jump to navigation

Swedia Perbolehkan Pernikahan Gay October 24, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Swedia Perbolehkan Pernikahan Gay

Posted: 23 Oct 2009 12:41 AM PDT

gaySWEDIA–Gereja Lutheran Swedia memperbolehkan melakukan perkawinan sejenis bulan depan, November 2009. Sekitar 70 persen dewan gereja menjadikannya salah satu dari beberapa gereja-gereja global untuk membolehkan pernikahan gay.

Pemerintah Swedia memperkenalkan hukum baru yang memungkinkan pasangan gay memiliki hak perkawinan yang sama seperti heteroseksual.

Tiga perempat dari Swedia adalah anggota gereja Lutheran, meskipun jemaat yang datang ke gereja rendah. Gereja Lutheran mengatakan pasangan gay sekarang bisa menikah dengan salah satu dari para imam awal November.

Gereja yang memisahkan diri dari kontrol negara pada tahun 2000, mendukung keputusan pemerintah untuk melegalkan pernikahan gay pada bulan Mei. Akan tetapi, beberapa ulama mempertanyakan apakah upacara  perkawinan  harus disediakan seperti serikat heteroseksual. Banyak yang menentang  dengan alasan itu bertentangan dengan Kitab Suci.

Menanggapi hal tersebut, Uskup Agung Swedia, Anders Wejryd, mengatakan kepada wartawan, “Bagi saya, keputusan yang benar diambil, tapi saya bisa berempati kepada banyak orang yang percaya keputusan tersebut terlalu cepat.” katanya, seperti yang dikutip dari BBC.

Komunitas  Gay Swedia, Swedia Federation for Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender Rights (RFSL), menyambut baik keputusan pemerintah melegalkan pernikahan gay di gereja.

“Kita mengucapkan selamat kepada Gereja Swedia untuk mengambil keputusan itu. Homoseksual dan biseksual anggota akhirnya akan dapat merasakan sedikit lebih diterima dalam masyarakat,” kata salah seorang komunitas itu dalam sebuah pernyataan.

Swedia adalah salah satu negara pertama yang memberikan hak secara hukum pasangan gay  pada pertengahan 1990-an, dan untuk membolehkan pasangan gay mengadopsi anak dari tahun 2002. Swedia menjadi lima negara Eropa, setelah Belanda, Belgia, Spanyol dan Norwegia, yang mengakui perkawinan sesama jenis. (Republika online, 23/10/2009)


Nafais Tsamrah: Di Antara Bencana-bencana Terbesar Yang Menimpa Kalian October 23, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Wahai kaum Muslim! Sesungguhnya diantara bencana-bencana terbesar yang menimpa kalian adalah, bahwa urusan kalian dikuasai oleh para penguasa buta, bisu dan tuli. Mereka adalah para penguasa yang bodoh dan tidak berpikir. Dan termasuk di antara bencana-bencana terbesar yang lain adalah, bahwa mereka itu telah membentuk dan merekayasa orang-orang yang akan memberikan aplaus sebagai tanda mendukung dan setuju dengan apa yang sedang dan akan mereka lakukan. Sehingga mereka, para penguasa itu, dengan mendapatkan aplaus dari orang-orang fasik tersebut berhasil mempengaruhi sebagian di antara rakyatnya.

Dalam hal ini, seharusnya kaum Muslim belajar dari kisah Fi’aun dan kaumnya, yang diabadikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

Maka Fir`aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (TQS. Az-Zukhruf [43] : 54-56)

Wahai kaum Muslim! Sesungguhnya mereka, para penguasa itu sedang mempengaruhi kalian; dan akan mengembalikan kalian ke tempat dan situasi yang penuh dengan bahaya dan bencana. Oleh karena itu, jika kalian tunduk dan patuh kepada mereka, maka kalian layak menjadi bagian dari orang-orang yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

Sesungguhnya akan ada sesudahku para pemimpian; siapa saja yang membenarkan kebohongan-kebohongan mereka, dan membantu kezaliman-kezaliman yang mereka lakukan, maka ia bukanlah golonganku, dan aku bukanlah golongannya, sehingga ia tidak akan bertemu dengan aku di telaga surga; sebaliknya siapa saja yang tidak membenarkan kebohongan-kebohongan mereka, dan tidak membantu kezaliman-kezaliman yang mereka lakukan, maka ia golonganku, dan aku golongannya, sehingga ia akan bertemu dengan aku di telaga surga.” (HR. An-Nasa’i dari jalan Ka’ab bin Ujrah).

Sumber: hizb-ut-tahrir.info

Tanggal: 20 Syawal 1430 H/9 Oktober 2009 M

FADHILAH WANITA October 23, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , ,
6 comments

Disadari atau tidak bahwa wanita memegang peranan yang tidak kalah penting dalam kehidupan, baik dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan beragama maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Maka bukanlah suatu hal yang berlebihan bila dikatakan “ Apabila rusak akhlak wanita  dalam suatu kaum, maka rusaklah kaum itu keseluruhannya “.

Selain itu disadari ataupun tidak dalam keluarga peran yang sangat besar ada di pundak wanita, hingga ada idiom barat yang mengatakan “ Behind a succesfull man, there is a great woman “.

Untuk itu sejenak marilah kita melihat betapa fadhilah wanita berikut ini:

Point-point dari halaman ini terdapat di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, Misykah,
Riadlush Shalihin, Uqudilijjain, Bhahishti Zewar, Al-Hijab, dan lain-lain, checking
satu persatu belum dibuat. Mudah-mudahan dapat diambil ibrah darinya.

  1. Doa wanita lebih maqbul dari laki-laki karena sifat penyayang yang lebih kuat
    dari laki-laki. Ketika ditanya kepada Rasulallah SAW akan hal tersebut, jawab
    baginda : “Ibu lebih penyayang dari bapak dan doa orang yang penyayang tidak
    akan sia-sia.”
  2. Wanita yang solehah itu lebih baik dari 1,000 orang laki-laki yang soleh.
  3. Seorang wanita solehah lebih baik dari 70 orang wali.
  4. Seorang wanita solehah lebih baik dari 70 laki-laki soleh.
  5. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya
    diibaratkan seperti orang yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah SWT dan orang yang takut Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
  6. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah)  lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah.
    Hendaklah mendahulukan anak perempuan terhadap anak laki-laki. Maka barangsiapa yang menyenangkan anak perempuannya eolah-olah dia memerdekakan  anak Nabi Ismail AS
  7. Tidaklah seorang wanita yang haidh itu, kecuali haidhnya merupakan kifarah  (tebusan) untuk dosa-dosanya yang telah lalu, dan apabila pada hari pertama haidhnya membaca “Alhamdulillahi’alaa Kulli Halin Wa Astaghfirullah”. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan dan aku mohon ampun kepada Allah dari segala dosa.”; maka Allah menetapkan dia bebas dari neraka dan dengan mudah melalui shiratul mustaqim yang aman dari siksa, bahkan AllahTa’ala mengangkat derajatnya, seperti derajatnya 40 orang yang mati syahid, apabila dia selalu
    berzikir kepada Allah selama haidhnya.
  8. Wanita sholehah yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku  (Rasulullah SAW.) di dalam syurga.
  9. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa  serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga.

10.  Dari ‘Aisyah r.ha. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak
perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

11.  Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

12.   Apabila memanggil kedua ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu
dahulu.

13.  Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu
neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

14.  Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara,  malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan meredhainya. (serta menjaga sembahyang dan puasanya)

15.  ‘Aisyah r.ha. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. siapakah yang  lebih besar haknya terhadap wanita ?” Jawab baginda, “Suaminya”. “Siapa pula berhak terhadap laki-laki ?” Jawab Rasulullah SAW. “Ibunya”.

16.  Seorang wanita yang apabila mengerjakan solat lima waktu, berpuasa wajib  sebulan (Ramadhan), memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya,  maka pasti akan masuk syurga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.

17.  Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah  SWT memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu dari suaminya (10,000 tahun).

18.  Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka
beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

19.  Dua rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik dari 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.

20.  Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

21.  Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadah pada malam hari.

22.  Seorang wanita yang mengalami sakit saat melahirkan, maka Allah SWT
memberi pahala kepadanya seperti pahala orang yang berjihad dijalan Allah SWT

23.  Wanita yang melahirkan akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan tiap rasa sakit dan pada satu uratnya Allah memberikan satu pahala haji.

24.  Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa  seperti keadaan ibunya melahirkannya.

25.  Wanita yang meninggal dalam masa 40 hari sesudah melahirkan akan
dianggap syahid.

26.  Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya dari badannya (susu
badan) akan dapat satu pahala dari tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

27.  Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup (2 1/2 tahun), maka malaikat-malaikat
di langit akan memberikan kabar gembira bahwa syurga adalah balasannya.

28.  Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah
akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

29.  Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak nyaman karena
menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20
orang hamba.

30.  Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anak yang
sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia menghibur
hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.

31.  Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah
mencatatkan baginya seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu
kesalahannya,bahkan segala sesuatu yang disinari matahari akan memohonkan
ampun untuknya, dan Allah mengangkatkannya seribu darjat.

32.  Seorang wanita yang solehah lebih baik dari seribu orang laki-laki yang tidak
soleh, dan seorang wanita yang melayani suaminya selama seminggu, maka
ditutupkan baginya tujuh pintu neraka dan dibukakan baginya delapan pintu
syurga, yang dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa dihisab.

33.  Mana-mana wanita yang menunggu suaminya hingga pulang, disapukan
mukanya, dihamparkan duduknya atau menyediakan makan minumnya atau
memandang ia pada suaminya atau memegang tangannya, memperelokkan
hidangan padanya,memelihara anaknya atau memanfaatkan hartanya pada
suaminya karena mencari keridhaan Allah, maka disunatkan baginya akan tiap-tiap
kalimat ucapannya,tiap-tiap langkahnya dan setiap pandangannya pada
suaminya sebagaimana memerdekakan seorang hamba. Pada hari Qiamat kelak,
Allah kurniakan Nur hingga tercengang wanita mukmin semuanya atas kurniaan
rahmat itu. Tiada seorang pun yang sampai ke mertabat itu melainkan Nabi-nabi.

Musik dalam kaca mata Islam June 16, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Maraknya konser musik dan festival lagu di negri kita serta nyanyian yang kian digandrungi, bukan saja oleh para remaja, tetapi juga diminati dan dinik-mati oleh para orang tua, bahkan anak-anak, baik lewat televisi, radio, Hand phone, dan media-media elektronik lainnya, mendorong tim redaksi an-Nur untuk kembali mengangkat tema yang berkaitan dengannya. Harapan kami agar kaum Muslimin mengerti dengan jelas bagaimana sebenarnya kedudukan musik yang seakan tidak pernah sepi dan tak terpisahkan dalam kehidupan mereka.

Pandangan al-Qur’an Dan as- Sunnah
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan di antara manusia (ada) yang memper-gunakan lahwul hadits untuk menyesat-kan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan. “ (QS. Luqman: 6).

Sebagian besar mufassir berko-mentar, yang dimaksud dengan lahwul hadits dalam ayat tersebut adalah nyanyian. Hasan al-Basri berkata, “Ayat itu turun dalam masalah musik dan lagu.” Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada setan, artinya, “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu.” Maksudnya dengan lagu (nyanyian) dan musik.

RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minum-an keras dan musik.” (HR. al-Bukhari dan Abu Daud)

Dengan kata lain, akan datang suatu masa, ketika beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum-minuman keras, dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram.

Adapun yang dimaksud dengan musik di sini adalah segala sesuatu yang menghasilkan bunyi dan suara yang indah serta menyenangkan. Seperti kecapi, gendang, rebana, seruling, dan berbagai alat musik modern yang kini sangat banyak dan beragam. Bahkan termasuk di dalamnya jaros (lonceng, bel, klentengan).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lonceng adalah nyanyian setan.” (HR. Muslim)

Di masa dahulu orang-orang hanya mengalungkan klentengan pada leher binatang. Hadits di atas menunjukkan betapa dibencinya suara bel tersebut. Penggunaan lonceng juga berarti menyerupai orang-orang nasrani. Lonceng bagi mereka merupakan suatu yang prinsip dalam aktivitas gereja.

Imam Syafi’i dalam kitabnya al- Qadha’ berkata, “Nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci, bahkan menyerupai perkara batil. Barangsiapa memperba-nyak nyanyian, maka dia adalah orang dungu, syahadat (kesaksiannya) tidak dapat diterima.”

Nyanyian di Masa Kini:
Kebanyakan lagu dan musik pada saat ini manggung di berbagai pesta juga dalam tayangan televisi dan siaran radio. Mayoritas sya’ir-sya’irnya berisi tentang asmara, kecantikan, ketampanan dan hal lain yang lebih banyak mengarah kepada eksploitasi biologis, sehingga mem-bangkitkan nafsu birahi, terutama bagi kawula muda dan remaja. Selanjutnya hal itu membuat mereka lupa segala-galanya, sehingga terjadilah kemaksiat-an, zina dan dekadensi moral lainnya.

Tak diragukan lagi hura-hura musik baik dari dalam atau manca negara sangat merusak dan banyak menimbulkan bencana besar bagi generasi muda. Lihatlah betapa setiap ada pesta kolosal musik, selalu ada saja yang menjadi korban. Baik berupa mobil yang hancur, kehilangan uang atau barang lainnya, cacat fisik hingga korban meninggal dunia. Orang-orang berjejal dan mau saja membayar meski dengan harga tiket yang tinggi. Bagi yang tak memiliki uang terpaksa mencari berbagai cara yang penting bisa masuk stadion. Akhirnya merusak pagar, memanjat dinding atau merusak barang lainnya demi bisa menyaksikan pertunjukan musik kolosal tersebut.

