jump to navigation

DICARI Pengajar “Belajar Ekonomi Syariah” July 25, 2010

Posted by informationmedia in Business, Economics, finance, syariah.
Tags: , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Salam dan Kasih Allah untuk semua rekan-rekan Pejuang Ekonomi Syariah

Dilatarbelakangi oleh

  • upaya menyediakan fasilitas belajar ekonomi syariah yang murah
  • melihat fakta banyaknya kalangan umum dan remaja yang tidak tersentuh pendidikan muamalah islamiyyah
  • keinginan berbagi ilmu kepada sesama

Kami mengajak rekan-rekan Pejuang Ekonomi Syariah dengan berbagai latar belakang pendidikan yang terkait dengan muamalah syar’iyyah untuk ikut bergabung bersama kami membentuk tim pengajar/presenter.

Kriteria Pengajar

  1. Pengajar dapat terdiri dari berbagai latar belakang, baik akademisi, praktisi, mahasiswa aktif atau ustadz yang memiliki komitmen berbagi ilmu
  2. Memiliki keilmuan terkait yang cukup (tidak mesti pakar).
  3. Berdomisili di Jakarta.
  4. Tidak membawa misi partai politik
  5. Tidak menjadikan sarana mengajar ini sebagai mata pencarian

Kami berharap tim yang terdiri dari SDM yang beragam yang berkaitan dapat mengamalkan dan menularkan ilmunya kepada masyarakat umum atau remaja atau siapa saja dalam bentuk “belajar ekonomi syariah” yang sifatnya sederhana dalam hal fasilitas dan bahasa penyampaian namun “berisi’ dari sisi materi pembahasan serta mencerdaskan.

Tersedia fee selayaknya yang tidak besar namun wajar untuk teman-teman yang mau bergabung memberikan ilmunya dan piagam penghargaan jika diinginkan. Dana fee tersebut kami ambil dari sumbangan peserta yang kami atur sedemikian rupa secara transparan sehingga sesuai keperluan dan kebutuhan real. Sisa sumbangan (jika ada) akan kami alokasikan untuk kegiatan selanjutnya. Dengan rendah hati, kami berharap bahwa fee yang tersedia tidak dinilai sebagai biaya ilmu, tetapi sekedar bisyaarah (penyemangat) .

Di awal upaya ini, kami tidak mematok target yang muluk-muluk. Kami hanya menginginkan program belajar ekonomi syariah dengan kriteria yang dimaksud dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

Lokasi belajar berada di sebuah gedung di Palmerah, Jakarta Selatan dengan format belajar bisa dalam berbagai bentuknya, baik seminar 1 hari, training 2-3 hari, maupun kursus 2 x seminggu selama 1 bulan dan diselenggarakan di Jakarta

Sumbangan ilmu ini tidak bersifat mengikat sehingga diharapkan tidak mengganggu rutinitas kerja teman-teman dan waktu kesanggupan dapat dibicarakan.

Secara keseluruhan meski tidak harus terpenuhi seluruhnya, kami membutuhkan SDM yang memiliki kemampuan pengetahuan secukupnya yang layak di-sharing kepada sesama dalam bidang-bidang berikut:

  1. Makro Ekonomi Islam
  2. Mikro Ekonomi Islam
  3. Sistem Keuangan Islam
  4. Sistem Perbankan Islam
  5. Sistem Asuransi Islam
  6. Sistem Pasar Saham Islam, Uang, Utang, dan derivatif Islam (Kajian dari aspek fiqh)
  7. Sistem Pembiayaan Islam
  8. Sistem Non-Institusi Keuangan Islam (Mikro, BMT, Waqf, Zakat, Infaq, Shadaqah, dll)
  9. Bisnis Islam
  10. Perencanaan Keuangan Islam
  11. Ushul al Fiqh
  12. Qawa’id al Fiqh
  13. Fiqh al Muamalah

Termasuk juga bidang-bidang penunjang seperti:

  1. Pemasaran dan Pengembangan Bisnis
  2. Operasional dan Riset Operasi
  3. Manajemen Organisasi
  4. Manajemen Keuangan Islam
  5. Analisa Investasi dan Portfolio
  6. Akuntansi Islam
  7. Syariah Internal dan External Audit
  8. Etika Bekerja dan Tata Kelola Perusahaan secara Islami
  9. Entrepreuneurship
  10. Riset Pemasaran
  11. Statistika Bisnis
  12. Hukum Bisnis Islam dan Legal Documentation

Untuk korespondensi, silakan email ke: fais1234@yahoo.com

Harapan kami, semoga ada rekan-rekan yang tertarik bergabung dengan kami.

