jump to navigation

Nafais Tsamrah: Barangsiapa Bersabar Akan Disabarkan Oleh Allah November 11, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Posted: 09 Nov 2009 08:41 PM PST

Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu”. (TQS. Ali Imran [3] : 200)

Allah SWT berfirman:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (TQS. Al_Baqarah [2] : 155)

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (TQS. Az-Zumar [39] : 10)

Allah SWT berfirman:

Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (TQS. Asy-Syura [42] : 43)

Allah SWT berfirman:

Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 153)

Allah SWT berfirman:

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu.”. (TQS. Muhammad [47] : 31)

Dari Abi Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, semoga Allah meridhainya, yang berkara: Rasulullah SAW bersabda:

Bersuci adalah separuh iman; bertahmid (mengucapkan alhamdulillah) memenuhi timbangan; bertasbih (mengucapkan subhanallah) dan sekaligus bertahmid (mengucapkan alhamdulillah) memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi; shalat itu sinar; sedekah itu bukti; sabar itu cahaya; dan Al-Qur’an itu hujjah yang membawa kebaikan bagimu atau justru mencelakakan dirimu; setiap orang berusaha dan bekerja, masing-masing menjual dirinya, kemudian ia pun merdeka (karena banyak melakukan ketaatan) atau ia celaka (karena banyak mengerjakan kemaksiatan).” (HR. Muslim)

Dari Abi Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu anhuma, semoga Allah meridhai keduanya: Bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:

Barangsiapa yang bersabar, maka akan disabarkan. Dan seseorang tidak diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran.” (HR. Muslim)

Sumber: hizb-ut-tahrir.info

Tanggal: 14 Dzul Qa’dah 1430 H/ 2 Nopember 2009 M.

Ketika Hukum Allah Diabaikan (I) October 29, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , ,
add a comment
Ketika Hukum Allah Diabaikan (I)

 

Posted: 27 Oct 2009 04:47 PM PDT

Pemilu Legislatif dan Pilpres telah usai. Kabinet pun telah selesai dibentuk. Berbagai target dan program kerja pemerintah mulai disusun dan dikerjakan. Anggota legislatif yang mayoritas mereka adalah muslim juga mulai membahas berbagai UU yang akan diimplementasikan di negeri Islam terbesar di dunia ini.

Meski sebagian besar wajah di pemerintahan dan legislatif adalah wajah baru namun disayangkan paradigma sekularisme masih dijadikan sebagai asas bernegara. Hukum-hukum Allah dipinggirkan sementara akal dan hawa nafsu manusia dijunjung tinggi. Padahal al-Quran sebagai pedoman umat Islam telah mengingatkan bahaya dan ancaman atas sikap demikian.

Al-Quran telah memaparkan bahwa orang-orang yang mengabaikan syariat Islam dan menerapkan hukum selain Allah swt akan mendapatkan berbagai bencana baik pada agama, dunia dan akhirat mereka.

A. Bencana Agama

Bencana pertama yang menimpa orang yang menerapkan hukum selain Allah swt adalah bencana pada agamanya. Orang yang berpaling dari agama Allah dengan berpaling dari hukum-Nya pada dasarnya telah menyerahkan agama mereka kepada aturan manusia yang serba lemah dan terbatas. Akibatnya mereka terjerembab pada kesesatan dan kemaksiatan; membuat mereka semakin jauh dari jalan Allah yang lurus serta mendapatkan berbagai bencana. Al-Quran telah mengisyaratkan beberapa bencana dalam aspek keagamaan yang akan menimpa mereka antara lain:

1. Dikeraskan Hatinya

Mengubah syariat atau berpaling dari syariat akan menjadikan hati seseorang menjadi keras. Allah telah memberikan pelajaran kepada kita bagaimana Ia memperlakukan orang-orang Yahudi telah berpaling dan mengubah firman-firman-Nya. Allah swt berfirman:

“Karena mereka telah melanggar janji mereka maka kami melaknat mereka dan menjadikan hati mereka keras. Mereka telah merubah kalimat-kalimat dari asalnya dan melupakan bagian-bagian yang telah diingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) akan selalu melihat pengkhianatan ada diri mereka kecuali sedikit dari mereka. Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-Maidah [5]: 13)

Demikianlah sikap Allah pada orang-orang Yahudi yang telah melanggar janji mereka untuk mendengar dan taat kepada-Nya. Mereka bahkan memperlakukan ayat-ayat Allah dengan tidak patut; menakwilkan ayat-ayat Allah yang berbeda dari apa yang telah diturunkan; mengartikan selain dari yang dimaksud; mengatakan apa yang tidak dinyatakan dan tidak mengamalkannya karena benci kepadanya.

Orang-orang yang berpaling dari syariat Allah dan hanya mengikuti akal dan hawa nafsunya juga ditutup hati, pendengaran dan penglihatannya dari petunjuk. Dengan demikian mereka hidup dalam kesesatan. Allah swt berfirman:

“Apakah engkau tidak melihat bagaimana orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan dan Allah menyesatkan mereka atas dasar ilmu, menutup pendengaran mereka dan menjadikan penutup pada penglihatan mereka. Maka siapakah yang memberikan petunjuk kepada mereka selain Allah?. Maka tidakkah engkau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 2 3)

Di dalam al-Quran juga dijelaskan bahwa mengagungkan syiar dan syari’at-Nya merupakan sifat orang yang bertaqwa kepada Allah. Allah swt berfirman:

“Demikianlah barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketaqwaan hati.” (QS. Al-Hajj [22]: 32)

Sebaliknya seseorang yang menentang syariah Allah, sombong dan berlaku sewenang-wenang atasnya hatinya akan dikunci oleh Allah swt. Jika demikian maka ia akan sulit untuk menemukan kebenaran. Allah swt berfirman:

“(yaitu) Orang-orang yang mendebat ayat-ayat Allah tanpa argumentasi yang datang kepada mereka. Amat besar kemurkaan (kepada mereka) di sisi Allah dan orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah menutup setiap hati orang-orang yang sombong.”(QS. Ghafir [40]: 35)

Allah swt juga telah memperingatkan ummat ini agar tidak merusak hati mereka akibat tidak memenuhi tuntutan syariah-Nya. Allah swt berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya jika ia menyeru kalian pada sesuatu yang menghidupkan kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. Dan kepada-Nya lah kalian dikumpulkan.”(QS. Al-Anfal [8]: 24)

Dari ayat tersebut difahamai bahwa Allah swt akan menghalangi seseorang pada kekufuran jika seseorang taat pada syariat-Nya. Sebaliknya Ia akan menjauhkan seseorang dari keimanan jika membangkan terhadap syariat-Nya. Ini karena hanya Allah-lah yang menguasai hatinya.

2. Disesatkan dari Kebenaran

Mengikuti hawa nafsu dan mendahulukannya ketimbang mengikuti hukum Allah swt juga akan membuat seseorang menjadi tersesat dan jauh dari jalan kebenaran. Allah swt berfirman:

“Wahai Daud sesungguhnya kami menjadikan engkau sebagai khalifah di bumi maka hukumilah manusia dengan kebenaran dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu sehinga ia menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah maka bagi mereka adalah azab yang pedih karena mereka telah melupakan hari Perhitungan.” (QS. Shad [38]: 26)

Allah swt telah memperingatkan Ahlu Kitab untuk tidak mengikuti hawa nafsu sebagian orang yang menyimpang dari kebenaran. Allah swt berfirman:

“Katakanlah wahai Ahlu Kitab janganlah kalian berlebih-lebihan pada agama kalian dengan jalan yang tidak benar. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu kaum sebelumnya yang telah sesat dan menyesatkan banyak manusia serta telah sesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah [5]: 77)

Sayangnya, Ahlu Kitab juga terjerembab dalam kesesatan akibat menjauhi syariat Allah yang diturunkan untuk mereka. Lebih dari itu setelah berada dalam kesesatan mereka pun tidak senang melihat ummat ini berada dalam petunjuk. Allah swt telah mengingatkan kaum muslim terhadap niat busuk mereka dengan firman-Nya:

“Sebagian dari Ahlu Kitab menginginkan untuk menyesatkan kalian. Namun mereka tidak menyesatkan kecuali diri mereka sendiri sementara mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-Maidah [3]: 69)

Ini merupakan peringatan bahwa sebagian Ahlu Kitab berupaya menyesatkan kaum muslim dengan menjauhkan mereka syariat-Nya. Oleh karena itu tidak ada jalan lain bagi ummat kecuali mengikuti ketetapan Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal. Dengan demikian mereka tidak akan cenderung kepada kesesatan sebagaimana halnya Ahlu Kitab. Allah swt berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan perempuan jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu urusan akan ada lagi mereka pilihan yang lain pada urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat yang senyata-nyatanya.”(QS. Al-Ahzab [33]: 36)

3. Diungkap Kemunafikan dan Skandalnya

Orang yang menyembunyikan kebencian pada syariat Allah menujukkan penyakit pada hati mereka. Namun demikian mereka berupaya agar kemunafikan tersebut tidak tersingkap. Sayangnya upaya mereka sia-sia karena Allah swt mengungkap hal tersebut justru melalui lisan-lisan mereka sendiri. Allah swt berfirman:

“Apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hati mereka mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS. Muhammad [47]: 29-30)

Sebagaian dari mereka ada yang mengejek syariat Islam dengan mengatakan: “jika yang dikatakan oleh Muhammad itu benar maka niscaya kami tentu lebih buruk dari keledai.” Sebagian lagi berkata: “saya tidak melihat al-Quran kecuali merupakan lisan yang paling buruk bagi kami dan ketakutan dalam pertemuan.” Bahkan mereka secara tidak langsung telah menampakkan kemunafikan dan pelecehan mereka pada syariat sehingga mereka berkata: “lebih baik bagi saya mati dengan dipukul oleh 100 orang dari kalian daripada diturunkan al-Quran.” Tatkala hal tersebut disampaikan kepada Rasulullah saw, mereka pun datang untuk meminta keringanan dengan mengungkap berbagai alasan. Allah swt berfirman:

“Orang-orang yang munafiq itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.”(QS. at-Taubah[9]:64-66)

Orang-orang Munafik tak henti-hentinya menentang apa yang diturunkan Allah swt. Oleh karena itu Allah swt senantiasa menimpakan berbagai musibah dan kejadian yang mengungkap berbagai kemunafikan mereka. Allah swt berfirman:

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah tunduk pada apa yang telah diturunkan Allah dan Rasul,” maka engkau melihat orang-orang Munafiq menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah jika musibah menimpa mereka akibat apa yang mereka lakukan kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah kami tidak menginginkan kecuali berbuat baik baik dan perdamaian.” (QS. An-Nisa [4]: 61-62)

Maksudnya adalah bagaimana keadaan mereka tatkala ditimpa berbagai musibah dengan mengungkap kemunafikan mereka atas apa yang mereka lakukan dalam masalah jinayat yakni berhukum kepada thagut dan berpaling untuk menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim. [bersambung] (Muhammad Ishak – Lajnah Tsaqafiyyah).

Ketika Hukum Allah Diabaikan (II)

Pengaruh Keimanan dan Pendidikan dari Peran Masjid October 25, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Penyusun : SHALIH BIN GHANIM AS-SADLAN

Terjemah : Muhammad Khairuddin Rendusara. SAg

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Source: http://www.islamhouse.com/

1. Saling Mengenal dan Persaudaraan Islami

Sesungguhnya at-ta’aruf (saling mengenal) merupakan bagian dari prinsip-prinsip adab islami. Bahkan ia termasuk kebutuhan mendesak dalam berinteraksi di tengah-tengah manusia. Seorang tetangga membutuhkan tetangganya, dan tidak mungkin salah seorang dari mereka dapat bergaul dengan yang lainnya, kecuali jika keduanya saling berkenalan terlebih dahulu. Setiap orang pasti membutuhkan orang lain. Maka bagaimana orang lain dapat bergaul dengannya tanpa di dahului dengan ta’aruf (aktifitas saling berkenalan) terlebih dahulu di antara keduanya? Allah berfirman Ta’ala:


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.49:13).

Dan masjid dapat menjamin menghadirkan penjajakan pengenalan persaudaraan dan keimanan yang tiada terlupakan. Hal tersebut karena orang-orang yang shalat di masjid biasanya berada dalam satu komplek perumahan yang sama, dan kebanyakan mereka tidak bertemu di masjid, kecuali saat menunaikan shalat fardhu. Dan jika majelis taklim di masjid menjadi faktor yang merekatkan mereka di adakan, maka sesungguhnya pertemuan di antara mereka itu, terbilang lebih banyak lagi intensitasnya. Belum lagi pada moment shalat dua hari raya, dan shalat jum’at serta lain sebagainya. Sesungguhnya penduduk warga yang berdomisili di kompleks perumahan yang sama itu, mereka dalam jangka waktu yang singkat, sudah dapat saling mengenal disebabkan intensitas tatap muka dan jabatan tangan sebagian mereka dengan sebagian yang lainnya, serta pertemuan mereka pada majelis-mejelis ilmu bersama dengan ulama-ulama mereka, dan demikianlah keadaannya.

Namun ta’aruf di antara kaum muslimin, bukanlah sekedar mengetahui nama personal, nama ayah, gelar, dan profesinya semata. Sesungguhnya yang dikehendaki adalah lebih daripada itu, yaitu menguatkan unsur-unsur ukhuwah imaniyah (persaudaran keimanan) yang memuat seluruh aktifitas yang dapat menguatkannya, seperti rasa cinta, saling berkunjung, saling berhubungan, menjengut yang sakit, menghadiri undangan, membantu orang yang lemah dan membutuhkan, menyebarkan salam, muka yang berseri dan perkataan yang baik, rendah hati, menerima kebenaran, pemaaf, dermawan, menolak keburukan dengan yang lebih baik, mengutamakan orang lain, berbaik sangka, menolong orang yang terzhalimi, menutupi aib saudaranya yang muslim, mendidik orang yang bodoh, berbuat baik kepada tetangga, menghormati tamu, menunuaikan hak-hak kepada yang berhak, memberikan nasehat kepada setiap muslim, dan kesemuanya ini titik tolaknya adalah baitullah (masjid).

Juga dengan menjauhkan diri dari setiap hal yang melemahkan ikatan persaudaraan keimanan (ukhuwah imaniyah), dari sikap kesewenang-wenangan, hasad, menyepelekan, mengejek, ghibah, adu domba, memboikot, memutuskan silaturahmi, dan sikap-sikap yang dapat menimbulkan keraguan dan kerisauan terhadap saudaranya yang muslim. Bersaing yang tidak sehat di beberapa urusan duniawi yang disyariatkan, seperti membeli barang yang telah dibeli, berpidato saat ada ceramah, berbohong dan berdusta.

Sungguh pemaknaan-pemaknaan yang agung ini dari ukhuwah imaniyah dan mengambil segala unsur yang dapat memperkuatnya, serta menjauhkan segala faktor yang dapat melemahkannya, kesemuanya eksis dalam gambaran yang paling tertinggi saat kita melihat masjid dengan eksistensinya yang paling tinggi dalam bentuk peranannya di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan di zaman para kepemimpinan khulafa’ur rasyidin. Dimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kala itu mengikat tali persaudaraan pertama, yaitu mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar yang dinaungi oleh masjid mereka yang mulia. Persaudaraan mereka diikat dengan dua kalimat persaksian (syahadatain), mereka dipersatukan debawah panji jihad di jalan Allah, sampai-samapai salah seorang dari anshar bertekad untuk menurunkan sebagian harta yang dimilikinya dan salah seorang istrinya yang ditalak untuk diserahkan kepada saudaranya dari kalangan muhajirin. Sehingga tiadalah dari kalangan Muhajirin melainkan mengatakan kepada orang-orang Anshar :


“Semoga Allah menganugerahi keberkahan atasmu, keluargamu dan hartamu.” HR. Al-Bukhari.

Demikian keadaan ahlul masjid (para pemakmur masjid). Maka dimana tingkat pengenalan kaum muslimin saat ini? Realitanya, ada seorang tetangga yang tinggal berdampingan dengan tetangganya yang lain, atau di depannya. Keduanya keluar pada waktu yang bersamaan untuk keperluan aktifitas keduanya, dan keduanya pulang ke rumahnya masing-masing pada waktu yang bersamaan pula, terkadang mereka bertemu di lift yang sama, keduanya turun dan naik. Terkadang seorang dari keduanya tidak memberikan salam kepada yang lainnya. Terkadang salah seorang dari mereka memberikan salam, namun yang lainnya tidak menjawabnya. Terkadang dijawab, namun ia membelakanginya, tidak melihat senyum saudaranya. Terkadang ada yang meninggal dunia hingga sudah dikafani, sementara ia tidak mengetahuinya. Terkadang ada yang keduanya berada dalam satu institusi yang sama, namun salah seorang dari keduanya tidak mengenal yang lainnya. Maka dimana ta’aruf al-masjid (nilai perkenalan masjid)mu, wahai Umat Islam ??!!

2. Mendalami Pengetahuan Agama dan Mengadili kasus-kasus pertikaian [1]

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk di dalam sebuah masjid dan para sahabatnya Radhiyallahu ‘Anhum bertanya kepadanya, kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Fatwa-fatwa dan keputusan-keputusan hukum beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam masjid sudah umum diketahui dan masyhur. Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya secara mu’allaq (Bab. Orang yang menetapkan dan memutuskan hukum di masjid)[2], kemudian berkata : “Umar menetapkan keputusan hukum saat di Mimbar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Demikian pula dengan Syuraih, asy-Sya’bi dan Yahya bin Ya’mar yang menetapkan keputusan hukum di dalam masjid. Juga Marwan menetapkan hukum atas Zaid bin Tsabit di Yaman saat di atas mimbar. Pernah al-Hasan dan Zurarah bin Aufa yang keduanya menetapkan keputusan hukum saat di Rahbah, di luar masjid.

Kemudian kembali ia berkata, “Bab Orang yang memtuskan hukum di dalam masjid.” Dan menyampaikan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata :


“Seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sementara beliau sedang berada di dalam masjid. Maka ia memanggilnya lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sesungguhnya aku telah melakukan zina’, lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpaling darinya. Maka ketika ada yang memberikan saksi atas diri orang tersebut sebanyak 4 (empat) orang saksi, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apakah anda menderita sakit jiwa?!.’ Lelaki itu menjawab, ‘Tidak.’ Beliau menginstruksikan, ‘Bawalah ia, lalu rajamlah dia’.”[3]

Para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum setelah masa kenabian, diantaranya para khulafa’ur rasyidin berfatwa dan memutuskan hukum di masjid-masjid, dengan demikian bahwa masjid merupakan balai fatwa dan mahkamah pengadilan.

Demikian juga sebagai tempat untuk mendamaikan orang yang sedang bertikai. Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan :


“Bahwa ia memperkarakan hutang Ibnu Abi Hadrad di Masjid, lalu suara keduanya meninggi hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengarnya, sementara beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat itu sedang di rumahnya. Lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar ke arah keduanya, sampai-sampai beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuka tirai kamarnya, kemudian berkata, ‘Hai Ka’ab.’ Ka’ab menjawab, “Aku mendengar panggilanmu, ya Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Taruhlah ini pada hutangmu’, sambil menunjuk ke arahnya, yaitu (bantuan) separuhnya. Ka’ab berkata, ‘Sudah kulaksanakan, wahai Rasulullah.’ Belaiau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Berdirilah, lalu putuskanlah.”[4]

3. Menggagalkan Perbuatan Keji Dan Akibat Buruknya Bagi Masyarakat Muslim [5]

Ketika masjid memiliki tempat di hati masyarakat muslim, dimana orang-orang Islam sudah tidak lagi menunda-nunda kehadirannya untuk melaksanakan shalat berjama’ah, mulailah terkristalisasi keimanan di dalam hati-hati mereka, sehingga mereka cinta kepada keimanan, dan mencintai Allah dan Rasul-Nya, berbuat amal shalih. Mereka membenci kekufuran dan kefasikan, serta kemaksiatan. Shalat mereka mampu mencegah diri-diri mereka dari perbuatan keji dan mungkar serta kesewenang-wenangan. Mereka tidak melakukan kecuali yang disenangi Allah, mereka berhenti pada batasan-Nya dan mendukung kebenaran yang sejatinya.

Allah berfirman :


Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 29:45).

Diantara sifat orang-orang beriman, adalah menegakkan shalat, memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat.” (QS. 9:71).

Diantara sifat orang-orang mukmin yang mengeakkan shalat, bahwa mereka tidak menginginkan menjalarnya perbuatan keji (al-fahisyah) dan menyebarnya kemungkaran. Allah Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS.24:19).

Imam al-Qurthubi –semoga dirahmati Allah Ta’ala- mengomentari firman Allah Ta’ala :

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS.29:45).