Jika pentas dimulai, seketika para penonton hanyut bersama alunan musik. Ada yang menghentak, menjerit histeris bahkan pingsan karena mabuk musik.

Para pemuda itu mencintai para penyanyi idola mereka melebihi kecintaan mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakannya. Ini adalah fitnah yang amat besar.

Tersebutlah pada saat terjadi perang antara Bangsa Arab dengan Yahudi tahun 1967, para pembakar semangat menyeru kepada para pejuang, “Maju terus, bersama kalian biduan fulan dan biduanita fulanah … “, kemudian mereka menderita kekalahan di tangan para Yahudi yang pendosa.

Seharusnya diserukan, “Maju terus, Allah Subhanahu wata’ala bersama kalian. Allah Subhanahu wata’ala akan menolong kalian.” Dalam peperangan itu pula, salah seorang biduanita memaklumkan, jika mereka menang, maka ia akan menyelenggarakan pentas bulanannya di Tel Aviv, ibukota Israel, padahal biasanya digelar di Mesir. Sebaliknya yang dilakukan orang-orang Yahudi setelah merperoleh kemenangan adalah mereka bersimpuh di Ha’ith Mabka (dinding ratapan) sebagai tanda syukurnya kepada Tuhan mereka.

Semua nyanyian itu hampir sama, bahkan hingga nyanyian-nyanyian yang bernafaskan Islam sekalipun, tidak akan lepas dari kemungkaran. Bahkan di antara sya’ir lagunya ada yang berbunyi,
“Dan besok akan dikatakan, setiap nabi berada pada kedudukannya …
Ya Muhammad inilah Arsy, terima-lah.”

Bait terakhir dari sya’ir tersebut merupakan suatu kebohongan besar terhadap Allah Subhanahu wata’ala dan RasulNya. Tidak sesuai dengan kenyataan dan termasuk salah satu bentuk pengultusan terhadap diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal semacam itu dilarang.

Kiat Mengobati virus nyanyian dan musik.
Beberapa langkah yang dianjurkan, diantaranya:
1. Jangan mendengarkan musik, baik dari radio, televisi atau lainnya. Apalagi jika syair-syairnya tak sesuai dengan akhlak Islam dan diiringi dengan musik.
Di antara lawan paling jitu untuk menangkal ketergantungan kepada musik adalah dengan selalu mengingat Allah Subhanahu wata’ala dan membaca al-Qur’an, terutama surat Al Baqarah. Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya, “Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya surat Al Baqarah dibaca.” (HR. Muslim)

2. Membaca sirah Shallallahu ‘alaihi wasallam (riwayat hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Demikian pula sejarah hidup para sahabat beliau.

Nyanyian yang Diperbolehkan
Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan, yaitu:
1. Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadits A’isyah,“Suatu ketika Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke bilik ‘Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata, “… dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.”), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam justru bersabda, “Biarkanlah mereka karena sesung-guhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini.” (HR. al-Bukhari).

2. Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara (lagu) pada saat pernikahan.” (Hadits shahih riwayat Ahmad). Yang dimaksud di sini adalah khusus untuk kaum wanita.

3. Nasyid Islami (nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja sehingga bisa lebih membangkitkan semangat, terutama jika di dalamnya terdapat do’a. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenandungkan sya’ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung, “Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.” Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain, “Kita telah membai’at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad.”
Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersenandung dengan sya’ir Ibnu Rawahah yang lain,
“Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat.
Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu (musuh)
Orang-orang musyrik telah men durhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah, maka kami menolaknya.”
Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung, “Kami menolaknya,. ..kami menolaknya.”
(Muttafaq ‘Alaih)

4. Nyanyian yang mengandung pengesaan Allah Subhanahu wata’ala, kecintaan kepada Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menyebutkan sifat-sifat beliau yang terpuji; atau mengandung anjuran berjihad, teguh pendirian dan memperbaiki akhlak; atau seruan kepada saling mencintai, tolong- menolong di antara sesama; atau menyebutkan beberapa kebaikan Islam, berbagai prinsipnya serta hal-hal lain yang bermanfaat buat masyarakat Islam, baik dalam agama atau akhlak mereka.

Di antara berbagai alat musik yang diperbolehkan hanyalah rebana. Itupun penggunaannya terbatas hanya saat pesta pernikahan dan khusus bagi para wanita. Kaum laki-laki sama sekali tidak dibolehkan memakainya. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memakainya. Demikian pula halnya dengan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Orang-orang Sufi memperbolehkan rebana, bahkan mereka berpendapat bahwa menabuh rebana ketika dzikir hukumnya sunnat, padahal ia adalah bid’ah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Turmudzi, beliau berkata, “Hadits hasan sha-hih.”).(Tim Redaksi an-Nur)

Sumber:
Rasa’ilut Taujihat Al Islamiyah, 1/ 514 – 516.
Oleh:
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Jembatan Neraka Lebih Tipis Dari Rambut Lebih Tajam Dari Pedang May 19, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Kamis, 07/05/2009 05:39 WIB

Salah satu peristiwa dahsyat  yang bakal dialami oleh setiap orang yang telah mengucapkan ikrar syahadat Tauhid ialah keharusan menyeberangi suatu jembatan yang dibentangkan di atas kedua punggung neraka jahannam. Ia tidak saja dialami oleh ummat Islam dari kalangan ummat Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, melainkan semua orang beriman dari ummat para Nabi sebelumnya juga wajib mengalaminya. Peristiwa ini akan dialami oleh setiap orang beriman, baik mereka yang imannya sejati maupun yang berbuat banyak maksiat termasuk kaum munafik.  Menurut sebagian ahli tafsir peristiwa menyeberangi jembatan di atas neraka telah diisyaratkan Allah di dalam Al-Qur’anul Karim.

 

”Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS Maryam ayat 71)

 

Maksud dari kata ”mendatangi” ialah melintas di atas Neraka Jahannam  dengan menyeberangi jembatan tersebut. Semua orang beriman –bagaimanapun kualitas imannya-  pasti mengalaminya. Hanya saja Allah jamin keselamatan bagi mereka yang imannya sejati (orang-orang bertaqwa). Dan adapun mereka yang imannya bermasalah (orang-orang zalim/kaum munafik) akan jatuh tergelincir ke dalam Neraka Jahannam saat melintasinya.

 

Dalam sebuah hadits bahkan secara lebih detail Nabi shollallahu ’alaih wa sallam  menggambarkan keadaan jembatan dimaksud. Jembatan itu lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. Laa haula wa laa quwwata illa billah…! Betapa sulitnya bagi kita untuk berjalan menyeberang di atasnya. Tetapi Allah Maha Perkasa sekaligus Maha Bijaksana. Allah akan berikan bekal bagi orang-orang yang imannya sejati untuk sanggup melintas di atas jembatan tersebut. Beginilah gambaran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai jembatan tersebut dengan kejiadian-kejadian yang menyertainya:

 

 

“Dan Neraka Jahannam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di atasnya ada besi-besi yang berpengait dan duri-duri yang mengambil siapa saja yang dikehendaki Allah. Dan manusia di atas jembatan itu ada yang (melintas) laksana kedipan mata, ada yang laksana kilat dan ada yang laksana angin, ada yang laksana kuda yang berlari kencang dan ada yang laksana onta berjalan. Dan para malaikat berkata: ”Ya Allah, selamatkanlah. Selamatkanlah.”  Maka ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik lalu diselamatkan dan juga ada yang digulung dalam neraka di atas wajahnya.” (HR Ahmad 23649)

 

Jadi, menurut hadits di atas ada mereka yang bakal menyeberanginya dengan selamat dan ada yang menyeberanginya dengan selamat namun harus mengalami luka-luka dikarenakan terkena sabetan duri-duri yang mencabik-cabik tubuhnya. Lalu ada pula mereka yang gagal menyeberanginya hingga ujung. Mereka terpeleset, tergelincir sehingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya ke dalam neraka yang menyala-nyala di bawah jembatan. Na’udzubillahi min dzaalika…!

 

Lalu bagaimana seseorang dapat menyeberanginya dengan selamat? Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa pada saat peristiwa menegangkan itu sedang berlangsung para Nabi dan para malaikat sibuk mendoakan keselamatan bagi orang-orang beriman. Mereka berdoa: ”Rabbi sallim. Rabbi sallim. (Ya Rabbi, selamatkanlah. Ya Rabbi, selamatkanlah).” Selanjutnya Allah akan memberikan cahaya bagi setiap orang. Baik mereka yang beriman sejati, mereka yang banyak berbuat dosa, maupun yang munafik sama-sama memperolehnya. Namun ketika sedang melintasi jembatan tersebut orang-orang yang imannya emas akan terus ditemani dan diterangi oleh cahaya tersebut hingga selamat sampai ke ujung penyeberangan. Sedangkan orang-orang munafik hanya sampai setengah perjalanan melintas jembatan tersebut tiba-tiba Allah mencabut cahaya yang tadinya menerangi mereka sehingga mereka berada dalam kegelapan lalu terjatuhlah mereka dari atas jembatan shirath ke dalam api menyala-nyala Neraka Jahannam. Na’udzubillahi min dzaalika…!

 

“Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq. Bila mereka telah berada ditengah jembatan, Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.” (QS Al-Hadid ayat 13) Dan berdoalah orang-orang beriman: ”Ya Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”(QS At-Tahrim ayat 8)  Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain.” (HR Thabrani 11079)

 

Saudaraku, sungguh pemandangan yang sangat mendebarkan. Pantaslah bila Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyatakan bahwa saat peristiwa menyeberangi jembatan di atas Neraka Jahannam sedang berlangsung setiap orang tidak akan ingat kepada orang lainnya. Sebab semua orang sibuk memikirkan keselamatannya masing-masing.

 

 

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, dan ‘amal perbuatan kami dari riya dan lisan kami dari dusta serta pandangan mata kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu khianat pandangan mata dan apa yang disembunyikan hati.

Metode Pengangkatan Khalifah May 10, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , , ,
add a comment

Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan seputar Khilafah adalah bagaimana tata cara (metode) untuk pengangkatan Khalifah. Tidak sedikit yang menolak sistem Khilafah dengan alasan di dalam Islam tidak ada ketentuan yang jelas tentang mekanisme pengangkatan Khalifah. Berikut ini tulisan tentang hal itu yang diambil dari kitab ajhizatu ad Daulah al Khilafah (Struktur Negara Khilafah ). Kitab ini dikeluarkan dan diadopsi oleh Hizb at-Tahrir. (redaksi)

Ketika syara’ mewajibkan umat Islam untuk mengangkat seorang Khalifah, syara’ juga telah menentukan metode yang harus dilaksanakan untuk mengangkat Khalifah. Metode ini ditetapkan dengan al-Kitab, as-Sunah dan Ijmak Sahabat. Metode itu adalah baiat. Maka pengangkatan Khalifah itu dilakukan dengan baiat kaum muslim kepadanya untuk (memerintah) berdasarkan Kitabullah dan Sunah Rasulullah. Yang dimaksud kaum muslim disini adalah kaum muslim yang menjadi rakyat Khalifah sebelumnya jika Khalifah sebelumnya itu ada. Atau kaum muslim penduduk suatu wilayah yang disitu diangkat seorang Khalifah, jiak sebelumnya tidak ada Khalifah.

Kedudukan baiat sebagai metode pengangkatan Khalifah telah ditetapkan dari baiat kaum muslim kepada Rasulullah saaw dan dari perintah beliau kepada kita untuk membaiat seorang imam. Baiat kaum muslim kepada Rasul saw, sesungguhnya bukanlah bait atas kenabian, melainkan baiat atas pemerintahan. Karena baiat itu adalah baiat atas amal dan bukan baiat untuk mempercayai kenabian. Beliau dibaiat tidak lain dalam kapasitas sebagai penguasa, bukan dalam kapasitas sebagai nabi dan rasul. Sebab pengakuan atas kenabian dan kerasulan adalah masalah iman, bukan baiat. Maka baiat kepada Beliau itu tidak lain adalah baiat dalam kapasitas beliau sebagai kepala negara.