Salam hangat,
Rhesa dan Faishol

Angka Kemiskinan di Indonesia 76 Juta KK December 28, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , ,
add a comment

PADANG–Menteri Sosial Republik Indonesia (RI) (Mensos RI), DR H Salim Segaf Al-Jufri, menyatakan jumlah angka kemiskinan di Indonesia yang saat ini mencapai 76 juta Kepala Keluarga (KK). “Sedangkan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Indonesia sekitar 20 juta KK,” kata Mensos, Salim Asegaf Aljufri, di Padang, Selasa (22/12).
Menurutnya, penduduk Indonesia yang berada pada garis kemiskinan dapat dibagi beberapa kelompok. “Kelompok lanjut usia (Lansia) terlantar, anak-anak terlantar, masyarakat tidak layak huni yang dapat dikelompokan sebagai penduduk Indonesia berada di garis kemiskinan”, jelasnya.

Dia menambahkan, pada lima tahun lalu angka kemiskinan di Indonesia mendekati sekitar 20 persen. “Sedangkan tahun 2009 ini angka kemiskinan sekitar 14 persen, jadi ada penurunan angka kemiskinan di Indonesia sekitar 46 persen”, ucapnya.

Dia mengatakan, pemerintah pada tahun 2014 akan menargetkan angka kemiskinan di Indonesia berukurang mencapai sekitar 8 hingga 10 persen. “Persentase angka kemiskinan tahun ini sebesar 14 persen bisa ditekan hingga 8-10 persen pada 2014,” ucapnya.

Angka kemiskinan ini masih bisa ditekan karena Indonesia memiliki potensi untuk menanggulangi kemiskinan yaitu struktur perekonomian dan pertumbuhan ekonomi yang baik serta program-program pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.  “Saya yakin persentase masih bisa diturunkan jika kita memanfaatkan potensi ini,” katanya.  Dia mengimbau, pemerintah daerah selaku pelaksana lapangan untuk benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyat guna mengurangi angka kemiskinan. (Republika online, 22/12/2009)

Benarkah Ekonomi Dunia Membaik ? December 28, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Fatamorgana Pemulihan Ekonomi

Saat mengenang terjadinya Depresi Besar 60 tahun silam, Biro Analisa Ekonomi Departemen Perdagangan AS mengeluarkan perkiraan bahwa ekonomi AS mulai tumbuh setelah 4 kwartal berturut-turut mengalami penurunan. Kalau benar, maka AS telah memulihkan ekonominya bersama Jepang, Cina, Jerman, dan Perancis, dan berhasil menghindari keambrukan ekonomi total. Sebagian kalangan menganggap hal ini merupakan tanda-tanda kebangkitan ekonomi dan berakhirnya ‘resesi besar’.

Untuk memahami anggapan ini maka kita perlu meneliti penyebab resesi dan menganalisa apakah penyebab tersebut masih ada atau sudah dihapus dengan kondisi ekonomi tertentu yang akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Pertumbuhan ekonomi Barat dalam satu dekade didorong oleh ‘real estate bubble’ (penggelembungan harga sektor perumahan)  yang dipimpin AS dan menstimulasi ekonomi negeri barat lainnya. Penggelembungan besar-besaran terjadi karena bank membuat berbagai produk keuangan yang berbasis hutang, yang lalu dijual ke bank lain dengan asumsi bahwa penggelembungan akan terus terjadi.
Ambruknya perusahaan kredit terbesar dunia New Century Inc di bulan April 2007, Northern Rock di February 2008, yang juga diikuti AIG, Lehman brothers dan bank-bank lainnya membuktikan bahwa gelembung yang terjadi memang rentan dan terjadi karena asumsi spekulatif bahwa harga ‘real-estate’ (perumahan) akan terus naik.

Jatuhnya harga rumah membuka borok praktek pemberian hutang yang dilakukan para bank dimana bank-bank tersebut terpaksa untuk membatalkan hutang senilai trilyunan dolar yang telah mengalami jatuh tempo dalam waktu bersamaan. Bank-bank yang awalnya menampung dana deposito dari nasabah dan memberi pinjaman kepada pebisnis akhirnya harus menghentikan semua aktifitas tersebut secara mendadak. Maka krisis yang bersifat finansial akhirnya juga merusak perekonomian riil dimana produktifitas menurun, perusahaan berjatuhan, dan pengangguran naik. Maka perekonomian Barat yang bertumpu pada sektor perumahan pun kehilangan energinya.

Untuk menghindari bencana ekonomi yang lebih besar, pemerintahan Barat melakukani intervensi kolosal untuk menyelamatkannya dari keambrukan total. Idenya adalah ketika masyarakat sudah tidak mampu lagi untuk membelanjakan uangnya untuk menggerakan roda ekonomi, maka negara akan memberikan dana untuk menstimulasi bergeraknya ekonomi, memberikan rasa percaya diri, dan menumbuhkan ekonomi kembali. Pemerintahan Barat mengambil tiga langkah kunci dalam menghadapi krisis: nasionalisasi, paket stimulus, dan mencetak uang kertas.

