 17:32, yang artinya “Janganlah kalian mendekati zina karena sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan“.

Berbagai sarana perangsang seks harus disterilkan dari tempat-tempat umum guna mencegah perzinaan. Poster, majalah, buku, VCD atau koran porno dilarang beredar. Aksi porno di televisi baik melalui acara musik, film maupun komedi harus dihentikan. Hal ini untuk mencegah liarnya nafsu seks masyarakat hingga menghalalkan segala cara untuk memenuhinya, termasuk melalui hubungan seks yang berisiko tinggi menularkan HIV.

Segala cela bagi hadirnya perilaku homoseks (laki-laki dengan laki-laki) dan lesbian (perempuan dengan perempuan) wajib ditutup. Karena Allah swt mengutuk kedua perbuatan ini, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS 7:80-81, yang artinya “Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: Mengapa kamu mengerjakan perbuatan kotor itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun manusia (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka ), bukan kepada wanita. Bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”.

Khilafah akan melarang pria-wanita melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayakan akhlak dan merusak masyarakat, termasuk pornografi dan pornoaksi. Karena Islam melarang seorang pria dan wanita melakukan kegiatan dan pekerjaan yang menonjolkan sensualitasnya. Rafi’ ibnu Rifa’a pernah bertutur demikian, yang artinya “Nabi Saw telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan oleh kedua tangannya. Beliau bersabda “Seperti inilah jari-jemarinya yang kasar sebagaimana halnya tukang roti, pemintal, atau pengukir.”

Khalifah juga mendorong dan menfasilitasi masyarakat untuk hidup bersih. Membentuk mindset pentingnya kebersihan untuk menghindari penularan HIV melalui program di berbagai media masa. Secara praktis upaya promosi kesehatan ini dapat dilakukan oleh Departemen penerangan Khilafah.

Khalifah (yang secara praktis dilakukan Departemen terkait) menjamin penyediaan fasilitas umum yang sesuai syariat, sehat dan bersih. Rasulullah saw bersabda, yang artinya:”Sesungguhnya Allah Mahaindah dan mencintai keindahan, Mahabersih dan mencintai kebersihan, Mahamulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu, bersihkanlah rumah dan halaman kalian, dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi” (HR At-Tirmidzi dan Abu Ya’la). Demikianlah cara Khilafah melakukan upaya preventif.

Sementara jika suatu penyakit itu sudah menjadi bahaya di masyarakat, negara wajib melakukan upaya pengobatan sesuai prinsip-prinsip syariat Islam. Yaitu, antara lain tidak membahayakan, tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan, mendorong dan menfasilitasi penderita untuk semakin taqwa kepada Allah swt.

Untuk itu, negara harus melakukan isolasi terhadap para penderitanya agar tidak menularkan pada yang lain. Daerah yang menjadi endemik harus diisolasi, atau penderitanya dikarantina pada suatu lokasi tertentu. Ini bukan berarti mereka dikucilkan atau didiskriminasi, karena hak-hak mereka sebagai manusia dan warga negara harus tetap dipenuhi. Seperti hak mendapatkan kebutuhan pokok, pendidikan, sarana kesehatan, dll. Jadi tidak ada alasan untuk mencegah diskriminasi maka ODHA justru dibaurkan dengan masyarakat kebanyakan.

Terakhir, negara wajib mengerahkan segenap kemampuan untuk mencari obat guna mengatasi penyebaran penyakit yang membahayakan warga negaranya. Negara melalui para ilmuwannya bisa melakukan berbagai riset untuk menemukan obat pencegah maupun penyembuh penyakit tersebut.

Khalifah wajib memberikan pengobatan gratis bagi para penderita HIV yang memiliki hak hidup. Selain gratis, juga mudah dijangkau semua kalangan dan dalam jumlah memadai. Karena kesehatan termasuk kebutuhan pokok publik yang wajib dijamin pemenuhannya oleh Negara. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya, “Imam (Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari).