Masalah baiat itu telah tercantum dalam al-Quran dan hadits. Allah Swt telah berfirman :

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik. (QS. Muhtahanah : 12)

 

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. (QS. al-Fath : 10)

Imam Bukhari meriwayatkan : Ismail telah menyampaikan kepada kami, Malik telah menyampaikan kepadaku dari Yahya bin Sa’id, ia berkata : “Ubadah bin Walid telah memberitahuku, Bapakku telah memberitahuku dari Ubadah bin Shamit yang mengakatakan :

 

Kami telah membaiat Rasulullah saw untuk senantiasa mendengar dan mentaatinya, baik dalam keadaan yang kami senangi maupun yang tidak kami senangi dan agar kami tidak akan merebut kekuasaan dari orang yang berhak dan agar kami senantiasa mengerjakan atau mengatakan yang haq di mana saja kami berada tidak takut karena Allah kepada celaan orang-orang yang suka mencela (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :

 

Dan siapa saja yang telah membaiat seorang imam lalu ia telah memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, dan jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya maka penggallah orang lain itu (HR. Muslim)

Juga di dalam Shahih Muslim, dari Abu Sa’id al-Khudzri yang mengatakan : Rasulullah saw pernah bersabda :

Jika dibaiat dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya (HR. Muslim)

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abiy Hazim yang berkata : “aku mengikuti mejelis Abu Hurairah selama lima tahun, dan aku mendengar ia menyampaikan hadits dari Nabi saw, Beliau pernah bersabda :

Dahulu Bani Israel diurusi dan dipelihara oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi, dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, dan akan ada para Khalifah, dan mereka banyak, para sahabat bertanya : “lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda : “penuhilah baiat yang pertama dan yang pertama, berikanlah kepada mereka hak mereka, dan sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung-jawaban mereka atas apa yang mereka diminta untuk mengatur dan memeliharanya (HR. Muslim)

Nas-nas al-Quran dan as-Sunah di atas secara jelas menunjukkan bahwa satu-satunya metode mengangkat Khalifah adalah baiat. Seluruh sahabat telah memahami hal itu dan bahkan mereka telah melaksanakannya. Baiat Khulafa’ur Rasyidin sangat jelas dalam masalah ini.
Prosedur Praktis Pengangkatan dan Baiat Khalifah

Prosedur praktis untuk mencalonkan Khalifah sebelum di baiat boleh menggunakan bentuk yang berbeda-beda. Hal itu sebagaimana yang terjadi kepada Khulafa’ur Rasyidin yang datang pasca wafatnya Rasulullah secara langsung. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali –radhiyaLlâh ‘anhum–. Seluruh sahabat mendiamkan dan menyetujui tata cara itu. Padahal tata cara itu termasuk perkara yang harus diingkari seandainya bertentangan dengan syara’. Karena perkara tersebut berkaitan dengan perkara terpenting yang menjadi sandaran keutuhan insitusi kaum muslim dan kelestarian pemerintahan yang melaksanakan hukum Islam. Dari penelitian terhadap peristiwa yang terjadi dalam pengangkatan keempat Khalifah itu, kami mendapati bahwa sebagian kaum muslim telah berdiskusi di Saqifah Bani Sa’idah. Mereka yang dicalonkan adalah Sa’ad, Abu Ubaidah, Umar dan Abu Bakar. Hanya saja Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah tidak rela menjadi pesaing Abu Bakar. Maka seakan-akan perkaranya berada hanya diantara Abu Bakar dan Sa’ad bin Ubadah, bukan yang lain. Hasil diskusi itu adalah dibaiatnya Abu Bakar. Kemudian pada hari kedua, kaum muslim diundang ke Masjid Nabawi lalu mereka membaiat Abu Bakar di sana. Maka baiat di Saqifah adalah baiat in’iqad sehingga dengan itu Abu Bakar menjadi Khalifah kaum muslim. Dan baiat di Masjid pada hari kedua merupakan baiat taat.

Ketika Abu Bakar merasa bahwa sakitnya akan membawa maut, dan khususnya karena pasukan kaum muslim sedang berada di medan perang melawan negara besar kala itu, Persia dan Rumawi, Abu Bakar memanggil kaum muslim meminta pendapat mereka tentang siapa yang akan menjadi Khalifah kaum muslim sepeninggalnya. Proses musyarawah itu berlangsung selama tiga bulan. Ketika Abu Bakar telah selesai meminta pendapat kaum muslim itu dan ia akhirnya mengetahui pendapat mayoritas kaum muslim, maka Abu Bakar mewasiatkan Umar, yakni mencalonkan sesuai dengan bahasa kala itu, agar Umar menjadi Khalifah setelahnya. Wasiat atau pencalonan itu bukan merupakan akad pengangkatan Umar sebagai Khalifah setelah Abu Bakar. Karena setelah wafatnya Abu Bakar, kaum muslim datang ke masjid dan membaiat Umar untuk memangku jabatan Khilafah. Dengan baiat inilah Umar sah menjadi Khalifah kaum muslim, bukan karena musyawarah yang dilakukan oleh Abu Bakar. Juga bukan karena wasiat Abu Bakar. Karena seandainya wasiat dari Abu Bakar merupakan akad khilafah kepada Umar, pastilah tidak lagi memerlukan baiat kaum muslim. Terlebih lagi nas-nas yang telah kami sebutkan sebelumnya telah menunjukkan secara jelas bahwa seseorang tidak akan menjadi Khalifah kecuali melalui baiat kaum muslim.

Ketika Umar tertikam, kaum muslim memintanya untuk menunjuk pengganti, namun Umar menolak. Setelah mereka terus mendesak, Beliau menunjuk enam orang yakni mengajukan calon sebanyak enam orang kepada kaum muslim. Kemudian Beliau menunjuk Suhaib untuk mengimami manusia dan untuk memimpin enam orang yang telah Beliau calonkan sehingga terpilih Khalifah dari mereka dalam jangka waktu tiga hari sebagaimana yang telah Beliau tentukan bagi mereka. Beliau berkata kepada Suhaib : “…. jika lima orang bersepakat dan rela dengan satu orang, dan yang menolak satu orang maka penggallah orang yang menolak itu dengan pedang …”. Peristiwa itu sebagaimana yang diceritakan oleh ath-Thabari dalam Târîkh ath-Thabariy, oleh Ibn Qutaibah pengarang buku al-Imâmah wa as-Siyâsah yang lebih dikenal dengan sebutan Târîkh al-Khulafâ’, oleh Ibn Sa’ad dalam Thabaqât al-Kubrâ. Kemudian beliau menunjuk Abu Thalhah al-Anshari bersama lima puluh orang untuk menjaga mereka. Beliau menugasi Miqdad untuk memilih tempat bagi para calon itu mengadakan pertemuan.

Kemudian setelah Beliau wafat dan setelah para calon berkumpul, Abdurrahman bin ‘Awf berkata : “…. siapa diantara kalian yang bersedia mengundurkan diri dan bersedia menyerahkan urusannya untuk dipimpin oleh orang yang terbaik diantara kalian?” Semuanya diam. Abdurrahman bin ‘Awf berkata : ” aku mengundurkan diri.” Lalu Abdurrahman mulai meminta pendapat mereka satu persatu. Ia menanyai mereka, seandainya perkara itu diserahkan kepada masing-masingnya, siapa diantara mereka yang lebih berhak. Maka jawabannya terbatas pada dua orang : Ali dan Utsman. Setelah itu, Abdurrahman mulai merujuk kepada pendapat kaum muslim dengan menanyai mereka siapa diantara kedua orang itu (Ali dan Utsman) yang mereka kehendaki. Ia menanyai baik laki-laki maupun perempuan dalam rangka menggali pendapat masyarakat. Abdurrahman bin ‘Awf melakukannya siang dan malam. Imam Bukhari mengeluarkan riwayat dari jalan al-Miswar bin Mukhrimah yang berkata : “.. Abdurrahman mengetuk pintu rumahku pada tengah malam, Ia mengetuk pintu hingga aku terbangun, ia berkata : “aku lihat engkau tidur, dan demi Allah jangan engkau habiskan tiga hari ini dengan banyak tidur.” Yakni tiga malam. Ketika orang-orang melaksanakan shalat subuh, sempurnalah dilangsungkan bait kepada Utsman. Maka dengan baiat kaum muslim itu, Utsman menjadi Khalifah, bukan dengan penetapan Umar kepada enam orang.

Kemudian Utsman terbunuh. Lalu mayoritas kaum muslim di Madinah dan Kufah membaiat ‘Ali bin Abiy Thalib. Maka dengan baiat kaum muslim itu, Ali menjadi seorang Khalifah.

Dengan meneliti tata cara pembaiatan mereka –radhiyaLlâh ‘anhum– jelaslah bahwa orang-orang yang dicalonkan itu diumumkan kapada masyarakat. Dan jelas pula bahwa syarat in’iqad terpenuhi dalam diri masing-masing dari mereka. Kemudian diambil pendapat dari ahl al-halli wa al-’aqdi diantara kaum muslim, yaitu mereka yang merepresentasikan umat. Mereka yang dicalonkan itu dikenal luas pada masa Khulafa’ur Rasyidin, karena mereka adalah para sahabat –radhiyaLlâh ‘anhum– atau penduduk Madinah. Siapa yang dikehendaki oleh para sahabat atau mayoritas para sahabat, maka orang itu dibaiat dengan baiat in’iqad dan dengan itu ia menjadi Khalifah dan kaum muslim menjadi wajib untuk mentaatinya. Lalu kaum muslim secara umum membaiatnya dengan baiat taat. Demikianlah terwujud Khalifah dan ia menjadi wakil umat dalam menjalankan pemerintahan dan kekuasaan.

Inilah yang dapat dipahami dari apa yang terjadi pada baiat Khulafa’ur Rasyidin –radhiyaLlâh ‘anhum–. Dari sana juga terdapat dua perkara lain yang dapat dipahami dari pencalonan Umar kepada enam orang dan dari prosedur pembaitan Utsman. Dua perkara itu adalah : adanya amir sementara yang memimpin selama jangka waktu pengangkatan Khalifah yang baru dan pembatasan calon sebanyak enam orang sebagai jumlah paling banyak.
Amir Sementara

Ketika Khalifah merasa ajalnya sudah dekat menjelang kosongnya jabatan Khilafah pada waktunya, Khalifah memiliki hak menunjuk amir sementara untuk menangani urusan masyarakat selama jangka waktu proses pengangkatan Khalifah yang baru. Amir sementara itu memulai tugasnya langsung setelah wafatnya Khalifah. Tugas pokoknya adalah melangsungkan pemilihan Khalifah yang baru dalam jangka waktu tiga hari.

Amir sementara ini tidak boleh mengadopsi (melegislasi) suatu hukum. Karena pengadopsian hukum itu adalah bagian dari wewenang Khalifah yang dibaiat oleh umat. Demikian juga, Amir sementara itu tidak boleh mencalonkan untuk jabatan khilafah atau mendukung salah seorang calon yang ada. Sebab Umar bin Khaththab telah menunjuk amir sementara itu dari selain orang yang dicalonkan untuk menduduki jabatan khilafah.

Jabatan amir sementara itu berakhir dengan diangkatnya Khalifah yang baru. Karena tugasnya hanya sementara waktu untuk kepentingan pengangkatan Khalifah yang baru itu.

Dalil yang menunjukkan bahwa Suhaib merupakan amir sementara yang ditunjuk oleh Umar adalah :

Perkataan Umar kepada para calon : “agar Suhaib memimpin kalian selama tiga hari dimana kalian bermusyawarah.” Kemudian Umar berkata kepada Suhaib : “pimpinlah shalat orang-orang selama tiga hari.” Sampai Beliau berkata : ” jika lima orang telah sepakat terhadap satu orang, dan satu orang menolak maka penggallah lehernya dengan pedang ….” Ini artinya bahwa Suhaib telah ditunjuk sebagai amir bagi mereka. Ia telah ditunjuk sebagai amir shalat, dan kepemimpinan shalat maksudnya adalah kepemimpinan atas manusia. Dan juga karena ia telah diberi wewenang menjalankan uqubat (sanksi) “penggallah lehernya“, sementara tidak ada yang boleh melaksanakan pembunuhan itu kecuali seorang amir.

Perkara itu telah terjadi dihadapan para sahabat tanpa ada pengingkaran, maka ketentuan tersebut menjadi ijmak bahwa Khalifah memiliki hak menunjuk amir sementara yang melangsungkan pemilihan Khalifah yang baru. Berdasarkan hal ini, selama kehidupannya, Khalifah juga boleh mengadopsi pasal yang menyatakan bahwa jika Khalifah meninggal dunia dan belum menunjuk amir sementara untuk melangsungkan pengangkatan Khalifah yang baru, hendaknya salah seorang menjadi amir sementara.

Kami mengadopsi dalam masalah ini, jika Khalifah selama sakitnya menjelang maut tidak menunjuk amir sementara, hendaknya amir sementara itu adalah mu’awin tafwidh yang paling tua, kecuali jika ia dicalonkan. Maka berikutnya adalah mu’awin tafwidh yang lebih muda setelahnya diantara para mu’awin tafwidh. Demikianlah sampai semua mu’awin tafwidh, seterusnya adalah para mu’awin tanfidz dengan urutan seperti itu.

Hal itu juga berlaku dalam kondisi Khalifah diberhentikan. Amir sementara adalah mu’awin tafwidh yang paling tua jika ia tidak dicalonkan. Jika ia dicalonkan, maka mu’awin tafwidh yang lebih muda setelahnya, sampai semua mu’awin tafwidh habis. Kemudian mu’awin tanfidz yang paling tua. Jika semua mu’awin ingin mencalonkan diri (atau dicalonkan), maka mu’awin tanfidz yang paling muda harus menjadi amir sementara.

Ketentuan ini juga berlaku pada kondisi Khalifah berada dalam tawanan, meski ada beberapa detil berkaitan dengan wewenang amir sementara dalam kondisi Khalifah tertawan sementara terdapat kemungkinan bebas, dan dalam kondisi tidak ada kemungkinan bebas. Dan kami akan mengatur wewenang-wewenang ini dalam undang-undang yang akan dikeluarkan pada waktunya nanti.