Dimaksudkan bahwa shalat fardhu yang lima waktu merupakan penggugur dosa-dosa yang terjadi di sela-sela waktu tersebut. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :


“Apa pendapat kalian kalau ada sebuah sungai (mengalir) melalui pintu salah seorang kalian, dimana ia mandi dari air tersebut setiap hari sebanyak 5 (lima) kali. Apakah (masih) ada sesuatu yang tersisa dari kotoran (tubuh)nya?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada sedikitpun yang tersisa dari kotorannya.” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maka demikianlah permisalan shalat fardhu lima waktu, Allah menghapus segala kesalahan-kesalahan dengan shalat fardhu yang lima itu.”[6]

Selanjutnya mengabarkan bahwa shalat dapat mencegah pelakunya dan pelaksananya dari perbuatan keji dan mungkar. Dari bacaan al-Qur`an yang dibaca di dalamnya mengandung petuah, sedang shalat menjadikan fisik orang yang shalat menjadi beraktifitas. Saat pelaku shalat masuk ke dalam mihrabnya, lalu hatinya khusyu’ dan merendahkan diri kepada Rabbnya, dan ia sadar bahwa ia sedang berdiri di hadapan-Nya, dan bahwa Dia Maha Mengetahui dan Melihatnya, dengan itu jiwanya dibaikan dan ditundukkan, serta masuk ke dalam pengawasan Allah Ta’ala, rasa takutnya terhadap-Nya tampak pada raganya, dan hampir-hampir ia tidak pernah merasakan lelah dari aktifitas shalatnya tersebut, hingga datang naungan shalat lainnya yang denganya ia kembali memasuki sebaik-baiknya keadaan (afdhal halatin), yaitu berdiri menghadap Rabbnya.[7]


[1] Manahij at-Ta’lim fi al-Masajid wa Uslub at-Tadris fiha (hal.10)

[2] Shahih al-Bukhari, XIII/156, beserta ulasannya di Fathul Qadir.

[3] HR. Bukhari (Hukum-hukum, no.6747)&Shahih al-Bukhari (no.7167); HR. Muslim (Hudud, no.1691); HR. At-Tirmidzi (Hudud, no.1428); HR. An-Nasa’i (Jenazah, no.1956); HR. Abu Daud (Hudud, no.4428); HR. Ahmad, II/453.

[4] HR. Bukhari (Shalat, no.445) & dalam Shahih al-Bukhari (no.457); HR. Muslim (Irigasi, no.1558); HR. An-Nasa’i (Etika Hakim, no.5408); HR. Abu Daud (Hukum Peradilan, no.3595); HR. Ibnu Majah (Hukum-hukum, no.3595); HR. Ad-Darimi (Jual Beli, 2587).

[5] Daur al-Masjid fi at-Tarbiyah wa al-A’dad (hal.117-119)

[6] HR. Bukhari (Waktu-waktu Shalat, no.505); HR. Muslim (Masjid-masjid dan tempat-tempat shalat, no.667), HR. At-Tirmidzi (Permisalan-permisalan, no.2868) & (no.2516), HR. An-Nasa’i (Shalat, No.462), HR. Ahmad, II/379, HR. Ad-Darimi (Shalat, no.1183).

[7] Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an (XIII/347-348).

Pelajaran-Pelajaran di Masjid, perpustakaan Masjid & Peranannya dalam Pembudayaan, Penyuluhan dan Penanaman Pembinaan Iman October 25, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Pelajaran-Pelajaran di Masjid, perpustakaan Masjid & Peranannya

dalam Pembudayaan, Penyuluhan dan Penanaman Pembinaan Iman [1]

Penyusun : SHALIH BIN GHANIM AS-SADLAN

Terjemah : Muhammad Khairuddin Rendusara. SAg

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Source: http://www.islamhouse.com/

Sesungguhnya kehadiran masjid dengan model eksistensinya yang dikehendaki Allah Ta’ala, sebagaimana dahulu di zaman Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para khalifah ar-rasyidin, bahwa pengaruh yang paling signifikan dari eksistensi masjid adalah penyebaran ilmu di antara para penegak shalat dan selain mereka. Karena orang yang shalat yang terbiasa datang ke masjid-masjid untuk memakmurkannya dengan aktifitas ibadah, taklim, dzikir, membaca al-Qur`an, maka tiada waktu yang berlalu dari usianya melainkan diisi dengan berbagai aktifitas belajar, baik yang berkenaan dengan urusan-urusan agama maupun dunia, diantaranya mengenai pelajaran al-Qur`an, as-sunnah, tafsir, fikih, dan lain sebagainya.

Ini yang diperoleh oleh orang yang hanya sekedar mendengar di dalam majelis-mejelis ilmu yang diselenggarakan di masjid. Apalagi jika ia seorang penuntut ilmu yang komit dalam mengikuti halaqah-halaqah ilmu. Di tanganya kitab, pena, kertas. Ia membaca dan mendengar penjelasan syaikhnya sebagai pengajar baginya dan bagi santri-santri lainnya, sambil duduk melingkar di seputarnya. Maka terbentuklah satu halaqah (majelis ilmu) saja, setelah pada tahun-tahun yang sebelumnya terdapat banyak halaqah di dalam satu masjid. Karena setiap halaqah memiliki syaikh-syaikhnya sendiri. Inilah rahasia munculnya banyak ulama yang luas keilmuannya di abad-abad pertama yang menjadi imam-imam di seluruh bidang pengetahuan.

Sesungguhnya orang yang shalat dapat mengambil manfaat dari halaqah-halaqah masjid dan dapat menularkannya kepada yang lainnya. Sehingga seorang pengasuh keluarga dapat mengajarkan keluarganya dengan apa yang dipelajarinya, demikian pula dengan seorang sahabat yang mengajarkan rekannya, seorang musafir (pelancong) ke luar negeri untuk tujuan bisnis atau tujuan lainnya, dapat belajar diantara penduduk pribumi negara yang dikunjunginya. Seorang penuntut ilmu lulusan dari almamater masjid tersebut, jika ia berpindah ke negeri lain, maka ia menyebarkan ilmunya di negeri tersebut melalui masjidnya, ini kalau ada masjidnya. Jika belum ada, maka ia akan mendorong warga muslim sekitarnya untuk membangun masjid, dan menyelenggarakan halaqah di dalamnya untuk proses belajar dan mengajar. Demikianlah anda mendapati ilmu tersebar di setiap keluarga dan di setiap kampung, bahkan di setiap negeri tanpa hambatan apapun.

Kelebihan lainnya, bahwa para peserta didik di masjid-masjid dapat mencapai peringkat istimewa di bandingkan dengan selain mereka, di sebabkan adanya beberapa faktor yang mendorong mereka untuk belajar lebih banyak daripada selain mereka.

Kelihatannya hal inilah menjadi jalan –yaitu investasi masjid- dalam penyebaran Islam di banyak negara di kawasan Internasional saat itu, di antaranya ke Indonesia, Filipina, Jepang, di Timur hingga Afrika, sampai Samudera Atlantik bagian Barat, dan di tengah-tengah Eropa, begitu pula di bagian barat dan utaranya. Di masa-masa yang saat itu belum ada perguruan tinggi, dan tidak pula sekolah-sekolah –kecuali dalam jumlah uang terbilang langka- selain hanya masjid, dengan lemahnya sarana transportasi dan sedikitnya kemampuan materi saat itu. Sementara orang-orang sedang menaruh perhatian yang serius terhadap pertanyaan-pertanyaan mengenai urusan-urusan agama mereka.

Adapun sekarang, telah banyak berdiri perguruan-perguruan tinggi, mahasiswanya beribu-ribu, dan tiap masyarakat negeri-negeri islami memiliki duta-dutanya, sebagian mereka mengirim da’i-da’inya. Namun hal demikian itu, kita dapati efek pengaruh yang tidak sampai pada tingkat perintis, dan tidak pula pada tingkat yang mengharuskan mereka untuk berkorban dengan harta dan kesungguhan mereka.

Peranan Perpustakaan Masjid

dalam Pembudayaan dan Penyebaran Ilmu Pengetahuan [2]

Dahulu masjid sebagai taman pengetahuan pertama di dalam kehidupan kaum muslimin, benar-benar menjadi madrasah yang menyenangkan dan perguruan tinggi pendalaman ilmu, namun disamping itu sebagai taman pengetahuan dimana umumnya kaum muslimin mendapatkan pelajaran pertama mereka di sana, lalu pemahaman mereka bertambah luas dan berlimpah pengetahuan mereka, sehingga mereka menjadi kaum yang memiliki pondamen, popularitas, pemahaman, kesadaran, pengetahuan di tingkat puncak keilmiahan dan spesialisasi di berbagai disiplin ilmu agama dan dunia.

Masjid merupakan liga pertemuan kaum muslimin yang mempersiapkan setiap orang dari mereka untuk mendapatkan pengetahuan islam secara umum. Sebagaimana diselenggarakannya halaqah-halaqah pengajaran (majelis ilmu) untuk para penuntut ilmu di tingkat dasar dan tingkat tinggi sekalipun. Mencangkup seluruh kelompok, seperti dua sayap untuk pembelajaran. Sayap satunya bagi pria dan sayap lainnya bagi perempuan. Maka berdirilah institusi-institusi pendidikan dan kegiatan penelitian ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu di dalam pelataran masjid. Setelah agama ini mampu meningkatkan sumber daya manusia dan kapabilitas intelektualnya, keimanan juga turut berperan menumbuhkannya, mensucikannya, dan mengarahkannya. Di dalam kemegaan fisik masjid-masjid jami’ terdapat perpustakaan, dimana para ulama mewakafkan buku-buku karya mereka di dalamnya. Sebagaimana para khalifah kaum muslimin dan para hakimnya saling berlomba mengumpulkan berbagai buku-buku untuk ditempatkan di dalamnya.

Para ahli sejarah yang meriwayatkan bahwa perpustakaan-perpustakaan barbagai masjid, balai, sekolah, tempat-tempat konsultasi dan ilmu, menjadi sumber literatur bagi para penuntut ilmu dan ulama serta penulis. Dan ini merupakan sebaik-baik bukti mengenai apresiasi kaum muslimin terhadap buku, dan perhatian mereka kepada perpustakaan, serta tingkat tingkat penerimaan dan antusias mereka yang responsif terhadap usaha pembentukannya. Bahkan para khalifah dan amir saling berlomba-lomba dalam membeli buku-buku dan mewakafkannya kepada para penuntut ilmu. Seperti yang dilakukan oleh Qadhi Ibnu Haiyan yang mendirikan “rumah ilmu” -tepatnya di samping sebuah masjid di negeri Nisabur- beserta lemari buku-buku dan dilengkapi dengan asrama-asrama penginapan untuk para pendatang asing dari kalangan para penuntut ilmu, sekaligus menyediakan anggaran perbekalan, serta membantu semua kebutuhan mereka.

Transfer periwayatan menjadi animo kaum muslimin yang kuat saat itu, khususnya para penuntut ilmu. Di masjid-masjid dimana mereka duduk dalam halaqah-halaqah yang sebagiannya dihadiri ribuan para penuntut ilmu, diantaranya adalah Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu dari kalangan generasi pertama yang mengadakan halaqah-halaqah ini di negeri Syam, dimana jumlah murid-murid beliau mencapai 1600an lebih.

Berdasarkan hal tersebut, mungkin kita dapat berilustrasi dan membayangkan bentuk perpustakaan masjid-masjid yang rak-raknya telah dipenuhi dengan berbagai buku, manuskrip, dan informasi bergambar dari berbagai bahasa, warna dan negara. Sebagaimana kita juga dapat membayangkan keadaan masjid-masjid, betapa diramaikan dengan beribu-ribu kaum muslimin dari kalangan penuntut ilmu. Dimana diantaranya ada yang sedang duduk menyimak ustadznya di sebuah halaqah, atau ada bahkan ada yang bertanya. Atau ada yang sedang bersandar sambil membaca buku, atau ada yang sedang melakukan penelitian dengan menyelidiki manuskrip yang berusaha dipahaminya. Bukankah ini merupakan suatu gambaran yang langka dan indah, untuk masyarakat yang gaung perkembangannya sampai pada tingkatan kebangkitan ilmiah, dengan keutamaan bunga api agama yang disulut oleh pohon keberkahan ini? Maka bersinarlah pijar-pijar ilmu beserta cabang-cabangnya secara berkilauan dan gemerlap nan elok.


[1] Daur al-Masjid fi at-Tarbiyah (hal.109-110); Min Qadhaya al-Fikr al-Islami al-Mu’ashir (hal. 222-223);

[2] Manahij at-Ta’lim fi al-Masajid wa Uslub at-Tadris fiha (hal.7); Al-Islam wa al-Hadharah wa Daur asy-Syabab al-Muslim (hal.14).

Peranan Ceramah dalam Pendidikan, Pengkaderan, Pembudayaan, dan Penyuluhan October 25, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Peranan Ceramah

dalam Pendidikan, Pengkaderan, Pembudayaan, dan Penyuluhan [1]

Penyusun : SHALIH BIN GHANIM AS-SADLAN

Terjemah : Muhammad Khairuddin Rendusara. SAg

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Source: http://www.islamhouse.com/

Khutbah (ceramah) masih menjadi sarana-sarana efektif yang paling banyak digunakan dalam penyebaran dakwah Islam. Dimana sesungguhnya ia memposisikan dirinya dalam Islam sebagai sentra istimewa dalam hal penyebaran dan penyampaian dakwah kepada manusia, sejak awal risalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di mulai. Rahasianya bahwa khutbah secara umum dan hingga saat ini merupakan  sarana yang paling efektif dalam penyebaran dakwah, sosialisasi pemikiran dan penjelasan-penjelasannya untuk bisa sampai kepada sebanyak-banyaknya kalayak dari berbagai lapisan dan tingkatan. Sementara itu juga, ceramah (khutbah) merupakan sarana yang paling cepat memberikan pemahaman secara umum dan sangat mempengaruhi masyarakat luas, dan ia memiliki efek langsung dan kecepatan dalam menyampaikan suatu pemikiran secara umum.

Karenanya, sudah seyogyanya bahwa khutbah jum’at bertujuan untuk mencapai beberapa sasaran di bawah ini :

  1. Menasehati dan mengingatkan akan Allah Ta’ala dan hari akhir dengan pengertian-pengertian yang dapat menghidupkan hati, dan mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran.
  2. Pendalaman pemahaman dan pengajaran kepada kaum muslimin mengenai hakikat-hakikat agama mereka yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sambil memproteksi kesalamatan aqidah kaum muslimin dari segala khurafat, keselamatan ibadah mereka dari segala bid’ah, dan keselamatan akhlaq dan adab mereka dari segala penyelewengan dan penyimpangan.
  3. Mengoreksi segala pemahaman yang salah mengenai Islam, dan mecounter segala subhat dan kebatilan yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam yang bertujuan untuk mengacaukan pola pikir kaum muslimin, dengan cara yang elegan, bijak dan jauh dari caci makian dan celaan, serta menghadapi pemikiran-pemikiran yang destruktif dengan memaparkan Islam yang orijinal.
  4. Mengaitkan khutbah dengan kehidupan dan realitas yang dialami banyak orang, serta memberikan terapi dari berbagai penyakit sosial, dan menghadirkan solusi dari segala problematika berdasarkan syariat islamiyah yang elok.
  5. Memberikan perhatian terhadap momentum-momentum islami, seperti ramadhan, haji. Demikian pula dengan berbagai musibah, dan lain sebagainya yang menyebabkan audiensi menjadi antusias  kepada pengetahuan yang dapat mencerahkan jalan urusan bagi mereka.
  6. Memperkokoh pengertian ukhuwah al-islam (persaudaraan Islam) dan persatuan umat. Memerangi pertikaian dan fanatisme golongan dan aliran, dan perkara-perkara lainnya yang dapat memecah belah persatuan umat, dan fokus terhadap segala yang dapat mengeratkan seorang muslim, secara pikiran dan emosional terhadap saudara-saudaranya sesama kaum muslimin.
  7. Menghidupkan ruh jihad dalam diri umat Islam dan mengobarkan gelora semangat jihad, untuk menjaga kehormatan Islam, kesucian dan bumi Islam.
  8. Sudah sepatutnya bahwa khutbah jum’at harus steril dari kepentingan yang bersifat pribadi, atau untuk dijadikan sebagai alat penyebaran propaganda. Khutbah yang disampaikan harus berdasarkan keikhlasan karena Allah Ta’ala dan kepentingan agama Allah, menyampaikan ajakan kepada-Nya dan untuk meninggikan kalimat-Nya. Allah berfirman :

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS.72:18).

Karenanya menjadi keharusan bagi para ulama dan da’i yang kompeten agar meletakkan contoh-contoh yang baik untuk tajuk-tajuk islami yang beraneka ragam, sehingga menjadi bahan materi bagi para khatib supaya mereka terbantukan dalam mempersiapkan materi-materi khutbah mereka. Sebagaimana materi  khutbah juga harus berdasarkan literatur-literatur yang dikenal, islami, terpercaya, dan jauh dari hadits-hadits yang lemah (dha’if), palsu (maudhu’), kisah-kisah isra`iliyat yang manipulatif, hikayat-hikayat dusta dan gaya bahasa yang dibenci, dan setiap yang tidak dapat diakui oleh prosedur penyaduran yang shahih atau akal sehat.


[1] Lihat, Kumpulan Dokumen Konferensi-konferensi dan Kementerian Wakaf serta Urusan Islam (Taushiyat, muqtarihat, ad-da’wah al-islamiyah (Rekomendasi, Gagasan, Dakwah Islamiyah)), hal. 272-273.

Shalat Berjama’ah di Masjid & Pengaruhnya pada Pendidikan dan Penyuluhan October 25, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , ,
add a comment

Shalat Berjama’ah di Masjid & Pengaruhnya

pada Pendidikan dan Penyuluhan [1]

Penyusun : SHALIH BIN GHANIM AS-SADLAN

Terjemah : Muhammad Khairuddin Rendusara. SAg

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Source: http://www.islamhouse.com/

Hal yang pasti bahwa misi masjid di dalam Islam, menjadikan prioritas pertamanya pada pembinaan ruhani. Shalat berjama’ah dan membaca al-Qur`an al-Karim merupakan aktifitas yang mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang banyak ….. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘Anhu, berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :


“Shalat seseorang secara berjama’ah dilipatgandakan dua puluh lima kali daripada shalatnya di rumah dan tempat bisnisnya. Demikian itu, jika ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian keluar menuju masjid, tidak ada (motivasi) yang mengeluarkannya kecuali (untuk) shalat. (Maka) tidaklah ia mengayunkan langkahnya, melainkan dengan langkah tersebut derajatnya ditinggikan, dan dihapuskan kesalahannya. Kalaulah ia telah mengerjakan shalat, para malaikat (masih) tetap bershalawat (mendoakan) kepadanya, selama ia tetap berada di tempat shalatnya, “Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah rahmatilah ia.” Seorang tetap (terhitung) dalam shalat, selagi ia menunggu shalat berikutnya.”[2]

Diantara tugas-tugas masjid di bidang Pendidikan yang terpenting, adalah membiasakan kaum muslimin untuk senantiasa berkomitmen dalam berjama’ah dan terikat erat dengannya. Hal ini dilakukan berulang-ulang kali dalam sehari, dimana seorang muslim merasakan betapa pentingnya bersama-sama dengan ikhwan (saudara-saudara)nya dalam menunaikan syi’ar-syi’ar agama mereka, dan mereka dalam hal ini berada dalam kedudukan yang sama (egaliter) -ibarat gigi-gigi sisir- saat berdiri di hadapan Zat Yang Mengadakan dan Membentuk Rupa, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka mereka adalah orang-orang yang egaliter, bertauhid, dan bersatu padu. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mulia telah memotivasi kita untuk gandrung pergi ke masjid-masjid, serta selalu konsisten dalam berjama’ah. Juga mengajarkan kita bahwa setiap langkah yang diayunkan menuju masjid, menyebabkan derajat terangkat dan kesalahan terhapuskan. Siapa pun dari kaum muslimin yang menaruh perhatian yang demikian itu, dan tidak tergopoh-gopoh saat menuju ke “pembersih besar (baca: shalat, pent)” ini yang  mensucikan dari dosa-dosa secara langsung setiap hari, sehingga tidak tersisa sedikit pun dari kotoran-kotorannya.

Di dalam masjid, sesungguhnya kaum muslimin merasakan persaudaran Islam (ukhuwwah al-Islam) dan komunitas penegak shalat. Masyarakat ini dikendalikan oleh cinta, ketulusan dan keharmonisan. Mereka merupakan masyarakat yang berusaha mencari tahu keadaan saudaranya yang tidak hadir, dan bersikap elok terhadap yang hadir, saling membantu sebagian mereka dengan sebagian yang lainnya. Dan pertemuan kaum muslimin ini, terjadi lima kali dalam sehari di masjid. Jiwa-jiwa mereka mendapatkan santapan ruhani dengan al-Qur`an, dan terbina dengan iman. Membawa mereka kepada kesabaran terhadap hal yang menyakitkan, berjabatan tangan secara elegan, menundukkan nafsu, serta meningkatkan keimanan dan kepasrahan mereka.


[1] Manahij at-Ta’lim fi al-Masajid wa Uslub at-Tadris fiha (hal.8); Al-Islam wa al-Hadharah wa Daur asy-Syabab al-Muslim (hal.513, 659); Ad-Daur at-Tarbawi lil Masjid (172).

[2] HR. Bukhari (Jual Beli, no.2013) & II/112,114; HR. Muslim, no.649; HR. Abu Daud (Shalat, no.559); HR. Ahmad (II/252).

