jump to navigation

Menkeu: Krisis Buktikan Gagalnya Pasar Bebas Murni June 16, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , ,
add a comment

Posted: 13 Jun 2009 09:02 PM PDT

BALI — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, krisis keuangan global yang saat ini sedang terjadi menunjukkan ekonomi tidak bisa  diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar lewat tuntunan tangan-tangan tak terlihat (invisible hand) yang menjadi prinsipnya.

Invisible hand adalah prinsip kunci dalam teori ekonomi klasik dari ekonom Adam Smith yang menjadi inti ideologi pasar bebas murni. “Krisis menunjukan kepada kita keterbatasan dari invisible hand di dunia nyata. Kita lihat bagaimana the invisible hand membantu keruntuhan Lehman Brothers, Bear Stern dan lembaga investasi besar lainnya, yang didalamnya terdapat tabungan ribuan orang,” katanya di Bali, Sabtu.

Ia menjelaskan, pasar keuangan global yang dibiarkan bebas telah mendorong terciptanya inovasi produk keuangan yang tidak bertanggung jawab. “Banyak diantaranya (produk keuangan) tanpa penilaian yang memadai,” katanya.

Hal ini telah membuat gelembung keuangan, dimana uang berlipat-lipat tak terkendali akibat berbagai produk  keuangan yang bebas dijual tersebut.

Disisi lain menurut dia, periode kebijakan moneter yang sangat lemah berjalan cukup panjang, lemahnya penilaian risiko, dan ketidakseimbangan global menyediakan amunisi bagi dana yang mudah bergerak menjadi pelatuk yang meledakan  gelembung di sektor keuangan.

Ia menambahkan, semua faktor itu bergabung dengan rusaknya moral para manajer keuangan dan pembuat keputusan sehingga terjadi perilaku yang sangat menyimpang dalam keberanian mengambil resiko.

Ketika gelembung meletup di AS, membuat dana yang sebelumnya berlebih menjadi kering, terutama karena adanya pemburukan oleh membesarnya kerugian di sektor keuangan di AS.

Hal ini, membuat fungsi intermediasi (penghubung antara mereka yang membutuhkan dana dengan yang berlebihan dana) menjadi terganggu setelah para pemilik dana tidak lagi mempercayai penyaluran dana dengan lebih memilih mengamankannya.

Alhasil, suku bunga di pasar meningkat karena likuiditas sulit dicari, sementara persepsi risiko baik untuk kemudian mengglobal. Dan negara berkembang yang tidak ada hubungannya dengan produk keuangan tersebut
pun menjadi korban prilaku irasional itu.

Karena persepsi risiko meningkat maka bunga surat utang baik korporasi maupun negara menjadi berlipat-lipat, meski tanpa penilaian yang adil terhadap kekuatan (fundamental) ekonomi yang dimilikinya.

Akibatnya, negara berkembang kesulitan mencari dana di pasar keuangan karena suku bunga yang ditawarakan tidak masuk akal. Di sisi Lain, akibat kerugian besar di AS, dana-dana mengalir keluar dari negara berkembang ke AS yang digunakan untuk membiayai kerugian yang dialami AS itu.

Akibatnya, nilai tukar negara-negara berkembang melemah, begitu pula bursa efek mencatat penurunan tajam karena aliran dana keluar tersebut. Tak hanya pada sektor keuangan, krisis ini merambat ke sektor riil di mana saluran kredit ke sektor riil terganggu.

Bank melihat kekeringan likuditas membuat mereka berhati-hati sehingga kredit untuk sektor riil pun mengalir tersendat karea hati-hati atau bahkan tertahan. Akibatnya membuat sektor riil sulit bergerak, dan permintaan duniapun anjlok. “Aksi irasional ini menghukum kita dengan bunga surat utang yang tinggi, pasar irasional. Kita adalah korban,” katanya. (republika online, 13/06/2009)

Pengangguran Menyerang Kawasan Euro June 16, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , ,
add a comment

Posted: 13 Jun 2009 08:36 AM PDT

Data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di kawasan euro pada bulan April lalu melonjak ke tingkat tertinggi dari rata-ratanya selama hampir satu dekade, hal ini memperlemah harapan untuk bisa mempercepat pemulihan dari resesi ekonomi terburuk sejak Perang Dunia II.