Amir sementara ini berbeda dengan orang yang ditunjuk Khalifah untuk mewakilinya ketika ia keluar untuk melaksanakan jihad atau keluar melakuakn perjalanan sebagaimana yang diperbuat oleh Rasulullah setiap kali Beliau keluar untuk berjihad atau ketika Beliau melaksanakan Haji Wada’ atau yang semisalnya. Orang yang diangkat dalam kondisi ini, wewenangnya sesuai dengan yang ditentukan oleh Khalifah dalam menjalankan pengaturan berbagai urusan (ri’âyah asy-syu’un) yang dituntut oleh penunjukan wakil itu.
Pembatasan Jumlah Calon Khalifah

Dari penelitian terhadap tata cara pengangkatan Khulafa’ur Rasyidin, nampak jelas bahwa pembatasan jumlah calon itu benar-benar terjadi. Pada peristiwa Saqifah Bani Sa’idah, para calon itu adalah Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, dan Sa’ad bin Ubadah, dan dicukupkan dengan keempatnya. Akan tetapi, Umar dan Abu Ubaidah merasa tidak sepadan dengan Abu Bakar sehingga keduanya tidak mau bersaing dengan Abu Bakar. Maka pencalonan secara praktis terjadi diantara Abu Bakar dan Sa’ad bin Ubadah. Kemudian ahl al-halli wa al-‘aqdi di Saqifah memilih Abu Bakar sebagai Khalifah dan membaiatnya dengan baiat in’iqad. Pada hari berikutnya kaum muslim membaiat Abu Bakar di Masjid dengan baiat taat.

Abu Bakar hanya mencalonkan Umar, dan tidak ada calon lainnya. Kemudian kaum muslim membaiat Umar dengan baiat in’iqad lalu baiat taat.

Umar mencalonkan enam orang dan membatasinya pada mereka dan dipilih dari mereka satu orang sebagai Khalifah. Kemudian Abdurrahman bin ‘Awf berdiskusi dengan kelima yang lain dan akhirnya membatasi calon pada dua orang yaitu ‘Ali dan Utsman. Hal itu dilakukan setelah lima orang yang lain mewakilkan kepadanya. Setelah itu, Abdurrahman menggali pendapat masyarakat. Dan akhirnya suara masyarakat menetapkan Utsman sebagai Khalifah.

Adapun ‘Ali, tidak ada calon lain selain dia untuk menduduki jabatan khilafah. Maka mayoritas kaum muslim di Madinah dan Kufah membaiatnya dan jadilah ia sebagai Khalifah keempat.

Dan karena baiat Utsman di dalamnya telah terealisisasi : jangka waktu terpanjang yang dibolehkan untuk memilih Khalifah yaitu tiga hari dengan dua malamnya; dan demikian juga jumlah calon dibatasi sebanyak enam orang, kemudian setelah itu dijadikan dua orang, maka berikut akan kami sebutkan tata cara terjadinya peristiwa tersebut secara detil untuk mengambil faedah darinya :

1. Umar wafat pada Ahad subuh tanggal 1 Muharam 24 H sebagai akibat dari tikaman Abu Lu’lu’ah –la’anahuLlâh–. Umar tertikam dalam keadaan berdiri melaksanakan shalat di mihrab pada Rabu fajar empat hari tersisa dari bulan Dzul Hijjah 23 H. Suhaib mengimami shalat jenazah untuk Umar seperti yang telah Beliau pesankan.

2. Setelah selesai pemakaman jenazah Umar –radhiyaLlâh ‘anhu–, Miqdad mengumpulkan ahl syura yang telah dipesankan Umar di satu rumah. Abu Thalhah bertugas menjaga (mengisolasi) mereka. Mereka berenam duduk bermusyawarah. Kemudian mereka mewakilkan kepada Abdurrahman bin ‘Awf untuk memilih diantara mereka sebagai Khalifah dan mereka rela.

3. Abdurrahman mulai berdiskusi dan menanyai masing-masing : jika ia tidak menjadi Khalifah, siapa dari empat calon yang lain yang ia pandang sebagai Khalifah? Jawaban mereka tidak menentukan Ali dan Utsman. Dan berikutnya Abdurrahman membatasi perkara dengan dua orang (‘Ali dan Utsman) dari enam orang itu.

4. Setelah itu, Abdurrahman meminta pendapat masyarakat seperti yang sudah diketahui.

5. Pada malam Rabu yakni malam hari ketiga setelah wafatnya Umar pada hari Ahad, Abdurrahman pergi ke rumah Putra Saudarinya, al-Maysur bin Mukhrimah, dan dari sini saya nukilkan dari al-Bidâyah wa an-Nihâyah karya Ibn Katsir :

Ketika malam Rabu setelah wafatnya Umar, Abdurrahman datang ke rumah putra saudarinya, al-Maysur bin Mukhrimah, dan ia berkata : “apakah engkau tidur wahai Maysur? Demi Allah aku tidak tidur sejak tiga …” yakni tiga malam setelah wafatnya Umar hari Ahad subuh, artinya malam Senin, malam Selasa dan malam Rabu, sampai Abdurrahman berkata : “pergilah dan panggilkan Ali dan Utsman untukku…..Kemudian ia keluar ke masjid bersama Ali dan Utsman….Lalu ia menyeru kepada orang-orang secara umum : ash-shalâtu jâmi’ah (mari shalat berjama’ah). Saat itu adalah saat fajar hari Rabu. Kemudian Abdurrahman mengambil tangan ‘Aliy –radhiyaLlâh ‘anhu wa karamaLlâh wajhah– dan ia menanyainya tentang (kesediaan) dibaiat berdasarkan al-Kitab, Sunah Rasulullah dan perbuatan Abu Bakar dan Umar. Lalu Ali menjawabnya dengan jawaban yang sudah dikenal : berdasarkan al-Kitab dan as-Sunah, iya, sedangkan atas perbuatan Abu Bakar dan Umar, maka ia (Ali) akan berijtihad sesuai pendapatnya sendiri. Lalu Abdurrahman melepaskan tangan Ali. Berikutnya Abdurrahman mengambil tangan Utsman dan menanyai Utsman dengan pertanyaan yang sama. Lalu Utsman menjawah : “demi Allah, ya”. Dan sempurnalah dilangsungkan baiat kepada Utsman –radhiyaLlâh ‘anhu–.

Dan Suhaib mengimami shalat Subuh dan salat Dhuhur hari itu. Kemudian Utsman mengimami Shalat Ashar pada hari itu sebagai Khalifah kaum muslim. Artinya, meskipun baiat in’iqad kepada Utsman dimulai ketika shalat subuh, namun kepemimpinan Suhaib belum berakhir kecuali setelah terjadi baiat ahl al-hall wa al-‘aqd di Madinah kepada Utsman yang selesai dilakukan menjelang shalat Ashar. Karena para sahabat berdesak-desakan untuk membaiat Utsman sampai setelah tengah hari dan menjelang shalat Ashar. Baiat itu selesai dilakukan menjelang shalat Ashar. Maka saat itu berakhirlah kepemimpinan Suhaib dan Utsman menjadi imam shalat Ashar dalam kapasitasnya sebagai Khalifah kaum muslim.

Penulis al-Bidâyah wa an-Nihâyah (Ibn Katsir) menjelaskan kenapa Suhaib masih mengimami shalat Dhuhur, dan sudah diketahui bahwa baiat kepada Utsman telah sempurna dilangsungkan pada waktu fajar. Ibn Katsir berkata :

“… orang-orang membaiat Utsman di Masjid, kemudian Utsman pergi ke Dar Syura (yakni rumah tempat berkumpulnya ahl syura), dan sisa manusia yang lain membaiat Utsman di tempat itu. Dan seakan baiat itu baru selesai (sempurna) setelah shalat Dhuhur. Suhaib pada hari itu mengimami shalat Dhuhur di Masjid Nabawi. Sedang shalat pertama kali yang dilaksanakan oleh Khalifah Amîr al-Mu’minîn Utsman mengimami masyarakat adalah shalat Ashar….”.

Dalam hal ini terdapat perbedaan (dalam beberapa riwayat) mengenai hari tertikamnya Umar dan hari dibaiatnya Utsman…. akan tetapi kami sebutkan yang lebih kuat diantara riwayat yang ada.

Atas dasar ini, beberapa perkara berikut wajib diambil sebagai ketentuan saat pencalonan khilafah setelah Khalifah sebelumnya lengser baik karena meninggal dunia atau di copot, yaitu :

1. aktivitas berkaitan dengan masalah pencalonan hendaknya dilakukan pada malam dan siang hari pertama.

2. Pembatasan calon dari sisi terpenuhinya syarat in’iqad. Hal ini dilakukan oleh Mahkamah Mazhalim.

3. Pembatasan jumlah calon yang layak dilakukan dua kali : pertama, dibatasi sebanyak enam orang, dan kedua dibatasi menjadi dua orang. Pihak yang melakukan dua pembatasan ini adalah Majelis Umat dalam kapasitasnya sebagai wakil umat. Karena umat mendelegasikan kepada Umar, lalu Umar menetapkannya enam orang. Dan enam orang itu mendelegasikan kepada Abdurrahman dan setelah melalui diskusi dibatasi menjadi dua orang. Referensi semua ini adalah sebagaimana yang sudah jelas adalah umat atau yang mewakili umat.

4. Wewenang amir sementara berakhir dengan berakhirnya proses baiat dan pengangkatan Khalifah, bukan dengan pengumuman hasil pemilihan. Suhaib belum berakhir kepemimpinannya dengan terpilihnya Utsman akan tetapi dengan selesainya baiat.

Sesuai dengan yang sudah dijelaskan, akan dikeluarkan undang-undang yang menentukan tata cara pemilihan Khalifah selama dua malam tiga hari. Undang-undang untuk itu telah dibuat dan akan selesai didiskusikan dan diadopsi pada waktunya nanti.

Ini jika sebelumnya terdapat Khalifah yang meninggal atau dicopot. … dan hendak direalisasikan Khalifah baru menggantikannya. Adapun jika sebelumnya belum terdapat Khalifah, maka wajib bagi kaum muslim menegakkan seorang Khalifah bagi mereka, untuk menerapkan hukum-hukum syara’ dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. Kondisi itu seperti kondisi yang ada sejak lenyapnya Khilafah Islamiyah di Istanbul pada tanggal 28 rajab 1342 H bertepatan dengan 3 Maret 1924 M. Setiap negeri dari berbagai negeri yang ada di dunia Islam layak untuk membaiat Khalifah dan mengakadkan jabatan khilafah. Maka saat itu menjadi wajib bagi kaum muslim di seluruh negeri untuk membaiatnya dengan baiat taat. Yakni baiat keterikatan setelah terakadkan kepadanya dengan baiat penduduk negeri itu, asalkan negeri itu memenuhi empat syarat berikut :

1. Kekuasaan negeri itu haruslah kekuasaan yang bersifat independent yang hanya bersandar kepada kaum muslim saja. Tidak bersandar kepada satu negara kafir atau kekuasaan kafir manapun.

2. Keamanan kaum muslim di negeri itu adalah kemanan Islam, bukan keamanan kufur. Yakni hendaknya perlindungan baik dari dalam negeri maupun luar negeri merupakan perlindungan Islam berasal dari kekuatan kaum muslim sebagai kekuatan Islam saja.

3. Hendaknya penerapan Islam dilakukan secara langsung dan sekaligus dan secara sempurna sebagai penerapan yang bersifat revolusioner dan menyeluruh (tathbîqan inqilâbiyan syâmilan) dan langsung mengemban dakwah Islamiyah

4. Khalifah yang dibaiat harus memenuhi syarat in’iqad khilafah meskipun tidak memenuhi syarat afdhaliyah. Karena yang wajib adalah syarat in’iqad.

Jika negeri itu memenuhi keempat hal di atas, maka hanya dengan baiat negeri itu saja, khilafah sungguh telah terwujud dan terakadkan. Khalifah yang mereka baiat dengan baiat in’iqad secara sah merupakan Khalifah yang syar’i dan tidak sah baiat kepada yang lain.

Setelah itu, negeri lain manapun yang membaiat Khalifah yang lain maka baiat itu tidak sah dan batil. Karena Rasulullah saw pernah bersabda :

Jika dibaiat dua orang Khalifah maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya

.. penuhilah baiat yang pertama lalu yang pertama

Siapa saja yang telah membaiat seorang imam lalu ia telah memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, dan jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya maka penggallah orang lain itu (HR. Muslim)
Tata Cara Baiat

Telah kami jelaskan dalil-dalil baiat dan bahwa baiat adalah metode pengangkatan Khalifah dalam Islam. Adapun tata caranya, baiat bisa dilakukan dengan berjabat tangan dan bisa juga dengan tulisan. Abdullah bin Dinar telah menyampaikan hadits, ia berkata :

Aku menyaksikan Ibn Umar dimana orang-orang telah bersepakat untuk membaiat Abdul Malik bin Marwan, ia berkata bahwa dia menulis : “aku berikrar untuk mendengarkan dan mentaati Abdullah Abdul Malik bin Marwan sebagai amirul mukminin atas dasar kitabullah dan sunah rasul-Nya dalam hal yang aku mampu.”

Baiat itu boleh dilakukan dengan sarana apapun yang memungkinkan.

Hanya saja disyaratkan agar baiat itu dilakukan oleh orang yang sudah balig. Baiat tidak sah dilakukan oleh anak-anak yang belum baligh. Abu ‘Uqail Zuhrah bin Ma’bad telah menyampaikan hadits dari kakeknya Abdullah bin Hisyam yang pernah berjumpa dengan Nabi saw : Abdullah pernah dibawa ibunya Zainab binti Humaid, kepada Rasulullah saw. Ibunya berkata : “ya Rasulullah saw terimalah baiatnya!” Lalu Nabi saw bersabda : “ia masih kecil“. Dan beliau mengusap kepalanya dan mendoakannya (HR. Bukhari).