Analisa Pemulihan Ekonomi

Kalangan ekonom dan pembuat kebijakan mengatakan bahwa ekonomi Barat telah tumbuh antara April dan Juni 2009 sehingga menunjukkan berakhirnya resesi besar. Jerman telah kehilangan 6.7% pendapatan domestinya selama resesi. Jerman adalah jantung industri Eropa dan tergantung kepada eksport untuk menunjang pertumbuhan ekonominya. Maka permasalahan terbesar yang Jerman hadapi adalah ambruknya perdagangan global, yang diprediksikan akan mengkerut sebesar 10% menurut World Trade Organisation (WTO).

Akan tetapi kebijakan populis yang dibuat Kanselir Angela Merkel dan perjanjian untuk mensuplai Rusia dengan mobil Jerman menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Jerman adalah akibat faktor sementara dan bukan karena ada perubahan sistem ekonomi secara mendasar. Di bulan Februari 2009, Jerman menyetujui paket stimulus sebesar 50 trilyun Euro. Jerman juga meluncurkan program daur ulang kendaraan di bulan Februari dimana pengendara mobil menerima uang tunai untuk mendaur ulang mobil tuanya dan membeli mobil baru — sehingga bisa membangkitkan penjualan mobil dari industri kendaraan. Program ini cukup sukses karena telah menjaring tidak kurang dari 1,7 juta pemohon warga jerman.Pemerintah Perancis mengumumkan paket stimulus senilai 26 trilyun euro untuk membangkitkan ekonominya. Perancis dan Jerman mulai keluar dari resesi karena sektor keuangannya hanya berkontribusi sebagian kecil saja dari keseluruhan ekonominya.

Penurunan total untuk Jepang berkisar sekitar 8,4%. Paket stimulus pemerintah Jepang berkisar sekitar 260 trilyun dolar untuk menstimulasi kembali ekonominya dalam bentuk pemberian dana tunai dan subsidi untuk membeli mobil berenergi efisien dan peralatan rumah tangga.

Kalau AS keluar dari resesi maka ia akan kehilangan pendapatan sekitar 3,7%. Kwartal ketiga GDP menunjukkan bahwa penjualan barang di bulan Agustus mengalami peningkatan sekitar 2,2% dari bulan sebelumnya, yang merupakan peningkatan tertinggi sejak bulan Januari 2006. Namun peningkatan di bulan Agustus ini didukung oleh kenaikan penjualan mobil sekitar 11,6%, yang merupakan hasil dari insentif bagi pemilik mobil untuk mengganti mobil lamanya dengan mobil baru. Ketika program insentif ini berakhir, maka penjualan pun menurun 1,5% di bulan September.
Distorsi Paket Stimulus

Ketika krisis ekonomi mencapai puncaknya, banyak negeri Barat mengeluarkan paket stimulus untuk menyelematkan ekonominya dari keambrukan, dimana paket tersebut bernilai hingga 1200 trilyun dolar di tahun 2008. Namun stimulus apapun hanyalah sekedar tambal sulam yang tidak akan tahan lama. Stimulus diberikan hanya untuk menyalakan kembali mesin ekonomi yang telah mati dan bukan untuk menjalankannya sehingga bisa berjalan secara berkesinambungan. Maka pertumbuhan yang terlihat sejauh ini tidak lebih dari sekedar efek sementara saja.
Inisiatif pemerintah seperti program daur ulang mobil, penurunan pajak di UK, dan pemotongan pajak bagi pembeli rumah pertama sebagaimana terlihat di AS dan Perancis berkontribusi kepada 1% dan 0,5% kenaikan GDP sehingga menaikkan penjualan kendaraan bermotor dan investasi real estate. Maka ketika program ini berakhir, maka berakhir pula kontribusinya kepada ekonomi.

Ekonom Brian Bethune dari IHS Global Insight berkomentar tentang berakhirnya resesi,” Sangatlah bagus melihat ekonomi mulai menggeliat kembali, tetapi kita tidak tahu seberapa jauh pertumbuhan ini bisa terus berlanjut, karena adanya paket stimulus dari pemerintah. Tantangannya adalah mendapatkan pertumbuhan ekonomi sejati, bukan pertumbuhan yang disubsidi dengan steroid keuangan.” Pengangguran saat ini berkisar sekitar 9,8% di AS atau sekitar 15 juta penduduk.