Hanya saja haruslah dilakukan screening masal terlebih dahulu untuk mengetahui pengidap yang tidak terlihat sebagai pengidap HIV, sementara itu ia bisa menularkan kuman HIV dan kuman HIV sudah “tersebar” di tengah masyarakat.

Upaya kuratif ini dilakukan oleh Departemen Kemaslahatan Umat, Bidang kesehatan. Dalam hal ini dibutuhkan tenaga medis yang profesional dibidangnya, seperti dokter, perawat, laboran, apoteker.

Departemen industri bidang farmasi dan peralatan medis harus difasilitasi untuk memproduksi peralatan medis, obat-obatan yang dibuthkan untuk pengobatan HIV. Industri farmasi juga harus didorong untuk memproduksi sarana dan prasaran yang dibutuhkan untuk rapid test (pemeriksaan cepat).

Khalifah juga wajib memotivasi danmenfasilitasi para ahli di bidang biomedik, para dokter, ahli farmasi untuk menemukan obat HIV yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Karena sesungguhnya setiap penyakit pasti ada obatnya. Rasulullah saw bersabda, yang artinya “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat diberikan, dengan izin Allah, penyakit itu akan sembuh.”(HR Ahmad dan Hakim).

Selain itu, Khaligah juga harus memutuskan dan mencabut segala perjanjian yang bersifat mengebiri dan menjajah Indonesia di bidang industri farmasi dan kesehatan

Dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit pada orang yang sehat, Khalifah wajib menyediakan rumah sakit atau tempat perawatan khusus bagi pasien penderita HIV yang memiliki hak hidup. Seperti penderita HIV akibat efek spiral (anak yang HIV karena orang tuanya pengidap HIV). Dan selama masa perawatan pengidap penyakit diisolasi dari orang yang sehat, sedemikian rupa sehingga penularan dapat dicegah. Hal ini karena Rasulullah saw bersabda, yang artinya: “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menularkan kepada yang sehat” (HR Bukhari). Demikian pula sabda beliau, yang artinya “Apabila kamu mendengar ada wabah di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya dan apabila wabah itu berjangkit sedangkan kamu berada dalam negeri itu , janganlah kamu keluar melarikan diri” (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim dan Nasa’i dari Abdurrahman bin ‘Auf).

Adapun untuk melakukan semua itu saat ini sangatlah mungkin. Karena sesungguhnya Indonesia memiliki SDM yang unggul, misal ahli biomedik, biologi molekuler, tekhnik kimia, kefarmasian yang berpotensi menjadi pakar masa depan dalam pembangunan senjata biologi Daulah. Pelaksanaan sistem pendidikan berdasarkan aqidah Islam akan mempercepat proses penyediaan SDM yang dibutuhkan.

Memang, upaya preventif maupun kuratif itu butuh anggaran besar. Pengelolaan baitul maal yang efektif yang ditopang dengan berjalannya sistem perekonomian yang sesuai syaraiat Islam, memungkinkan negara mampu membiayai berbagai kebutuhan yang diperlukan. Apa lagi Indonesia memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah, yang merupakan salah satu pos pemasukan keuangan negara yang sangat penting dan strategis.

Anggaran untuk pos jihad dapat diambil dari sumber pemasukan baitul maal mana saja, yang meliputi Fa-i dan kharaj; harta milik umum; dan zakat. Bahkan ketika kas baitul maal kosong, sementara agenda ke dua tidak bisa ditunda, maka Khalifah bisa mengambil tabaru’at dari kaum muslimin. Dan jika tidak mencukupi, Daulah dibolehkan menetapkan kewajiban pajak dalam rangka memenuhi anggaran yang dibutuhkan. Sedang anggaran untuk melakukan upaya preventif dan kuratif salah satunya bisa diambil dari pos pemasukan pemilikan umum.