Adapun lafazh baiat, tidak disyaratkan terikat dengan lafazh-lafazh tertentu. Akan tetapi harus mengandung makna sebagai baiat untuk mengamalkan Kitabullah dan sunah Rasul-Nya bagi Khalifah dan harus mengandung makna kesanggupan untuk mentaati dalam keadaan sulit atau lapang, disenangi atau tidak disenangi bagi orang yang memberikan baiat. Nanti akan dikeluarkan undang-undang yang membatasi redaksi baiat sesuai penjelasan sebelumnya.

Manakala pihak yang membaiat telah memberikan baiatnya kepada Khalifah, maka baiat itu menjadi amanah diatas pundak pihak yang membaiat dan tidak diperbolehkan mencabutnya. Baiat ditinjau dari sisi pengangkatan khilafah merupakan hak yang harus dipenuhi. Jika baiat itu telah diberikan, maka ia wajib terikat dengannya. Kalau pihak yang memberikan baiat itu ingin menariknya kembali maka hal itu tidak diperbolehkan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Jabir bin Abdullah –radhiyaLlâh ‘anhu– bahwa seorang arab badui telah membaiat Rasulullah saw untuk menetapi Islam. Kemudian ia menderita sakit, lalu ia berkata : “kembalikan baiatku kepadaku!” Beliau menolaknya, lalu orang itu pergi. Lantas Beliau bersabda :

“Madinah ini seperti tungku (tukang besi) yang bisa membersihkan debu-debu yang kotor dan membuat cemerlang yang baik.”

Diriwayatkan dari Nafi’ yang berkata : “Abdullah bin Umar pernah mengatakan kepadaku : “aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda :

Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia pasti menjumpai Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah (HR. Muslim)

Membatalkan baiat kepada Khalifah sama artinya dengan melepaskan tangan dari ketaatan kepada Allah. Hanya saja ketentuan itu berlaku jika baiat kepada Khalifah itu adalah baiat in’iqad atau merupakan baiat taat kepada Khalifah yang telah sah baiat in’iqad kepadanya. Adapun jika baiat itu baru permulaan lalu baiat tersebut belum sampai sempurna, maka pihak yang membaiat boleh melepaskan baiatnya dengan syarat baiat in’iqad dari kaum muslim kepada Khalifah itu belum sempurna. Larangan dalam hadits itu berlaku untuk orang yang menarik kembali baiat Khalifah, bukan menarik kembali baiat kepada seseorang yang belum sempurna jabatan khilafahnya.

Ma’al Hadits Syarif: Kewajiban Manusia Ketika Melihat Kemungkaran May 10, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , ,
add a comment

Posted: 08 May 2009 04:40 PM PDT

Allah SWT. berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya. Kemudian Allah akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Maidah [5] : 105).

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Wahai sekalian manusia, sungguh kalian semua telah membaca firman Allah ini:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya. Kemudian Allah akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Maidah [5] : 105).

Dan sungguh kami telah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia apabila mereka telah melihat kemungkaran, namun mereka tidak berusaha mengubahnya, maka hampir Allah akan menjatuhkan hukuman-Nya kepada mereka semua—yang melakukan kemungkaran dan yang melihatnya namun tidak berusaha merubahnya”. (Sunan Ibnu Majah, 12/158)

Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala berkata: Di dalam ayat ini terdapat banyak pelajaran yang besar sekali faidahnya.

Pertama, orang yang beriman tidak perlu takut kepada orang-orang kafir dan munafik, sebab mereka tidak akan pernah memberikan mudharat (membahayakan) kepada dirinya, apabila ia telah mendapatkan petunjuk.

Kedua, orang yang beriman tidak perlu sedih dan gelisah melihat sepak terjang mereka, sebab kemaksiatan yang mereka lakukan tidak akan membahanyakan dirinya, apabila ia telah mendapatkan petunjuk. Sedangkan sedih atas sesuatu yang tidak membahayakan dirinya adalah perbuatan sia-sia. Kedua pengertian ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. (QS. An-Nahl [16] : 127).

Ketiga, orang yang beriman jangan sampai mendukung mereka, dan jangan pula terpedaya dengan apa yang mereka janjikan atau berikan, seperti kekuasaan, kekayaan, dan kesenangan dunia lainnya.

Keempat, orang yang beriman jangan sampai memusuhi para pelaku maksiat melebihi apa yang telah disyari’atkan Allah, misalnya dalam membencinya, mencelanya, melarangnya, mengisolasinya, atau dalam menghukumnya. Sebab, tidak sedikit di antara mereka yang melakukan amar makruf nahi munkar yang terkadang melanggar apa yang telah ditetapkan Allah, baik hal itu dilakukan karena kebodohannya maupun kezalimannya. Dan ketentuan Allah dalam hal ini harus dijadikan pegangan dalam mengingkari orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang fasik, dan orang-orang yang bermaksiat.

Kelima, orang yang beriman akan melakukan amar makruf nahi munkar seperti yang disyari’atkan Allah, seperti berdasarkan ilmu, lemah lembut, sabar, bertujuan baik, dan dilakukan dengan terarah dan terencana.

Kelima hal ini dipahami dari ayat tersebut, dan harus dimiliki oleh siapa saja yang hendak melakukan amar makruf dan nahi munkar.

Sehingga bagi siapapun yang telah memutuskan diri untuk menjadi pengemban dakwah, yang menyerukan tegaknya agama Allah, maka ia harus mengerti dasar-dasar dakwah, dan dasar-dasar amar makruf nahi munkar. Dasar-dasar tersebut haruslah diambil dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Dalam berdakwah harus konsisten mengikuti thariqah (metode) Rasulullah dalam mengemban dakwah, dan sedikit pun jangan sampai menyimpang darinya, karena metode itu wahyu dari Allah SWT. Metode itu telah menuntut untuk terus mendalami akidah Islam dan hukumnya; berinteraksi bersama masyarakat dengan melakukan pergolakan pemikiran, perjuangan politik, mencari dukungan untuk mendapatkan mandat kekuasaan, dan menegakkan hukum Allah dengan terlebih dahulu mendirikan Daulah Islam.

Ya Allah, berilah taufik, petunjuk, dan pertolongan kepada mereka yang dengan ikhlas berusaha dan bekerja mengikuti metode nabi-Mu, demi tegaknya hukum Allah di muka bumi, dengan mendirikan Khilafah yang kedua, yaitu Khilafah yang berdiri di atas metode kenabian (‘ala minhajin nubuwah).

(Sumber: Hizb ut-Tahrir info)

JENAZAH MELEKAT DI KERANDA April 19, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

I. Single Mother dari enam anak

Silih bergantinya kesedihan dan kegembiraan adalah keniscayaan. Tak ubahnya pertemuan yang merindukan perpisahan. Semua selalu berubah dan menemui titik akhir. Bagai siang yang selalu bertukar peran dengan malam. Ungkapan itu, mungkin pas untuk menggambarkan kehidupan rumah tangga Partini (nama samaran, 40 thn). Seorang wanita setengah baya yang terpaksa menjanda karena ditinggal mati suaminya.

 

Dua puluh lima tahun sudah Partini mengarungi bahtera rumah tangga bersama Darmaji (nama samaran, 50 thn), seorang pembuat kusen yang menikahinya saat masih berumur 15 tahun. Perkawinan mereka dikaruniai enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Namun, umur sesorang memang susah ditebak. Saat mereka sedang bahagianya menikmati hidup, Darmaji yang sudah lama mengidap asma, pergi untuk selama-lamanya.

 

Jiwa ibu Partini terguncang. Kepergian suaminya dirasakan begitu cepat. Bagaimana tidak, saat suaminya masih hidup saja, kondisi ekonomi keluarganya masih morat-marit. Apalagi, ia hanya seorang diri menghidupi keenam anaknya. Sempat terbesit harapan kepada anaknya yang sulung, Farhat (nama samaran, 23 thn). Tapi alih-alih membantu, si anak malah lebih asyik menekuni hobinya bermain burung merpati untuk aduan.

 

Demi mencukupi kebutuhan keluarga, ibu Partini mencoba membuka warung kecil-kecilan. Modal awal, ia peroleh dari rentenir yang biasa memberikan pinjaman dengan bunga tinggi. Namun sayang, banyak warga setempat banyak yang tidak berminat membeli ke warungnya. Alasannya Cuma satu, harga yang ditawarkan ibu Partini terlalu mahal bila dibandingkan dengan warung lain. Bagi orang yang tahu, mungkin sedikit bisa memahami. Ibu Partini terpaksa melakukan semua itu, untuk menutupi utangnya di rentenir.

 

Di sisi lain, ibu Partini tidak memiliki pengalaman dalam bidang wirausaha, sehingga memperparah kegagalannya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keinginan ibu Partini menangguk keuntungan, musnah sudah.

 

”Setahu saya, sejak kematian suaminya, ibu Partini membuka warung kecil-kecilan di rumahnya. Tapi, itu hanya berjalan beberapa bulan. Sebab, banyak warga memilih belanja ke tempat lain yang harganya lebih murah. Saya sendiri sempat membeli rokok di warungnya. Harganya memang cukup mahal,” ujar Nuryanto (28 thn).

 

Kegagalan pertama tak membuat ibu Partini menyerah. Apalagi, bunga pinjamannya semakin hari semakin bertambah. Lalu, ia mencoba melamar sebagai buruh di pabrik sepatu. Kebetulan, lokasinya berdekatan dengan tempatnya tinggal. Namun sayang, keinginannya ditolak dengan alasan umurnya yang tak lagi muda. Sampai akhirnya, bibinya yang berjualan nasi di dekat pabrik, memintanya untuk membantu.

 

Penghasilan ibu Partini memang jauh dari cukup. Bisa dibilang, anak-anaknya hanya bisa makan satu kali sehari. Kalau pun dua kali, semua atas kebaikan bibinya yang memberikan nasi dan lauk sisa yang tidak habis terjual. Untungnya, tiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil, diasuh oleh ibu Mertuanya di Boyolali.

 

Rasa frustasi tak urung menghigapi ibu Partini. Begitu berat beban yang harus ia tanggung. Rasa itu semakin tak tertahan, tatkala melihat kelakuan anak sulungnya yang malas-malasan. Anaknya memang pernah bekerja, tapi cepat bosan dan keluar dengan alasan yang macam-macam.

 

”Anak laki-laki ibu Partini yang paling tua, merupakan adik teman saya. Saya kenal, tapi tidak terlalu akrab. Kata adik saya, orangnya itu cepat bosan sama kerjaan. Tapi di sisi lain, orangnya sangat suka dengan burung merpati aduan. Ibu Partini dan bibinya, sudah beberapa kali menasihati, tapi tetap saja tidak mau berubah,” ujar Nuryanto menambahkan.

 

Kondisi demikian, membuat ibu Partini putus asa dan bersikap masa bodoh dengan ketiga anak laki-lakinya. Baginya, mereka sudah cukup besar untuk diperhatikan.

 

 

II. Hamil diluar nikah

Dua tahun menjalani kesendirian, membuat ibu Partini merindukan kembali pendamping hidup. Ia kerap kali terlihat para tetangga, pergi keluar rumah dan pulang hingga larut malam. Warga setempat yang penulis temui, tak satu pun yang bisa memastikan kemana ibu Partini waktu itu pergi. Tapi yang pasti, tidak lama berselang, rumahnya sering dikunjungi seorang lelaki setengah baya.

 

Setiap kali para tetangga bertanya, jawaban ibu Partini selalu sama ”Dia bukan siapa-siapa. Saya dan dia masih punya hubungan saudara.” Lelaki yang bernama Suryo (42 thn) itu, biasanya datang menjelang Magrib. Dia terlebih dahulu melakukan shalat di mushola, sebelum datang ke rumah Partini. Beberapa warga pernah menanyakan maksud dan tujuannya. Dia mengaku hanya sekedar silaturahmi, sebagaimana layaknya saudara. Waktu itu, tidak ada kecurigaan sedikit pun dari warga.

 

Kebohongan mereka akhirnya terkuak. Tanpa sengaja, Farhat pernah memberitahukan seorang temannya, kalau Suryo sama sekali tidak ada hubungan kerabat dengan keluarganya. Statusnya adalah duda bernak dua yang sedang menjalin kasih dengan ibunya.

 

Namanya juga gosip, makin digosok makin sip. Warga yang sudah mengetahui duduk perkaranya menjadi resah. Jangan-jangan ada apa-apa! Sebab, selama ini Suryo diketahui warga sering menginap di rumah Partini. Bahkan, bisa sampai berhari-hari.

 

Ketua RT setempat yang mendapat laporan, mencoba menanyakan kebenaran informasi dari warga. Setelah diinterogasi, Partini bercerita kalau ia bertemu Suryo di suatu tenpat, dan akhirnya suka sama suka. Lantas ketua RT memberikan nasehat dan menyarankan agar mereka menikah saja secara resmi. Tujuannya untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, sudah banyak warga yang marah dan ingin menghakimi mereka. Tapi sayang, Suryo tidak bisa menyanggupi. Alasannya, pekerjaannya sebagai buruh tani, tidak bakal mencukupi untuk menghidupi delapan orang anak, dua dari perkawinannya dulu dan enam dari Partini.