Biro Statistik Uni Eropa menyatakan bahwa tingkat pengangguran di wilayah euro, yang mencakup 16 negara naik menjadi 9,2% dari 8,9% pada bulan Maret, hal ini dikarenakan adanya 396 ribu orang yang kehilangan pekerjaannya, sehingga jumlah penganggur menjadi 14.579 juta orang.

Angka ini melampaui ramalan para ekonom yang memperkirakan tingkat pengangguran pada angka 9,1% dalam jajak pendapat yang diadakan oler Reuters, dan ini adalah yang tertinggi sejak September 1999. Dikatakan bahwa perekonomian belum melihat tanda-tanda optimisme yang tercermin dalam hasil jajak pendapat terhadap semangat dari bursa tenaga kerja. (kantor berita HT 12/06/2009)

Kurang Imam, Banyak Masjid Brasil Tutup June 16, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , ,
add a comment

Posted: 12 Jun 2009 12:46 AM PDT

SAO PAULO – Meski Muslim di Brasil menikmati atmosfer toleransi unik, banyak masjid ditutup gara-gara jumlah imam yang jarang. Kondisi itu mengancam identitas Islam di kalangan Muslim, terutama generasi muda.

“Sepertiga masjid ditutup gara-gara tak ada imam,” ujar Al-Sadiq Al Othmani, kepala Departemen Urusan Islam, di kantor Dakwah Islami, Amerika Latin berbasis Sao Paulo. Padahal ada banyak masjid di ibu kota utama negara-negara bagian Brasil dan juga kota-kota lain.

Dalam kota Sao Paulo sendiri ada sekitar sepuluh masjid, termasuk Masjid Brasil, masjid pertama di Amerika latin yang konstruksi pendirian dimulai pada 1929.

Budaya Toleransi Muslim Brazil sebenarnya juga memikat turis Muslim luar negeri. Hanya saja dari 120 masjid, hanya tersedia imam dan khotib tak lebih dari 40 orang. demikian menurut Khaled Taqei Ed-Din, seorang imam di Sao Paulo.

“Itu pun hanya sedikit yang menyelesaikan pendidikan syariah di tingkat universitas,” ujarnya. “Sementara sisanya menjadi imam berdasarkan pengalaman,” imbuh Khaled.

Alhasil meski sebagian besar masjid memiliki desain-desain unik, duapertiga bangunan ibadah umat Islam di Brasil ditutup, sepi tanpa tanda kehidupan. “Banyak masjid bahkan yang tak mampu menggelar sholat lima kali dalam sehari,” keluh Al Sadiq.

Pemimpin Muslim mengaitkan krisis keberadaan imam dengan kekurangan dana di Islamic center. Itu membuat masjid-masjid Brasil tak mampu melakukan pelatihan terhadap calon-calon imam baru.

Mereka juga mengingatkan kondisi gawat akibat masjid yang makin banyak membisu. “Banyak generasi muda tidak tahu banyak tentang Islam,” ujar Ahmed Othman Mazloum, seorang khotib asal Lebanon.

“Beberapa menjadi Muslim karena nama dan yang lain sudah mengabaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan agama,” tuturnya.

Pemimpin Muslim sependapat jika kesalahan terbesar ada pada komunitas mereka, yang tidak melakukan upaya lebih untuk mendukung institusi masjid.

Al Sadiq menghimbau para organisasi Muslim harus bergerak dan menyediakan waktu khusus untuk merekrut imam penuh waktu alih alih menggunakan imam sukarela. Dukungan finansial pun, menurut Al Sadiq harus datang dari dalam komunitas sendiri.

Profesor Mohsen Bin Musa El-Husseini, kepala Pusat Islami di Foz du Iguacu, kota terdapat mayoritas Muslim kedua di Brasil setelah Sao Paulo, memiliki solus lain. “Komunitas Muslim, sangat membutuhkan aksi mendesak, yang keuntungan akan didedikasikan pada institusi Muslim. “Ini satu-satunya jalan untuk mencegah identitas Muslim di generasi masa depan,” tegasnya.

