Karena Menolak Membuka Pakaiannya, Tentara Israel Menangkap Seorang Wanita Di Hebron November 24, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: cewe, hebron, islam, jilbab, muslimah, perempuan
add a comment
Posted: 19 Nov 2009 06:41 PM PST
Hebron- Otoritas pendudukan zionis Israel, sore ini menangkap seorang wanita, Ummu Wisam Dofash, setelah ia menolak membuka pakaiannya di pos pemeriksaan di pintu masuk ke jalan raya Asy-Syuhada di pusat kota Hebron.
Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa ketika Ummu Wisam sedang pergi menuju rumahnya di Tel Rumeida, ia dihentikan oleh tentara Israel di pos pemeriksaan, lalu memintanya agar membuka pakaiannya untuk diperiksa, namun ia menolak melakukannya, sehingga salah seorang dari tentara itu menyerangnya dengan cara memukulinya, selanjutnya tentara Israel menangkapnya dan membawanya ke markas polisi Israel.
Sementara sumber pendudukan Israel mengklaim bahwa Ummu Wisam berusaha merampas senjata salah seorang prajurit, karena itulah mereka menangkapnya. (mediaumat.com)
Penghancuran Al-Aqsha Masuki Tahap Akhir November 24, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: aqsha, islam, israel, masjid, palestina, quds, yahudi
add a comment
Posted: 20 Nov 2009 08:08 PM PST
HEBRON- Anggota legislatif Hamas, Samirah Halayiqah, mengingatkan efek berhaya dari sikap diam dunia Arab dan internasional terhadap rencana Israel menghancurkan Al-Aqsha dan yahudisasi Al-Quds. Sebab rencana Israel sudah mamasuki tahap akhir.
Dalam pernyataan yang diterima Infopalestina hari ini Jumat (20/11) Halayiqah mengecam keras “kondisi mati” bangsa Arab dan umat Islam terhadap apa yang menimpa Al-Quds dan masjid Al-Aqsha. Apalagi upaya Israel melakukan pembersihan sistematis terhadap eksistensi Arab dan Islam di kota suci itu sudah memasuki tahap akhir.
Ia menyayangkan kasus penghancuran masjid Al-Aqsha hanya menjadi sekedar berita sekilas bagi pejabat-pejabat politik Arab dan internasional. Ia meminta agar Arab dan Islam serius membantu warga Al-Quds yang mengalami “kanker raksasa” yang beroperasi siang dan malam untuk menghabisi eksistensi mereka di kota tersebut. Mulai dari penggusuran rumah, satu kampung penuh, menghabisi identitas dan mengusir warga dengan berbagai cara represif tanpa sandaran hukum atau pertimbangan manusiawi.
Hal itu diungkapkan oleh Halayiqah usai pengumuman Yayasan Al-Aqsa soal aktivitas penggalian Israel puluhan meter dari barat masjid Al-Aqsha yang mengancam peninggalan bersejarah Islam di daerah itu termasuk mengancam bangunan masjid Al-Aqsha. Yayasan menyebutkan penggalian itu untuk membangun dua terowongan koridor dan tangga escalator yang mengubungan halaman Al-Barraq dan gerbang Magharibah. (Republika online, 21/11/2009)
Jejak Khilafah dan Syariah di Indonesia November 19, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: indonesia, islam, kerajaan, khalifah, khilafah, sultan, syariah
add a comment
Tidak banyak kaum Muslim, khususnya di Indonesia, yang tahu bahwa pada bulan Maret ini, 83 tahun lalu menurut hitungan Masehi dan 86 tahun menurut hitungan Hijriah, tepatnya tanggal 3 Maret 1924, Khilafah Islam yang berkedudukan di Turki diruntuhkan oleh kekuatan penjajah Inggris melalui kaki tangannya, Mustafa Kemal Attaturk. Sepantasnya kaum Muslim prihatin-sebagaimana jutaan umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang sedih luar biasa saat itu-menyaksikan institusi politik Islam global itu diruntuhkan.
Ya, kita pantas prihatin dan bersedih karena:
Pertama, Khilafah adalah institusi politik yang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasul saw. sejak 14 abad yang lalu:.
Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap nabi meninggal, nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Akan tetapi, nanti akan ada banyak khalifah. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Kedua, Khilafahlah yang lebih dari 13 abad mengayomi dan mempersatukan kaum Muslim sedunia, dengan seluruh kemajuan peradabannya, kejayaan institusinya dan kemakmuran warga negaranya. Bahkan kaum Muslim Indonesia pun pernah merasakan perhatian dan kepedulian Khilafah; sesuatu yang tidak banyak diketahui oleh kaum Muslim sendiri di negeri ini.
Namun demikian, tulisan berikut tidak dimaksudkan untuk “meratapi” keruntuhan Khilafah. Tulisan ini lebih ditujukan agar kita tidak mudah melupakan begitu saja sejarah kita sendiri sebagai umat Islam, khususnya di Indonesia, yang diakui atau tidak, banyak diwarnai oleh warna Islam. Bahkan jejak syariah dan Khilafah di Indonesia sebetulnya bisa ditelusuri dari sejumlah rujukan dan bukti sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan.
Awal Masuknya Islam
Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad ke-7. (Prof. Dr. Uka Tjandrasasmita, dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Asia Tenggara, Kedatangan dan Penyebaran Islam, 2002, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, hlm. 9-27).
Sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M. Demikian pula Kerajaan Ternate tahun 1440. Kerajaan Islam lain di Maluku adalah Tidore dan Kerajaan Bacan. Institusi Islam lainnya di Kalimantan adalah Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai. Di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang. Adapun kesultanan di Jawa antara lain: Kesultanan Demak yang dilanjutkan oleh Kesultanan Jipang, lalu dilanjutkan Kesultanan Pajang dan dilanjutkan oleh Kesultanan Mataram, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Silam diterapkan dalam institusi Kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi Kesultanan Bima. (Ensiklopedia Tematis Dunia Islam: Khilafah dalam bagian “Dunia Islam Bagian Timur”, PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve, Jakarta. 2002).
Seiring perjalanan waktu, hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik di Indonesia. A.C Milner mengatakan bahwa Aceh dan Banten adalah kerajaan Islam di Nusantara yang paling ketat melaksanakan hukum Islam sebagai hukum negara pada abad ke-17. Di Banten, hukuman terhadap pencuri dengan memotong tangan bagi pencurian senilai 1 gram emas telah dilakukan pada tahun 1651-1680 M di bawah Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Iskandar Muda pernah menerapkan hukum rajam terhadap putranya sendiri yang bernama Meurah Pupok yang berzina dengan istri seorang perwira. Kerajaan Aceh Darussalam mempunyai UUD Islam bernama Kitab Adat Mahkota Alam. Sultan Alaudin dan Iskandar Muda memerintahkan pelaksanaan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam dan ibadah puasa secara ketat. Hukuman dijalankan kepada mereka yang melanggar ketentuan. (Musyrifah Sunanto, 2005).
Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam I di Jawa memiliki jabatan qadi di Kesultanan yang dijabat oleh Sunan Kalijaga. De Graff dan Th Pigeaud mengakui hal ini. Di Kerajaan Mataram pertama kali dilakukan perubahan tata hukum di bawah pengaruh hukum Islam oleh Sultan Agung. Perkara kejahatan yang menjadi urusan peradilan dihukumi menurut kitab Kisas, yaitu kitab undang-undang hukum Islam pada masa Sultan Agung.
Dalam bidang ekonomi Sultan Iskandar Muda mengeluarkan kebijakan pengharaman riba. Menurut Alfian, deureuham adalah mata uang Aceh pertama. Istilah deureuham dari bahasa Arab dirham. Selain itu Kesultanan Samudera Pasai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir (1297/1326) telah mengeluarkan mata uang emas. (Ekonomi Masa Kesultanan; Ensiklopedia Tematis Dunia Islam: Khilafah dalam bagian “Dunia Islam Bagian Timur”, PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve, Jakarta. 2002).
Hubungan dengan Khilafah
Di samping penerapan syariah Islam, hubungan Nusantara dengan Khilafah Islam pun terjalin. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Sang Raja meminta dikirimi dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. (Ayzumardi Azra, 2005).
Sebagian pengemban dakwah Islam juga merupakan utusan langsung yang dikirim oleh Khalifah melalui amilnya. Tahun 808H/1404M adalah awal kali ulama utusan Khalifah Muhammad I ke Pulau Jawa (yang kelak dikenal dengan nama Walisongo). Setiap periode ada utusan yang tetap dan ada pula yang diganti. Pengiriman ini dilakukan selama lima periode. (Rahimsyah, Kisah Wali Songo, t.t., Karya Agung Surabaya, hlm. 6).
Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.
Hubungan ini tampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan. Abdul Qadir dari Kesultanan Banten, misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu. Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar sultan dari Syarif Makkah tahun 1051 H (1641 M) dengan gelar, Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. (Ensiklopedia Tematik Dunia Islam Asia Tenggara, 2002). Bahkan Banten sejak awal memang menganggap dirinya sebagai Kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. (Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Struktur Politik dan Ulama: Kesultanan Banten, 2002).
Selain itu, Snouck Hurgrounye, sebagaimana yang dikutip oleh Deliar Noer, mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, melihat stambol (Istanbul, ibukota Khalifah Usmaniyah) senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang Mukmin dan tetap (dipandang) sebagai raja dari segala raja di dunia. (Deliar Noer, 1991).
Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Itu
Pada masa penjajahan, Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama. (H. Aqib Suminto, 1986).
Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara. Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.
Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.
Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye. Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar. (H. Aqib Suminto, 1986).
Demikianlah, syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekular. Hukum-hukum sekular ini terus berlangsung hingga sekarang. Walhasil, tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah; sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda.
Perjuangan Tak Pernah Padam
Meski penjajah Belanda menuai sukses besar dalam menghapus syariah Islam di bumi Nusantara, umat Islam di negeri ini tidak pernah diam. Perjuangan untuk menegakkan kembali syariah Islam terus dilakukan. Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, yang sebelumnya adalah Sarekat Dagang Islam. Inilah mestinya tonggak kebangkitan Indonesia, bukan Budi Utomo yang berdiri 1908 dengan digerakkan oleh para didikan Belanda. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 dengan melakukan gerakan sosial dan pendidikan. Adapun Taman Siswa, baru didirikan Ki Hajar Dewantara pada 1922. Sejatinya, KH Ahmad Dahlanlah sebagai bapak pendidikan. (H. Endang Saefuddin Anshari, 1983).
Pada saat Pemilu yang pertama tahun 1955, Masyumi adalah partai Islam pertama dan terbesar yang jelas-jelas memperjuangkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Lahirnya Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 adalah salah satu puncak dari perjuangan umat Islam dalam menegakkan syariah Islam di Indonesia.
Lebih dari itu, sejarah perjuangan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari agenda Khilafah Islam. Setelah institusi Khilafah Islam Ustmaniyah dibubarkan pada 3 Maret 1924, ulama dan tokoh pergerakan Islam Indonesia meresponnya dengan pembentukan Komite Khilafah yang didirikan di Surabaya pada 4 Oktober 1924, dengan ketua Wondosudirdjo (Sarikat Islam) dan wakilnya KH A. Wahab Hasbullah (lihat: Bendera Islam, 16 Oktober 1924). Kongres ini memutuskan untuk mengirim delegasi ke Kongres Khilafah ke Kairo yang terdiri dari Surjopranoto (Sarikat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan KH. A. Wahab dari kalangan tradisi. (Hindia Baroe, 9 Januari 1925). KH A. Wahab kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdhatul Ulama.
Semua bukti sejarah ini menunjukkan kepalsuan tuduhan berbagai pihak-yang menolak syariah Islam dan Khilafah-bahwa Indonesia tidak pernah mengenal formalisasi syariah Islam oleh negara, apalagi Khilafah.(voa-islam.net)
Mayoritas Cendekiawan Muslim Tolak Teori Darwin November 19, 2009
Posted by informationmedia in syariah.Tags: cendekiawan, darwin, islam, manusia, muslim, sains, science, teori, teory
add a comment
Posted: 17 Nov 2009 10:59 PM PST
LONDON–Kepercayaan para mahasiswa dan akademisi Muslim di seluruh dunia terhadap teori evolusi Charles Darwin terus melemah. Mereka semakin tidak percaya dengan kebenaran teori tersebut. Bukti yang mendukung kebenaran teori evolus itu, juga mereka nilai sangat lemah.
Kenyataan itu terlihat dari penelitian yang dilakukan oleh Guru Besar Fisika dan Astronomi Universitas Sharjah, Uni Emirat Arab, Nidhal Guessoum. Menurut dia, hanya 15 persen dari responden yang dijadikan sasaran penelitiannya itu, yang mempercayai bahwa teori evolusi Darwin itu benar atau mungkin benar. Sementara 62 persen respondennya menyatakan bahwa teori Darwin tidak terbukti kebenarannya.