Ketika melihat kualitas pertumbuhan ekonomi akan terlihat bahwa pertumbuhan tersebut lebih bersifat sementara. Dana Saporta, ekonom dari Stone & McCarthy Research di Skillman, New Jersey menguatkan hal ini,” Kekuatan ekonomi di AS saat ini ditopang oleh faktor yang bersifat sementara seperti stimulus keuangan seperti insentif kredit pembelian rumah”

Adalah suatu fakta bahwa stimulus yang diberikan pemerintah sangatlah penting karena kalau itu dihentikan maka sangatlah mungkin ekonomi dunia Barat akan terancam untuk jatuh ke dalam resesi lagi. Paket stimulus telah memicu pertumbuhan palsu. Kita memang masih harus melihat apakah memang ‘pasar bebas’ (free market) benar-benar bisa tumbuh lagi ketika ia ‘bebas’ dari bantuan pemerintah. Sebentar lagi musim natal akan tiba, yang akan menjadi barometer tingkat penjualan untuk mengukur aktifitas konsumen, tanpa adanya ‘stimulus’. Dengan tingkat pengangguran yang tinggi, produksi nasional masih lemah dan hutang masih tinggi maka stimulus yang dikeluarkan masih terlalu dominan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan bersifat sementara dan sulit untuk bisa berkelanjutan.

Kesimpulan
AS yang merupakan ekonomi terbesar di dunia nampak mulai keluar dari resesinya. Namun, AS masih sangat tergantung kepada aktifitas konsumennya, yang berkontribusi kepada 70% dari GDPnya, sedangkan eksport hanya sekitar 11% saja. Sehingga aktifitas pembelian yang dilakukan konsumen warga AS menjadi sangat penting untuk AS, dan hingga kini aktifitas konsumen AS belum menampakkan tanda-tanda pemulihan.

Paket stimulus yang diberikan pemerintah di dunia Kapitalisme tidak menyentuh problema ekonomi yang fundamental yaitu pertumbuhan yang tidak berkelanjutan, pertumbuhan yang didorong oleh hutang, keuangan bermotif judi dan ekonomi gelembung. Manfaat dari paket stimulus hanya bersifat sementara bagi ekonomi kapitalisme yang terancam dengan tingginya angka pengangguran, penggadaian, dan kebangkrutan.

Maka, ketika secara statistik ekonomi kapitalisme menunjukkan tanda-tanda perbaikan, fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Campur tangan sosialisme yang dilakukan pemerintahan kapitalis (dengan mengeluarkan paket stimulus) memang menghentikan arus resesi dan menghindari keambrukan total. Namun, ketika paket tersebut dihentikan, maka sangatlah kecil pasar bebas masih bisa tumbuh dengan bebas (atau dengan sendirinya tanpa campur tangan pemerintah). Maka, posisi ekonomi tidak jauh berbeda dibanding satu tahun yang lalu.
Ketika mayoritas masyarakat Kapitalis semakin terancam dengan prospek pengangguran dan penggadaian, mereka juga tidak akan mendapatkan bantuan dana tunai untuk mempermudah situasi mereka. Kenyataannya, paket stimulus yang dikeluarkan pemerintah justru digunakan oleh industri perbankan untuk memberikan bonus kepada bankirnya. Ini menunjukkan bahwa komitmen konferensi G20 tidak lebih hanya sekedar untuk konsumsi publik. Pemerintah Barat masih belum mampu untuk mengeluarkan peraturan untuk menghentikan pemberian bonus kepada para bankir yang bermasalah.

Dalam situasi seperti muslim tidak bisa berharap banyak kepada kapitalisme. Resesi dan bencana sebenarnya bisa dihindari dalam sistem ekonomi Islam yang bertopang pada emas dan perak. Sistem ekonomi Islam juga melarang bunga, uang kertas, kepemilikan perusahaan yang tidak jelas, pengaturan yang jelas tentang pembedaan kepemilikan pribadi, negara, dan umum.

Adalah aset umat speerti minyak, gas, dan mineral tambang yang masih dikuasai oleh rezim yang menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan mempertahankan status quo. Ini tidak akan berubah hingga terjadi perombakan yang bersifat menyeluruh dengan tegaknya kembali ekonomi Islam dibawah naungan Khilafah. Hingga saat itu terjadi, pemulihan ekonomi hanya akan bak fatamorgana.
(sumber : http://www.khilafah.eu/kmag URL to article: http://www.khilafah.eu/kmag/article/the-mirage-of-economic-recovery December 1, 2009 (12:03 am)

Pengangguran Terbuka Capai 8,96 Juta Orang December 28, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , , , , ,
1 comment so far

PATI–Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2009, jumlah pengangguran terbuka di tanah air mencapai 8,96 juta orang atau sekitar 7,87 persen dari jumlah angkatan kerja sebanyak 113,83 juta orang.

“Namun, angka pengangguran sebesar 7,87 persen ini lebih rendah jika dibandingkan dengan angka pengangguran pada Agustus 2008 mencapai 8,39 persen,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar, ketika menghadiri acara peresmian SMK Salafiyah di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jumat.