Muslim di Brasil saat ini berkisar 27.329, menurut data sensus negara. Mayoritas adalah keturunan Syiria, Palestina, Lebanon, yang menetap di Brasil pada abad ke-19, saat Perang Dunia I dan pada 1970-an

Sebagian besar Muslim tinggal di negara bagian Parana, Goias, Rio de Janiero, dan Sao Paulo. Namun juga ada komunitas berjumlah cukup signifikan di Mato Grosso do Sul dan Rio Grande do Sul. (Republika online, 12/06/2009)

JADWAL PENGAJIAN JUNI 2009 – MASJID SUNDA KEPALA JAKARTA June 16, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , ,
add a comment

 

No Hari Tanggal Pukul Pengajian Narasumber / Penceramah / Khatib Moderator

 

1. Senin 1 Juni 2009 18.30-20.00 Husnul Khatimah Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA H. Mulyadi

2. Selasa 2 Juni 2009 18.30-20.00 Ilmu Tafsir Drs. H. Umay M. Dja’far Shiddieq, MA Muh. Amin B.

3. Rabu 3 Juni 2009 18.30-20.00 Tasawuf Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA Darmawan

4. Kamis 4 Juni 2009 18.30-20.00 Tadarus & Do’a Bersama Syeikh Ali Shaleh Muhammad Al-Madani H. M. Amir Jufri

 

5. Jumat 5 Juni 2009 12.00-13.00 Khutbah Jum’at Syeikh Ali Shaleh Muhammad Al-Madani H. M. Amir Jufri

18.15-19.00 Shalat Tasbih Imam Rawatib -

19.00-20.30 Pengajian PARIS RISKA Ust. Jeffry Al – Bukhori -

 

 

6. Sabtu 6 Juni 2009

 

7. Ahad 7 Juni 2009 21.00-08.45 I’Tikaf Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA H. Suwendi

Kuliah Dhuha Prof. DR. H. A. Thib Raya, MA H. Suwendi

 

 

8. Senin 8 Juni 2009 18.30-20.00 Husnul Khatimah Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA H. M. Amir Jufri

9. Selasa 9 Juni 2009 18.30-20.00 Ilmu Kalam Prof. DR. H. Mulyadi Kartanegara, MA H. Mulyadi

10. Rabu 10 Juni 2009 18.30-20.00 Tasawuf Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA Muh. Amin B.

11. Kamis 11 Juni 2009 18.30-20.00 Tadarus & Do’a Bersama Syeikh Ali Shaleh Muhammad Al-Madani Darmawan

 

12. Jumat 12 Juni 2009 12.00-13.00 Khutbah Jum’at Ir. H. Adhiwarman A. Karim, SE, MBA Muh. Amin B.

18.30-20.00 Pengajian PARIS RISKA Ust. Ahmad Hadi Wibawa, S. Ag.(Aa Hadi) -

 

 

13. Ahad 14 Juni 2009 06.15-08.30 Kuliah Dhuha Dr. Hj. Isnawati Rais, MA H. Mulyadi

14. Senin 15 Juni 2009 18.30-20.00 Husnul Khatimah Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA Darmawan

15. Selasa 16 Juni 2009 18.30-20.00 Ilmu Tafsir Drs. H. Umay M. Dja’far Shiddieq, MA H. M. Amir Jufri

16. Rabu 17 Juni 2009 18.30-20.00 Tasawuf Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA H. Mulyadi

17. Kamis 18 Juni 2009 18.30-20.00 Tadarus & Do’a Bersama Syeikh Ali Shaleh Muhammad Al-Madani Muh. Amin B

 

18. Jumat 19 Juni 2009 12.00-13.00 Khutbah Jum’at H. Husein Hamid Al Athas, MA H. Mulyadi

18.30-20.00 Pengajian PARIS RISKA Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc -

 

19. Ahad 21 Juni 2009 06.15-08.30 Kuliah Dhuha Prof. DR. KH. Tholhah Hasan, MA H. M. Amir Jufri

20. Senin 22 Juni 2009 18.30-20.00 Husnul Khatimah Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA Muh. Amin B

21. Selasa 23 Juni 2009 18.30-20.00 Ilmu Kalam Prof. DR. H. Mulyadi Kartanegara, MA Darmawan

22. Rabu 24 Juni 2009 18.30-20.00 Tasawuf Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA H. M. Amir Jufri

23. Kamis 25 Juni 2009 18.30-20.00 Tadarus & Do’a Bersama Syeikh Ali Shaleh Muhammad Al-Madani H. Mulyadi

 

24. Jumat 26 Juni 2009 12.00-13.00 Khutbah Jum’at Prof. DR. H. Hamdani Anwar, MA H. Ahmad Fauzi

19.45-20.30 Pengajian PARIS RISKA Ust. H. Bobby Herwibowo, Lc -

 