 

Nasehat ketua RT yang mewakili aspirasi warga dianggap angin lalu. Pak Suryo masih saja berkunjung dan menginap di rumah Partini. Samapi suatu ketika, warga sudah demikian muak, termasuk anak pertama dan kedua ibu Partini. Kira-kira jam dua belas siang, Partini dan Suryo yang sednag asyik di dalam kamar, digrebek. Pak Suryo yang lolos melalui pintu belakang menuju arah utara. Warga yang amarahnya sudah memuncak, tetap mengejarnya. Akhirnya, Suryo tertangkap di tengah-tengah pematang sawah dan sempat dihakimi warga.

 

”Sebenarnya, maksud penggerebekan semata-mata agar Pak Suryo mau mempertanggung jawabkan perbuatannya,” jelas Nuryanto yang menjadi saksi mata kejadian tersebut.

 

Para warga mengarak Suryo berkeliling kampung dan membawanya ke rumah Sekretaris Desa (Sekdes). Salah seorang warga diminta oleh Bapak Sekretaris Desa menghubungi polisi untuk menangani perkara itu. Meski sudah berulang kali dipaksa bertanggung jawab, Suryo tetap tidak mau. Dia berasalan, kalau semua yang dilakukan atas kehendak Partini. Sejak kejadian itu, Suryo jera dan tidak pernah datang lagi.

 

”Hasil hubungan gelapnya dengan Pak Suryo, ibu Partini melahirkan seorang anak. Karena malu mempunyai anak tanpa suami dan merasa tidak sanggup menghidupinya, Ibu Partini lantas memberikan anaknya ke seorang pemulung. Kejadian itu membuat warga gemas dan menganggap ibu Partini sudah tidak bermoral,” tambah Nuryanto yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar di sebuah pondok pesantren.

 

Watak manusia memang sulit berubah. Kata insyaf sudah tidak ada lagi dalam kamus kehidupan Ibu Partini. Ia kembali sering keluar rumah. Perilakunya yang dulu kambuh lagi. Hasilnya, ia kembali mengandung dan melahirkan anak diluar nikah. Namun lagi-lagi, tanpa beban dan perasaan bersalah, ia kembali memberikan anaknya kepada orang lain. Rasa keibuannya benar-benar telah hilang. Astagfirullah hal’Adzim.

 

Tidak berhenti sampai disitu, ia kembali berbuat ulah di desanya. Dua orang buruh pabrik yang mengontrak di samping rumahnya diajak untuk berbuat asusila. Kejadian itu dipergoki seorang warga yang merasa heran, di kontrakan yang semuanya laki-laki itu, terdengar suara Partini.

 

Saat itu, dia tidak terlalu ambil peduli, karena sedang bergegas ke mushala untuk shalat Magrib. Waktu dia pulang dan melintasi jalan yang sama, ternyata rumah kontrakan yang tadi terang, kini sudah gelap gulita. Mengetahui gelagat yang mencurigakan, kemudian dia melapor kepada ketua RT dan warga desa. Ibu Partini kembali tertangkap basah berbuat asusila. Perkara itu semakin mencoreng namanya di mata warga desa.

 

”Warga desa sudah mencapnya sebagai wanita lacur. Meski sudah tua, tapi tidak tahu diri. Hebohnya lagi, tahu-tahu terdengar kabar kalau ibu Partini sednag mengandung. Warga desa bertanya-tanya, masak usia empat puluh masih bisa hamil. Pertanyaan lain, dengan siapa ibu Partini berhubungan. Ternyata, kejadian dikontrakan itulah penyebabnya,” cerita Nuryanto.

 

Memasuki usia empat bulan kandungan, ibu Partini mengalami pendarahan hebat. Sepertinya, rahimnya tak lagi mampu menahan beban yang teramat berat. Ia kehabisan banyak darah dan tak tertolong lagi. Saat meninggal, seluruh badannya menghitam dan raut wajahnya memancarkan seseorang yang sedang ketakutan.

 

 

III Jenazah melekat di keranda

Proses pemandian dan pengkafanan jenazah ibu Partini sudah selesai dilakukan. Suasana rumah duka tampak tidak terlalu ramai. Satu dua orang datang silih berganti, terkesan mereka tidak ingin berlama-lama di sana. Mungkin, akibat perilaku selama hidupnya yang sangat buruk. Tak terdengar riuh tangis pilu yang biasa menghiasi kematian seseorang. Keenam anak-anaknya lebih banyak diam, tersirat di wajah mereka rasa kecewa dan malu atas perilaku ibunya.

 

”Lingkunagn di sini masih mempunyai toleransi yang tinggi. Meski pun perilaku ibu Partini terbilang bejat dan keterlaluan, masih ada warga yang meyempatkan diri untuk takziah ke rumahnya. Tapi sehabis menshalatkan, kebanyakan dari mereka langsung pulang. Padahal, biasanya tidak seperti itu,” ujar H.Yakub (39 thn) yang turut bertakziah.

 

Waktu jenazah sudah dishalatkan dan akan dibawa ke kuburan, terjadi keanehan. Warga desa yang mengangkat keranda menuju kuburan, merasakan bobot yang dipikulnya berat sekali.

 

”Saya memperkirakan, ada sekitar sepuluh orang yang mengangkatnya. Sampai-sampai, sisi-sisi keranda untuk dipikul tidak menyisakan ruang, karena saking banyaknya yang memikul,” tambah H.Yakub.

 

Beberapa warga desa sudah mempunyai firasat buruk. Pasalnya, keranda yang hanya terbuat dari bambu tersebut, beratnya di luar kebiasaan. Bahkan, langkah-langkah kaki orang yang memikul, terasa terbebani sesuatu yang maha berat.

 

Kejadian lain berlanjut. Jenazah Partini yang hendak dimasukkan ke dalam kubur, waktu akan diangkat, sama sekali tidak bisa. Benar-benar tidak bisa! Jenazah seakan-akan merekat kuat dengan keranda yang menjadi alat pembawanya. Berulangkali dicoba, tetap saja jenazah Partini tidak bergeming. Bergeser sedikit pun tidak bisa.

 

Orang-orang yang menyaksikan terheran-heran dan bingung. Seperti ada lem yang maha kuat yang menyatukan jenazah Partini dengan keranda. Beberapa orang berinisiatif membaca ayat-ayat suci al-Quran yang diperkirakan bisa membantu, tidak juga membawa hasil.

 

”Kejadian itu berlangsung kira-kira sampai satu jam. Semua orang bingung. Lalu, karena berbagai cara telah dicoba dan tidak membawa hasil, akhirnya pihak keluarga yang berduka, meminta penggali kubur untuk memperbesar lebar kubur dan liang lahatnya seukuran keranda bambu itu.

 

”Mereka terlihat sudah putus asa. Jadi diambil keputusan, jenazah ibu Partini dikubur saja beserta kerandanya. Kalau menurut saya, keputusan itu lebih disebabkan pihak keluarga yang sudah terlalu malu dengan perilaku ibu Partini semasa hidup,” jelas H.Yakub yang ikut menyaksikan kejadian itu.

 

Warga desa menjadi gempar. Orang-orang yang tadinya tidak ikut mengubur, berbondong-bondong datang ingin menyaksikan. Mereka penasaran mendengar berita yang benar-benar tidak bisa dinalar oleh akal itu.

 

Pada akhirnya, warga yang selama ini sudah mengetahui perilaku buruk Partini semasa hidup, hanya bisa mengucap istigfar. Sebab, apa pun yang dikehendaki oleh Allah, sesuatu yang mustahil bisa saja terjadi. Mungkin, itulah balasan bagi orang yang berbuat zinah dan menelantarkan anak hasil hubungan gelapnya. Wallahu’alam.

MENCINTAI ULAMA, MENINGGAL DALAM KEADAAN MULIA April 19, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

I. Awal Cerita

Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah swt tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan maupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barang siapa memiliki hati yang shaleh, maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertaqwa”. (HR. Ath-Thabrani dan Muslim)

 

            Hari kamis sore itu-lima puluh tahun yang lalu. H. Sholeh (58 thn) tengah asyik berkumpul bersama anak-anak dan isterinya. Mereka sedang melepas lelah setelah seharian bekerja. Rumahnya berada diantara deretan rumah penduduk yang padat, namun bersih dan sejuk serta tidak jauh dari jalan raya. Menjelang sinar matahari menghilang beliau makan bersama keluarganya. Badannya yang sehat tidak membuatnya pantang makanan tertentu.

 

            Selesai makan, adzan maghrib berkumandang. H. Sholeh segera bergegas mengambil air wudhu. Anggota keluarganya diingatkan untuk sholat maghrib berjamaah. Tak berapa lama dia pergi ke masjid yang jaraknya dekat dari rumah, dengan harapan agar bisa mendapatkan  shaf (barisan) pertama dibelakang imam. Waktunya banyak dihabiskan dimasjid, memang seperti itu kebiasaannya sejak dulu.

Selepas menunaikan shalat maghrib , lelaki kelahiran Bangkalan Madura itu kembali kerumahnya. Untuk mengisi kekkosongan waktu ia berbincang-bincang dengan anaknya, barangkali mereka punya masalah atau sekedar mendengarkan “curhatnya” (curahan hati). Keluarganya benar-benar harmonis, H. Sholeh bisa dikatakan seorang bapak yang sangat memperhatikan putra-putrinya.

 

            Tak terasa adzan isya pun mengalun keras menggetarkan jiwanya. Seketika dia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sorban untuk menunaikan shalat isya di masjid. Udara dingin kota Malang mulai berhembus pelan, H. Sholeh masih memiliki satu kegiatan sebelum merebahkan badannya di tempat tidur. Dia harus memimpin jamaah tahlil rutin di kampungnya setiap malam jum’at. Anggota keluarganya sudah mengetahui aktivitas tersebut. Tanpa meninggalkan pesan sedikitpun, dia ringan melangkahkan kakinya ke rumah salah satu warga yang malam itu mendapatkan giliran sebagai tuan rumah acara tahlil.

 

            Bapak Abdul selaku tuan rumah mempersilahkan jamaah yang datang duluan agar mengisi tempat didalam. Dia menyambut kedatangan H. Sholeh dengan senang hati, demikian pula dengan H. Sholeh yang senantiasa ramah dengan orang yang ditemuinya. Satu persatu jamaah tahlil lainnya mulai berdatangan memenuhi ruangan depan rumah bapak Abdul. Setelah dirasa semua anggota telah hadir, acarapun dimulai.

Susunan acara berjalan dengan lancar satu demi satu, H. Sholeh sebagai salah satu pengurus jamaah tahlil memberikan sambutan dan ceramah sebagaimana lazimnya. Dia mengingatkan agar jamaah tahlil yang sudah berjalan lama supaya tidak berhenti ditengah jalan. Maksudnya jangan sampai bubar, untuk itulah dia menginginkan diantara anggotanya tetap menjaga persatuan. Selanjutnya acara ditutup dengan do’a dan ramah tamah.

 

            Tuan rumah mengeluarkan hidangan makanan untuk menjamu jamaah, beragam jenis kue dan snack tersaji, tak ketinggalan minuman disuguhkan. Obrolan jamaah berjalan kesana-kemari, suasanya akrab. Beberapa menit kemudian kira-kira pukul sembilan seperempat, H. Sholeh yang masih duduk bersilah, kepalanya menunduk pelan kedepan. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya namun nafasnya agak sedikit berat seperti orang hendak tidur. Dia kehilangan keseimbangan lalu jatuh kepangkuan orang yang duduk disebelah kanannya.

 

Anggota jamaah lainnya yang hendak menikmati makanan tersentak kaget. Terjadi kegaduhan sekaligus kekhawatiran, mereka menanyakan apa yang sedang terjadi pada diri H. Sholeh, kebetulan di sebelah kanan tempat duduk H. Sholeh ada seorang mantri yang bekerja di rumah sakit, Bapak Yono. Yono segera memeriksa dan menyarankan agar H. Sholeh dibawa ke rumah sakit terdekat.

 

            “Saya melihat ada tanda-tanda bapak telah meninggal dunia, sebab kakinya sudah dingin. Karena takut mati suri atau khawatir tuan rumah nanti yang disalhkan, akhirnya bapak dibawa ke rumah sakit, padahal bapak sudah wafat”, tutur Abdurrahim (40 tahun), salah seorang anak H. Sholeh. Dugaan anaknya ternyata benar, jamaah yang berjumlah 70 orang yang hadir pada malam itu  tidak menyangka kalau H. Sholeh akan cepat pulang kepangkuan ilahi rabbi tanpa meninggalkan isyarat apapun. Jamaah akhirnya secara bersamaan melayat ke rumah almarhum untuk mendoakannya. Banyak orang yang terkejut dengan kepergiannya yang terkesan mendadak. Mengingat hari sudah malam, jenazah disemayamkan dirumahnya. Keesokan harinya selepas shalat Jum’at, masyarakat berbondong-bondong mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Antusias masyarakat yang sangat tinggi menunjukkna kalau mereka memiliki hubungan yang sangat baik dengan almarhum.

 

            “Beliau meninggal dunianya bisa dikatakan dalam keadaan mulia, karena berada ditempat yang baik, yakni acara jamaah tahlil dan kejadiannya malam Jum’at. Semua itu karena mungkin beliau memiliki keistimewaan tersendiri. Meski ilmunya pas-pasan atau seadanya tapi beliau mau mengamalkan”, kata ustad Zaenal Fanani (35 tahun), saksi mata yang duduk di sebelah kiri almarhum.