Menurut dia, salah satu faktor penyebab terjadinya kemiskinan karena banyaknya jumah usai produktif yang menganggur atau tidak bekerja.

Penyebab pengangguran, kata dia, meliputi banyak faktor. Di antaranya, tidak ada keseimbangan antara permintaan dan penawaran. “Saat ini, jumlah penawaran atau pencari kerja jauh lebih besar dari pada jumlah permintaan atau kesempatan kerja yang tersedia,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, tidak adanya kesesuaian antara persyaratan kerja dengan kualifikasi kompetensi yang dimiliki calon tenaga kerja. “Berdasarkan fakta yang ada, penyelenggaraan, job fair, hanya terisi antara 20-30 persen,” ujarnya.

“Pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat krisis keuangan global dan rasionalisasi perusahaan, serta tidak berfungsinya informasi para kerja juga menjadi faktor penyebab munculnya pengangguran,” ujarnya.

Persoalan kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja industri, katanya, menjadi penyebab kesempatan kerja yang tersedia tidak terserap dengan maksimal.

“Kesenjangan ini disebabkan karena perubahan struktur dan persyaratan di pasar kerja relatif lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan lembaga pendidikan dan pelatihan dalam mengantisipasi perubahan tersebut,” ujarnya.

Untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan tersebut, katanya, perlu diciptakan lapangan kerja baru, membuka akses ekonomi, dan memberdayakan ekonomi masyarakat miskin dan produktif.

“Kualitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) juga perlu ditingkatkan. Demikian pula pencari kerja juga perlu difasilitasi agar mempunyai akses dan kesempatan untuk mempresentasikan potensinya melalui pendidikan formal maupun pelatihan kerja berbasis kompetensi,” ujarnya. (Republika online, 25/12/2009)

Amerika Akan Runtuh Pada Tahun 2010 December 10, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , ,
2 comments

Posted: 08 Dec 2009 09:46 PM PST

Profesor Rusia, Igor Panarin, mengatakan bahwa beberapa kejadian terus menegaskan prediksinya yang pertama kali dibuatnya lebih dari 10 tahun yang lalu, bahwa Amerika Serikat akan sepenuhnya runtuh seperti runtuhnya Uni Soviet sebelum akhir 2010, dan memperingatkan bahwa kekacauan bisa mulai terjadi paling sedikit dalam dua bulan.

Panarin, seorang doktor dan profesor ilmu politik dari Akademi Diplomatik Rusia Kementerian Luar Negeri, mengatakan kepada para wartawan dalam peluncuran buku terbarunya bahwa Presiden Obama tidak melakukan apapun untuk mencegah krisis yang sedang melanda dengan cepat.

“Obama adalah” presiden harapan “, tetapi dalam satu tahun tidak akan ada harapan,” kata Panarin.

“Dia seperti seorang Gorbachev yang lain – dia suka berbicara namun belum benar-benar berhasil melakukan sesuatu.

Gorbachev setidaknya telah menjadi sekretaris administrasi partai komunis, sedangkan Obama hanya seorang pekerja sosial. Mentalitasnya benar-benar berbeda.

Dia seorang yang baik dan berbicara dengan baik – tetapi dia bukan seorang pemimpin dan akan membawa Amerika kepada sebuah kehancuran. Ketika Amerika menyadari itu – hal itu seperti sebuah ledakan bom. ” (khilafah.com, 4/12/2009)

20 Kebangkrutan Terbesar AS November 3, 2009

Posted by informationmedia in finance.
Tags: , , , , , , , , , ,
add a comment

20 Kebangkrutan Terbesar AS

Posted: 01 Nov 2009 09:05 PM PST

AS bangkrutWashington – Bank UKM terbesar di AS, CIT Group akhirnya mendaftarkan perlindungan kebangkrutan pada Minggu (1/11/2009). Kebangkrutan bank yang sudah menerima dana bailout pemerintah AS sebesar US$ 2,33 miliar itu kini menjadi salah satu yang terbesar di AS.

CIT didirikan pada tahun 1908 dan mencatat sejarah sebagai salah satu bank untuk segmen UKM yang terbesar di AS. Seiring terjadinya krisis, CIT Group pun tak luput dari goncangan.

CIT berharap statusnya sebagai kreditor sektor UKM bisa memenangkan dukungan politik setelah berjuang keras sejak awal tahun ini. Namun pada Juli, Federal Deposit Insurance Corp menolak untuk menjadi penjamin dalam penerbitan surat utang CIT. Perseroan pun harus berjuang keras untuk mencari pendanaan sendiri.

Sebuah kelompok pemegang obligasi CIT akhirnya memberikan pinjaman sebesar US$ 3 miliar pada Juli. Para pemegang saham juga bersedia menukar surat utang lama sebesar US$ 1 miliar dengan surat utang baru.