Masjid merupakan Media Implementasi Amal dalam rangka mengajak kepada Iman & Amal Soleh, Pendidikan, Pembudayaan, Pembinaan dan Penyuluhan October 25, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , ,
add a comment

Masjid merupakan Media Implementasi Amal

dalam rangka mengajak kepada

Iman & Amal Soleh, Pendidikan, Pembudayaan, Pembinaan dan Penyuluhan [1]

Penyusun : SHALIH BIN GHANIM AS-SADLAN

Terjemah : Muhammad Khairuddin Rendusara. SAg

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Source: http://www.islamhouse.com/

Masjid adalah institusi pertama yang menjadi titik tolak penyebaran ilmu dan pengetahuan dalam Islam, dan dia membawa kekhususan yang asasi dinisbatkan kepada masyarakat muslim. Ia merupakan sumber tolakan pertama untuk dakwah Islam, dan juga sebagai sumber mata air petunjuk Rabbani. Maka pada langitnya, menjulang tinggi dakwah kepada iman dan amal shalih. Melalui mimbarnya, diajarkan iman dan amal shalih. Di hamparan buminya yang suci, ditunaikan amal shalih. Dan ia menjadi pusat dimana prinsip jihad yang agung bergerak mengelilinginya. Juga sebagai poros dimana segala pemikiran dan perasaan menyelubung di seputarnya. Tempat pengemblengan yang memunculkan kebangkitan dan orang-orang komit yang membawa penyulut-penyulut cahaya dan hidayah, mereka menjelajahi penjuru dunia membawa sifat, aroma dan kesucian masjid.

Sesungguhnya masjid sepanjang sejarah kaum muslimin berkedudukan sebagai institusi pendidikan untuk anak kecil dan orang dewasa. Dan tempat pertama yang merealisasikan target-target kerja nyata yang bertujuan untuk mendidik manusia secara umum, khususnya bagi anak-anak dan para pemuda. Tokoh-tokoh perintis yang membawa panji dan meneriakan panggilan kepada yang bersungguh-bersungguh, mereka adalah singa-singa masjid dan para pemakmur rumah-rumah Allah Ta’ala, dimana para ‘ulama (pakar ilmu agama), fuqaha’ (pakar hukum islam), bulaqha’ (pakar bahasa aab), nubala` (para cendikiawan) merupakan sebaik-baik lulusannya.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Masjid merupakan tempat berkumpulnya umat dan para pemimpinnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membangun masjidnya (masjid Quba) yang penuh keberkahan itu di atas dasar takwa. Di dalamnya terdapat aktifitas shalat, membaca al-Qur`an, dzikir, majelis taklim, ceramah. Demikian pula aktifitas bidang politik, akad sumpah, panji pasukan, instruksi pemimpin, dan merupakan corong publikasi bagi para pengambil kebijakan. Di sanalah kaum muslimin berkumpul tiap kali ada perkara yang menghimpun mereka mengenai urusan-urusan agama dan dunia mereka.”

Setuju, bahwa kedudukan masjid dalam masyarakat Islam menjadi sumber pengarahan ruhani dan materi. Sebagai halaman untuk ibadah, madrasah ilmu dan balai etika. Ia juga mencairkan dan membebaskan jiwa-jiwa dari ikatan-ikatan duniawi, nafsu pendapatan dan jabatan, rintangan-rintangan arogansi dan egoisme, mabuk syahwat dan nafsu. Kemudian jiwa-jiwa tersebut bertemu dalam halaman penghambaan yang sesungguhnya kepada Allah Azza wa Jalla.


[1] Lihatlah: Al-Masjid wa Dauruhu at-Ta’limi ‘Ibar al-‘Ushur min Khilal al-Halaqat al-‘Ilmiyah (hal.15-21) dengan sedikit gubahan; Manahij at-Ta’lim fi al-Masajid wa Uslub at-Tadris fiha (hal.6,7); Ad-Daur at-Tarbawi lil Masjid (hal. 146-147); Daur al-Masjid fi at-Tarbiyah (hal.78); Min Qadhaya al-Fikr al-Islami al-Mu’ashir (hal. 241); (HR. Muslim, no.1017)

Urgensi Masjid & Keterikatannya dengan Masyarakat Muslim October 25, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , ,
add a comment

Urgensi Masjid & Keterikatannya dengan Masyarakat Muslim [1]

Penyusun : SHALIH BIN GHANIM AS-SADLAN

Terjemah : Muhammad Khairuddin Rendusara. SAg

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Source: http://www.islamhouse.com/

Masjid memiliki urgensi yang besar dan kedudukan yang agung dalam masyarakat Islam. Al-Qur`an al-Karim telah menegaskan kedudukan masjid dan ganjaran bagi orang yang yang menyibukkan dirinya dalam memakmurkan masjid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.” (QS.24:36-37).

Dan firman-Nya yang lain :

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. 9:18).

Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :


“Bagian negeri-negeri yang paling disenangi oleh Allah adalah masjid-masjid-nya, dan bagian negeri-negeri yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasarnya.”[2]

Hal yang mesti dari masjid, bahwa di dalamnya dapat mencairkan dan membebaskan jiwa-jiwa dari ikatan-ikatan duniawi, nafsu pendapatan dan jabatan, rintangan-rintangan arogansi dan egoisme, mabuk syahwat dan nafsu. Kemudian jiwa-jiwa tersebut bertemu dalam halaman penghambaan yang sesungguhnya kepada Allah Azza wa Jalla dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.

Sesungguhnya satu rakaat yang dilakukan kaum muslimun di salah satu rumah Allah, dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, dapat membenamkan ke dalam jiwa-jiwa mereka akan hakikat-hakikat kesetaraan kemanusiaan, memunculkan rasa cinta dan persaudaraan, yang tidak dapat dilakukan oleh berpuluh-puluh buku yang mengajak kepada kesetaraan dan berbicara mengenai falsafah manusia teladan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai pembangunan masyarakat islami di Madinah Munawwarah dengan cara memakmurkan masjid. Memaklumatkan bahwa hal itu merupakan pondasi dan penopang pertama untuk mendirikan masyarakat ini. Sehingga jika kemakmuran masjidnya ini telah sempurna dan kaum muslimin telah meresponnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengikat hati-hati kaum muslimin dalam naungannya, dengan tali persaudaraan karena Allah. Bagi mereka, masjid merupakan sebaik-baik jaminan untuk mencapai hal tersebut, dan merupakan kenikmatan yang paling besar dibanding kesibukan-kesibukan dunia, dan berbagai fitnah hawa nafsu lainnya !!

Sesungguhnya kaitan masjid dengan masyarakat sangatlah kuat. Lebih dari sekedar seorang berdiri untuk mengerjakan shalat lima fardhu dalam sehari semalam, kemudian ia mengunci pintunya setelah itu. Sehingga hubungannya menjadi terputus dengan kaum muslimin dengan segala urusannya. Tidak, tidaklah demikian!!! Sesungguhnya sebagai sebuah lembaga, ia memiliki pengaruh sebagaimana yang telah kami sebutkan terhadap jiwa-jiwa manusia, dan  efek yang telah kami jelaskan dalam mendidik mereka. Sudah menjadi keharusan untuk menjadikan kerekatan masjid terhadap situasi dan kondisi masyarakat menjadi kerekatan yang interaktif, kokoh dan kontinue.


[1] Mengenai tema ini, silahkan dirujuk: Ad-Daur at-Tarbawi lil Masjid , DR. Faraghli Jad Ahmad (hal. 143-144); Al-Islam wa al-hadharah wa daur asy-Syabab al-Muslim (hal.540 dan setelahnya); Daur al-Masjid fi at-Tarbiyah wa al-A’dad (hal.138).

[2] HR. Muslim (Masjid-masjid dan tempat-tempat shalat, no.671).

Kedudukan & Peranan Masjid Dalam Islam, serta Tugas Universalnya bagi Kemaslahatan Dunia & Akhirat October 25, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , ,
3 comments

Penyusun : SHALIH BIN GHANIM AS-SADLAN

Terjemah : Muhammad Khairuddin Rendusara. SAg

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Source: http://www.islamhouse.com/


Segala puji bagi Allah Ta’ala semata. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tiada nabi setelahnya, juga kepada seluruh keluarga dan sahabatnya Radhiyallahu ‘Anhum. Amma ba’du :

Masjid merupakan rumah Allah, tempat dimana manusia menyembah-Nya dan mengingat nama-Nya. Pengunjung di dalamnya adalah orang yang memakmurkannya, dan merupakan sebaik-baik bidang tanah Allah di muka bumi ini, sebagai menara petunjuk, serta corong agama. Ia adalah majelis dzikir, mihrabnya ibadah, menaranya pengajaran ilmu dan pengetahuan pokok-pokok syari’at. Bahkan ia merupakan lembaga pertama yang menjadi titik tolak penyebaran ilmu dan pengetahuan di dalam Islam !!!

Mengenai keutamaan masjid dan keagungan kedudukannya, maka terdapat banyak teks-teks agama (an-nushush) mengenai hal tersebut, diantaranya adalah :

Firman Allah Ta’ala :

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS.72:18).

Allah Subhanahu wa Ta’ala –sebagai Pemilik segala sesuatu- menyandingkan masjid-masjid kepada-Nya. Penyandaran masjid kepada-Nya merupakan pemuliaan dan mengagungan terhadapnya. Dan masjid bukanlah kepunyaan siapapun, melainkan Allah semata. Sebagaimana halnya dengan ibadah yang telah dibebankan oleh Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, maka tidaklah diperkenankan untuk dialihkan pelaksanaannya selain kepada-Nya saja.

Dalil lainnya, hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

.

“Tidaklah berkumpul sekelompok orang di salah satu rumah-rumah Allah (masjid). Mereka membaca al-Qur`an dan saling mempelajarinya (bersama-sama) di antara mereka, melainkan (akan) turun ketenangan atas mereka, mereka akan diliputi rahmat, dan para Malaikat (hadir) mengelilingi mereka, serta Allah menyebutkan (nama-nama) mereka di hadapan (para Malaikat) yang berada di sisi-Nya.”[1]

Diantara dalil lain yang menunjukkan kedudukan masjid di sisi Allah Ta’ala, bahwa yang memakmurkannya baik secara material dan imaterial, hanyalah makhluk Allah Ta’ala pilihan, yaitu dari kalangan para Nabi dan Rasul, serta para pengikut-pengikut mereka dari orang-orang yang beriman, Allah Ta’ala berfirman :

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’.” (QS. 2:127-128).

Dan firman Allah Ta’ala tentang orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid-Nya :

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. 9:18).

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kepada siapa saja yang membangun masjid di muka bumi ini yang dilandasi dengan niat karena Allah Ta’ala semata, maka Allah Ta’ala akan membangunkan rumah baginya di surga. Sebagaimana dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

‘Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah, (niscaya) Allah akan membangunkan baginya yang semacamnya di dalam surga’.”[2]

Jika masjid dikehendaki memainkan peranan-peranannya, maka dimungkinkan untuk menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga lain, yang pada akhirnya akan mewarnai kehidupan masyarakatnya, dengan celupan islami yang pernah mewarnai komunitas masyarakat pertama di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan generasi awal dari kalangan para sahabat dan tabi’in Radhiyallahu ‘Anhum dan zaman-zaman kecemerlangan Islam.

Sudah selayaknya lembaga-lembaga ini saling bekerjasama dengan masjid di bidang penyuluhan dan pembudayaan. Dan lembaga-lembaga ini bekerja secara menyeluruh dan terprogram rapi, sehingga menghasilkan produk muslim yang soleh.  Sesungguhnya peran masjid dalam realitasnya, merupakan bagian integratif bersama peran-peran lembaga-lembaga lainnya di dalam masyarakat. Dari masjidlah, lembaga-lembaga ini menjalankan kegiatan-kegiatannya yang mengurai berbagai belitan, serta berpartisipasi dalam merajut kehidupan masyarakat.

Sesungguhnya masjid masih tetap menjalankan peranannya yang agung ini selama berabad-abad, dan berlangsung hingga saat ini dimana umat Islam yang secara internal berada pada tingkatan “buih lemah yang mengapung”. Sementara secara ekstrenal, kekuatan jahat, kezaliman secara terang-terangan memaklumatkan permusuhan dan peperangan atas umat Islam. Peranan masjid menjadi melemah dan terkulai, mata airnya mengering, terjadi di hampir kebanyakan negeri-negeri Islam !!! Demikian itu disebabkan kelengahan, kedustaan dan niat-niat buruk sebagian mereka kepada yang lainnya.

Ditengah-tengah kondisi yang terpuruk ini, dan ditengah-tengah kelompok-kelompok yang bertujuan untuk mencukur masjid dari misi dan tugasnya di dalam masyarakat. Ruh Islam tidak pernah pudar, bahkan ia terus mengalir di setiap pembuluh darah dunia Islam dengan aliran yang alami dan tenang. Lalu mendorongnya kepada Islam, dengan dorongan yang berkesinambungan. Lalu hasil dari ini semua, terbangunnya kesadaran dan terjadinya kebangkitan yang penuh keberkahan. Masjid mulai mempersiapkan dirinya untuk menjalankan perannya sebagai pemandu masyarakat muslim dalam pengarahan, pendidikan dan pembinaan. Sebagai sel-sel hidup yang mengalir dengan gerakan dan pelayanan, untuk melaksanakan perannya dan menjalankan kewajibannya bersama dengan lembaga-lembaga lainnya, seperti di rumah, sekolah, barak-barak militer, dan taman-taman bermain … dsb, (dengan) bahu membahu bersama-sama di medan penyadaran dan penyuluhan.

Dan ceramah ini, berusaha untuk menjelaskan tentang daya pengaruh masjid, dengan tajuk “Masjid & Pengaruhnya dalam dunia Pendidikan”, yang merupakan upaya sederhanaku yang telah aku persiapkan menyangkut apa yang aku ketahui mengenai peran cerdas masjid. Juga sebagai kontribusi bersama Departemen Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Penyuluhan di kesempatan yang berharga bagi kami, yaitu berlalunya 100 (seratus) tahun berdirinya Kerajaan Saudi Arabia, sambil bermohon kepada Allah Ta’ala agar berkenan memberikan petunjuk atas langkahnya dan menetapkan jalannya, sesungguhnya Dia Maha mendengar dan Maha mengabulkan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Islam wa al-Hadharah wa Daur asy-Syabab al-Muslim, an-Nadwah al-‘Alamiyah  li asy-Syabab al-Islami (WAMY), Cet.8, th.1405H-1406H
  2. Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an, karya al-Qurthubi.
  3. Ad-Daur at-Tarbawi lil Masjid, DR. Faraghli Jad Ahmad (Majalah Asy-Syari’ah wa ad-Dirasat al-Islamiyah), edisi.6, 1406H, Rabi’ul Awwal
  4. Min Qadhaya al-Fikr al-Islami, an-Nadwah al-‘Alamiyah  li asy-Syabab al-Islami (WAMY), 1406H, Cet.3
  5. Al-Masjid wa Dauruhu at-Ta’limi ‘Ibar al-‘Ushur min Khilal al-Halaqat al-‘Ilmiyah, Abdullah Qasim al-Wusyaili, Mu’assasah ar-Risalah, Beirut, 1408 H
  6. Manahij at-Ta’lim fi al-Masajid wa Uslub at-Tadris fiha, Prof. Muhammad ‘Abdul Alim Mursi, bersumber dari sub Pembahasan Pengantar untuk Konferensi Islam II, di London (Bertajuk: Kaum Muslimin di Barat), 1-3, 1414 H.
  7. Watsa`iq Mu`tamarat Wa Wizara` al-Auqaf Wa asy-Syu`un al-Islamiyah (Kumpulan Dokumen Konferensi-konferensi dan Kementerian Wakaf serta Urusan Islam) Kerajaan Saudi Arabiyah, Konferensi I, II, III, th.1409H.

[1] HR. Muslim (Zikir, doa, taubat dan istighfar, no.2699) dan bagian dari hadits No.2700. HR. Tirmidzi (al-Qira’at, no.2945). HR. Abu Daud (Shalat, no.1455), HR. Ibnu Majah (Al-Muqaddimah, no.225). HR. Ahmad (II/252).

[2] HR. Bukhari (Shalat, no.439) & I/453. HR. Muslim (Masjid-masjid dan tempat-tempat shalat, no.533), HR. Tirmidzi (Shalat, no.318), HR. Ibnu Majah (Masjid-masjid dan Jama’ah-jama’ah, No.736), HR. Ahmad, I/61, HR. Ad-Darimi (Shalat, no.1392).

Dampak Negatif Kemaksiatan October 25, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment


Penyusun : Abdullah bin Muhammad as-Sadhan

Terjemah : Muhammad Latif Abu Hisyam

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Sumber: http://www.islamhouse.com/

SAMBUTAN

SYAIKH DR.ABDULLAH BIN ABDURRAHMAN BIN JIBRIN

Segala puji bagi Allah semata, semoga shalawat dan salam tetap terlimpah atas Nabi Muhammad, keluarga beserta sahabat beliau, amma ba’du :

Saya telah membaca tulisan buah karya DR. Abdullah bin Muhammad As-Sadhan. Beliau dengan sangat bagus memaparkan berbagai nasehat dan ucapan yang bermanfaat sehingga mencapai tujuan yang di maksud. Hal ini disebabkan apa yang beliau saksikan kebanyakan kaum muslimin yang menggampangkan dalam berbuat dosa dan terus menerusnya mereka dalam dosa besar, tanpa menghiraukan akibatnya yang buruk.

Tidak diragukan lagi bahwa dosa dan kesalahan adalah sebab hilangnya keberkahan dan turunnya siksaan. Apa yang di alami umat terdahulu adalah hukuman awal akibat kekufuran, kesyirikan serta terus menerusnya mereka dalam kemaksiatan dan pelanggaran. Adapun hukuman akan datang kelak adalah lebih dahsyat  dan lebih kekal. Allah SWT berfirman tentang sebagian orang-orang yang disiksa di dunia:

“Dan jikalau tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia.Dan bagi mereka di akhirat azab neraka”

(Q.S Al-Hasyr : 3)

Meski telah sering kita dengar dan baca, begitu pula banyaknya nasehat dan ibrah, tapi masih saja kita saksikan berbagai negara, orang dan kelompok/sekte yang bangga dengan Islam akan tetapi masih melakukan dosa-dosa besar. Adapula yang berbangga dengan ilmu atau amalannya sekan-akan itu adalah kebaikan yang diharapkan pahala darinya. Ini adalah termasuk tipuan dan sikap menunda-nunda.

Seorang muslim hendaknya menghadap Allah, memperbaiki amalannya serta memurnikan taubatnya dan banyak menyesali umur yang telah ia sia-siakan. Allah akan mengampuni taubat hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahannya. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpah atas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga beserta sahabat beliau.

MUKADDIMAH

Segala puji bagi Allah, kita memuji, memohon pertolongan dan petunjuk pada-Nya. Kita berlindung pada Allah dari keburukan jiwa dan perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk baginya. Kami bershalawat dan mengucapkan salam atas nabi kita Muhammad

Nabi pembawa rahmat dan petunjuk, Allah mengutus beliau setelah terputusnya para rasul. Maka Allah memberikan petunjuk dengan perantaraan beliau ke jalan yang paling lurus dan terang. Allah membuka pandangan yang tertutup dan telinga yang tidak mau mendengar serta hati yang tertutup. Amma ba’du:

Banyak orang yang mengeluh akan kerasnya hati, hilangnya keberkahan, godaan setan dan sibuk dengan dunia (sehingga lalai tuntunan agama). Mereka lupa dengan dari firman Allah SWT:

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (Q.S Ibrahim : 42)

Berkata Maimun bin Harun tentang makna ayat ini : “Ini adalah ta’ziyah bagi orang yang didzalimi dan ancaman bagi orang yang dzalim”. Tentang firman Allah SWT:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S Asy-Syuuraa : 30)

Berkata Ibrahim bin Adham : “Kita adalah keturunan penduduk surga, Iblis telah mengeluarkan kita dari surga dengan kemaksiatan. Maka sudah selayaknya bagi orang yang berbuat dosa agar tidak tentram dengan kehidupannya sampai ia kembali ke tanah airnya”. Kalau demikian halnya, maka ini tidak lain kecuali pengaruh buruk dari kemaksiatan. Allah berfirman:

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir), Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan” (Q.S Al-Qalam 35-36)

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka Amat buruklah apa yang mereka sangka itu” (Q.S Al-Jatsiyah : 21)

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat”

(Q.S Shaad : 28)

Sebab kemaksiatan adalah seperti yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam rahimahullah : “Yang menyebabkan pelaku maksiat terjerumus adalah kelalaian dan syahwat, inilah pokok dari segala kejahatan. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

(Q.S Al-Kahfi : 28)

Kejahatan tidak hanya disebabkan oleh hawa nafsu, tetapi dibarengi dengan kebodohan. Karena orang yang punya hawa nafsu jika ia sadar bahwa perbuatan itu akan mendatangkan mudharat, secara otomatis ia akan menghindar darinya, karena itulah para shahabat mengatakan bahwa setiap orang yang melakukan kemaksiatan, maka hal itu disebabkan kebodohannya. Akan tetapi ia tidak dimaafkan dengan sebab ketahuannya. Ia mesti memperhitungkan akibat buruk dari maksiat pada diri pelakunya di dunia dan akherat – semoga Allah melindungi kita darinya – , karena orang yang bermaksiat di kala ia melakukannya, ia bermaksiat pada siapa ? Dialah Raja diraja !