25. Ahad 28 Juni 2009 06.15-08.30 Kuliah Dhuha Dr. H. Zamiril Ali Husein, MA Darmawan

26. Senin 29 Juni 2009 18.30-20.00 Husnul Khatimah Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA H. Mulyadi

27. Selasa 30 Juni 2009 18.30-20.00 Ilmu Tafsir Drs. H. Umay M. Dja’far Shiddieq, MA Muh. Amin B

Catatan: Pada hari Ahad s/d. Kamis, dimulai dengan tadarus Al-Qur’an, selama + 30 menit. Jakarta, 29 Mei 2009

Akademisi Unair : Manifesto Hizbut Tahrir jauh Lebih baik, lebih detail dan lebih kongkret dan Luar Biasa June 16, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , , , ,
add a comment

Posted: 11 Jun 2009 01:30 AM PDT

Wujud nyata kepedulian Hizbut Tahrir untuk Indonesia, makin kental dihadirkan ditengah-tengah umat. Masyarakat telah melihat bahwa Hizbut Tahrir secara istiqomah mengkampanyekan Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan menegaskan saatnya Islam memimpin dunia dengan Syariah Khilafah. Kini diawali sukses dalam peluncuran buku Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia: Indonesia, Khilafah, dan Penyatuan Kembali Dunia Islam, pada Halaqah Islam Peradaban (HIP) di Jakarta (21/5/09), maka beberapa hari yang lalu (31/05/09) Hizbut Tahrir DPD HTI Jatim mengangkat hal yang sama dalam HIP di Gedung Dakwah HTI DPD Jatim. Dikatakan oleh Ketua DPD HTI Kota Surabaya, manifesto Hizbut Tahrir untuk indonesia sebagai jalan baru menuju ke arah yang dicita-citakan umat islam Indonesia juga dunia.

Acara yang mengundang tokoh-tokoh ormas dan parpol serta instansi pemerintah dan swasta di Surabaya ini, hadir sebagai pembicara Ketua DPD HTI Jatim, Ustadz Khoiri Sulaiman, S.Si dan Anggota DPD HTI Jatim Ustadz Drs. Taufiq NIQ, MEI. Selain itu juga menghadirkan Dosen Sosiologi Unair  Novri Susan MA dan  Imron Mawardi, SP, M.Si dari cyberd departement Ekonomi Syariah FE Unair sebagai penelis.

Dalam pengantar acara HIP yang didedikasikan untuk Islam dan Ummat Muhammad SAW ini kata ustadz Fikri A. Zudiar representasi DPD HTI Jatim,  ditegaskan arti penting hadirnya manifesto Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir memberikan guidence untuk memperjelas apa yang sudah ada dan menjadi keyakinan umat islam. Karena tatkala umat islam mencita-citakan kehidupan Islam, namun disisi lain masih adanya ketidakjelasan, kegamangan dan kekaburan terhadap suatu kehidupan Islam ditengah umat islam.

Kehadiran manifesto ini menjelaskan tentang Islam kepada khalayak bahkan non muslim karena mungkin islam yang selama ini di dengar dan dipahami tidak sebagaimana diajarkan Islam. Hal ini karena adanya serangan pemikiran dan politik dalam isi kandungan Islam oleh kafir barat dan melalui tangan-tangan anak umat islam berupa liberalisme dan sekulerisme dan munculnya islamphobia, syariahphobia. Oleh karennya Hizbut Tahrir menyiapkan fikrah-fikrah islam yang dilandasi Aqidah Islam, kemudian disosialisasikan melalui pembinaan-pembinaan diseluruh dunia sehingga terwujudnya kesadaran untuk diatur dalam kehidupan Islam.

Bermula penjelasan definisi politik dalam pandangan Islam bahwa politik adalah urusan yang mengurusi umat, Ustadz Khoiri Sulaiman, S.Si menyampaikan potensi sumber daya manusia dan alam yang dimiliki negeri-negeri islam. Selain itu dituturkan pula, islam memiliki sistem pemerintahan yang unik yakni sistem Khilafah dengan empat pilar pemerintahan meliputi kedaulatan ditangan syara’, kekuasaan di tangan umat, wajib mengangkat satu khalifah serta Khalifah berhak mentabani hukum Syara’.