Langkah tersebut memang memberikan waktu bagi CIT untuk bernafas, meski masih memiliki utang yang tidak dijamin dan jatuh tempo pada November sebesar US$ 800 juta. Dan lebih dari US$ 3 miliar utang yang tidak dijamin jatuh tempo pada akhir Maret.

Pekan lalu, CIT berhasil mengamankan tambahan pendanaan sebesar US$ 4,5 miliar dari investor yang akan membantu mereka melewati proses kebangkrutan. Icahn pada Jumat lalu juga telah sepakat untuk memberikan fasilitas kredit sebesar US$ 1 miliar.

CIT akhirnya mendaftarkan perlindungan Chapter 11 di pengadilan Manhattan demi memperlancar proses restrukturisasi utangnya. Bank yang sudah berusia 101 tahun itu melaporkan total aset sebesar US$ 71 miliar dengan liabilities US$ 65 miliar, sehingga tercatat sebagai salah satu rekor kebangkrutan terbesar.

Berikut daftar 20 kebangkrutan terbesar di AS berikut nilai asetnya sejak tahun 1980, yang dikutip dari AFP, Senin (2/11/2009).

  1. Lehman Brother (bank), 15 September 2008, US$ 691 miliar
  2. Washington Mutual (bank), 26 September 2008, US$ 327,9 miliar.
  3. WorldCom (telekomunikasi), 21 Juli 2008, US$ 103,9 miliar.
  4. General Motors (otomotif), 1 Juni 2009, US$ 91 miliar.
  5. CIT (bank pinjaman), 1 November 2009, US$ 71 miliar.
  6. Enron (perdagangan energi), 2 Desember 2001, US$ 65,5 miliar.
  7. Conseco (asuransi), 17 Desember 2002, US$ 61,4 miliar.
  8. Chrysler (otomotif), 30 April 2009, US$ 39,3 miliar.
  9. Pacific Gas and Elctric (utilitas), 6 April 2001, US$ 36,1 miliar
  10. Texaco (minyak), 21 April 1987, US$ 34,9 miliar.
  11. Financial Corporation of America (bank), 9 Seotember 1988, US$ 33,8 miliar.
  12. Refco (perdagangan), 17 Oktober 2005, US$ 33,3 miliar.
  13. Indymac (bank), 31 Juli 2008, US$ 32,7 miliar.
  14. Global Crossing (telekomunikasi), 28 Januari 2002, US$ 30,1 miliar.
  15. Bank of New England (bank), 7 Januari 1991, US$ 29,7 miliar.
  16. Lyondell (kimia), 6 Januari 2009, US$ 27,4 miliar.
  17. Calpone (perusahaan listrik), 20 Desember 2005, US$ 27,2 miliar.
  18. New Century Financial Corporatuon (perdagangan), 2 April 2007, US$ 26,1 miliar.
  19. United Airlines (maskapai), 9 Desember 2002, US$ 25,2 miliar.
  20. Colonial Bank (bank), 14 Agustus 2009, US$ 25 miliar.

sumber :detikfinance (2/11/2009)

 

Mei, Amerika Serikat Lakukan 345 Ribu PHK June 8, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , , , , ,
1 comment so far

Posted: 06 Jun 2009 01:46 AM PDT

Wapres AS Joe Biden menyatakan tingginya tingkat pengangguran bukanlah tujuan pemerintah.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja Amerika Serikat di bulan Mei dan pemotongan kerja yang lebih sedikit pada bulan belakangan sejak krisis keuangan ini memunculkan harapan yang lebih cerah. Pasalnya, terjadi pemulihan ekonomi di negara tersebut dan akan terjadi setidaknya tahun ini.

Namun, dengan masih enggannya perusahaan untuk memperkerjakan karyawan baru, tingkat pengangguran Amerika Serikat melonjak menjadi 9,4 persen dan sepertinya masih akan tetap bergerak naik hingga 2010. Atau, kemungkinan tidak akan banyak terpaut ketika pascaPerang Dunia II yang mencapai 10,8 persen.

Departemen Tenaga Kerja Amerika, seperti dikutip dalam laman Associated Press, melaporkan kondisi ekonomi telah membuat 345 ribu pekerjaan hilang pada Mei ini. Separuhnya dari jumlah pekerjaan yang hilang pada Januari 2009. Namun, laporan departemen tersebut juga menekankan betapa sulitnya bagi 14,5 juta pengangguran Amerika menemukan pekerjaan.

Sebanyak 345 ribu pekerjaan yang hilang tersebut menurun tajam dibandingkan angka pada April 2009 yang sebanyak 504 ribu. Namun, secara rata-rata terjadi penghilangan pekerjaan hampir 700 ribu per bulan selama kuartal pertama tahun ini.