Berkata Bilal bin Sa’d rahimahullah : “Jangan engkau melihat pada kecilnya dosa, tetapi lihatlah pada agungnya Dzat yang engkau maksiati”.

Yang mendorong penulis untuk mengetengahkan pembahasan ini adalah sikap menyepelekan kebanyakan kaum muslimin yang sangat disayangkan dalam mendekati kemaksiatan, dengan anggapan bahwa dengan taubat saja cukup untuk menghilangkan dosa !

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : “Dosa-dosa ibarat luka-luka, bisa jadi sebuah luka menyebabkan kematian”.

Demi Allah, tidak cukup semata-mata taubat, bahkan mesti diiringi oleh penyesalan, rasa takut dan senantiasa istighfar dan memperbanyak amalan kebaikan sehingga kita termasuk dari orang-orang yang didekatkan dan selamat. Allah berfirman :

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S Al-Furqaan : 70)

“Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (Q.S Al-Furqan : 71)

Maka wahai saudara muslim, jika jiwamu mendorong untuk bermaksiat dan fikiranmu tertuju padanya, hatimu bertekad untuk melakukannya, maka bacalah dampak negatif dan keburukan dari maksiat yang ada dalam pembahasan buku ini. Ingatlah keagungan pencipta anda, anugrah-Nya pada diri anda berupa kenikmatan kesehatan. Seandainya anda tidak sehat tentulah anda tidak merasakan kepuasan maksiat atau barangkali anda tidak dapat melakukannya. Pertimbangkanlah wahai saudaraku yang mulia antara (segi positif dan negatif dari maksiat). Kenikmatan yang anda dapatkan dari maksiat hanyalah sesaat. Saya mengharap agar anda mengingat pahitnya terhindar (dari kebaikan dan pahala -pent), tidak ada kebaikan pada kelezatan yang diakhiri dengan neraka. Saya memohon pada Allah agar memelihara diriku dan anda dari segala keburukan dan apa yang tidak diinginkan.

Ya Allah, dengan mengharap (pada-Mu) wujudkanlah cita-cita kami, perbaikilah amalan kami dalam setiap keadaan, mudahkanlah jalan untuk mendapatkan keridhaan-Mu, Arahkanlah ubun-ubun kami pada kebaikan, berikanlah kami kebaikan di dunia dan akherat, serta jauhkanlah kami dari siksa neraka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengampun. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpah pada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya ..

AWAL MULA KEMAKSIATAN

MUKADDIMAH

1. Dosa pertama yang Allah dimaksiati dengannya di langit[1]

Adalah sifat iri Iblis pada Adam sehingga ia enggan melaksanakan perintah Allah untuk sujud padanya. Sebabnya adalah rasa sombong, bangga dan merasa lebih mulia. Setelah itu kemaksiatan Adam dan Hawa ketika keduanya makan buah dari pohon yang telah di larang Allah untuk memakannya. Ini disebabkan oleh dorongan Iblis, semoga Allah melaknatnya, lalu beliau bertaubat dan Allah menerima taubat Adam dan Hawa.

Ini dikarenakan meninggalkan perintah di sisi Allah lebih besar dari melakukan maksiat. Adam dilarang makan buah dari pohon tetapi ia melakukannya, lantas Allah menerima taubat beliau. Adapun Iblis diperintah untuk sujud pada Adam tapi ia tidak bersujud, maka Allah tidak menerima taubatnya[2]. Karena dosa melanggar larangan, sumbernya kebanyakan adalah dari nafsu dan kebutuhan, adapun dosa meninggalkan perintah, sumbernya kebanyakan adalah kesombongan dan tinggi hati. Tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya terdapat sebiji sawi kesombongan. Sebaliknya akan masuk surga, orang yang mati dalam keadaan bertauhid, meski ia pernah berzina dan mencuri[3].

Kalau demikian, berarti seseorang yang meninggalkan sedikit saja dari perintah shalat dan semisalnya berarti tidak diragukan lagi ia berada dalam bahaya yang besar.

Maka apa pengaruh maksiat Adam dan Hawa pada anak cucu mereka ?

Dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda : “Kalau bukan karena hawa, tentulah seorang istri tidak akan berkhianat pada suaminya selama-lamanya”[4]. Maksudnya bahwa hawa berkhianat pada Adam dengan mempengaruhinya untuk melanggar perintah dengan memakan buah, sehingga keturunannya dari kalangan wanita ikut mewarisinya, bukanlah yang dimaksud dengan khianat di sini adalah zina.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda : “Ketika Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya, maka jatuhlah setiap jiwa yang Allah ciptakan dari anak keturunan Adam sampai Hari Kiamat. Allah menjadikan diantara kedua mata setiap manusia kilauan dari sinar, lalu Allah perlihatkan pada Adam, maka Adam bertanya : Ya Tuhan !, Siapakah mereka itu ? Allah menjawab : Mereka adalah anak keturunanmu. Adam melihat dan takjub pada kilauan yang ada di antara kedua matanya. Maka Adam bertanya : Ya Tuhan siapa ini ? Allah menjawab : Ini adalah salah seorang dari akhir umat dari keturunanmu yang bernama Dawud. Adam bertanya : Ya Tuhan engkau jadikan berapa umurnya ? Allah menjawab : enam puluh tahun. Adam berkata : Ya Tuhan, tambahlah untuknya dari umurku empat puluh tahun. Setelah usia Adam berakhir, malaikat pencabut nyawa mendatanginya, maka Adam berkata : Bukankah masih tersisa dari umurku empat puluh tahun ? Malaikat menjawab : Bukankah telah engkau berikan pada anakmu Daud ? Adam mengingkari, maka anak keturunannyapun mengingkari ! Adam bersalah, dan keturunannya juga bersalah ![5].

Kelalaian Adam adalah kelalaiannya melakukan larangan dengan memakan buah, sehingga turun temurun ke anak cucunya disebabkan akibat buruk dari maksiat. Adam dan istrinya bersalah dengan makan buah, sehingga turun temurun ke anak cucunya disebabkan akibat buruk dari maksiat. Adam mengingkari tentang pemberian umurnya pada putranya Daud, lantas hal itupun juga diwarisi oleh keturunannya dengan sebab maksiat.

2. Dosa pertama dimana Allah dimaksiati olehnya di bumi[6]

Adalah kedengkian Qabil pada saudaranya Habil sehingga ia membunuhnya. Dalam sebuah hadits dari A’masy dari Abdullah bin Marrah dari Masruq dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi bersabda : “Tidaklah suatu jiwa yang dibunuh dengan cara dzalim, melainkan putra Adam yang pertama mendapatkan bagian darinya. Karena dialah yang pertama kali melakukan pembunuhan”[7].

Maka tidaklah ada orang yang dibunuh dengan cara dzalim, melainkan Qabil menanggung sebagian dosanya, ini disebabkan akibat buruk dari maksiat.

PASAL SATU

SEBAB-SEBAB KEMAKSIATAN

Terjadinya kemaksiatan ada sebab dan faktor pendorongnya yang secara umum kembali pada tiga hal : Ibnul Qayyim meringkasnya sebagai berikut :

  • Bergantungnya hati pada selain Allah, ini mengakibatkan timbulnya kesyirikan.
  • Tunduk pada amarah, ini mengakibatkan timbulnya kedzaliman.
  • Tunduk pada nafsu hewani, ini mengakibatkan terjadinya perbuatan fahisyah.

Puncak dari ketergantungan pada selain Allah adalah kesyirikan, dan permohonan pada tuhan selain Allah. Puncak dari ketundukan pada amarah adalah pembunuhan, dan puncak dari ketaatan pada nafsu hewani adalah zina.

Karena itulah Allah Yang Maha Suci mengumpulkan ketiga hal di atas dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)” (Q.S Al-Furqan : 68)

Ketiga hal di atas (saling berkaitan. Kesyirikan bisa menyeret pada kedzaliman dan perbuatan fahisyah, sebagaimana tauhid dan keikhlasan menghindarkan seseorang darinya)[8].

Dan ini demi Allah terjadi pada zaman kita yang pahit ini, dimana para pemimpin kekufuran menguasai kaum muslimin tanpa belas kasih. Sehingga tidaklah apa yang anda dengar tentang berbagai peristiwa menyedihkan di berbagai penjuru dunia, melainkan kaum muslimin adalah korban terbesarnya dari perkara yang tiga di atas. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah Yang Maha Agung. Inilah akibat buruk dari kemaksiatan. Kepada Allah-lah tempat berlindung darinya.

PASAL DUA

AKIBAT PERBUATAN MAKSIAT PADA UMAT-UMAT TERDAHULU

1) YUSUF AS :

Dari al-Hasan bersabda nabi Muhammad SAW: “Semoga Allah merahmati Yusuf, andaikata bukan karena ucapannya, ia tidak akan tinggal lama di penjara,  yaitu ucapannya : “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”, lalu al-Hasan menangis dan berkata : “Apabila kita tertimpa suatu musibah, kita minta tolong pada manusia !”[9]

2) 11 SAUDARA YUSUF DAN KETURUNAN MEREKA ( BANI ISRAIL ) :

Kisah saudara-saudara Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an, diantaranya :

ü  Ucapan mereka :  “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri”, lalu tumbuhlah rasa kedengkian yang diwarisi oleh anak cucu mereka.

ü  Ucapan mereka :  “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum ini”. (Q.S Yusuf : 77), lalu tumbuhlah sikap memfitnah dan kebohongan yang diwarisi oleh anak cucu mereka.

ü  Ucapan mereka  “Bunuhlah Yusuf” (Q.S Yusuf : 9), lalu tumbuhlah dari kesialan maksiat yang mereka lakukan untuk berambisi merealisasikan kepentingan mereka dengan segala jalan meski dengan jalan pembunuhan demi terlaksananya apa yang rencana mereka, dan ini juga diwarisi keturunan mereka[10].

ü  Ucapan mereka : “Dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan(gandum) seberat beban seekor unta” (Q.S Yusuf : 65), maka tumbuhlah kecintaan

pada harta dan diwarisi keturunan mereka.

Sifat-sifat yang tercela di atas turun temurun pada keturunan mereka, lalu mereka menetap di Mesir. Kemudian datanglah masa pemerintahan Fir’aun yang bersikap kejam terhadap mereka dengan menghina dan membunuh anak laki-laki dan membiarkan hidup anak perempuan mereka.

Lalu Allah mengutus nabi Musa untuk mengeluarkan Bani Israel dari lumpur kehinaan agar mereka mau bersyukur.

Kemudian Allah mengabarkan kisah yang menakjubkan dimana Allah memuliakan mereka :

“Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat” (Q.S Al-Baqarah : 47)

Kelebihan tersebut adalah : banyaknya para nabi dari mereka, berbagai kenikmatan yang mereka terima dan ditenggelamkannya musuh mereka, Fir’aun di lautan yang mereka lalui.

Meski telah mereka dapatkan kemuliaan di atas, mereka mencuri emas dan harta bangsa mesir, saking cintanya mereka pada harta. Yang lebih cerdik lagi, adalah mereka membuat anak sapi yang terbuat dari emas setelah mereka melewati (lautan) dan mereka sembah anak sapi buatan tadi setelah Nabi Musa pergi untuk menghadap Allah. Maka kemurkaan Allah menimpa diri mereka akibat perbuatan maksiat hingga hari Kiamat, kecuali orang-orang beriman dari mereka. Allah berfirman :

“Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya” (Q.S Al-Baqarah : 93)

Karena anak sapi tersebut terbuat dari emas, maka kecintaan pada emas ada pada jiwa mereka. Kita akan dapati para hartawan dan penimbun barang adalah dari kaum Yahudi.

Diantara sifat mereka yang buruk adalah: pembangkangan, kedurhakaan, dan perselisihan mereka dengan para nabi.

  • Contohnya ketika mereka diperintahkan untuk masuk pintu gerbang dengan membungkuk dan mengatakan حِطَّّة (bebaskanlah kami dari dosa kami) agar dihapuskan dosa-dosa mereka dan Allah menerima taubat mereka, “Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka” (Q.S Al-A’raaf : 162)

Maka dengan nada ejekan mereka mengatakan : حِنْطَة, حِنْط

  • Contoh lainnya adalah kisah sapi betina :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” (Q.S Al-Baqarah: 67).

Maka dengan sebab sikap memberat-beratkan dan bantahan mereka, Allah memberatkan mereka tentang apa yang mesti di cari, dan ini diwarisi oleh anak cucu mereka.

  • Kisah Ashhaabus Sabt , dengan sebab tipu daya dan kelicikan sehingga mereka berubah menjadi kera dan babi-babi.
  • Kisah makanan surga (Manna dan Salwa). Yang tidak akan jemu orang yang memakannya[11], dan bukan nisbi tetapi karena Bani Israel durhaka, mereka minta pada Nabi Musa AS agar berdoa pada Allah untuk memberikan pada mereka dari tumbuh-tumbuhan berupa qutsaa’ (buah sejenis mentimun), bawang putih, ‘adas (jenis tumbuh-tumbuhan serta bijinya) dan bawang merah, mereka mengganti apa yang lebih baik dengan yang lebih rendah. Maka dengan sebab maksiat, Allah menempatkan mereka di suatu kota dan ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal ini tetap menimpa hingga generasi setelah mereka yang tidak mendapatkan petunjuk.
  • Termasuk dari akibat kemaksiatan Bani Israel, ketika Allah memerintahkan agar mereka tidak menimbun makanan karena makanan di saat itu tidak berubah atau busuk meski telah berlalu masa yang lama. Tetapi kedurhakaan Bani Israel mendorong mereka untuk menimbun makanan, maka tiba-tiba makanan tersebut menjadi busuk dengan sebab kemaksiatan mereka di waktu itu[12].
  • Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda : “Seandainya bukan karena ulah Bani Israel, tentu makanan tidak akan menjadi busuk dan daging tidak akan menjadi basi”[13].

3) Maksiat Fir’aun pada diri, keluarga serta bala tentaranya :

Laknat menimpa mereka di dunia :

“Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk” (Q.S Ghafir : 45).

Sampai-sampai harta benda serta kuburnya tidak selamat dari laknat ini, wal ‘iyadzu billah, sehingga tidaklah seseorang mendekatinya kecuali akan tertimpa akibat dari laknat tersebut[14]. Ini dikenal orang sebagai laknat Fir’aun ! Adapun di akherat, maka siksa yang mereka terima adalah :

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat(Dikatakan kepada malaikat):”Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya kedalam azab yang sangat keras”. (Q.S Ghaafir : 46)

4) Kaum Shalih, Syu’aib AS, Hud AS , Nuh AS dan Luth AS :

Beberapa kaum dibinasakan dan dihempaskan dengan suara keras mengguntur, angin topan, ditenggelamkan, dan hujan batu dari langit.

Termasuk dari hukuman maksiat, bahwa tempat tinggal mereka tidak dapat ditempati, sumur-sumur mereka tidak dapat diminum, dan hilangnya ilmu mereka dalam seni memahat gunung, dan metode untuk mengetahui sumber-sumber air serta barang tambang dalam perut bumi[15].

Bekas-bekas peninggalan mereka tetap ada sebagai bukti yang menunjukkan kemahiran mereka sehingga alat secanggih apapun di jaman ini belum mampu untuk memahat seperti mereka. Mereka telah mendzalimi diri mereka sendiri. Dan yang pertama kali mengakuinya adalah ayah mereka Adam AS ketika berkata :

“Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Q.S Al-A’raaf : 23)

Allah Ta’ala berfirman tentang mereka :

“Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka.Sesungguhnya pada demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui”

(Q.S An-Naml : 52)

5) Sebab di siksanya orang-orang kafir di neraka jahannam dengan siksa yang abadi :

Allah berfirman tentang orang-orang kafir :

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata:”Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadiorang-orang yang beriman”. (tentulah kami melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.” (Q.S Al-An’aam : 27-28)

Saya merenungkan ayat di atas, maka saya merasa heran, ketika orang-orang kafir dilemparkan ke dalam neraka, semoga Allah melindungi kita darinya dan mendapatkan siksaan yang pedih, mereka ingin keluar untuk beramal shalih, maka Yang Maha Perkasa menjawab : “Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya”, akan sirna keheranan anda ketika anda tahu bahwa kekufuran telah menutup hati mereka, sehingga menjadi keras seperti batu jahanam, bahkan lebih keras lagi, sehingga tidak tersentuh oleh kebaikan karena memang tidak ada lagi tempat di hatinya, sebagaimana dalam sabda nabi tentang neraka :

“Yang bahan bakarnya manusia dan batu” (Q.S Al-Baqarah : 24).

Allah tidak mendzalimi mereka, akan tetapi mereka mendzalimi diri mereka sendiri.

Ahmad dan Muslim meriwayatkan bahwa Hudzaifah berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Godaan itu ditampakkan pada hati seperti tikar (maksudnya seperti pengaruh tikar di sisi orang yang tidur) sedikit demi sedikit. Jika hati tersebut menerimanya, maka akan ditandai dengan noda hitam. Dan hati tersebut mengingkarinya, maka akan ditulis padanya noda putih, sehingga hati menjadi putih seperti batu yang licin, tidak akan membahayakannya fitnah atau cobaan selama adanya langit dan bumi. Sedangkan hati yang satu lagi, menjadi hitam kelamseperti sejenis cangkir kecubung yang terbalik, tidak mengenal perbuatan yang ma’ruf dan tidak pula mengingkari yang mungkar, melainkan apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya”[16].

PASAL TIGA

AKIBAT MAKSIAT PADA UMAT MUHAMMAD SAW

6) Orang yang mengatakan pada nabi : “Engkau tidak adil !” :

Dari Abu Said berkata : Ali berkata : Aku mendatangi Rasululullah dengan membawa sebongkah emaske Yaman, maka beliau bersabda : “Bagikanlah pada empat orang : al-Aqra’ bin Habis, Zaid Ath-Thai, Uyainah bin Hishn al-Fizazi dan ‘Alqamah bin ‘Alatsah al-’Aamiry”, maka berkatalah seseorang yang menonjol dahinya, cekung kedua matanya, dahinya hitam: Demi Allah, engkau tidak adil ! Maka nabi bersabda : “Celaka kamu, siapa lagi yang berbuat adil. Aku hanya meneguhkan hati mereka”. Maka para sahabat hendak membunuhnya. Nabi bersabda : “Biarkanlah ia, karena dari keturunan orang ini akan muncul suatu kaum di akhir zaman yang membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Jika aku mendapatkan mereka, aku akan membunuh mereka sebagaimana Kaum ‘Aad”[17]

Lalu muncullah kaum khawarij[18] dan membuat keretakan dalam sejarah islam dengan sebab maksiat ayah mereka hanya karena satu kalimat ![19]

7) Tidak diketahuinya secara pasti terjadinya Lailatul Qadar :

Dalam sebuah hadits bahwa nabi bersabda : “Wahai manusia, tadi diperlihatkan padaku Lailatul Qadar, lalu aku keluar untuk mengabarkannya pada kalian, kemudian ada dua orang yang lagi bertengkar disertai setan, maka akupun menjadi lupa “[20].

  • Unta yang dilaknat :

Dari Imran bin hushain berkata, Rasulullah dalam suatu perjalanannya, ada seorang perempuan dari Anshar yang berada di atas untanya, lalu unta tersebut berontak. Maka perempuan itu melaknatnya. Rasulullah mendengar ucapan tersebut, maka beliau bersabda : “Ambillah apa yang di bawa unta itu lalu tinggalkanlah unta tersebut karena ia telah dilaknat”. Imran berkata : Aku melihat unta itu berjalan di tengah kerumunan manusia dan tidak ada seorangpun yang mengganggunya”[21].

Hal ini disebabkan akibat buruk dari maksiat, sehingga unta tadi ditinggalkan sampai mati ! Dikiaskan hal ini pada setiap yang dilaknat oleh anak Adam, kita berlindung pada Allah dari hal itu.

  • Doa rasulullah SAW pada kaum Mudhar :

Dalam sabda beliau : “Ya Allah timpakanlah cobaan-Mu atas  kaum Mudhar, dan jadikanlah tahun-tahun mereka seperti tahun-tahun Yusuf”. Maka merekapun mengalami paceklik selama tujuh tahun berturut-turut sampai-sampai mereka makan cemeti dan tulang dengan sebab kemaksiatan mereka atas doa rasul. Rasulullah SAW dan para sahabatnya juga mengalami masa paceklik tersebut, dengan doa beliau, siksaan meluas, sampai mereka mengikatkan batu di perut karena saking laparnya”[22].

  • Hujan tidak kunjung turun :

Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya al-hubara (sejenis burung)  mati dalam sangkarnya karena kedzaliman orang yang dzalim), dan berkata Mujahid : “Sesungguhnya binatang melata melaknat orang-orang yang bermaksiat dari Bani Adam ketika terjadi masa sulit dan hujan tidak turun, dan mengatakan ini adalah akibat maksiat Bani Adam”.

Berkata ‘Ikrimah: “Binatang melata, binatang buas sampai landak dan kalajengking semuanya mengatakan: Kami tidak mendapatkan hujan dengan sebab dosa anak Adam”[23].