 

Menurut pengakuan keluarganya, selama hidup beliau tidak pernah mengeluh atau mengalami sakit parah yang mengharuskannya pergi ke rumah sakit, seperti mengidap penyakit jantung. Kalaupun sakit, umumnya pilek yang mengganggu tenggorokannya dan hidungnya karena kecapeaan, kurang istirahat maupun perubahan cuaca. Almarhum memang pandai membagi waktu menjaga kesehatan fisik dan mengatur makannya. Berita wafatnya jelas membuat keluarganya shock berat, seakan mereka masih tak percaya dengan kenyataan yang terjadi, namun apa mau dikata, Tuhan Maha Tahu segala hikmahnya.

 

II. Menjamu Ulama

            H. Sholeh Muslih yang bernama asli Marhawi adalah orang madura, isterinya dua, satu bernama Mariah yang mempunyai sepuluh anak dan dari isteri kedua, dia memiliki delapan putera puteri. H. Sholeh yang biasa dipanggil abah diakui anggota keluarganya memiliki sifat adil dan bijaksana yang benar-benar diterapkan kepada siapa saja. Kenyataannya hampir seluruh kebutuhan dua keluarganya dipenuhi dan hingga sekarang hubungan mereka sangat rukun.

 

            “Abah mengutamakan pendidikan agama kepada anak-anaknya, menurut beliau kalau ilmu agama sudah dipegang, dunia bisa ikut dan berwibawa dimata masyarakat”, tutur Abdurrahim, anak kedua dari isteri tuanya.

 

H. Sholeh dibesarkan dikota yang terkenal dengan tradisi Karapan Sapinya, baginya tanah Madura gersang. Tidak ada pilihan lain selain merantau (hijrah). Dia mencari rezeki sambil berdakwah menyebarkan agama Islam di kota Malang. Lelaki yang pernah belajar di pesantren ini termasuk pekerja keras, untuk menghidupi keluarganya dia berdagang apa saja asalkan halal.

 

            Awalnya dia mulai menjual beragam jenis pakaian dan aneka macam plastik. Tentu banyak kendala yang dihadapinya, seperti sepinya pembeli, maklum pedagang baru, sehingga penghasilannya kurang memenuhi kebutuhan harian keluarganya. Namun dia pantang menyerah, jiwa merantau dan mengusung misi dakwahnya tetap menyala. Setiap orang yang singgah di tokonya akan diberi wejangan (nasihat) singkat. Umpamanya dia mengingatkan pembeli agar menyisihkan sedikit uang untuk pembangunan masjid atau memberikannya kepada anak yatim, jika ada lebihan. Dia ingin berdagang seraya memperoleh pahala.

 

            Setelah kedainya berkembang dan berjalan sukses dalam waktu yang tak sebentar, dia menyerahkan usahanya kepada anaknya untuk diteruskan. Dia mengharapkan anaknya memakai metode yang sama dalam berdagang, yakni kejujuran. Sedang dia membuka usaha baru yakni toko material yang menjual genteng, keramik, pasir, semen dan kebutuhan bahan bangunan lainnya. Disamping itu menyebarkan ajaran agama Islam tidak lepas dari cita-citanya.

 

Dia mencoba meniru cara berjuan, berdakwah dan gaya hidup yang pernah dilakukan Rasulullah saw, meskipun dirinya menyadari tak bisa sesempurna beliau. Untuk urusan shalat wajib lima waktu, dia berusa berjamaah di masjid dan mencari posisi di depan,  kadang-kadang menjadi imam, kalupun sudah ketinggalan shalat berjamaah, dia mengadakan sendiri dirumahnya bersama isteri dan anak-anaknya. Bisa dibilang H. Sholeh jarang shalat fardhu sendirian. Puasa sunnah senin dan kamis maupun puasa sunnah syawal sudah menjadi kebiasaannya. Demikian pula shalat tahajjud setiap pukul tiga dini hari telah menjadi tradisinya.

 

            Meski pernah mengenyam pendidikan pesantren dia selalu meras kurang puas dengan ilmu agama. Tanpa mengenal waktu dan tidak malu dengan usia, dia belajar kepada siap saja yang dianggapnya bisa. Mendekati para Kyai maupun ulama adalah kegemarannya. Setiap menghadiri majelis, dia berusaha duduk di depan. Setelah mendapatkan ilmu dia langsung menyampaikannya kepada orang lain, seolah ilmu sangat penting dari hal yang lainnya.

 

H.Sholeh sangat menghormati dan mencintai ulama. Lelaki bertubuh pendek kecil namun gesit itu tidak membedakan antara panggilan ustad, kyai dan ulama. Dalam pandangannya kedudukan mereka sama tinggi karena mereka orang-orang yang memiliki ilmu agama yang memang patut dihargai. Dia selalu menunjukkan sikap tawadhu’nya (rendah hati) dihadapan mereka. Apa yang mereka katakan dan berkaitan dengan agama selalu diikutinya. Dia kerap bertanya mengenai persoalan sepele yang sebenarnya sudah banyak diketahui masyarakat.

 

            Sebagai bukti kecintaannya kepada ulama, dia senantiasa menawarkan diri menjadi pencari mubaligh bagi kegiatan masjid dan jamiyahnya. Ongkosnya dari kantong sendiri, tak heran jika hampir semua ulama di Malang pernah disinggahi dan di”ambil” ilmunya. Tidak hanya itu, ulama yang telah memberikan ceramah bersama panitia dan takmir masjid yang semuanya berjumlah lebih dari tiga puluh orang diundang kerumahnya untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Untuk kesekian kalinya biaya ditanggung sendiri.

 

            Begitu juga pada hari jum’at. Setelah selesai shalat jum’at, dia mengajak dan menjamu khotib (orang yang berkhotbah), imam jum’at beserta muadzinnya (tukang adzan) dan ulama-ulama yang ada dikampungnya untuk makan bersama dirumahnya. Apalagi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, rumahnya benar-benar penuh dengan orang-orang alim. Praktislah suasananya ramai seperti keluarga yang sedang menyelenggarakan hajatan. Rupanya tradisi ini telah dijalankannya sejak lama dan sekarang diteruskan oleh anak-anaknya.

 

 

III. Ikhlas Demi Masyarakat

            Perjuangan hidup pria yang pernah satu kali ibadah haji ini senantiasa dilakukan bersama dan untuk masyarakat. Lelaki yang kurang mahir berbahasa jawa dan sering diselingi bahasa Madura itu memang senang bergaul, bergurau dan bisa menempatkan diri. Wajar kiranya jika wibawanya muncul, pribadinya cukup disegani orang yang mengenalnya dan dianggap sebagai tokoh masyarakat.

 

            Setiap bertemu orang, dia senantiasa menitipkan pesan moral yang berkaitan dengan agama. Kerap pula dia mendatangi rumah warga yang jarang keliahatan dimuka umum, hal ini menunjukkan kepedulian dan sikap solidaritasnya yang masih tinggi. “Misalnya saya sering shalat jamaah di masjid, tapi tiba-tiba beberapa hari belakangan saya tidak muncul di masjid. Beliau itu biasanya langsung menanyakan keadaan saya. Saya sendiri sampai gumun (heran), sampe segitunya perhatian dan keikhlasan beliau terhadap warga”, papar Zaenal Fanani yang membuka pengajian anak-anak dirumahnya.

 

            Kejujurannya dalam bergaul, keberaniannya dalam berbuat benar dan istiqomahnya dalam bersikap membuat masyarakan percaya kepadanya. H. Sholeh diberi tugas untuk mengurusi berbagai organisasi dan jamiyah warga. Meski tidak sempat menimba ilmu di perguruan tinggi, dia mampu mengemban amanat tersebut. Ketua tanfidiyah tingkat kelurahan sekitar 8 tahun, ketua jamiyah tahlil, ketua jamiyah yasin, ketua hafidz qur’an bin nadhar sampai menjadi pejabat kecamatan pernah dilewatinya.

 

            Sebagai contoh, H. Sholeh pernah mengikuti satu jamiyah. Jamaah yang tercatat lebih dari lima puluh orang, namun karena ada beberapa orang yang telah meninggal dunia dan sebagian lainnya keluar dengan berbagai alasan, akhirnya jamaah yang tersisa sekitar sepuluh orang. Sementara dia menginginkan agar jamiyah jangan sampai bubar. Baginya, kebersamaan warga yang terkumpul dalam sebuah wadah sangatlah penting. Kemudian dia dipercaya dan diangkat  menjadi ketua jamiyah. Lambat laun jamaahnya bertambah banyak lagi, rupanya metode yang digunakan beliau untuk menarik anggota baru dan mengaktifkan anggota lama adalah mendatangi rumah warga satu persatu. Ternyata cara tersebut efektif dan berhasil.

 

            “Kalau jamaah yang tidak hadir, beliau setelah acara secara jamiyah mendatangi rumah orang tersebut dan menanyakan kabarnya. Biasanya pertama ngomongin kerjaan dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia. Baru kalau ngobrolnya sudah asyik, mulai menyinggung kegiatan jamiyah dan agama. Jadi sebagai ketua beliau benar-benar menjadi pelayan bagi yang dipimpinnya”, tutur Zaenal Fanani.

 

Sebagai seorang pimpinan, perilakunya patut dicontoh. Apa yang disampaikannya dihadapan masyarakat sesuai dengan isi hatinya. Karena itulah, apapun yang dilakukannya semata-mata ikhlas lillahi ta’ala. Misalnya H. Sholeh menyuruh warga untuk beramal shaleh dengan infak dan shodaqoh, sebelum mereka melaksanakan, dia terlebih dahulu melakukannya. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan lainnya, umpamanya ada pembangunan masjid, dia secara langsung ikut terlibat melakukan pengecoran selain mencari dana karena dia tercatat sebagai pengurus masjid.

 

            Selain itu H. Sholeh sangat memperhatikan generasi penerusnya, sebagai orang tua (sesepuh) dirinya menyadari potensi yang dimiliki kaum muda. Pengkaderan yang dilakukannya sangat baik, contohnya dia memberikan kesempatan kepada anak muda yang mempunyai modal pendidikan pesantren untuk tampil di masyarakat. Awalnya mereka dijadikan pembawa acara atau MC (Master of Ceremony) dalam sebuah acara. Setelah mentalnya kuat, mereka diberikan waktu untuk memberikan sambutan, bahkan ceramah.. Gampangnya generasi muda dimunculkan dengan bermacam latihan dan kegiatan.

 

            Mengingat ekonomi keluarganya mapan, setiap jum’at H. Sholeh tak segan-segan membantu janda-janda tetangga rumahnya yang kurang mampu, baik berupa uang maupun makanan, ada pula yang diberikan modal agar bisa membuka usaha kecil-kecilan. Untuk menghindari fitnah, dirinya sering kali menyalurkan sumbangan melalui organisasi dan lembaga. Namun ada juga yang langsung diserahkan secara pribadi. Sementara itu setiap kali pulang kampung Madura, dia menyempatkan diri bersilaturahim dan mengunjungi seluruh sanak kerabatnya yang lama tidak berjumpa, walaupun hanya dua menit.

 

            Kini almarhum H. Sholeh telah pulang kerahmatullah. Banyak kenangan yang tetap membekas di benak masyarakat sekitarnya maupun kebaikan yang patut kita teladani bersama. Hari-harinya dipenuhi dengan amal dan dihiasi akhlak nan mulia. Beliau memiliki karya dan semangat yang luar biasa. Rasanya, kesempatan hidup sekali yang telah diberikan Allah Yang Maha Kuasa tidak disia-siakannya. Akan tetapi kita harus menyadari sebagai manusia tentu saja H. Sholeh memiliki khilaf dan kesalahan. Adakah harapan beliau yang belum tercapai dan patut kita renungkan?.

“Saya masih ingat, dulu abah pernah berpesan jangan sampai ada diantara anggota keluarga, warga masyarakat dan umat Islam terjadi tawuran (perkelahian yang menyebabkan perpecahan). Menurut abah yang penting Islam maju”, ucap Abdurrahim, ketika menutup pembicaraannya. Semoga.

DARAH KELUAR DARI LIANG KUBUR April 19, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
add a comment

I. Awal Cerita

Kegetiran hidup membawa konsekwensi yang sangat mengkhawatirkan bagi seorang yang rapuh imannya. Apalagi kalau pikirannya selalu digelayuti bayangan kenikmatan dunia. Ragam perhiasan, fasilitas mewah dan kehormatan menjadi sesuatu yang selalu menggang tidurnya. Hawa nafsu lantas menguasai nurani dan membuatnya lupa untuk sejenak merenung bahwa kekayaan hanyalah titpan semata. Tak pernah terpikir segala sesuatu yang diperbuat akan diminta pertanggungjawabannya kelak.

 

            Kesadaran seperti itu tidak sepenuhnya dipahami oleh seorang pedagang rempah-rempah yang bersala dari daerah Blora, Jawa tengah ini. Ia lebih memilih jalan sesat untuk mencapai kesuksesan hidup. Allah pun murka dan memberi azab yang tak terkira pedihnya. Kepala dan sebagian badannya hancur. Keanehan lantas terjadi saat jenazahnya akan dimakamkan. Lubang kubur yang telah disiapkan tiba-tiba mengeluarkan cairan laksana darah yang merembes dari sela-sela tanah. Demi menjaga nama baik keluarganya, semua tokoh di dalam cerita (termasuk nama narasumber) serta lokasi kejadian sengaja kami samarkan.