Dalam pemaparan manifesto berikutnya, dilanjutkan Ustadz Taufiq NIQ terkait dengan ekonomi. Sistem ekomomi merupakan persoalan pemenuhan kebutuhan manusia dengan alat pemenuhan kebutuhan yang tersedia. Sistem ekonomi, politik, sosial sekulerisme-kapitalisme pasti menimbulkan fasad bukan rahmat sehingga tidak layak untuk diterapkan. Anggota DPD HTI Jatim sekaligus pakar enterpreneurship STIS SBI Surabaya ini, menyampaikan negeri-negeri islam hancur karena sistem ekonomi kapitalis memposisikan negara sebagai negara korporasi. Berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis, Ekonomi Islam diasas oleh Aqidah Islam yang mengajarkan harta adalah lillah (milik Alloh SWT), maka Alloh SWT menyertakan aturan agar harta itu bisa digunakan manusia. Islam mengatur kepemilikan individu, umum maupun negara. Islam memberikan cara kepemilikan, cara pengelolaan dan pengembangan harta. Islam juga mengajarkan sistem belanja negara dan konsep Baitul Maal. Hal ini makin menunjukkan perbedaanya dengan konsep ekonomi materialisme baik sosialisme maupun kapitalisme yang keduanya tidak mampu memberi solusi terhadap persoalan pemenuhan kebutuhan manusia dan keduanya tak layak dipercaya untuk menyelesaikan persoalan ekonomi dalam kehidupan manusia.

Dalam telaah kritisnya Novri Susan,MA menyatakan manifesto yang dibangun Hizbut Tahrir mengenai konsep politik dan kenegaraan yang berpengaruh besar kepada hajat hidup orang banyak, adalah wacana yang menarik. Jauh Lebih baik, lebih detail dan lebih kongkret  dibanding manifesto komunisme yang diinisiasi oleh beberapa gerakan komunis di perancis di abad 19 dalam menjawab persoalan-persoalan yang muncul dr kapitalisme. Dosen Sosiologi Unair ini, menyampaikan tantangan yang diberikan oleh manifesto komunis terhadap sistem kapitalisme sebagai sistem yang ekploitatif membahayakan dan merugikan masyarakat yang selalu ditindas dan tidak bisa memenuhi kebiutuhan dasar basic need. Maka tatkala terjawabnya tantangan itu oleh kapitalisme melalui persekutuannya dengan kolonialisme, juga dibarengi terjadi ambruknya komunisme dengan ditandai runtuhnya unisovyet.

Beliau menyatakan sepakat dengan pandangan Islam terhadap demokrasi yang mengalami kriris sebagai suatu sistem pengelolaan pemerintahan terlebih di negara berkembang. Demokrasi tidak mampu menyentuh entitas batiniah atau keinginan warga, yang selalu muncul adalah klaim warga selalu bersalah karena tidak mengikuti prosedur demokrasi. Demokrasi juga tidak dapat membuktikan bahwa ia milik publik tapi kembali kepada elite politik. Melihat perkembangan demokrasi yang komplek menjadi 13 model, harapan beliau kepada Hizbut Tahrir harus mampu menjawab semua tantangan yang muncul dari setiap model demokrasi, karena manifesto ini sebagai blue print yang sedang diperjuangkan. Mengutip apa yang disampaikan ibnu khaldun, beliau menambahkan “ketika satu kelompok itu menjadi kuat hizby (berjamaah,red) dengan konsep politik yang jelas  dan penawaran government yang bagus pemerintahan maka bukan tidak mungkin konsep itu bisa berjalan, nah selamat berjuang dengan hal itu”.

Sementara itu menurut Imron Mawardi FE Unair, manifesto HT ini tanpa bertanyapun kalau ini adalah dari Islam pasti benar. Beliau menyatakan ini merupakan momentum untuk kebangkitan islam, melalui ekonomi islam. Untuk mensyariatkan dunia menurut beliau melalui jalur ekonomi, kemudian bagaimana ekonomi islam ditegakkan, ungkap beliau saat ini menemukan momentumnya. Ketika ekonomi syariah itu betul-betul bisa mejawab kemiskinan, ketidakadilan ekonomi dihilangkan dengan sistem ekonomi islam maka akan mudah sekali mengarah ke hal yang lebih besar yakni Khilafah. Diakhir kritiknya disampaikan manifesto ini secara ekonomi adalah sesuatu yang luar biasa dan harus didukung dengan moral yang baik.