Richard Yamarone, pengamat ekonomi dari Argus Research berharap tren menurunnya PHK akan terus berlanjut sepanjang tahun ini. “Dengan kondisi tak adanya tempat lagi untuk bekerja, tingkat pengangguran beranjak ke 9,4 persen dari 8,9 persen pada April. Itu merupakan tingkat tertinggi sejak Agustus 1983,” katanya.

Sejumlah pengamat ekonomi lain mengakui, tingkat pengangguran akan mencapai 10 persen pada akhir tahun ini dan akan tetap bertambah hingga 2010. Bahkan, beberapa mengatakan akan mencapai 11 persen, lebih tinggi dari tingkat pengangguran pascaPerang Dunia II sebesar 10,8 persen pada akhir 1982.

Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyatakan tingginya tingkat pengangguran bukanlah tujuan pemerintah. Dia mengatakan, pada Senin depan waktu setempat akan mengupayakan masalah ini ke dalam usaha stimulus presiden, termasuk di dalamnya pengeluaran yang lebih banyak pada proyek pemerintah. • VIVAnews

 

Indonesia Berhutang 1 Milyar Dolar ke ADB June 8, 2009

Posted by informationmedia in Economics, finance.
Tags: , , , , , , , , , ,
add a comment

Posted: 04 Jun 2009 08:38 PM PDT

Bank Pembangunan Asia, ADB,  mengatakan mereka telah menyetujui pinjaman satu milyar dolar kepada Indonesia untuk mempertahankan proyek pengurangan kemiskinan dan proyek sosial lain pada masa kelesuan keuangan global sekarang ini.

Dalam pernyataan hari Kamis, bank  itu mengatakan pinjaman tersebut adalah satu pinjaman yang berjumlah paling besar yang telah disetujuinya untuk ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu.

Direktur Keuangan ADB, Jasheem Ahmed, mengatakan krisis keuangan global telah mempersulit Indonesia untuk memperoleh kredit dari pasar internasional.  Pembayaran kembali pinjaman itu akan lebih murah daripada melalui bank-bank niaga.

Ekspor Indonesia telah melamban karena permintaan telah turun.  Ekonomi Jakarta tidak terlalu bergantung pada ekspor,  seperti negara-negara lain di kawasan itu.  Namun, penurunan ekspor diperkirakan masih akan menurunkan pertumbuhan ekonomi hingga 3 sampai 4 persen,  turun dari perkiraan pra-krisis 6 persen.

Terakhir ekonomi Indonesia bertumbuh kurang dari 4 persen adalah tahun 2001. -VOAnews-

GM Bangkrut, Ekonomi AS Makin Terpuruk June 8, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Posted: 31 May 2009 11:43 PM PDT

Perusahaan mobil raksasa General Motors dijadwalkan mengajukan perlindungan kebangkrutan hari ini.

Bangkrutnya GM merupakan keruntuhan terbesar sebuah perusahaan sepanjang sejarah Amerika.

GM memiliki waktu hingga 1 Juni untuk mengajukan sebuah upaya perbaikan yang dapat dilaksanakan untuk mengembalikan dana darurat pemerintah.

Berbagai laporan mengatakan sebagian besar pemegang saham kini sepakat atas sebuah perjanjian yang memberi mereka sedikitnya 10% saham dalam sebuah perusahaan baru yang lebih kecil.

Presiden Barack Obama dijadwalkan akan memberi keterangan lengkap soal masalah ini dalam jumpa pers.

Para eksekutif senior GM di bawah pengawasan pengadilan telah membuat persiapan terakhir untuk restrukturisasi total terhadap sebuah perusahaan yang pernah menjadi penghasil mobil terbesar dunia.

Angka penjualan GM menurun drastis akibat dampak krisis keuangan global dan perusahaan itu memperoleh bantuan pemerintah sebesar US$ 20 miliar.

Berkas permohonan bangkrut setebal 11 bab itu merupakan sejarah kebangkrutan terbesar ketiga di Amerika setelah runtuhnya lembaga keuangan Lehmann Brothers dan raksasa telekomunikas WorldCom.-bbc/kf-

Isu Neolib Indikasi Makin Matang Berpolitik June 1, 2009

Posted by informationmedia in Economics, politics.
Tags: , , , , , , , , ,
add a comment

Posted: 30 May 2009 11:48 PM PDT

Isu ekonomi neoliberal yang belakangan ini marak diberdebatkan sebagai sistem ekonomi nasional menjadi indikasi semakin matangnya kehidupan berpolitik dan berdemokrasi di Indonesia.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemilihan presiden di Indonesia diramaikan oleh sebuah perdebatan tentang sistem ekonomi nasional. Perdebatan ini membuktikan semakin matangnya kehidupan berpolitik dan berdemokrasi di Indonesia,” kata Direktur Indef, Ikhsan Modjo, di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, saat ini berpolitik tidak lagi identik dengan pelemparan isu-isu sempit yang bersifat ideologis dan sektarian, tetapi lebih kepada isu-isu pragmatis dan ekonomi. Perdebatan tersebut berpangkal pada kritik kalangan oposisi terhadap calon wakil presiden dari koalisi partai pemenang pemilu legislatif, yang dianggap berhaluan ekonomi neoliberal.