Anas bin Malik mengatakan : “Biawak yang berada dalam sarangnya mati dalam keadaan kurus dengan sebab dosa anak Adam”[24].

Ibnul Qayyim berkata: “Hukuman dosa (pelaku maksiat) tidak hanya sebatas dosanya saja, tapi ia juga dilaknati oleh yang tidak berdosa”[25].

  • Siksaan Allah meliputi yang shalih maupun tidak:

Allah SWTberfirman :

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu”. (Q.S Al-Anfaal : 25)

Zainab bertanya : Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa, sedang diantara kami masih banyak orang-orang shalih ? Beliau menjawab : “Ya, jika dosa ada di mana-mana”.

Allah telah menenggelamkan kaum Nabi Nuh seluruhnya termasuk anak-anak dan hewan-hewannya dengan sebab dosa manusia. Dan kaum ‘Aad dengan angin kencang. Tsamud dengan suara guntur yang menggelegar. Kaum Luth dengan hujan batu. Ashaabus Sabt dengan dirubah jadi kera dan babi. Termasuk anak-anak juga terkena azab yang menimpa mereka.

Jika dikatakan, bagaimana Allah menghukum suatu kaum dengan sebab kedzaliman orang-orang tertentu, padahal Allah berlepas diri dari kedzaliman dengan firman-Nya :

“Dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku”. (Q.S Qaaf : 29)

Maka kami menjawab sebagaimana yang dikatakan oleh Iyas bin Mu’awiyah : aku berkata pada sebagian dari mereka : “Kedzaliman apa yang terdapat pada ucapan bangsa arab? Maka ia menjawab : “Seseorang yang mengambil apa yang bukan miliknya. Maka aku mengatakan : “Sesungguhnya Allah Ta’ala baginya segala sesuatu[26], kemudian Dia akan membangkitkan mereka berdasarkan niatnya.

  • Sabda nabi pada para sahabat beliau : “Berpalinglah kalian dariku” :

Dari Ibnu ‘Abbas berkata: “Ketika rasulullah dihadirkan dan di rumah ada beberapa orang, diantaranya Umar bin Khattab, maka Rasulullah bersabda: “Kemarilah, aku akan menuliskan sebuah kitab yang kalian tidak akan tersesat selamanya”. Maka Umar mengatakan: “Sesungguhnya Rasulullah dalam keadaan sakit dan al-Qur’an telah ada pada kalian, maka cukuplah bagi kita Kitabullah”[27].Maka berselisihlah mereka yang ada dalam rumah tersebut. Sebagian mereka mengatakan: “Dekatkanlah, nabi akan menuliskan bagi kalian suatu kitab yang kalian tidak akan tersesat selamanya ! Dan sebagian yang lain mengatakan seperti yang dikatakan Umar. Menyaksikan perselisihan tersebut, maka Rasulullah bersabda pada mereka: “Berpalinglah kalian dariku”[28].

Ubaidullah berkata : Ibnu Abbas mengatakan: “Kerugian yang sangat dengan terluputnya dari kitab yang diinginkan oleh Rasulullah untuk di tulis agar mereka tidak tersesat selamanya. Ini karena banyaknya perselisihan mereka”[29].

Dalam hadits di atas menunjukkan bahwa perselisihan bisa menyebabkan terhalangnya dari kebaikan. Inilah sebagian pengaruh buruk maksiat pada umat Muhammad

PASAL EMPAT

MASALAH-MASALAH YANG DIREMEHKAN MANUSIA TAPI AKIBATNYA SANGAT BERBAHAYA

Durhaka pada kedua orang tua dan memutus tali silaturahim :

Nabi bersabda: “Berbaktilah pada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti pada kalian”[30].

Berkata Nabi Isa bin Maryam : “Beruntunglah seorang mukmin dan beruntunglah ia, bagaimana Allah memeliharanya anaknya setelahnya”[31].

Dari Anas bin Malik berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin untuk dilapangkan rizkinya, dan diakhirkan ajalnya (diberkahi umurnya), maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim”[32].

Ini bagi siapa yang berbakti pada kedua orang tuanya dan menyambung tali silaturahim, adapun orang yang durhaka dan memutus silaturahim, maka celaka dan amat celakalah ia. Barangsiapa yang menanam anggur, maka ia akan menuai anggur. Siapa yang menanam duri, maka ia tidak akan menuai melainkan duri. Sebagaimana engkau memperlakukan, engkau juga akan diperlakukan seperti itu. Sampai-sampai dikatakan: Kesholehan orang tua akan dirasakan oleh anak-anaknya”[33].

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Allah menciptakan makhluk. Ketika selesai, bangunlah rahim dan mengatakan: Ini adalah kedudukan orang yang berlindung dari memutuskanmu. Ia mengatakan: Ya, tidakkah engkau rela jika aku menyambung orang yang menyambungmu dan aku memutus siapa yang memutusmu ? Ia menjawab: Ya. Ia menjawab: Itu adalah untukmu “[34].

Ibnul Jauzi berkata : “Sebagian anak yang durhaka memukul ayahnya dan membawanya ke sebuah tempat. Maka berkatalah ayahnya : Cukuplah sampai di sini, aku juga telah membawa ayahku ![35].

Maka jangan heran jika anda melihat banyaknya anak yang durhaka, sebenarnya mereka melunasi hutang yang dulu, orang tua mereka lupa dan tidak menghayati firman Allah :

ﭽ ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ    ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﭼ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Q.S Qaaf : 18) Ini adalah disebabkan akibat buruk dari maksiat yang telah lalu.

Zina dan pemicunya :

Barangsiapa yang berzina, (kita) berlindung pada Allah darinya atau melakukan hal-hal yang menjerumuskan padanya seperti cumbu rayu dan sejenisnya, maka berarti menjadi penyebab timbulnya akibat buruk dari maksiat pada keluarga, ibu, saudara perempuannya, istri dan putrinya. Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Israa : 32)

Perhatikan kata : “Jangan mendekati” dan tidak dikatakan “Jangan melakukan”. Karena faktor pendorong zina juga mendatangkan hukuman, ini adalah salah satu keburukan maksiat.

Adapun segi lainnya, maka kita simak hadits menakjubkan berikut ini. Dalam sunan Ibnu Majah dari hadits Abdullah bin Umar bin Khattab berkata: “Aku adalah salah satu dari sepuluh kaum muhajirin yang berada di sisi Rasulullah. Beliau menghadapkan wajahnya, lalu bersabda : “Wahai kaum muhajirin, ada lima perkara yang aku berlindung pada Allah agar kalian tidak menjumpainya. Tidaklah muncul perbuatan keji pada suatu kaum secara terang-terangan, melainkan mereka akan di timpa penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah ada di zaman sebelumnya …”[36].

Berbagai penyakit yang ditimbulkan oleh kelainan tabiat, penyimpangan seksual, dijelaskan oleh hadits ini secara gamblang. Penyakit-penyakit tersebut memiliki ciri-ciri yang lain dari segala penyakit lainnya. Ini menunjukkan bahwa hal itu adalah hukuman Tuhan –wal ‘iya dzu billah-. Diantara ciri-ciri tersebut adalah[37] :

1. Kekebalan alami:

Jika seseorang mengalami sakit kuman seperti campak misalnya, lalu ia ditakdirkan sembuh, dengan kuasa Allah akan terbentuk kontradiksi secara alami untuk melawan sebab-sebab penyakit sehingga akan membantu untuk sembuh dengan izin Allah, kecuali penyakit seksual, keadaannya sama sekali berbeda, ia tidak bisa (sembuh), karena bisa tekena penyakit tersebut untuk kedua kalinya setelah selesai dari kali yang pertama !

2. Dari jalan perpindahan:

Bakteri penyakit kelamin tidak hinggap maupun hidup kecuali pada diri manusia dan tidak pada hewan. Bakteri tersebut tidak berpindah ke diri seseorang melainkan dari satu jalan yaitu hubungan sex atau jalan-jalan yang menuju padanya yang mana hal itu termasuk dari akibat buruk maksiat, bahkan sebagiannya berpindah dengan jalan transfusi darah dan air liur !

3. Bakteri syhipilis menantang para ilmuan dunia :

Umumnya penyakit menular mungkin untuk menyingkirkannya dan mencangkoknya secara buatan di laboratorium serta di pelajari kecuali bakteri penyakit sex seperti virus tsaalil dan zuhri misalnya. Tidak dapat untuk di cangkok, sehingga tidak bisa diketahui melainkan sedikit darinya. Kesamaran yang ada pada bakteri-bakteri tersebut sumbernya adalah bahwa itu adalah hukuman ilahiyah:  “Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi”

4. Kemampuan spesial :

Bakteri penyakit kelamin berbeda dengan bakteri lainnya. Bakteri zuhri (syhiphilis) ,  Ia mempunyai kemampuan luar biasa untuk menembus kulit anggota pencernaan dan mulut untuk masuk ke dalam tubuh. Kulit yang sehat memiliki kekebalan alami yang dapat melindungi tubuh dari berbagai bakteri yang melayang bersama debu. Di dalamnya terdapat virus yang dapat membantu membunuh dan mencegah masuknya bakteri, sehingga bakteri terpaksa masuk dari jalan lain seperti lubang pernapasan bersama udara, jalan perut dan usus bersama makanan dan minuman. Tetapi kekebalan alami ini tidak berdaya.melawan bakteri zuhri.

5. (Penularan) bermacam (penyakit dalam satu waktu)

Melakukan hubungan walaupun sekali dengan orang yang mengidap (AIDS –pent) bisa tertular, tidak hanya satu penyakit saja, bahkan berbagai penyakit bisa sampai lima penyakit sekaligus

6. Pencegahan

Kebanyakan penyakit bakteri yang menular, ilmu pengetahuan bisa memberikan antipatinya, adapun penyakit kelamin, maka keadaannya sangat berbeda !

7. Tersebarnya wabah

Adalah hal yang wajar bila penyakit menular berpindah dari satu orang ke orang lainnya sehingga menyebabkan tertularnya penyakit yang sama. Akan tetapi mereka yang mengidap penyakit kelamin berpindah pada orang lain. Orang yang mengidap penyakit zuhri akan mewariskan penyakit tersebut pada fisik anak-anaknya atau ketika melahirkan. Dan begitulah dilipatgandakan siksa pada dirinya dan orang yang berhubungan dengannya. Adapun orang yang mengidap penyakit kencing nanah (gonorrhea) maka kedua matanya terkotori oleh bakteri yang bisa menyebabkan kebutaan dengan sebab akibat buruk dari maksiat. Allah berfirman :

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.S Yaasin : 12)

8. Penyakit Aids :

Yaitu apa yang di kenal saat ini dengan istilah penyakit hilang kekebalan, yaitu virus yang menyerang sel-sel darah sehingga menyebabkan lemahnya kekebalan, sehingga akan terkena penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus dibarengi dengan turunnya berat badan dan penyakit kulit dan kegoncangan akal fikiran, tidak bisa konsentrasi, kelemahan, radang paru-paru dan kangker di kulit serta terus menerus demam, berkeringat di malam hari disertai memburuknya keadaan tubuh secara menyeluruh.

Sebabnya adalah :  hubungan badan, atau kelainan seperti homosex, atau memakai narkotik dengan cara suntikan, atau transfusi darah.

Penyakit ini[38] adalah hukuman dari Tuhan yang membinasakan ribuan jiwa. Sampai saat ini kedokekteran masih belum menemukan obat pencegahnya. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah akibat buruk dari kemaksiatan, sampai-sampai mereka yang tidak berdosa juga terkena dari jalan transfusi darah !

  • Bala bisa datang dengan sebab ucapan :

Dalam sebuah hadits: “Tidaklah timbul celaan pada saudaramu, kemudian Allah memberikan rahmat padanya dan memberikan cobaan padamu”[39]. Yang dimaksud dengan celaan adalah: seorang muslim yang menjelek-jelekkan saudaranya sesama muslim karena suatu dosa, padahal ia sudah bertaubat darinya atau mengolok-olok fisiknya, gaya bicara atau gerakannya. Ini adalah perkara yang berbahaya. Sedikit sekali orang yang waspada dari perbuatan ini. Dalam sebuah atsar : (Barangsiapa yang mencela saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati sebelum melakukannya”  (H.R Tirmidzi).

Berkata Imam Ahmad: “Aku mendengar al-Hasan berkata: “Kami memperbincangkan bahwa siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa yang ia sudah bertaubat pada Allah darinya maka Allah SWTakan memberi cobaan padanya”[40].

Berkata Ibnu Sirin: “Aku pernah mencela seseorang karena kerugian, maka aku mengalami kerugian!”.

Berkata Ibnul Jauzi: Berkata seseorang: Aku mencela seseorang yang sebagian giginya sudah tidak ada, maka gigiku bertaburan ![41].

Diriwayatkan dari sebagian salaf: “Seandainya aku mengejek seekor anjing, tentu aku khawatir diriku menjadi anjing”.

Demi Allah, ini adalah hal yang nyata dan akibatnya nyata baik terhadap orang yang mencemooh atau pada keturunannya. Ini semua adalah akibat buruk dari maksiat dan berbagai kepahitan yang ditimbulkan olehnya. Tidak ada yang bisa menolak bala ini kecuali doa yang agung ini:

“Segala puji bagi Allah yang melepaskanku dari apa yang telah menimpamu dan melebihkanku dari kebanyakan makhluknya”.

Nabi bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkannya tidak akan tertimpa bala tersebut”[42].

  • Laknat dan akibat buruknya :

Laknat sering dijumpai pada kebanyakan omongan manusia. Ini adalah salah satu bala yang meluas. Benarlah hadits nabi Muhammad SAW ketika di tanya tentang orang-orang yang suka melaknat, beliau menjawab : “Manusia di akhir zaman, ucapan salam yang mereka ucapkan di saat bertemu adalah : saling melaknati”[43].

Perhatikan akibat buruk dari laknat dalam hadits ini, dari Abu Darda’ bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya bila ada seseorang yang mengutuk sesuatu maka kutukan itu naik ke langit, tetapi pintu-pintu langit itu ditutup tidak mau menerima kutukan tersebut, kemudian kutukan itu turun ke bumi tetapi pintu-pintu bumi itu ditutup tidak mau menerima kutukan tersebut. Lantas kutukan itu lari ke kanan dan ke kiri, apabila kutukan itu tidak mendapat tempat maka ia mencari orang yang dikutuknya, bila orang itu pantas mendapat kutukan, maka ia menimpa orang itu, tetapi bila orang itu tidak pantas mendapat kutukan maka ia kembali kepada orang yang mengucapkan kutukan tersebut”[44]

Lebih dari itu, laknat menyebabkan pelakunya diharamkan dari mati syahid dan syafaat, sebagaimana dalam hadits Abu Darda : Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Orang-orang yang suka melaknat itu tidak bisa memberikan syafaat dan tidak pula meraih syahid”[45].

Termasuk dalam hal ini bila yang dilaknat tidak berakal (hewan, benda dll–pent), sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu Abbas tentang seseorang yang melaknat angin, maka Nabi bersabda: “Jangan engkau melaknatnya, karena sesungguhnya ia diperintah. Barangsiapa yang melaknat sesuatu yang tidak semestinya, maka ia akan kembali pada orang yang mengucapkannya”[46].

Termasuk dari dosa yang terbesar bila seorang anak melaknat kedua orang tuanya dengan cara tidak langsung, sebagaimana diberitakan oleh Nabi: “Seseorang yang mencela ayah orang lain, lalu orang yang di cela itu mencela ayahnya, dan ia mencela ibu orang lain, lalu orang yang di cela tersebut membalas dengan mencela ibu (orang yang mencela)”[47].

Dikiaskan dengan perbuatan laknat ini adalah memfasikan atau mengkafirkan seorang mukmin[48].

  • Was-was :

Sebabnya adalah keburukan maksiat yang telah lalu. Jika seseorang telah bertaubat dari dosa-dosanya, datanglah setan melemahkan dan mengingatkannya dengan dosa-dosa tersebut sehingga ia berputus asa dari rahmat Allah. Sedangkan seorang mukmin yang tidak melanggar larangan-larangan Allah tentram hatinya, sehingga setan tidak dapat masuk dari pintu ini[49].

Sebagaimana ucapan Ali bin Abi Thalib : “Tidaklah turun bala kecuali dengan dosa dan tidak diangkat melainkan dengan taubat”[50]. Allah berfirman :

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”

(Q.S Asy-Syuuraa : 30)

  • Rangkuman :

Hadits yang mulia ini, berkata Wahb bin Munabbih: Sesungguhnya Tuhan-Yang Maha Luhur lagi Maha Tinggi–dalam sebagian firman-Nya pada Bani Israel: “Sesunggunya jika engkau taat, aku ridha, dan jika aku telah ridha, maka aku memberkahi. Keberkahan (yang Aku) berikan tiada batas. Jika engkau durhaka, maka aku murka. Jika aku telah murka, aku melaknat, dan laknatku sampai tujuh keturunan”[51].

Ini tidak bertentangan dengan firman-Nya:

“Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain” (Q.S al-Israa’ : 15)

Seseorang dengan akibat buruk dari maksiatnya, berarti menyiapkan bagi anak dan keturunannya kawan-kawan yang jelek serta jalan kejahatan dan menjerumuskan, maka keturunannya tersebut tidak mendapat perlindungan, penjagaan dan taufik dari Tuhan semesta alam.

“Sedang ayahnya adalah seorang yang saleh” (Q.S al-Kahfi : 82).

Maka berhati-hatilah dari setiap maksiat yang keburukannya bisa sampai tujuh keturunan.

PASAL LIMA

DAMPAK NEGATIF KEMAKSIATAN PADA DIRI SESEORANG

Maksiat berpengaruh buruk bagi hati dan badan di dunia maupun akherat yang tidak diketahui melainkan Allah semata. Diantaranya[52]:

  1. Terhindar dari ilmu, karena ilmu adalah cahaya yang Allah berikan pada hati, sedangkan maksiat mematikannya.
  2. Kerisauan yang dirasakan orang yang bermaksiat dalam hatinya antara dirinya dengan Allah, sehingga tidak didapati rasa ketenangan sama sekali.
  3. Kerisauan yang ia rasakan antara dirinya dengan manusia, terutama orang-orang yang baik dan istiqamah.
  4. Urusannya menjadi rumit, apa yang akan ia lakukan seakan tertutup atau sulit baginya.
  5. Kegelapan yang ia dapatkan dalam hatinya. Sehingga hati dan badannya menjadi lemah serta ia diharamkan dari ketaatan.
  6. Kemaksiatan mengurangi umur dan menghilangkan keberkahannya untuk selamanya, Na’udzu billah.
  7. Kemaksiatan menimbulkan maksiat lainnya, sehingga seorang hamba sulit untuk meninggalkannya.
  8. Dampak negatif paling samar yang akan menimpanya adalah kemaksiatan akan melemahkan keinginannya, sehingga maksiat menjadi kuat dan taubat menjadi lemah.
  9. Hati menganggap kemaksiatan sebagai hal biasa bahkan bisa jadi ia merasa bangga dengan kemaksiatan tersebut, maka iapun sulit melepaskan diri darinya.

10. Maksiat dapat mematikan rasa ghirah dalam hati dan menghilangkan rasa malu, padahal ialah yang menjadikan hati menjadi hidup.

11. Pelaku maksiat akan termasuk dari mereka yang dilaknat rasulullah, wal ‘iyadzubillah.

12. Pelaku maksiat terhindar dari doa rasulullah dan doa para malaikat mulia yang berdoa bagi orang-orang yang beriman.

13. Menyebabkan Allah lupa pada hamba-Nya, inilah suatu kebinasaan.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.Mereka itulah orang-orang yang fasik”. (Q.S Al-Hasyr : 19)

14. Apabila dosa sudah menumpuk, maka hati akan di stempel menjadi orang yang lalai

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka”. (Q.S Al-Muthaffifin : 14)

15. Termasuk dari hukuman bagi pelaku maksiat, apa yang Allah timpakan berupa rasa takut dalam hatinya, karena ketaatan adalah benteng Allah yang kokoh.

16. Seorang hamba dalam saat-saat yang sulit dan berat, terutama ketika saat sakaratul maut, sehingga ia mendapatkan suul khatimah.