Kepentingan Indonesia hidup dalam sistem kehidupan Islam bukanlah semata-mata karena dorongan menyelamatkan generasi dari ancaman HIV, tetapi ini adalah kewajiban yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, karena sesungguhnya kaum muslimin hanya boleh hidup tanpa khilafah paling lama tiga hari saja. Sungguh kita merindukannya. Semoga melalui upaya ini Allah SWT mendekatkan pertolongan-Nya, memenuhi janjinya, kembalinya Khilafah Rasyidah ke dua dalam waktu dekat. Amien ya Allah. Wallahua’lam bish showab.(*)

*Kholda Naajiyah, S.Si, aktivis Hizbut Tahrir Indonesia.

Ketika Hukum Allah Diabaikan (II) November 16, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Posted: 13 Nov 2009 06:01 PM PST

Artikel Terkait:
- Ketika Hukum Allah Diabaikan (I)

 

4. Terhalang dari mendapatkan taufiq untuk bertaubat

Balasan yang paling mengerikan yang dapat menimpa seseorang yang mengabaikan hukum Allah di dunia adalah mereka terhalang mendapatkan taufiq untuk melakukan taubat. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari perbuatan mereka yang sangat buruk di sisi Allah.

Al-Quran telah menjelaskan bahwa diantara amal yang dapat menjadi sebab seseorang terhalang untuk melakukan taubat adalah menolak dan bahkan mengubah apa yang diturunkan Allah serta mempelakukan semaunya dengan mengambil dan menolaknya berdasarkan hawa nafsunya. Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang Munafiq merupakan pentolan pelaku perbuatan keji tersebut. Oleh karena itulah Allah swt memperingatkan Rasul-Nya agar tidak bersedih atas perbuatan mereka itu.

“Wahai Rasul janganlah engkau bersedih atas orang-orang yang bersegera dalam kekufuran dari orang-orang yang berkata: kami beriman dengan mulut mulut-mulut mereka namun hati mereka tidak beriman; dan dari orang-orang Yahudi yang memperdengarkan kedustaan dan memperdengarkan terhadap kaum yang lain yang tidak datang kepada mereka. Mereka mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya dimana mereka mengatakan jika engkau diberikan ini maka terimalah dan jika kalian tidak diberikan maka jauhilah. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah fitnah darinya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Allah suatu apapun. Mereka itulah yang tidak dikehendaki Allah untuk disucikan hatinya. Bagi mereka didunia adalah kehinaan sementara di akhirat mereka akan mendapatkan azab yang pedih.” (QS. Al-Maidah [5] : 41)

Ibnu Katsir berkata: “ayat-ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang bersegera melakukan kekufuran, tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mendahulukan pendapat dan hawa nafsu mereka daripada syariat Allah swt.

Adapun maksud firman Allah: “kami beriman dengan lisan mereka namun hati mereka tidak beriman,” artinya mereka menampakkan keimanan dengan lisan mereka sementara hati mereka kosong dan bahkan menentangnya. Mereka itulah orang-orang munafiq yang merupakan musuh Islam dan pemeluknya. Mereka itulah yang menyimpang dari syariat dengan mengambil sebagian dan melakukan perubahan dengan mentakwilkannya maka mereka mendapatkan balasan yang sangat keras yang selaras dengan buruknya dosa mereka.

Sementara firman Allah: “mereka itulah yang tidak dikehendaki Allah untuk disucikan hatinya,” yakni Allah telah memastikan pada mereka bahwa mereka tidak akan bertaubat atas kesalahan mereka dengan menutup taufiq atas mereka sehingga mereka tidak kembali dari kekufuran mereka. mereka itulah yang dikehendaki Allah untuk membersihkan diri mereka dari kekufuran dan kemusyrikan pada diri mereka dengan kesucian dan keteraturan Islam sehingga mereka bertaubat.”

Di sisi lain, orang-orang yang bersedia tunduk pada syariat yang dibawa oleh Rasulullah maka mereka akan bertaubat kepada apa yang mereka lakukan sehingga diampuni dan dikasihi oleh Allah swt.