“Haluan ini menurut mereka adalah sebuah hal negatif yang didiktekan oleh lembaga keuangan internasional, seperti World Bank dan IMF. Sebagai gantinya, para pengkritik mengajukan ekonomi kerakyatan,” katanya.

Namun, Ikhsan berpendapat, wacana yang berkembang belum sepenuhnya lepas dari ideologi dan labelisasi sekaligus belum menyentuh diskusi-diskusi kebijakan yang lebih serius dan teknis. Selama ini, kritik baru berjalan satu arah dari pengusung ekonomi kerakyatan pada kelompok yang disebut sebagai neoliberal, yang agaknya lebih bersikap defensif.

“Hal ini dapat dimaklumi karena selain masih lekatnya stigma liberal pada masyarakat Indonesia, ekonomi kerakyatan baru sebatas konsep keberpihakan yang juga belum tentu efektivitasnya ketika dipraktekkan. Lain halnya dengan neoliberal yang telah menuai beragam hasil di berbagai negara, baik keberhasilan maupun kegagalan,” katanya.

Ekonom itu mendefinisikan, neoliberalisme sebagai revival pemikiran liberal klasik yang mengadvokasi pasar bebas, kebebasan individu, dan intervensi negara minimal dalam perekonomian. Konsep itu, kata Ikhsan, merupakan sekumpulan teori tentang relasi antara negara, pasar, individu dan masyarakat dalam sebuah sistem perekonomian yang berlandaskan kapitalisme.

Kemunculan neoliberal pada akhir 1960-an dilatarbelakangi oleh beragam kegagalan kebijakan ekonomi teknoratis dan intervensionis yang melahirkan ketidakpuasan dan konflik kepentingan.

Ikhsan menjelaskan, sebagaimana pemikiran-pemikiran besar lainnya, kemunculan neoliberal dipicu krisis berupa stagflasi tahun 1970-an di negara-negara maju yang memberi angin haluan tersebut untuk menyerang balik kubu prointervensi dan membawanya kembali sebagai wacana kebijakan ekonomi dominan.

“Resep neoliberal sukses mengurangi inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di beberapa negara. Perekonomian Inggris membaik tiga tahun setelah Margaret Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris pada tahun 1979. Demikian pula di Amerika Serikat, kepemimpinan Ronald Reagan selama dua periode (1981-1989) berhasil menurunkan inflasi dan pengangguran.”

Keduanya, Ikhsan cenderung berpendapat bahwa neoliberal sekadar sebuah term yang digunakan sebagai heading besar dari berbagai teori-teori kontemporer anti-intervensi yang dikembangkan pada konteks historis, politik, dan institusi tertentu.

Neoliberal, menurut dia, juga merupakan perkawinan aliran ekonomi neoklasik yang menganut paham “market primacy” di satu sisi, dengan mazhab politik Libertarian-Austria yang mengusung kebebasan dan kemerdekaan invididu di sisi lain.

“Berbeda dengan neoliberalisme yang merupakan kumpulan pemikiran tentang relasi antara pasar dan negara dalam suatu pasar yang bercorakkan kapitalisme. Ekonomi kerakyatan lebih merupakan kumpulan pemikiran tentang sebuah orientasi kebijakan yang lebih berpihak kepada rakyat jelata, baik di sisi konsumsi dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar dan pokok, maupun di sisi produksi dengan berpihak pada usaha kecil dan menengah,” katanya.

Ekonomi kerakyatan bisa saja berkembang dan dipraktekkan di berbagai corak sistem perekonomian, baik itu yang bersifat kapitalisme atau komunisme. “Akan tetapi, karena menisbatkan pemihakan yang jelas, yang implisit berarti menekankan perlunya peran aktif dan ketidaknetralan negara, ekonomi kerakyatan berbeda dengan neoliberalisme, yang mengandaikan netralitas dan ketiadaan campur tangan negara,” katanya.

Menurut dia, agenda ekonomi rakyat tidak banyak bertentangan langsung dengan pemikiran neoliberal. Bahkan, pemerintah saat ini bisa menggabungkan keduanya.

Ia menambahkan, jargon ekonomi rakyat memang lebih terkesan pada pemrioritasan sektor pertanian dan UMKM. Karenanya, ekonomi rakyat kurang tepat untuk menjadi jargon melawan liberalisasi dan privatisasi.
“Para penentang neoliberal nampaknya perlu memikirkan nama lain,” demikian Ikhsan Modjo. (Republika online, 29/05/2009)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.