KEBERUNTUNGAN YANG AKAN DIDAPATKAN DENGAN MENINGGALKAN DOSA DAN MAKSIAT (DI DUNIA):

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah[53] berkata: “Maha Suci Allah Tuhan semesta alam, seandainya tidak diperoleh keberuntungan dengan meninggalkan dosa dan maksiat melainkan hanya: Terpeliharanya muru’ah, kehormatan, kedudukan dan harta yang Allah jadikan sebagai penopang maslahat duniawi dan ukhrawi, kecintaan makhluk, kehidupan yang lebih baik, ketenangan badan, hati dan jiwa, lapang dada, rasa aman dari gangguan orang-orang fasik dan jahat, jauh dari kegundahan dan kesedihan, kemuliaan jiwa dari kemungkinan menjadi hina, terpeliharanya cahaya hati dari gelapnya maksiat, menemukan jalan keluar yang tidak didapatkan oleh orang fasik dan jahat, kemudahan mendapat rizki dari arah yang tidak ia sangka, kemudahan mendapat apa yang sulit didapatkan oleh para pemimpin kefasikan dan kemaksiatan, kemudahan untuk taat, memperoleh ilmu, pujian yang baik dari manusia dan banyaknya doa mereka untuknya, kemanisan yang didapatkan oleh wajahnya, kewibawaan dirinya pada hati manusia, pembelaan dan penjagaan mereka padanya jika  ia di ganggu atau didzalimi, pembelaan manusia terhadap kehormatannya jika ada yang menggunjingnya, doanya segera dikabulkan, hilangnya kerisauan antara dirinya dengan Allah, kedekatan malaikat pada dirinya, jauhnya setan manusia dan jin darinya, manusia berlomba-lomba untuk melayaninya, menyayangi dan bersahabat dengannya, ia tidak takut mati, bahkan ia bahagia karena akan menghadap, bertemu dan kembali pada tuhannya, dunia menjadi kecil dalam pandangannya, sebaliknya akherat menjadi berharga, ia bersemangat untuk meraih kekuasaan dan keberuntungan yang besar di akherat, ia dapat merasakan lezatnya ketaatan dan iman, doanya para pemikul arsy dan malaikat di sekitarnya, kegembiraan malaikat pencatat amalan dan doa mereka di setiap saat, tambahan akal, pemahaman, iman dan pengetahuannya, ia mendapatkan kecintaan dan perhatian Allah serta Dia gembira atas taubatnya.

KEBERUNTUNGAN YANG DIDAPATKAN DENGAN MENIGGALKAN DOSA DAN MAKSIAT DI KALA SEORANG HAMBA MENINGGAL DUNIA

Para malaikat akan memberi kabar gembira padanya dengan surga, tiada kekhawatiran atau kesedihan, ia berpindah dari penjara dan sempitnya dunia menuju salah satu dari taman surga, kenikmatan surga ia dapatkan sampai hari Kiamat.

KEBERUNTUNGAN YANG DIDAPATKAN DENGAN MENIGGALKAN DOSA DAN MAKSIAT DI AKHERAT

Pada hari Kiamat, ketika manusia berkeringat dan dalam keadaan panas, ia berada dalam lindungan arsy. Setelah manusia berpaling dari hadapan Allah, ia berada di barisan kanan bersama para wali-wali Allah yang bertakwa dan golongan-Nya yang mendapat keberuntungan, ini adalah anugrah dari Allah yang Dia berikan pada siapa yang Dia kehendaki. Allah memiliki karunia yang besar. Maka beruntunglah orang yang meninggalkan dosa, sebagaimana pesan Al-Hasan Al-basri : “Wahai anak Adam, meninggalkan dosa adalah lebih mudah ketimbang bertaubat”[54].

PASAL ENAM

TAUBAT DAN SYARAT-SYARATNYA

Taubat seorang hamba akan diterima dengan tiga syarat: penyesalan atas dosa yang diperbuat, berhenti dari melakukannya, dan bertekad untuk tidak mengungi lagi (dan yang keempat: mengembalikan kedzaliman yang telah ia lakukan pada pemiliknya jika dosanya berkaitan dengan hak-hak manusia). Taubat wajib dilakukan sebelum masanya berlalu.

Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah: Maksud dari penyesalan yaitu menyesali dosanya yang telah lalu. Berhenti yaitu menghentikan dosanya ketika itu juga. Tekad maksudnya bertekad untuk tidak mengulanginya di waktu yang akan datang”[55].

Nabi bersabda: “Setiap anak Adam punya kesalahan. Sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat”[56]

Wajib hukumnya untuk menyegerakan taubat. Imam Ghazali rahimahullah berkata: “Aku mengetahui bahwa peminum racun yang menyesal, wajib baginya untuk segera muntah dengan mengeluarkannya dari perut, (kalau demikian halnya), maka meneguk racun agama yaitu (dosa) adalah lebih layak untuk dibatalkan dengan segera menghentikannya”[57]

Imam Al-Hasan Al-Basri rahimahullah: “Perhatian seorang hamba terhadap dosanya  akan mendorongnya untuk meninggalkannya. Penyesalannya akan menjadi pembuka taubatnya. Seorang hamba senantiasa memperhatikan dosa-dosanya hingga hal itu lebih bermanfaat dari sebagian kebaikannya”[58].

Berkata Bakr bin Abdullah Al-Muzani rahimahullah: “Sesungguhnya amalan anak Adam itu di angkat. Apabila yang terangkat adalah lembaran yang terdapat padanya istighfar, maka ia berwarna putih. Sebaliknya jika tidak ada istighfar didalamnya, maka ia berwarna hitam”[59].

Istighfar adalah sifat seorang mukmin. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Permisalan seorang mukmin adalah seperti sumbulah (bulir/padi dsb), terkadang lurus dan terkadang landai. Permisalan orang kafir adalah seperti urzah (jenis tumbuhan), selalu dalam keadaan lurus sampai ia jatuh dan tidak merasa”[60].

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Wahai manusia, bertaubat dan mohon ampunlah kalian pada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali”[61].

Jika beliau saja masih memohon ampun pada Allah padahal telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, maka kita adalah lebih-lebih lagi, padahal kita telah bergelimang dalam dosa.

Perhatikan bagaimana Allah senang dengan taubat hamba-Nya, padahal hal itu tidak memberikan manfaat maupun mudharat bagi Allah. Nabi bersabda: “Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian yang berada di atas hewan tunggangannya di tanah lapang, lalu hewan tadi menghilang darinya, padahal makanan dan minumannya ada di situ, maka si pemilik hewan tadi putus asa, lalu ia berbaring di bawah sebuah pohon, tiba-tiba hewan tadi muncul, lalu ia memegang tali kendalinya, lalu berkata: “Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah hamba-Mu. Ia keliru saking gembiranya”[62].

Bersegera untuk bertaubat adalah wajib hukumnya, karena mengakhirkan taubat sendiri memerlukan taubat. Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah : “Hal ini jarang terbetik dalam fikiran, bahkan ia beranggapan bila telah bertaubat, tidak tersisa lagi sesuatu yang lain, padahal ia masih perlu bertaubat dengan sikapnya mengakhirkan taubat”[63].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Terkadang aku terhenti pada suatu masalah yang tidak bisa aku pecahkan, lalu aku beristigfar pada Allah Ta’ala kurang lebih seribu kali, sampai jiwaku menjadi lapang kembali dan masalah tadi terselesaikan, ketika itu terkadang aku berada di pasar, masjid atau sekolah. Hal itu tidak menghalangiku untuk berdzikir dan istighfar hingga aku mendapatkan apa yang aku cari”[64].

Yang paling aku takutkan pada seseorang adalah mengikuti hawa nafsu, karena itu akan membinasakan pelakunya dari arah yang tidak ia sangka. Dalam sebuah atsar bahwa Iblis berkata: “Aku membinasakan bani Adam dengan dosa-dosa. Dan mereka membinasakanku dengan istighfar dan Laa ilaaha illallah. Ketika aku menyadari hal itu, aku tiupkan pada mereka hawa nafsu, sehingga mereka melakukan dosa dan tidak bertaubat, karena mereka menyangka melakukan amalan dengan sebaik-baiknya”[65].

Yang menyebabkan mereka tidak bertaubat adalah sebagaiman dikatakan oleh Yahya bin Mu’adz: “Panjang angan-angan. Tanda orang yang bertaubat adalah: tetesan air mata, suka menyendiri,dan melakukan muhasabah/introspeksi diri dalam ketika fikiran tergerak untuk melakukan sesuatu”[66].

Jika tanda-tanda di atas tidak ada, maka berarti itu adalah istidraj . ‘Uqbah bin Nafi’ berkata bahwa nabi bersabda : “Jika engkau melihat Allah Ta’ala menganugrahkan pada seorang hamba karunia dunia apa yang ia cintai, tetapi ia tetap dalam kemaksiatan, maka berarti itu adalah tipu daya”[67].

Dari Abu Musa AS bahwa nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah menangguhkan pada orang yang dzalim, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia tidak dapat melepaskan diri. Kemudian beliau membaca :

“Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras” (Q.S Huud : 102)[68]

Kalau demikian halnya, maka sudah seharusnya bertaubat nashuha dari segala anggota badan. Berkata Al-Muhasibi rahimahullah: “Taubatnya mata adalah dengan menahannya dari memandang apa yang diharamkan. Taubat pendengaran yaitu dengan menahannya dari mendengarkan sesuatu yang diharamkan. Taubatnya tangan yaitu dengan menahannya dari menggunakannya untuk sesuatu yang haram. Taubatnya kedua kaki yaitu dengan menahannya dari berjalan untuk sesuatu yang haram. Taubatnya kemaluan yaitu dengan menahannya dari perbuatan zina. Begitulah seluruh anggota badan lainnya termasuk akal fikiran, ada taubatnya, yaitu dengan menahannya dari memikirkan sesuatu yang diharamkan. Lisan juga bertaubat, dengan tidak menyeru pada sesuatu yang dimakruhkan”[69].

Maksiat akan menghalangi ketaatan, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri: “Jika engkau tidak mampu untuk shalat di malam hari dan puasa di siang hari, maka ketauhilah bahwa engkau terhalangi. Kesalahan dan dosa-dosa telah mengikatmu”[70]

Abdullah bin Mubarak berkata: “Barangsiapa yang meremehkan adab-adab, maka ia akan dihukum dengan terhalanginya ia dari amalan-amalan sunnah. Barangsiapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan dihukum dengan terhalangi dari apa-apa yang diwajibkan. Barangsiapa yang meremehkan faraidh/kewajiban-kewajiban, maka ia akan diharamkan dari ma’rifah”[71].

Jika anda melakukan ketaatan, bisa jadi anda tidak merasakan kenikmatannya dengan sebab kemaksiatan. Wahb bin Munabbih ditanya: “Apakah orang yang bermaksiat akan merasakan lezatnya ketaatan? Maka beliau menjawab: “Yang akan bermaksiat saja tidak”[72]

Imam Ahmad mensifati seorang hamba yang terjatuh dalam kemaksiatan, ketika beliau sedang berjalan di lumpur dengan hati-hati, namun kaki beliau masuk (ke dalam lumpur tersebut), maka beliau mengatakan pada para sahabatnya: “Beginilah seorang  keadaan seorang hamba, ia senantiasa berhati-hati dari dosa, jika ia berada dalam lingkaran dosa, ia akan terjerumus ke dalamnya”[73].

Maka berhati-hatilah anda dari dosa-dosa kecil. Al-Ghazali berpesan: “Satu dosa besar yang telah berlalu dan tidak diikuti dengan yang semisalnya, maka lebih memungkinkan untuk diampuni dari pada dosa kecil yang dilakukan terus menerus oleh seorang hamba. Ibarat air yang menetes pada batu secara terus menerus, bisa jadi akan mempengaruhinya, dan jika dituangkan air sekaligus padanya tidak memberikan pengaruh apa-apa.”[74] Karena itulah Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik amalan adalah yang dilakukan secara kontinyu walaupun sedikit.”[75]

Ibnul Qayyim berkata : “Terus menerus dalam kemaksiatan adalah maksiat. Tidak melakukan introspeksi terhadap kemaksiatan yang dilakukan, berarti sama dengan tetap dalam kemaksiatan, begitu pula jika ia merasa senang dan nyaman bermaksiat. Inilah alamat kebinasaan.”[76]

Makna الإصرار adalah sebagaimana yang dikatakan oleh al-Muhasibi: “Yaitu adanya rasa kenikmatan bermaksiat dalam hati”[77].

Al-Mawardi mengatakan: “Tertawanya orang yang mengakui akan dosanya lebih baik dari orang yang menangis tapi ….. pada Tuhannya. Tangisan penyesalan seseorang pada tuhannya adalah lebih baik dari tawanya orang yang mengakui perbuatan sia-sianya”[78].

PASAL TUJUH

PENGHAPUS KEMAKSIATAN

Ketauhilah–semoga Allah memberikan rahmat pada kita dan setiap muslim–bahwa tidak cukup hanya bertaubat untuk menghindarkan akibat buruk dari kemaksiatan sebagaimana yang telah dijelaskan, melainkan harus ada penghapusnya sehingga benar-benar suci sebagaimana ketika mensucikan bekas jilatan anjing di bejana!, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila seekor anjing menjilat bejana, maka basuhlah tujuh kali dan taburilah yang kedelapan dengan tanah”[79].

Berkata Ibnu Rajab: “Maksiat itu dapat dihapuskan dengan:

1. Taubat Nashuha, Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Q.S az-Zumar: 53)

2. Istighfar: Dalam sebuah hadits: “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, tentulah Allah akan memusnahkan  kalian dan Dia akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka mohon ampun, lantas Allah mengampuni mereka”[80].

3. Amalan kebaikan yang dapat menghapuskan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”. (Q.S Huud : 114).  Termasuk didalamnya amalan kebaikan dan sedekah.

4. Doa orang-orang beriman pada seorang mukmin: seperti doa mereka agar ia memperoleh ampunan dan shalat jenazah pada jenazahnya dimana mereka memohonkan syafaat untuknya.

5. Syafaat Nabi Muhammad SAW pada umatnya, sebagaimana dalam sebuah hadits yang shahih: “Syafaatku untuk umatku yang melakukan dosa-dosa besar”[81].

6. Musibah dunia yang dapat menghapuskan (dosa): Sebagaimana tertera dalam sebuah hadits shahih: “Tidaklah seorang mukmin mengalami sakit, keletihan, kecemasan/duka ataupun kesedihan melainkan Allah akan menghapuskan dengan itu kesalahan-kesalahannya”[82]. Dengan syarat ia sabar dalam menghadapinya.

7. Rahmat Allah dan ampunannya dengan tanpa sebab dari hamba.

Ibnu Rajab berkata : “Siapa yang terluput dari tujuh hal di atas, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri”[83]

8. Kejadian dalam kubur, berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Apa yang dialaminya di kubur berupa cobaan, sempitnya kubur, rasa takut, serta kedahsyatan Hari Kiamat”[84].

Bagaimana anda menjaga diri dari keinginan untuk bermaksiat :

Ibnul Qayyim berkata[85] : Yang bisa memelihara diri and:

  1. Kesadaran yang sempurna bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengawasi dan memperhatikan hatimu serta ilmu-Nya tentang apa yang terbenak dalam fikiranmu.
  2. Rasa malumu pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  3. Rasa pengagunganmu agar jangan sampai Allah mendapati dirimu seperi apa yang kamu fikirkan…
  4. Rasa takutmu bila engkau jatuh dalam pandangan Allah dengan sebab fikiran tadi.
  5. Sikapmu yang lebih mengutamakan agar jangan sampai Allah memberikan pada hatimu selain dari al-mahabbah kepada-Nya.
  6. Rasa takutmu bila fikiran tersebut bakal berkembang sehingga dapat memakan iman dan rasa mahabbah dalam hati.
  7. Ketauhilah bahwa fikiran tersebut ibarat biji yang diberikan pada seekor burung yang akan dijadikan buruan.
  8. Ketauhilah bahwa fikiran yang buruk tidak akan bersatu dengan sentuhan-sentuhan iman dalam hati, kecuali akan menang salah satunya.
  9. Sadarilah bahwa fikiran yang terbenak seperti lautan dari lautan-lautan khayalan yang tidak bertepi. Jika hati masuk (kedalamnya) akan tenggelam tak tentu arah.

10.  Ketauhilah bahwa fikiran tersebut seperti lembah kebodohan dan angan-angan orang yang bodoh, tidak memberikan pada pelakukanya melainkan penyesalan.

Jika anda sampai tenggelam dalam fikiran-fikiran tadi–semoga Allah tidak menjadikannya-, maka dengarlah kisah seorang kaisar persia:

“Suatu ketika ia pergi berburu lalu terpelosok dan terpisah dari rombongannya, lalu ia merasa kehausan. Sampailah ia di suatu kebun. Ketika ia telah memasukinya, ia berkata pada seorang bocah: “Berikan padaku sebuah delima”. Lalu ia memberikannya. Kemudian ia membelahnya dan ia keluarkan bijinya lalu ia peras dan keluarlah air yang banyak, iapun meminumnya dan merasa takjub dengan buah delima itu. Ia berniat untuk mengambil kebun itu dari pemiliknya. Ia berkata pada si bocah: “Berikan padaku buah delima yang lain”. Lalu ia memberikannya. Kemudian ia memerasnya. Tetapi air yang keluar hanya sedikit. Maka ia meminumnya. Tiba-tiba ia mendapatkan batu mata cincin yang menyakitkan, lantas ia bertanya: “Wahai bocah, mengapa delimanya berubah menjadi begini ? Bocah itu menjawab: “Barangkali raja ingin berbuat dzalim, sehingga akibat buruk kedzalimannya menyebabkan delima berubah seperti ini. Lantas Anusyarwan bertaubat dalam hatinya dari perbuatan dzalim tersebut. Kemudian ia mengatakan pada bocah: “Berikan padaku sebuah delima. Lalu ia mendapatinya lebih baik dari delima yang pertama! Maka ia berkata pada sang bocah: “Kenapa menjadi begini?” Bocah menjawab: “Barangkali raja telah bertaubat dari kedzalimannya!”.

Ar-Razi mengomentari kisah di atas : “Tidak heran bila namanya harum di dunia berkat keadilannya. Sampai-sampai ada orang yang meriwayatkan dari nabi bahwa beliau bersabda : “Aku dilahirkan pada zaman raja yang adil”[86].

Maka berhati-hatilah dari dosa, terutama dosa-dosa di saat sendiri, Dalam sebuah hadits dari Tsauban dari Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sungguh aku mengetahui beberapa kaum dari umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa kebaikan seperti Gunung Tihamah berwarna putih, lalu Allah menjadikannya bagaikan debu yang beterbangan”. Berkata Tsauban: “Wahai Rasulullah, kabarkan dan terangkanlah ciri-ciri mereka pada kami. Kami tidak termasuk mereka sedang kami tidak tau. Beliau menjawab: “Mereka adalah sahabat kalian, mereka shalat malam seperti kalian, akan tetapi mereka adalah kaum yang jika mereka sendirian mereka langgar larangan Allah”[87]

Dari Abu Darda berkata: “Hendaklah seseorang berhati-hati agar tidak dilaknat oleh hati-hatinya orang yang beriman sedang ia tidak menyadari! Kemudian beliau bertanya: “Tahukah kamu siapa?”, aku menjawab: “Tidak”. Abu Darda menjawab: “Sesungguhnya seorang hamba ketika ia menyendiri bermaksiat pada Allah, lalu Allah memberikan rasa kebencian di hati orang-orang yang beriman terhadapnya sedang ia tidak menyadarinya”[88].

Karena itulah Ibnul Jauzi berpesan: “Ketauhilah bahwa ujian terberat adalah merasa tertipu dengan keselamatan setelah berbuat dosa. Karena bisa jadi hukuman itu datang belakangan. Dan termasuk dari sebesar-besar hukuman bilamana seseorang tidak merasakannya, dan menyebabkan tergesernya nilai-nilai agama dan tidak memiliki hati lagi”[89].Kita berlindung pada Allah dari hal itu

PASAL DELAPAN

HUKUMAN ATAS DOSA YANG DIPERBUAT AKAN TETAP DATANG MESKI DI KEMUDIAN HARI

Tidak diragukan lagi bahwa balasan itu mesti ada, baik itu (amalan) keburukan atau kebaikan. Termasuk dari tipuan yaitu bila orang yang berdosa menyangka bahwa jika ia tidak mendapatkan hukuman, berarti ia telah diampuni. Padahal bisa jadi hukuman tersebut datang suatu saat atau di akherat. Sedikit dari orang yang melakukan dosa, melainkan ia akan mendapatkan akibatnya. Maka sudah selayaknya bagi seseorang untuk memperhatikan balasan dari dosa karena kecil kemungkinan baginya untuk selamat dari dosa. Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam bertaubat. Diriwayatkan dalam sebuah atsar: “Tidak sesuatu yang lebih cepat untuk menjumpai melebihi satu kebaikan yang mengiringi sebuah dosa”. Di samping taubat, pelaku dosa merasa khawatir dari hukuman. Karena Allah Ta’ala telah mengampuni para nabi dengan syafaat. Berkata Adam: Dosaku. Ibrahim dan Musa berkata: dosaku.

Jika ada orang yan berkata: Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu” (Q.S an-Nisaa : 123)

Adalah pemberitaan bahwa orang yang berdosa tidak akan diampuni, padahal kita tau diterimanya taubat dan ampunan bagi mereka yang bersalah.

Maka jawabnya ada dua:

  1. Ayat di atas ditujukan bagi orang yang sampai matinya tetap melakukan dosa dan belum bertaubat. Karena taubat akan menghapus (dosa-dosa) sebelumnya.
  2. Ayat di atas umum (inilah yang dipilih oleh Ibnul Jauzi dan pendapat ini cukup kuat), ia berdalih dengan dalil dan makna. Dari segi dalil: Ketika ayat ini diturunkan, Abu Bakar berkata: Wahai Rasulullah, apakah segala yang kami kerjakan akan dibalasi? Maka Nabi menjawab: “Bukankah engkau pernah sakit, sedih dan kesukaran? Itulah balasan bagi kalian. Dari segi makna: Seorang mukmin jika telah bertaubat dan menyesal, maka penyesalan atas dosa dalam setiap waktu adalah lebih kuat dari segala hukuman. Maka celakalah bagi orang yang mengetahui pahitnya balasan yang abadi dan manisnya kemaksiatan sesaat!