“Dan tidaklah kami mengutus seorang rasul kecuali untuk ditaati dengan izin Allah meskipun mereka mendzalimi diri mereka sendiri mereka datang kepadamu. Maka memohon ampunlah kepada Allah dan Rasul pun memohon ampun kepada mereka maka niscaya Allah mereka akan menemukan Allah maha penerima taubah dan maha penyayang (64) Maka demi tuhanmu mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau sebagai hakim terhadap berbagai persoalan yang terjadi diantara mereka kemudian mereka tidak menemukan rasa berar pada diri mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan lapang dada.” (QS. An-Nisa [4] : 64-65)

5. Agama yang rapuh dan keimanan yang lemah

Orang-orang yang tidak diatur dengan syariat maka iman mereka melemah berdasarkan kadar pelanggaran mereka terhadap hukum-hukum Islam. Sebaliknya mereka yang beriman dan taat akan mendapatkan kondisi sebaliknya, yakni keimanan yang kokoh. Keadaan tersebut merupakan sifat dari hukum Allah yang mampu memberikan cahaya, memperbaiki akhlak, memudahkan dalam beribadah serta meringankan beban pelakunya. Sebaliknya mereka yang ingkar akan hidup dalam kegelapan, kesulitan, serta dihiasi dengan perangai dan akhlak yang buruk. Allah swt berfirman:

“Allah befrmaksud menjelaskan kepada kalian dan memberikan petunjuk kepada kalian tentang sunnah orang-orang sebelum kalian dan memberikan ampun kepada kalian dan Allah maha mengetahui dan maha bijaksana. Allah menginginkan untuk memberikan taubat pada kalian smentara orang-orang yang mengikuti syahwatnya menginginkan agar kalian berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). Allah bermaksud meringankan atas kalian dan menciptakan manusia dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa [4] : 26)

Menolak syariat sama dengan menolak untuk mendapatkan hidayah, taubat, ketenangan dan keimanan. Tidak ada ayat yang lebih tegas yang menjelaskan bahaya penolakan dari keimanan. Allah swt berfirman:

Maka demi tuhanmu mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau sebagai hakim terhadap berbagai persoalan yang terjadi diantara mereka kemudian mereka tidak menemukan rasa berat pada diri mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan lapang dada.” (QS. An-Nisa [4] : 64-65)

Realitas ummat saat ini telah mengkonfirmasi hal tersebut. Ketika mereka tidak diatur oleh syariat maka keyakinan dan perilaku mereka menjadi buruk. Sebaliknya generasi muslim terdahulu yang tunduk pada syariat, aqidah dan perbuatannya pun kuat dan mulia. Dengan kata lain ketundukan pada al-Quran dan as-Sunnah menjadikan seseorang mulia dari sisi aqidah dan sekaligus perilaku.

6. Mencegah orang lain dari jalan Allah

Mencegah manusia dari jalan Allah merupakan salah satu dampak buruk dari berhukum kepada selain Allah. Di dalam Al-Quran terdapat hubungan yang sangat erat antara kedua hal tersebut. Al-Quran misalnya menggambarkan kaum musyrik Arab yang menolak mengikuti syariat Allah maka mereka pun terdorong untuk mencegah orang-orang untuk masuk Islam. Allah swt berfirman:

“Mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit lalu mereka menhalangi (kalian) dari jalan Allah. Itu adalah seburuk-buruk apa yang mereka lakukan.”(QS. at-Taubah: 9)

Al-Quran juga telah mendeskripsikan ahlu kitab dengan dua kelompok yang saling bertolak belakang. Allah swt berfirman:

“Akibat kedzaliman orang-orang Yahudi maka kami haramkan atas mereka hal-hal yang baik yang sebelumnya dihalalkan atas mereka. (demikian pula) akibat mereka banyak menghalangi dari jalan Allah (160) dan mereka mengambil riba yang telah telah dilarang atas mereka; dan mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil. Dan Kami siapkan bagi orang-orang kafir azab yang pedih (161) akan tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya dari mereka dan orang-orang beriman terhadap apa yang diturunkan Allah kepadamu dan yang diturunkan sebelum kalian, orang-orang yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan orang-orang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Mereka itulah yang akan mendapatkan pahala yang banyak.” (QS. An-Nisa [4] :160-162)

Ayat di atas menjelaskan bahwa para ahlu kitab yang saling memberikan suap kepada para penguasa maka mereka pun memakan riba dan memakan harta manusia dengan cara yang batil. Akibat dari semua itu mereka pun mendapatkan siksa yang pedih. Sementara itu golongan ahlu kitab yang beriman pada syariat mereka kemudian beriman kepada syariat yang haq yang menasakh syariat sebelumnya.

Hal tersebut juga dinyatakan dalam firman Allah swt:

“Orang-orang kafir dan menghalangi dari jalan Allah maka Allah menyesatkan mereka dengan amal-amal mereka (1) dan orang-orang beriman dan beramal shaleh dan beriman terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad dan ia merupakan kebenaran dari tuhan mereka. Allah meghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS.Muhammad [49] : 1-3)

Golongan pertama yang mengikuti setan dan berbagai kebatilannya maka mereka menjadi kafir dan menghalangi orang lain dari jalan Allah. Sementara golongan yang mengikuti kebenaran maka dosa mereka dihapus dan dielokkan perbuatannya.

“Penghuni surga menyeru penghuni neraka: “Kami telah telah mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepada dengan sebenarnya. Apakah kalian mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kalian dengan sebenarnya?” Mereka berkata:” Betul.” Maka penyeru menyatakan bahwa laknat Allah atas orang-orang yang dzalim.”(QS. Al-A’raf [7]: 44-49)

Menyimpang dari syariat Allah dan menghalangi manusia dari jalan Allah merupakan perbuatan keji sehingga pelakunya berhak menerima laknat dan tercegah dari rahmat Allah. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang dzalim (44) yaitu orang-orang yang mencegah (manusia) dari jalan Allah dan berupaya melakukan penyimpangan dan ingkar terhadap Hari Akhir.” (QS. Al-’Araf: 44-45)

Sebagaimana diketahui, para penguasa yang berhukum pada selain yang diturunkan Allah merupakan pucuk pelaku kedzaliman. Ini karena mereka mencegah manusia untuk melaksanakan agama mereka, hidup berpoya-poya dan lupa akhirat. Di saat mereka diperintahkan untuk menyebarkan agama mereka dan diberi amanah untuk menjaga syariat, mereka malah mengabaikan syariat, merintangi dakwah, bahkan menimpakan sanksi yang kejam bagi para penyerunya. Sangat wajar jika mereka mendapatkan laknat karena merekalah yang bertanggung jawab terabaikannya syariat yang sebelumnya berdiri kokoh.[Muhammad Ishak – Lajnah Tsaqafiyyah]

 

Universitas Birzeit Menghadirkan Hizbut Tahrir Dalam Dialog Terbuka November 13, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , , ,
add a comment


Posted: 12 Nov 2009 02:00 PM PST

Ramallah- Departemen Ilmu Politik di Universitas Birzeit pada hari Selasa lalu menyelenggarakan acara dialog terbuka dengan menghadirkan masing-masing Abdur Rahman Zayoud dari Hizbut Tahrir, dan Ala’ Abu Shaleh, seorang anggota Biro Informasi Hizbut Tahrir. Tujuan acara itu diadakan adalah untuk memperkenalkan kepada para mahasiswa tentang pemikiran politik Hizbut Tahrir. Sehingga tema acara itu adalah “Dialog Seputar Pemikiran Politik Hizbut Tahrir.”