“Rata-rata tingkat penerimaan terhadap teori evolusi dan ide untuk mengajarkannya, sangat rendah,” ujar dia seperti dikutip situs Daily Telegraph edisi Selasa (17/11). Menurut Guessoum, mereka tidak hanya menolak teorinya, tapi juga menolak pandangan evolusi Darwin diajarkan sebagai bagian dari kurikulum akademik. Di masa lalu, diakuinya, memang sebagian cendekiawan muslim masih mengambil cara pandang teori evolusi.
Dia memandang, saat ini situasinya berubah. Melalui arus informasi yang sangat deras, kata dia, para cendekiawan Muslim mulai menemukan pandangan teori penciptaan yang merupakan ‘jawaban’ dari teori evolusi.
Debat soal asal mula penciptaan ini terus memanas. Di Inggris, sebuah lembaga survei bernama Ipsos MORI, dengan sponsor British Council pernah melakukan jajak pendapat soal isu tersebut. Hasilnya, 54 persen responden menginginkan para pemuka Kristen untuk memberi peluang bagi diajarkannya teori asal mula kehidupan yang menjadi pembanding bagi teori Darwin, di sekolah, Hanya 21 persen responden yang menghendaki agar sekolah-sekolah hanya mengajarkan teori Darwin. (Republika online, 18/11/2009)
Rabi Yahudi Menyerukan Kepada Umat Islam Untuk Memisahkan Agama dan Politik November 17, 2009
Posted by informationmedia in politics.Tags: islam, politics, politik, yahudi
add a comment
Posted: 15 Nov 2009 06:48 PM PST
Kepala rabi di Inggris menyerukan kepada umat Islam untuk membiasakan diri hidup sebagai kaum minoritas di Inggris, dan belajar memisahkan agama dari kekuasaan.
Jonathan Sacks berkata bahwa kaum Muslim dan Kristen belum memandangnya dengan tulus terhadap dimensi pelajaran dari kejahatan yang telah dilakukan terhadap orang-orang Yahudi dengan membuangnya ke Babilonia.
Dia juga mengatakan “salah satu keistimewaan besar menjadi seorang Yahudi adalah mengetahui bagaimana menyanyikan nada rendah”, “sejak pembuangan ke Babilonia kami mendapatkan pengalaman hidup selama 26 abad sebagai kaum minoritas di tengah-tengah suatu budaya yang tidak toleran terhadap pandangan hidup kami. Sementara Kristen dan Islam tidak mendapatkan keahlian seperti itu.”
Dia menambahkan bahwa “orang-orang Kristen telah belajar toleransi, tetapi itu hanya setelah 100 tahun dari konflik berdarah di antara sesama mereka di seluruh wilayah Eropa.” “Saya yakin bahwa Islam akan menemukan cara untuk bisa sampai ke substansi yang telah dicapai oleh Yahudi dan Kristen, yaitu masalah pemisahan agama dari kekuasaan.
Tetapi tidak ada cara yang cepat untuk sampai ke sana. Sebab hal itu mengharuskan proses yang sulit dan menyakitkan dalam agama. Hanya saja umat Islam pasti bisa melakukannya. Tidak seorang pun dari luar yang dapat memberitahu (mengintervensi) mereka. Karena ini akan dianggap sebagai penghinaan. Sementara menurut saya hal itu merupakan tindakan yang secara moral tidak dapat diterima.
Dan saya telah melihat bahwa beberapa di antara kaum Muslim yang memiliki kelebihan dan keistimewaan sedang menempuh proses yang indah ini, baik di negara ini maupun di tempat-tempat lain, di Irak dan bahkan di Iran.” (kantor berita HT, 15/11/2009)
Muallaf vs murtadin part 9 November 16, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: debat, dialog, islam, kristen, muallaf, murtadin
add a comment
AKIBAT TIADANYA KHILAFAH – UST IHSAN TANJUNG November 16, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: ihsan, islam, islamiyah, khalifah, khilafah, tanjung
add a comment
Muallaf vs murtadin part 8 November 16, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: debat, dialog, islam, kristen, muallaf, murtadin
add a comment
Muallaf vs murtadin part 7 November 16, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: debat, dialog, islam, kristen, muallaf, murtadin
add a comment
Muallaf vs murtadin part 6 November 16, 2009
Posted by informationmedia in video.Tags: debat, dialog, islam, kristen, muallaf, murtadin
add a comment