Terlena dengan rahmat Allah adalah suatu kebodohan :

Sebagian orang merasa tertipu dengan rahmat Allah dan ia hanya melihat sisi rahmat semata dan lupa bahwa Allah adalah pedih siksanya !

Abu ‘Umar bin ‘Ala mengisahkan bahwa Firazdaq suatu ketika duduk bersama suatu majlis yang sedang memperbincangkan rahmat Allah, dimana ia adalah orang yang paling menggantungkan harapan (pada Allah-pent). Mereka bertanya padanya: “Kenapa wanita yang beriman dan menjaga kehormatannya dituduh berzina?” Maka ia menjawab: “Bagaimana menurut pendapat kalian, seandainya aku berbuat dosa pada kedua orang tuaku, sebagaimana aku berbuat dosa pada Tuhanku, apakah kedua orang tuaku akan tega melemparkanku ke tungku api yang penuh dengan batu api ? Mereka menjawab: Tidak, kedua orang tuamu akan kasihan padamu. Firazdaq megatakan: Sesungguhnya aku lebih percaya pada rahmat Tuhanku dari keduanya!

Ibnul Jauzi[90] mengomentari kisah di atas: Ini adalah suatu kebodohan, karena rahmat Allah bukanlah harusnya perasaan, karena kalau memang begitu, tentu tidak ada ‘usfur (burung kecil seperti pipit dll) yang disembelih, , dan tidak ada seorangpun yang dimasukkan ke neraka. Kesalahan di sini ada dua:

  1. Ia hanya melihat pada sisi rahmat tanpa melihat sisi hukuman.
  1. Ia lupa bahwa rahmat itu bagi orang yang bertaubat, sebagaimana firman Allah:

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat” (Q.S Thaahaa : 82)

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa”(Q.S al-A’raaf : 156)

Di zaman kita sekarang, ketika para remaja melakukan maksiat, anda akan mendengar sebagian orang mengatakan: Mereka masih muda dan Allah Maha Penyayang. Mereka lupa bahwa Allah juga sangat keras siksanya.

PASAL SEMBILAN

JALAN KELUAR DARI KEBURUKAN MAKSIAT

Pembicaraan kami tentang akibat buruk dari kemaksiatan dan pengaruh negatifnya bagi individu dan masyarakat tidak berarti menjadikan rasa putus asa dari rahmat Allah. Ini hanyalah sebagai peringatan dari bahaya maksiat dan wajibnya berkomunikasi dengan Allah dalam setiap saat.

Dalam as-Shahih dari Abu Hurairah dari Nabi bahwa Allah berfirman: “Hamba berbuat suatu dosa, lalu ia mengucapkan: Ya Allah, ampunilah dosaku. Maka Allah berfirman: “Hambaku telah berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dan membalas dosa, kemudian ia kembali berbuat dosa dan mengucapkan: Ya Allah, ampunilah dosaku, Maka Allah berfirman: “Hambaku telah berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dan membalas dosa. kemudian ia kembali berbuat dosa dan mengucapkan: Ya Allah, ampunilah dosaku, Maka Allah berfirman: “Hambaku telah berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dan membalas dosa. Lakukanlah apa yang engkau suka, aku telah mengampunimu”[91].

Makna hadits ini, tidak berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang yang tersesat. Seorang hamba tidak berputus asa dari rahmat Allah  bagaimanapun dosa yang ia lakukan. Berkomunikasi dan berdzikir pada Allah setiap saat akan mendatangkan ampunan dosa. Termasuk dari sifat Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat. Ini menunjukkan luasnya rahmat dan ampunan Allah. Tetapi sudah selayaknya bagi orang yang berakal agar selalu khawatir dari dosa-dosanya walaupun ia sudah bertaubat karena ia tidak tau apakah diterima taubatnya.

Ibnul Jauzi[92] mengatakan: “Aku menyaksikan banyak orang yang merasa tenang dengan terkabulnya taubat, seakan-akan mereka sudah bisa memastikannya, padahal ini adalah perkara ghaib. Seandainya anda sudah diampuni, masih tersisa rasa malu dari melakukan perbuatan tersebut. Rasa khawatir setelah taubat diperkuat oleh (sebuah hadits–pent) dalam ash-Shihah bahwa manusia kelak akan mendatangi Adam, maka beliau mengatakan: dosaku. Kemudian kepada Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa[93], semuanya mengatakan dosaku. Jika dianggap dosa apa yang mereka lakukan, pada hekekatnya bukanlah dosa, selain itu mereka juga telah bertaubat dan merasa takut darinya. Rasa khawatir/gelisah setelah terkabulnya taubat  tidak terangkat. Betapa indah ucapan al-Fudhail bin ‘Iyadh: “Alangkah celakanya darimu, meski engkau telah diampuni, maka celaka demi Allah bagi orang yang memilih berbuat dosa dan lebih mengutamakan kelezatan sesaat, akan tetap penyesalan tidak sirna dari hati orang yang beriman walaupun telah diampuni”[94].

Jika seseorang merasa khawatir dari dosa-dosanya dan beramal sholeh serta membiasakan dirinya dengan amal kebaikan yang dapat menghapus (dosanya), maka bisa jadi dosanya yang telah lalu menyebabkannya masuk ke dalam surga! Bagaimana hal itu bisa terjadi? Berkata Ibrahim bin Adham tentang tafsir ayat yang mulia ini:

“Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga”. (Q.S ar-Rahman : 46

“Jika ingin berbuat dosa, ia menahan diri, karena takut pada Allah[95]. Dari al-Hasan bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berbuat dosa lalu Allah memasukkannya ke surga dengan sebab dosanya tadi. Para sahabat bertanya: Wahai rasuluullah, bagaimana bisa dosanya tadi memasukkannya ke surga? Beliau menjawab: “Ia selalu dalam keadaan jauh (dari dosanya –pent) dan bertaubat”[96].

Dikatakan pada sa’id: “Siapakah manusia yang paling banyak ibadahnya?” Beliau menjawab: “Yaitu seseorang yang terluka karena dosanya, sehingga setiap kali ingat pada dosanya ia menganggap remeh amal (kebaikannya)”.

Jika anda ingin terlepas dari keburukan maksiat, maka biasakan diri anda untuk beristighfar dan beramal kebaikan sehingga dapat menghapus kesalahan. Khawatirlah akan dosa-dosamu, dan mohonlah pada Allah husnul khatimah.

Saya akhiri dengan kisah berikut ini, Sufyan ats-Tsauri suatu ketika menangis semenjak malam hingga pagi. Kemudian di saat pagi, beliau di tanya: “Apakah yang engkau lakukan ini hanya semata karena takut dari dosa?”, Maka Sufyan mengambil sebongkah tanah lalu berkata: “Dosa lebih remeh dari ini, aku menangis karena khawatir dari suul khatimah !

Ibnul Qayyim mengomentari kisah di atas dan mengatakan: “Ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman, seseorang yang khawatir tertipu dengan dosanya di saat sakaratul maut, sehingga menghalanginya dari suul khatimah”[97].

PASAL SEPULUH

PERBUATAN MAKSIAT YANG HARUS DIJAUHI DAN HADITS -HADITS YANG BERKAITAN DENGANNYA

Kemaksiatan dan hadits shahih dari Nabi yang berkaitan dengannya:

Sombong “Tidaklah masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.

Riya’ “Siapa saja memperdengarkan amalnya (sum’ah), maka Allah akan menyingkap aibnya pada hari kiamat. Dan siapa saja berbuat riya’, maka Allah akan membongkar rahasia hatinya”.

Mencari ilmu untuk tujuan keduniaan “Siapa saja mencari ilmu yang bertujuan untuk mendapatkan keridhaan Allah, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat nanti.”

Beramal untuk (mendapat ridha) manusia “Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah yang paling tidak butuh dengan syirik (persekutuan) Siapa saja beramal dengan amalan yang mempersekutukan Aku di dalamnya, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.”

Meninggalkan Shalat Ashar dan Jum’at : “Siapa saja meninggalkan shalat Ashar, maka musnahlah amalnya” “Barangsiapa meninggalkan Shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkan, maka Allah akan mengecap hatinya”.

Lalai dalam melaksanakan shalat “Perjanjian yang terjadi antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat, Siapa saja meninggalkanya maka ia kafir”. “Jarak antara seorang dan syirik adalah meninggalkan shalat”.

Enggan membayar zakat : “Tidaklah pemilik emas dan perak yang tidak mau menunaikan haknya, melainkan pada hari Kiamat akan dibentangkan papan dari api ….di neraka jahanam kemudian disetrikakan di bagian pinggang, dahi dan punggungnya. Setiap kali tidak panas, maka dikembalikan seperti semula di hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun, sampai diputuskannya urusan hamba baru kemudian diperlihatkan jalannya apakah ke surga atau ke neraka.”

Tajassus (memata-matai): “Siapa saja mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedang mereka benci kepadanya, atau mereka menjauh darinya, maka pada hari Kiamat nanti telinganya akan disiram dengan timah yang panas”.

Namimah (Adu domba) “Tidak masuk surga para pengadu domba”. Namimah adalah menyebarkan gosip untuk tujuan merusak atau mencelakai orang lain.

Ghibah “Kamu menyebutkan tentang saudaramu yang tidak ia sukai.” Ketika aku dimi’rajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga yang mereka gunakan untuk mencakar wajah dan dada mereka. Lalu aku bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril ?” Ia menjawab: “Mereka itu suka memakan daging manusia (maksudnya suka menggunjing) dan mengganggu kehormatan mereka.”

Melaknat “Melaknat seorang mukmin seperti membunuhnya”

“Bagi orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi ahli syafaat dan syuhada (saksi) pada hari kiamat”.

Hasad (iri) “Jauhilah sifat iri, sesungguhnya sifat iri itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”. Dalam riwayat lain: rumput”

Menuduh seorang muslim dengan kekufuran “Seseorang yang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir”, maka ia telah menetapkan hal itu kepada salah satu dari keduanya jika saudaranya itu seperti apa yang ia katakan, jika tidak maka kembali kepadanya”.

Intimidasi terhadap muslim “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengintimidasi seorang muslim lainnya”.“Siapa saja mengarahkan pedang kepada saudaranya, maka malaikat akan melaknatnya sampai ia meletakkan pedangnya”

Menyebarkan rahasia hubungan suami istri “Sesungguhnya orang yang paling jelek kedudukannya pada hari kiamat adalah orang laki-laki yang menggauli istrinya, atau wanita yang bercumbu dengan suaminya, kemudian menyebarkan rahasia hubungan intim mereka berdua”.

Riba “Allah melaknat pemakan riba dan yang memberi makan dari riba”. “Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang sedang ia tahu, maka hal ini lebih berat dari pada 36 kali berzina”.

Pecandu minuman keras “Tidak akan masuk surga lima orang: pecandu khamar, orang yang percaya dengan sihir, pemutus hubungan silaturrahim, dukun,  dan orang yang suka mengungkit”.

Keluarnya wanita dengan memakai wangi-wangian “Setiap mata berzina, dan wanita yang memakai wangi-wangian lalu melewati majlis, maka ia begini dan begini, yakni (termasuk melakukan) zina”.

Melihat hal-hal yang diharamkan“Telah ditetapkan bagi anak Adam bagiannya dari perbuatan zina, ia pasti akan mendapatkannya; zina kedua mata dengan pandangan, zina kedua telinga dengan mendengarkan, zina lisan dengan perkataan, dan zina tangan dengan memegang dan hati berkehendak dan berangan-angan, sedang kemaluan  membenarkan dan mendustakannya”.

Khalwah (bersepi-sepi) dengan wanita yang bukan mahram “Janganlah salah seorang dari kamu berkhalwat dengan wanita, sesungguhnya setan akan menjadi orang yang ketiga”

Homosex: “Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth” “Jika kalian menjumpai orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan korbannya

Zina:  “Kemudian aku bersama keduanya, ada sebuah tungku api yang atasnya sempit dan bawahnya luas. Dibawahnya dinyalakan api. Didalamnya laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api itu dinyalakan mereka terangkat, hampir-hampir mereka keluar. Dan jika dimatikan, mereka kembali ke asalnya. Lalu aku bertanya: “Apa itu?” ia menjawab: “Yang engkau lihat di tungku, mereka adalah para pezina”.

Menyerupai lawan jenis atau menyerupai orang kafir: “Rasulullah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita”. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk dalam golongan mereka.

Wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya : “Allah melaknat wanita yang menyambung rambut (memakai konde/sanggul) dan yang minta disambung rambutnya, juga wanita yang mentato dan yang minta di tato”.

Wanita menikah tanpa wali “Siapa saja wanita yang menikah tanpa seizin dari walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil”

Orang yang dinasabkan kepada selain bapaknya “Siapa saja mengaku (menasabkan dirinya) kepada selain bapaknya, sedang ia tahu, maka surga haram baginya”  “Barangsiapa yang benci pada ayahnya, berarti ia telah kafir”.

Tidak mengamalkan ilmu: Akan didatangkan kelak di hari Kiamat seseorang yang dilemparkan ke dalam neraka, lalu keluarlah ususnya lalu berputar sebagaimana berputarnya keledai disekitar penggilingan maka para penghuni neraka mendatanginya lalu bertanya : “Wahai fulan apa yang sedang kau alami ? Bukankah dulunya engkau perintahkan kebaikan pada kami dan engkau larang kemungkaran dari kami ? Maka ia menjawab: Aku memang pernah menyuruh kebaikan pada kalian, tetapi aku sendiri tidak melakukannya dan aku melarang kalian dari kejahatan tetapi aku melakukannya”.

Menyembunyikan ilmu: “Barangsiapa yang ditanya tentang suatu hal lalu ia menyembunyikannya, maka di hari Kiamat akan di tarik dengan tali kendali dari api”.

Berdusta atas nama Rasulullah SAW: “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti berdusta atas orang lain. Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka”.

Dusta: “Berhati-hatilah kalian dari dusta, karena ia bersama-sama dengan kemaksiatan ada dalam neraka” “Seorang mukmin itu tidaklah berdusta” “Semalam aku melihat dua orang yang mendatangiku lalu berkata: “Yang engkau lihat membelah mulutnya adalah orang yang suka berdusta. Ia berdusta lalu diangkat hingga mencapai ufuk, lantas diperlakukan seperti itu sampai hari Kiamat”.

Berdusta dalam gurauan :“Celakalah, orang yang mengucapkan (membicarakan) suatu perkataan agar orang-orang tertawa karenanya, lalu ia berdusta, celakalah ia, celakalah ia”.

Tidak bersuci setelah kencing “Berhati-hatilah kalian dari kencing, karena ia adalah perkara pertama yang akan dihisab atas seorang hamba di dalam kubur”.

Wanita bepergian tanpa mahram “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sejauh perjalanan sehari kecuali bersama mahram.”

Meratapi mayat “Siapa saja diratapi (saat meninggal dunia), maka ia akan disiksa sesuai dengan ratapan tersebut pada hari kiamat.” Rasulullah SAW melaknat perempuan yang meratapi dan pendengar (suka mencari kabar kejelekan orang lain).”

Penyeru  kesesatan “Siapa saja mengajak orang kepada kesesatan, maka ia berdosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun”.

Sumpah tidak dengan nama Allah “Siapa saja yang bersumpah atas nama selain Allah, maka ia telah kufur atau syirik.” “Siapa saja bersumpah hendaklah bersumpah dengan nama Allah, atau (kalau tidak bisa, hendaknya) diam.”

Sumpah palsu “Siapa saja bersumpah palsu untuk merebut harta seorang mukmin dan ia telah berbuat fajir (dzalim) kepadanya, maka ia akan bertemu (menghadap) Allah dalam keadaan murka kepadanya.”

Bersumpah dalam jual beli “Janganlah kamu banyak bersumpah dalam jual beli, sesungguhnya sumpah itu melariskan dagangan lalu menghanguskannya”.

“Sumpah itu dapat melariskan dagangan, akan tetapi dapat menghapus (berkah) penghasilan”.

Ghasab tanah “Siapa saja mengambil sejengkal tanah dengan zhalim, maka Allah akan mengalungkannya pada hari kiamat dari tujuh bumi”.

Mendirikan bangunan di atas kubur Rasulullah SAW melarang membangun (memplester) kuburan, duduk di   atasnya, atau mendirikan bangunan di atasnya.

Pelanggaran Janji dan khianat “Apabila Allah mengumpulkan orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir pada hari kiamat, maka diangkat dari tiap orang yang melanggar janji dan berkhianat suatu bendera, lalu dikatakan: ini adalah penghianatan fulan bin fulan”.

Duduk di atas kubur “Sekiranya salah seorang dari kamu duduk di atas bara lalu pakaiannya terbakar hingga sampai ke kulitnya, hal itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan”.

Ihdad (berkabung) atas kematian “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berihdad (berkabung) lebih dari tiga hari atas kematian seseorang, kecuali atas kematian suaminya”.

Orang yang membuka pintu permasalahan baru “Ada tiga hal, aku bersumpah atasnya dan memberitahukan kepadamu suatu perkataan, maka hafalkanlah…dan tidaklah seorang hamba membuka pintu permasalahan baru, kecuali Allah akan membukakan baginya pintu kemiskinan”.

Tanajusy (curang dalam menawarkan dagangan) Rasulullah SAW melarang penduduk kota menjualkan barang dagangan penduduk kampung. Dan janganlah kamu melakukan najsy (curang dalam menawarkan barang dagangan), dan janganlah seseorang menjual barang yang ada dalam penawaran saudaranya”.

Wanita berziarah kubur “Allah melaknat para wanita yang suka berziarah kubur”.

Ummu Athiyah r.a berkata: “Kami dilarang untuk mengiring jenazah, akan tetapi kami tidak dilarang dengan larangan yang keras”.

Wanita yang menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya (untuk berhubungan intim) namun menolak, maka malaikat akan melaknatnya hingga pagi tiba”.

Menipu rakyat“Tidaklah seorang hamba yang dipilih Allah menjadi seorang pemimpin, kemudian ia meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan surga baginya”.

Fatwa tanpa dengan ilmu“Siapa saja diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya dibebankan kepada orang yang memberikan fatwa kepadanya”.

Wanita meminta talak “Wanita yang meminta cerai kepada suaminya dengan tanpa alasan yang benar, maka haram baginya aroma surga”.

Perkataan yang membuat Allah murka“Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan perkataan yang menyebabkan kemurkaan Allah tanpa ia memperdulikannya, maka dia akan terjatuh bersama perkataan itu ke dalam neraka jahanam selama tujuh puluh musim gugur”.

Banyak bicara tanpa berdzikir“Janganlah banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah merupakan kekerasan hati”.

Pertikaian antara sesama muslim “Tidak halal bagi seorang mukmin untuk meninggalkan (tidak mau bicara dan tidak mau bertemu) saudaranya melebihi tiga hari. Siapa saja berseteru dengan saudaranya selama setahun, maka hal itu seperti pertumpahan darah”.

Perbuatan keji“Sesungguhnya sejelek-jelek manusia di hadapan Allah pada hari Kiamat nanti adalah orang yang dijauhi atau ditinggalkan oleh manusia karena takut dengan kekejiannya

Orang yang meminta kembali hadiah yang ia berikan“Orang yang meminta kembali hadiah yang telah diberikan seperti anjing yang muntah lalu menjilatinya kembali”.    “Tidak halal bagi seseorang memberikan sesuatu lalu memintanya kembali”.

Mengumumkan barang hilang di dalam masjid “Siapa saja mendengar seseorang mencari/mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid, hendaknya ia mengatakan kepadanya: “Semoga Allah tidak akan mengembalikannya kepadamu”; karena masjid tidak di bangun untuk yang demikian.

Lewat di depan orang yang shalat “Sekiranya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui besarnya dosa jika ia melewatinya, tentu menunggu hingga empat puluh (hari) lebih baik baginya dari pada ia melewatinya”.

Menggangu orang–orang yang shalat “Siapa saja makan bawang merah, bawang putih dan bawang bakung, maka janganlah mendekati masjid kami; karena sesungguhnya malaikat merasa terganggu sebagaimana terganggunya anak Adam”.

Larangan dalam minum Rasululah SAW melarang minum dari mulut bejana atau tempat air. Beliau juga melarang minum sambil berdiri.

Minum dengan tangan kiri “Janganlah salah seorang dari kamu makan dengan tangan kiri, dan janganlah minum dengan tangan kiri; karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kiri”

Memutuskan hubungan silaturrahim “Tidaklah masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim”.

Meninggalkan shalawat kepada nabi Muhammad SAW “Celakalah seseorang yang ketika disebut namaku di sisinya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku”. “Orang bakhil (kikir) adalah orang yang disebutkan namaku di sisinya tapi dia tidak bershalawat kepadaku”

Menggembar-gemborkan  diri dalam pembicaraan “Sesungguhnya orang paling aku benci, dan yang paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah tsartsaruun (para penceloteh/yang banyak bicara), mutasyaddiquun (yang berbicara dibuat-buat), dan mutafaihiquun (orang yang berbicara dengan menyombongkan diri)”.