Forum yang dikemas dalam acara dialog itu membahas beberapa topik secara mendalam mengenai metodologi Hizbut Tahrir dalam menghadapi seriap peristiwa dan perkembangan politik terbaru, strategi Hizbut Tahrir dalam mengubah realitas, dan metode syar’iy (Islam) yang ditempuh oleh Hizbut Tahrir dalam uasahanya untuk mendirikan Khilafah Islam.

Turut berpartisipasi dalam pertemuan itu sejumlah staf akademik di departemen dan lain-lainnya. Sedang yang istimewa dalam pertemuan itu adalah dibahasnya sejumlah topik, serta partisipasi aktif para mahasiswa dalam berdiskusi dengan kedua nara sumber, dan dalam mengkritisi gagasan Hizbut Tahrir.

Abu Shaleh berbicara tentang upaya Hizbut Tahrir untuk membangun pemahaman politik yang cermat terhadap setiap peristiwa yang sedang terjadi di dunia, kemampuannya untuk mengkaji setiap peristiwa dan mengarahkannya untuk tujuan yang hendak diwujudkannya, yaitu mengebalikan kehidupan Islam dengan menegakkan Negara Khilafah. Ia menekankan bahwa kepemimpinan Hizbut Tahrir senantiasa menjadikan semua situasi politik untuk membangun informasi politik yang akurat dan cermat. Ia juga berbicara tentang bagaimana metode Hizbut Tahrir dalam beraktivitas untuk mendirikan negara Islam, di mana dalam hal ini ia menegaskan bahwa Hizbut Tahrir konsisten meneladani metode Rasulullah SAW.

Sedangkan Zayoud berbicara tentang kemampuan Hizbut Tahrir dalam memahami situasi internasional melalui pengetahuannya yang luas terhadap berbagai ideologi dan pergerakan internasional yang menjadi aktor di panggung internasional, serta pengamatannya yang terus-menerus terhadap perkembangan politik terbaru dan perimbangan kekuatan. Ia menekankan tentang kemampuan Hizbut Tahrir ketika mendirikan negara dengan kecakapan dan keahlian untuk memimpin negara agar menjadi negara nomor satu di dunia. Ia mengatakan bahwa Hizbut Tahrir dalam melihat situasi internasional melalui perspektif akidah Islam, dan mengurusi semua urusan umat beradasarkan hukum-hukum Islam. Inilah pemahaman Hizbut Tahrir yang mengkristal terhadap makna politik dalam Islam.

Seorang anggota Biro Informasi Hizbut Tahrir Palestina, Ir. Bahir Shaleh mengomentari acara dialog terbuka ini dengan mengatakan: “Ini merupakan sebuah inisiatif baik dari Departemen Ilmu Politik. Dalam hal ini, kami sangat mengapresiasi langkah yang memungkinkan para mahasiswa untuk berkomunikasi secara langsung dengan Hizbut Tahrir dan para aktivisnya. Dan kami menyambut baik setiap langkah yang sama, baik dari aspek politik atau akademis.” (pal-tahrir.info, 11/11/2009)

Birzeit

Aksi Solidaritas Al-Aqsa-Palestine – Kedubes AS jakarta – 8 Nov 2009 November 10, 2009

Posted by informationmedia in Photoes.
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

Trailer for International Khilafah Conference 2007 November 6, 2009

Posted by informationmedia in video.
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

more about “Trailer for International Khilafah Co…“, posted with vodpod

 

Khilafah – One Ummah November 6, 2009

Posted by informationmedia in video.
Tags: , , , ,
add a comment

more about “Khilafah – One Ummah“, posted with vodpod

 

KHILAFAH.. only a matter of time!!!! November 6, 2009

Posted by informationmedia in video.
Tags: , , , ,
add a comment

more about “KHILAFAH.. only a matter of time!!!!“, posted with vodpod

 

Khilafah For Britain : The Divine Alternative November 6, 2009

Posted by informationmedia in video.
Tags: , , , , , ,
add a comment

more about “Khilafah For Britain : The Divine Alt…“, posted with vodpod

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.