 

II. Sosok ambisius yang melakukan perselingkuhan

            Sejak usia muda, Rasimah (35thn) telah terbiasa membantu ibunya berjualan rempah-rempah dipasar Rembang. Ia termasuk wanita yang ambisius dank eras kepala, meski pendidikannya hanya sampai di Sekolah Dasar (SD). Saat berusia 18 tahun ia menikah dengan Tumijan (39 thn) yang berprofesi sebagai pekerja di lahan jati milik seorang pengusaha dari Jakarta. Sedangkan Rasimah sendiri sesekali masih membantu ibunya yang berjualan di pasar.

 

            Perjalanan keluarga mereka terbilang harmonis, namun memasuki usia sepuluh tahun perkawinan mulai sering terjadi pertengkaran diantara mereka. Rasima merasa kehidupan ekonominya tak juga berubah, apalagi hanya menyandarkan hidup dari gaji suaminya yang terbilang kecil. Sifat ambisiusnya yang dahulu terpendam kini muncul kembali, ia sudah teramat bosan selalu hidup dalam kemiskinan.

 

            Khayalan akan kesenangan hidup telah membuat Rasimah lupa diri. Diam-diam ia menjalin asmara dengan seorang pedagang kelontong yang cukup sukses di pasar tempat ibunya berjualan. Bahkan ia sampai berani membawa selingkuhannya itu kerumah saat suaminya pergi bekerja, namun “sepintar-pintarnya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga”. Kemudian suaminya tahu dan sempat terjadi pertengkaran sengit. “Tetangga-tetangganya jadi bingung, yang minta cerai itu bukan suaminya, tapi Rasimah, padahal setahu saya meski hati Pak Tumijan sakit, tapi ia masih sayang sama isterinya. Apalagi mereka sudah dikarunia dua orang anak laki-laki. Bisa jadi selama berkeluarga Rasimah lebih mendominasi”, ujar Supriyanto (32 thn) yang termasuk keluarga jauh namun masih tinggal satu desa.

 

            Beberapa bulan kemudian Rasimah melangsungkan perkawainan dengan selingkuhannya, tapi baru sekitar dua tahun mereka resmi berpisah. Suaminya merasa kecewa sebab motivasi Rasimah hanya semata-mata harta. Hebatnya, semua itu Rasimah kemas dengan rayuan manis untuk menutupi kesemuan cintanya.

Suami mana yang tahan kalau setiap hari isterinya hanya bisa berdandan. Parahnya lagi membuat sarapan pagi saja Rasimah tidak mau. Padahal ia sering meminta uang untuk belanja perhiasan dan barang-barang berharga lainnya. Mata hatinya telah dibutakan oleh kesenangan yang belum pernah diperolehnya selama ini.

           

Entah bagaimana kejadiannya, setelah beberapa tahun menjanda, Rasimah rujuk kembali dengan suami yang pertama. Resminya hubungan mereka ditandai dengan syukuran secara sederhana yang dihadiri oleh para saudara dan tetangganya.

 

III. Nekat melakukan pesugihan

            Kesenangan yang baru sebentar dirasakan bersama suami keduanya, membuat Rasimah rindu untuk merengguknya kembali. Kenangan-kenangan itu selalu hadir dan membuatnya pusing, sayang ambisinya untuk hidup enak hanya sebatas khayalan tanpa dibarengi usaha kongkrit. Sampai akhirnya tanpa sepengetahuan suaminya ia pergi melakukan pesugihan.

           

“Entah kemana Rasimah pergi, tapi ada yang bilang kalu ia ingin menemui kakak pertamanya yang tinggal di daerah Purworejo, Jawa Tengah, semanjak pulang dari sana ia sepenuhnya menggantikan ibunya berjualan rempah-rempah, kata orang ia menggunakan penglaris. Bagaimana tidak baru beberapa bulan berjualan ia sudah bisa membeli sepeda motor baru dengan cash. Padahal setahu saya hasil jualan ibunya kemarin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa hari,” ujar Supriyanto hamper tak percaya.

           

Dalam waktu yang tidak terlalu lama kurang dari setahun, Rasimah sudah bisa membangun rumah dan membeli mobil truk berukuran sedang. Kini ia bukan lagi pedagang cabai dan bawang merah yang menepati emperan pasar, ia sudah mempunyai ruko khusus sekaligus menjadi penyalur kebutuhan pedagang rempah-rempah di pasar Rembang dan sekitarnya.

 

            Dua kali seminggu, Rasimah bersama suaminya pergi membeli rempah-rempah, khususnya cabai dan bawang merah kedaerah Brebes. Ia langsung membeli kepada para petani, sebab harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan para tengkulak.

 

IV. Jatuh tertimpa truk

            Suatu malam sejak pukul setengah selapan malam Rasimah bersama suaminya sudah berangkat menuju daerah Brebes, Jawa Tengah. Hari tu ia bersama suaminya sudah punya janji dengan para petani cabai dan bawang merah untuk membeli hasil panen mereka. Aktifitas itu sudah beberapa kali ia lakukan sejak resmi menjadi penyalur rempah-rempah.

 

            Kedua suami isteri itu pergi mengendarai truk berukuran sedang bersama Adna, keponakan dari suaminya yang bertugas sebagai sopir. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan , akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Para petani yang sudah menunggu kedatangannya segera menimbang dan memasukkan cabai serta bawang merah ke dalam karung. Jumlah semuanya sekitar satu ton lebih. Karung-karung tersebut kemudian dimasukkan kedalam truk, sementara Rasimah menghitung uang untuk melakukan pembayaran.

 

Tanpa merasa perlu istirahat mereka segera melanjutkan perjalanan pulang. Sebelumnya Tumijan meminta isterinya agar naik terlebih dahulu dan duduk disebelah sopir, namun dengan alasan lelah dan kantuk, Rasimah bersikeras duduk dibelakang (dibak), sambil menggelar terpal sebagai alasnya.

 

            Mobil berjalan kencang seakan berburu dengan malam yang merambat pagi. Suasana yang lenggang membuat sopir tak ragu menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Padahal ia sudah beberapa kali menguap tanda kantuk tak tertahan. Rokok kretek entah yang keberapa kembali ia nyalakan, kepulan asap dan kenikmatan rasanya tetap tak membuat tegar matanya, terlebih Tumijan yang seharusnya menemaninya mengobrol malah mendengkur sambil kakinya selonjor ke dashboard mobil. Sama halnya dengan Rasimah, kelelahan telah membalutnya mengarungi mimpi meski ditempat seadanya.

 

            Perjalanan panjang telah ditempuh dan mobil mulai memasuki daerah Rembang. Tiba-tiba mobil yang mencapai kecepatan 100 km/jam itu menghantam sebuah lobang lumayan besar. Sopir yang sekejap tertidur kaget dan kehilangan kendali. Laju mobil tak tertahan dan meluncur melewati bahu kiri jalan yang sedikit curam. Operan kopling ke gigi rendah yang dibarengi dengan pengereman, tak membantu usaha sang sopir.

 

            “Ciiiittttttttttt……ciiittttt…….bbbrrrakkkk…….!” denyit suara ban hanya terdengar sesaat, selanjutnya dentuman truk yang terguling menjadi penghias kesunyian pagi itu. Karung cabai dan bawang merah berhamburan tak tentu arah. Rasimah yang masih terlelap tidur pun ikut terlempar keluar bak truk. Naas , Rasimah sedang tak beruntung, ia salah mendarat dan langsung tertimpa badan truk, bayangkan truk yang sekian ton beratnya menimpa tubuh Rasimah, tak ayal kepala Rasimah hancur sampai otaknya keluar. Ceceran otak yang berwarna putih terlihat dilokasi kejadian. Ususnya sedikit terburai akibat gesekan dengan badan truk. Sebab lokasinya sedikit curam dan membuat truk tidak langsung berhenti, tak ayal tubuh Rasimah terseret hingga beberapa meter.

 

            Rasimah meninggal seketika, darah segarnya berceceran dimana-mana bercampur dengan cabai dan bawang merah. Sungguh kejadian trgis yang membuat merinding bulu roma. Akan tetapi kondisi berbeda dialami sopir dan suaminya, mereka hanya terluka ringan akibat terbentur dan terkena pecahan kaca.

 

Tumijan yang mengetahui kondisi isterinya langsung teriak histeris, ia begitu ngeri dan tak tega melihat pasangan hidupnya begitu menderita, tanpa menunggu waktu ia langsung memanggil keponakannya yang masih linglung, untuk minta diberhentikan mobil. Ia berharap isterinya masih bisa diselamatkan dengan membawanya ke Rumah Sakit (RS) terdekat.

 

            Mobil tumpangan membawa Rasimah ke RS di daerah Rembang. Mobil langsung di parkir di depan ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Para dokter yang bertugas segera memberikan tindakan medis. Sayang, nyawa Rasimah memang sudah tidak bisa diselamatkan. Sesuai prosedur, luka-luka Rasimah dijahit agar darahnya tak keluar lagi.

 

            “Pak Tumijan meminta keponakannya, Adnan untuk memberikan kabar kepada keluarganya di Blora. Ada beberapa orang yang lantas menyusul diantaranya ibu dan bapapaknya Rasimah,” jelas Supriyanto yang mengetahui persis mereka berangkat.

 

Jenazah Rasimah langsung dimandikan dan diberi kain kafan. Petugas yang mengurusnya memberi saran agar kain kafannya nanti jangan dibuka, sebab muka Rasimah yang hancur dan badannya yang penuh luka bisa jadi akan membuat ngeri dan tidak tega orang yang melihatnya.

 

V. Cairan darah dari sela-sela dinding kubur

            Kabar kematian Rasimah dengan cepat menyebar . Para kerabat dan tetangganya cemas menunggu kedatangan jenazah dari rumah sakit. Hati mereka penasaran ingin mengetahui kondisi dan cerita sebenarnya yang menimpa Rasimah. Tak lama kemudian mobil ambulance tiba. Jenazah Rasimah langsung dibaringkan diruang tengah rumahnya yang terlihat megah. Sontak tangis anak dan keluarganya memecah ruangan. Mereka ingin sekali melihat wajah Rasimah untuk terakhir kalinya. Namun Tumijan yang ingat pesan petugas di rumah sakit melarang mereka untuk membuka kafannya.

 

            Selepas tengah hari setelah dishalatkan di musholla dekat rumahnya, jenazah Rasimah dibawa ke perkuburan desa, disana telah menunggu beberapa orang penggali kubur yang sedang duduk istirahat. Saat itu belum ada tanda-tanda keanehan yang akan terjadi. Penggali kubur dan seorang kerabat Rasimah tengah siap hendak turun ke liang kubur. Mereka terperanjat dan langsung mengurungkan niatnya sebab terjadi keanehan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Dari sela-sela tanah kubur tampak rembesan cairan berwarna merah pekat, tercium bau anyir darah, namun terlalu menusuk hidung. Semua orang yang melihat terbengong-bengong tak tahu harus berbuat apa. Lama kelamaan cairan yang keluar bertambah banyak bahkan dasar kubur mulai tergenang hampir seukuran mata kaki orang dewasa. Astaghfirullah al-“Adzim.

 

            “Seumur hidup saya belum pernah melihat kejadian seperti itu. Saya langsung mengucapkan istigfar. Orang lain pun banyak mengucapkan kalimat yang sama. Lalu saya perintahkan dua orang penggali kubur untuk menguruknya dengan sedikit tanah. Karena oarang pada ketakutan akhirnya saya berinisiatif untuk turun ke lubang kubur dengan ditemani Pak Tumijan, serta satu orang saudaranya. Sebelumnya mereka meminta agar tanah urukan itu digali lagi. Saya bilang tidak perlu karena beceknya tidak terlalu parah”, kenang ustadz Murtadha (60 thn) menjelaskan perihal kejadian itu.

 

            Bagian-bagian dinding kubur tempat asal mula keluarnya cairan sudah ditutup dengan tanah, meski demikian bercampurnya tanah dengan cairan tadi membuat dasar kubur menjadi becek dan kemerah-merahan, lalu ustadz Murtadha meminta para pengantar untuk mengeluarkan jenazah Rasimah dari keranda untuk dikebumikan, sebab penguburan harus disegerakan.

 

Melihat jenazah Rasimah dimasukkan ke dalam lubang kubur, sontak tangis keluarga, kerabat Rasimah semakin tak tertahankan. Suasana menjadi begitu haru dan mencekam. Bahkan anak lelaki Tumijan yang bekerja di Jakarta dan sempat datang menyaksikan kejadian itu langsung pingsan.

 

            Kain kafan jenazah yang semula putih menjadi kotor, kemudian jenazah segera dimasukan ke liang lahat dan ditutup dengan potongan-potongan papan yang telah disiapkan. Sekitar jam dua petang prosesi penguburan selesai dengan menyisakan beribu pertanyaan. Amalan apa yang telah diperbuat Rasimah semasa hidupnya? Banyak orang yang menarik kesimpulan kejadian itu terkait dengan kongsi (pesugihan) Rasimah dengan setan untuk meminta kekayaan. Naudzubillah tsumma Naudzubillah. Entah benar atau tidak dugaan itu, wallahu a’lam!

 

            Mudah-mudahan kisah nyata ini menjadi teladan bagi kita dalam mempertahankan iman kita. Kalaupun saat ini kita hidup dalam kemiskinan janganlah kita berani menyekutukan Allah, sekedar untuk memperoleh kenikmatan dunia. Memang batasan kemiskinan dan kekufuran begitu tipis. Sebagaimana Rasulullah saw. Bersabda : “Hampir saja kemiskinan (miskin jiwa dan hati) berubah menjadi kekufuran.” (HR> At-Thabrani).

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.