Memelihara anjing “Siapa saja memlihara anjing selain anjing pemburu, maka pahalanya berkurang setiap harinya dua qirath”.

Menyakiti binatang“Seorang perempuan disiksa karena kucing, ia mengurungnya hingga mati, maka ia masuk neraka karena perbuatannya itu”.

“Janganlah kalian menjadikan semua yang bernyawa sebagai sasaran (panah atau tembak dll) untuk sekedar mainan (hobi)”.

Gambar “Sesungguhnya orang yang paling berat siksanya pada hari Kiamat nanti adalah para pelukis”.

“Malaikat tidak akan memasuki rumah yang ada anjing dan gambar makhluk yang bernyawa di dalamnya”.

Memusuhi wali-wali Allah “Sesungguhnya Allah berkata, “Siapa saja menyatakan permusuhan pada waliku, maka aku telah mengizinkan waliku untuk memeranginya”.

Membunuh orang yang minta perlindungan di negara Islam “Siapa saja membunuh jiwa yang dilindungi dengan tanpa haknya, maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal aromanya bisa tercium dari jarak sejauh seratus tahun”.

Penghalang ahli waris dari hak warisnya

“Siapa saja memutus (meniadakan/menghilangkan) warisan dari ahli warisnya, maka Allah akan memutus warisannya dari surga pada hari kiamat nanti”.

Termasuk dari akibat buruk maksiat

“Ada lima hal yang jika menimpa kalian dan aku berlindung pada Allah agar jangan sampai menimpa kalian. Tidaklah muncul perbuatan keji pada suatu kaum secara terang-terangan, melainkan akan terjangkit panyakit tha’un dan kelaparan yang tidak pernah terjadi di zaman sebelumnya. Tidaklah mereka mengurangi timbangan melainkan akan ditimpakan pada mereka musibah, keadaan yang sulit dan kedzaliman penguasa pada mereka. Tidaklah mereka enggan menunaikan zakat harta, melainkan hujan tidak akan diturunkan dari langit. Kalau bukan karena hewan, tentu tidak diturunkan hujan pada mereka. Tidaklah mereka melanggar perjanjian pada Allah dan rasul-Nya melainkan Allah akan mengerahkan musuh yang akan merampas apa yang mereka miliki. Dan tidaklah para penguasa mereka tidak berhukum dengan kitabullah dan mengesampingkan apa yang Allah turunkan, melainkan Allah akan memberi hukuman pada mereka”.

PENUTUP

Sudah sepatutnya agar kita berhati-hati terhadap akibat buruk maksiat jika kita ingin selamat di dunia dan akherat. Hal ini tidak mungkin terjadi melainkan dengan meninggalkan maksiat dan berhati-hati darinya serta beristighfar secara kontinyu.

Berkata Ibnul Jauzi: “Sudah sepantasnya bagi orang yang cerdik agar berhati-hati dari akibat buruk maksiat, karena antara manusia dan Allah tidak ada hubungan kekerabatan maupun rahim Allah menghukum dengan adil, walaupun dengan kasih sayang-Nya Dia (mengampuni) dosa-dosa, tetapi jika Allah berkehendak Dia akan membalas amalan yang kecil, maka berhati-hatilah”[98].

Sampai di sini apa yang ingin penulis sampaikan, mengingat pentingnya masalah ini dan banyaknya orang yang mengeluh karena kerasnya hati, hilangnya keberkahan, godaan setan yang tidak lain sebabnya adalah maksiat–kita berlindung pada Allah darinya.Bila terdapat kekhilafan dalam buku ini, maka itu semata-mata dari diri penulis, dan saya mohon ampun pada Allah Yang Maha Agung.

Segala puji bagi Allah yang dengan anugrah-Nya, sempurnalah kebaikan.

Tiada doa yang lebih bermanfaat wahai saudaraku

Dari doa orang yang ghaib pada orang yang ghaib

Aku bersumpah dengan Yang Maha Pengasih wahai pembaca

Agar anda mendoakan ampunan bagi penulis

Riyadh, Muharram 1421 H

Ditulis oleh: Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman as-Sadhaan

REFERENSI

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Tafsir ar-Razi (ar-Razi)
  3. Mukhtasar Shahih al-Bukhari, az-Zubaidi
  4. Mukhtasar Shahih Muslim, al-Mundziri, tahqiq al-Albani
  5. Shahih Sunan Abu Daud, al-Albani
  6. Shahih Sunan at-Tirmidzi, al-Albani
  7. Shahih Sunan Ibnu Majah, al-Albani
  8. Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, al-Albani
  9. Fathul Bari, Ibnu Hajar al-’Asqalani
  10. Jami’ al-Ushul, Ibnu Katsir
  11. An-Nawafih al-’Atirah, Ash-Shafady
  12. Takwil Musykil al-Hadits, Ibnu Qutaibah
  13. Tamyiz Musykil al-Hadits, Abdurahman al-Atsari
  14. Al-Hilyah, Abu Nu’aim
  15. Tadzkirah as-Sami’ wal Mutakallim, al-Kinani
  16. Tahdzib Madarij as-Salikin, Abdul Mun’im al-’Izzi
  17. Ihya Ulumudin, al-Ghazali
  18. Fatawa Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah rahimahullah
  19. Az-Zuhd, Ibnu Taimiyyah rahimahullah
  20. Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim
  21. Adab ad-Dunya wad Din, al-Mawardi
  22. Al-Jawab al-Kafi, Ibnul Qayyim
  23. Al-Adzkaar, an-Nawawi
  24. Shaid al-Khatir, Ibnul Jauzi
  25. Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adatain, Ibnul Qayyim
  26. Al-Iman al-Ausath, Ibnul Qayyim
  27. Dzamm al-Hawa, Ibnul Jauzi
  28. Miftah Dar as-Sa’adah, Ibnul Qayyim
  29. At-Taubah, al-Muhasibi
  30. Talbis Iblis, Ibnul Jauzi
  31. Al-Adab asy-Syar’iyah, al-Maqdisi
  32. Tasliyah ahl al-Mashaaib, Ibnu Rajab
  33. Al-Hasan al-Basri, Ibnul Jauzi
  34. Natsr ad-Durar, Abu Sa’id al-Aabi.
  35. Al-Amraadh al-Khabitsah ‘Uqubah Ilahiyah, Dr. Abdul Hamid Qudhah
  36. Ath-Tib Mihrab al-Iman, Dr. Khalis Jalbi
  37. Majmu’Akhbar Akhir Zaman, al-Musy’ili
  38. Ibnu Taimiyyah rahimahullah bathal al-ishlah ad-Dini, Muhammad Mahdi Istanbuli
  39. At-Tadribaat al-’Amaliyah fi ‘ilm al-Muwajjah adz-dzatiyah, Ir. Yahya Hamzah Kushik
  40. Ma’ani al-Qur’an al-Karim, Imam Abu Ja’far an-Nahas
  41. Ma’ani al-Qur’an, az-Zajjaj

[1] Adab ad-Dunya wa ad-Din, al-Mawardi 260

[2] Karena ia memang tidak mau bertaubat, sehingga Allah tidak menerima taubatnya. Karena kalau tidak, Allah adalah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Allah berfirman : ……

[3] Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim 205

[4] Ringkasan Shahih Muslim oleh Al-Mundziri nomer hadits : 864 hal : 219, ini adalah potongan dari hadits.

[5] Lihat Shahih at-Tirmidzi, al-Albani 3/53

[6] Adab ad-Dunya wa ad-Din, al-Mawardi 260

[7] H.R Bukhari dalam shahihnya dari jalan A’masy. Lihat : al-Fath 12/198, nomer hadits : 6867

[8] Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim 138-139 dengan sedikit perubahan.

[9] Az-Zuhd oleh Imam Ahmad hal : 103. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberikan komentar tentang firman Allah Ta’ala : “Dalam firman Allah tersebut tidak bertentangan dengan tawakal. Bahkan Yusuf berkata : “Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah” (Q.S Yusuf : 40, 67 ), ucapannya “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”, adalah semisal dengan ucapan beliau: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan” (Q.S Yusuf : 55). Ketika beliau meminta jabatan untuk kemaslahatan dunia, maka hal ini tidak bertentangan dengan tawakal, dan bukan termasuk dari minta jabatan yang dilarang. Ucapan beliau hanya pemberitahuan agar raja mengetahui keadaannya, sehingga nyatalah al-haq. Dan Yusuf termasuk dari orang yang paling terpercaya”. (Lihat Al-Fatawa jilid 15 hal : 113, 114 dengan ada perubahan).

[10] Perhatikan pembantaian yang dilakukan kaum yahudi di jaman sekarang, merekalah otak di balik kebanyakan musibah yang terjadi, sebagai realisasi dari protokolat dan makar mereka.

[11] Karena ia adalah makanan surga

[12] Dan kita tidak perlu kulkas lagi pada saat ini untuk memelihara makanan. Bisa dikatakan ini adalah awal mula munculnya bakteri yang beterbangan di udara.

[13] Mukhtasar Shahih Muslim, Al-Mundziri, tahqiq Al-Albani, nomer hadits 864, hal : 219

[14] Yaitu laknat Allah sebagaimana dalam firman-Nya : “Dan Kami ikutkan la’nat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat” (Q.S Al-Qashash : 42), tidak seperti anggapan para archeology bahwa Fir’aun meletakkan jimat pada harta peninggalan dan kuburnya, sehingga siapa yang berusaha mendekatinya akan mendapatkan laknat Fir’aun. Juga tidak seperti yang disebutkan dalam tulisan-tulisan heroghlifiyah yang datang setelah mereka, yang tidak mampu untuk memelihara barang pusaka tersebut disebabkan laknat Allah, wal ‘iyadzu billah. Ini dikuatkan dengan sabda nabi : “Janganlah kalian memasuki daerah kaum yang pernah di azab oleh Allah, kecuali dalam keadaan menangis. Kalau kalian tidak menangis, maka jangan coba-coba memasukinya, agar kalian tidak tertimpa apa yang telah menimpa mereka”  (H.R Ahmad). Juga perintah beliau untuk cepat-cepat ketika melewati lembah Muhassir yang terletak di Arafah, karena Allah membinasakan tentara bergajah.

[15] Yang dinamakan secara ilmiah alat detector yang digunakan untuk mengetahui letak sumber air dan barang tambang serta pahatan dengan menggunakan magnet bumi dengan bentuk-bentuk arsitektur yang indah. Ilmu ini masih belum diketahui, dan tidak didapatkan pada saat ini kecuali bekas-bekasnya dalam batasan yang sempit. Ini adalah dengan sebab maksiat. Karena itulah mukjizat setiap nabi sesuai dengan kelebihan yang dimiliki kaum tersebut. Kaum Musa AS memiliki kemahiran dalam tongkat sampai digunakan untuk sihir : “Lalu mereka menjatuhkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka” (Q.S Asy-Syu’araa : 44). Maka mukjizat Musa adalah tongkat yang bisa berubah menjadi ular yang sebenarnya, mata air di permukaan bumi dapat ditemukan dan lautan menjadi kering dengan izin Allah ! Demikian halnya dengan kaum Isa yang mahir dalam kedokteran, maka mukjizat beliau adalah bisa menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin Allah, menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak dengan izin Allah. Kaum Shalih menggunakan kemahiran mereka dalam memahat gunung dan membuat patung, lalu datanglah mukjizat Nabi Shalih dengan onta betina yang diciptakan dari gunung ! Adapun kaum nabi Muhammad yang mahir dalam syair dan kefasihan, maka mukjizat beliau adalah Al-Qur’an yang kekal hingga datangnya Hari Kiamat dengan gaya bahasanya yang tinggi dan ilmu-ilmunya yang agung yang menunjukkan kekalnya ilmu dan Al-Qur’an hingga Hari Kiamat tiba.

[16] Lihat Shahih Al-Jami’, oleh Al-Albani, nomer hadits : (2960)

[17] Hadits Shahih, Kitab as-Sunnah, Abu ‘Ashim, Tahqiq al-Albani hal: 426, 427.

[18] Sepertinya wallahu’alam Hajjaj suka dengan hadits ini, sehingga ia suka membunuh !

[19] Perhatikanlah kalimat tersebut, hanya sebuah kalimat, bagaimana sampai mewariskan kejahatan ke anak cucunya, yang menunjukkan akibat lain dari kemaksiatan. Benarlah sabda rasulullah : “Bisa jadi seseorang mengatakan suatu kalimat (dari apa-apa) yang dimurkai Allah menyebabkan ia terlempar ke dalam api neraka sejauh tujuh puluh (tahun) perjalanan”

[20] Mukhtasar Shahih Muslim, al-Mundziri, tahqiq al-Albani, nomer hadits : 637, hal : 170.

[21] Mukhtasar Shahih Muslim, al-Mundziri, hal : 480 – 481, nomer hadits :1820

[22] Takwil Musykil al-hadits, Ibnu Qutaibah, hal : 233

[23] Al-Jawabul Kafi, Ibnul Qayyim, 16

[24] Takwil Musykil al-hadits, Ibnu Qutaibah, hal : 233

[25] Al-Jawabul Kafi, Ibnul Qayyim, 16, Maksud yang tidak berdosa adalah seluruh  hewan melata sebagaimana tersebut dalam atsar-atsar sebelumnya.

[26] Takwil Musykil al-hadits, Ibnu Qutaibah, hal : 236

[27] Umar menganggap bahwa perintah tersebut bukan suatu kewajiban tetapi sekedar petunjuk pada apa yang lebih baik, maka ia khawatir hal itu akan menyusahkan nabi. Umar di saat itu teringat dengan firman Allah :

“Tiadalah Kami apakan sesuatu apapun di dalam Alkitab” (Q.S al-An’aam : 38).

Barangsiapa menyangka bahwa Umar melarang wasiat Rasulullah, maka berarti ia telah menuduh bahwa Allah lemah dan menuduh nabi belum menyampaikan. Jadi duduk perkaranya adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, sebagai penguat, pengulangan dan petunjuk. Agama Allah adalah sempurna sesuai dengan nash al-Qur’an.

[28] H.R Bukhari 114, 4432, 5669, 7366 dan Muslim 1637 (22).

[29] Kitab Ath-Thib oleh Imam AN-Nasai hal : 44, tahqiq, Sami at-tuni.

[30] \Hadits Shahih, Lihat an-Nawafih al-’Atirah, oleh Ash-   Shafady hal : 86

[31] Kitab az-Zuhd oleh Imam Ahmad hal : 72

[32] Mukhtasar Shahih Muslim, al-Mundziri, tahqiq al-Albani hal : 470 nomer hadits : 1762

[33] Ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala : ….

[34] Mukhtasar Shahih Muslim, al-Mundziri, tahqiq al-Albani hal: 471 nomer hadits : 1764

[35] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 391.

[36] H.R Ibnu Majah nomer 4019, Abu Nu’aim dalam al-hilyah 8/333, didalamnya terdapat Ibnu Abi Malik dan al-Hakam 4/540. Adz-Dzahabi berkata : Sanadnya shahih. Al-Albani berkata dari jalan al-Hakim : Umdah dalam hadits-hadits shahih nomer 106.

[37] Kitab al-amraadh al-jinsiyah ‘uqubah ilahiyah, Dr. Abdul Hamid al Qudhath hal : 13

[38] Diantara penyakit yang mulai mengancam manusia :kangker yang mengerikan, kesendatan pembuluh darah (thrombosis), gagal ginjal, sapi gila, flu burung dll. Sama artinya dengan hukuman mati jika Allah tidak memberikan rahmat pada orang yang sakit. Ini adalah akibat dari tercemarinya alam oleh sinar dan berbagai pelanggaran produk, buruknya menu makan harian, kebiasaan yang kurang sehat, penyimpangan dari aturan Allah, serta faktor terbesar adalah akibat buruk dari kemaksiatan. Allah berfirman :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Q.S al-A’raaf : 96)

Ath-Thib mihraab al-Imaan, Dr. Khalish Jabali hal : 124

[39] H.R Tirmidzi, Thabrani dan lainnya dari Mu’adz secara marfu’. Tirmidzi mengatakan: Hadits hasan gharib. Lihat : Tamyiiz ath-Thayyib minal khabits, oleh Abdurrahman al-Atsari hal : 171, dan lihat pula : al-Adzkaar oleh an-Nawawi hal : 542.

[40] Kitab az-Zuhd oleh Imam Ahmad hal : 342.

[41] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 391

[42] Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim hal : 257, Ucapan Ibnu Mas’ud dalam Siyar a’laam an-Nubala 1/496

[43] H.R Ahmad, Thabrani dan Hakim. Lihat : Majmu’ akhbaar akhir zaman, oleh al-Musy’ili, hal : 129

[44] (H.R Abu Dawud), lihat Shahih Sunan Abu Dawud oleh al-Albani, nomer hadits : 4905

[45] H.R Muslim dan Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abu Dawud oleh al-Albani, nomer hadits : 4907

[46] Mukhtasar Shahih Sunan Abu Dawud, al-Albani hal : 3/927, nomer hadits : 4101

[47] Mukhtasar Shahih al-Bukhari, oleh az-Zubaidi, hal : 466, nomer hadits : 3007

[48] Berdasarkan hadits nabi: “Tidaklah seseorang memfasikan atau mengkufurkan seseorang melainkan hal itu akan kembali padanya, jika orang yang dituduhkan itu tidak demikian”. Mukhtasar Shahih al-Bukhari hal : 469, nomer hadits : 2030

[49] Saya mengalami hal ini ketika mempraktekkan ruqyah pada pasien dan ini adalah ……. Yang ghaib.

[50] Al-Fawaaid oleh Ibnul Qayyim hal : 106

[51] Az-Zuhd, oleh Imam Ahmad hal : 69

[52] Lihat: Kitab Al-Jawab al-Kafi karya Ibnul Qayyim hal : 54 sampai 107, dengan sedikit perubahan.

[53] Lihat Al-Fawaaid oleh Imam Ibnul Qayyim hal : 151, 152 dengan sedikit perubahan.

[54] Lihat Al-Fawaaid oleh Imam Ibnul Qayyim hal 152

[55] Tadhziib madaarij as-salikiin hal : 123

[56] Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir 4391, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Tirmidzi.

[57] Ihya ‘Ulumuddin oleh Imam Al-Ghazali 4/155

[58] Dzammul Hawa oleh Ibnul Jauzi hal : 103

[59] Dzammul Hawa oleh Ibnul Jauzi hal : 174

[60] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 5/200

[61] H.R Muslim 2702

[62] H.R Muslim 2702

[63] H.R Muslim 2747

[64] Tahdzib Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qayyim, diringkas oleh Abdul Mun’im Al-’Izzi, hal : 157

[65] Hadits Shahih, lihat : An-Nawafikh Al-’Atirah oleh Imam Ash-Shafady hal : 86

[66] Dzammul Hawa, Imam Ibnul Jauzi hal : 174

[67] Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, 1/575

[68] Az-Zuhd, Imam Ahmad hal : 30

[69] At-Taubah, Al-Muhasibi, hal : 52

[70] Hadits Shahih, lihat : An-Nawafikh Al-’Atirah oleh Imam Ash-Shafady hal : 86

[71] Tadzkirah As-Sami’ wal Mutakallim, Al-Kinani hal : 68

[72] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 51

[73] Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 1/97

[74] Ihya ‘Ulumudin al-Ghazali 4/195

[75] Shahih al-Bukhari 6465

[76] Tahdzib Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qayyim, diringkas oleh Al-’Izzi, hal : 123

[77] At-Taubah, Al-Muhasibi, hal : 55

[78] Adab ad-Dunya wa ad-Din, Al-Mawardi hal : 105

[79] Mukhtasar Shahih Muslim, an-Nawawi, nomer hadits : 119 hal : 41

[80] Mukhtasar Shahih Muslim, an-Nawawi, nomer hadits : 1922, hal : 511

[81] Jami’ul Ushul 10/476, nemer hadits : 8012

[82] Mukhtasar Shahih Muslim, an-Nawawi, nomer hadits : 1798, hal : 477

[83] Tasliyah Ahlul Mashaaib hal : 250

[84] Lihat : al-Iman al-Ausath, Ibnu Taimiyyah rahimahullah hal : 29-43

[85] Lihat : Thariqul Hijratain wa Bab as-Sa’adatain, Ibnul Qayyim hal : 175, 175

[86] Tafsir ar-Razi 1/244

[87] H.R Ibnu Majah dengan sanad yang shahih Juz 2, nomer hadits : 1418

[88] Al-Jawab al-Kafi, Ibnul Qayyi, hal : 47

[89] Hadits shahih, lihat : an-Nawafikh al-’Atirah, ash-Shafadi hal : 86

[90] Talbis Iblis, Ibnul Jauzi hal : 391-392

[91] Mukhtasar Shahih Muslim, an-Nawawi, nomer hadits : 1935 hal : 514

[92] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 330-331

[93] Ini adalah kekeliruan Ibnul Jauzi tentang Nabi Isa dan Nabi Kita (Muhammad), karena dalam as-Shihah tidak disebutkan (bahwa beliau berbuat) dosa.

[94] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 331

[95] Az-Zuhd, Imam Ahmad, hal : 437

[96] Az-Zuhd, Imam Ahmad, hal :  474

[97] Hadits shahih, lihat : an-Nawafikh al-’atirah, oleh ash-Shafady hal : 86

[98] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 132

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.