Sampai akhir sesi tanya jawab halaqah yang pandu ustadz Muhammad Ismail diikuti antusias oleh seluruh peserta. Wujud real perjuangan Hizbut Tahrir dalam manifesto ini akan dan telah secara istiqomah didakwahkan sehingga akan menjadi bahan diskusi dan perbincangan ditengah umat. Pada akhirnya masyarakat secara nyata mendukung sistem kehidupan dibawah naungan Khilafah Islam untuk mencapai kesejahteraan. (asr/lijatim)

 Source: Hizbut Tahrir

Musik dalam kaca mata Islam June 16, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Maraknya konser musik dan festival lagu di negri kita serta nyanyian yang kian digandrungi, bukan saja oleh para remaja, tetapi juga diminati dan dinik-mati oleh para orang tua, bahkan anak-anak, baik lewat televisi, radio, Hand phone, dan media-media elektronik lainnya, mendorong tim redaksi an-Nur untuk kembali mengangkat tema yang berkaitan dengannya. Harapan kami agar kaum Muslimin mengerti dengan jelas bagaimana sebenarnya kedudukan musik yang seakan tidak pernah sepi dan tak terpisahkan dalam kehidupan mereka.

Pandangan al-Qur’an Dan as- Sunnah
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan di antara manusia (ada) yang memper-gunakan lahwul hadits untuk menyesat-kan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan. “ (QS. Luqman: 6).

Sebagian besar mufassir berko-mentar, yang dimaksud dengan lahwul hadits dalam ayat tersebut adalah nyanyian. Hasan al-Basri berkata, “Ayat itu turun dalam masalah musik dan lagu.” Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada setan, artinya, “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu.” Maksudnya dengan lagu (nyanyian) dan musik.

RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minum-an keras dan musik.” (HR. al-Bukhari dan Abu Daud)

Dengan kata lain, akan datang suatu masa, ketika beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum-minuman keras, dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram.

Adapun yang dimaksud dengan musik di sini adalah segala sesuatu yang menghasilkan bunyi dan suara yang indah serta menyenangkan. Seperti kecapi, gendang, rebana, seruling, dan berbagai alat musik modern yang kini sangat banyak dan beragam. Bahkan termasuk di dalamnya jaros (lonceng, bel, klentengan).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lonceng adalah nyanyian setan.” (HR. Muslim)

Di masa dahulu orang-orang hanya mengalungkan klentengan pada leher binatang. Hadits di atas menunjukkan betapa dibencinya suara bel tersebut. Penggunaan lonceng juga berarti menyerupai orang-orang nasrani. Lonceng bagi mereka merupakan suatu yang prinsip dalam aktivitas gereja.

Imam Syafi’i dalam kitabnya al- Qadha’ berkata, “Nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci, bahkan menyerupai perkara batil. Barangsiapa memperba-nyak nyanyian, maka dia adalah orang dungu, syahadat (kesaksiannya) tidak dapat diterima.”

Nyanyian di Masa Kini:
Kebanyakan lagu dan musik pada saat ini manggung di berbagai pesta juga dalam tayangan televisi dan siaran radio. Mayoritas sya’ir-sya’irnya berisi tentang asmara, kecantikan, ketampanan dan hal lain yang lebih banyak mengarah kepada eksploitasi biologis, sehingga mem-bangkitkan nafsu birahi, terutama bagi kawula muda dan remaja. Selanjutnya hal itu membuat mereka lupa segala-galanya, sehingga terjadilah kemaksiat-an, zina dan dekadensi moral lainnya.

Tak diragukan lagi hura-hura musik baik dari dalam atau manca negara sangat merusak dan banyak menimbulkan bencana besar bagi generasi muda. Lihatlah betapa setiap ada pesta kolosal musik, selalu ada saja yang menjadi korban. Baik berupa mobil yang hancur, kehilangan uang atau barang lainnya, cacat fisik hingga korban meninggal dunia. Orang-orang berjejal dan mau saja membayar meski dengan harga tiket yang tinggi. Bagi yang tak memiliki uang terpaksa mencari berbagai cara yang penting bisa masuk stadion. Akhirnya merusak pagar, memanjat dinding atau merusak barang lainnya demi bisa menyaksikan pertunjukan musik kolosal tersebut.

Jika pentas dimulai, seketika para penonton hanyut bersama alunan musik. Ada yang menghentak, menjerit histeris bahkan pingsan karena mabuk musik.

Para pemuda itu mencintai para penyanyi idola mereka melebihi kecintaan mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakannya. Ini adalah fitnah yang amat besar.

Tersebutlah pada saat terjadi perang antara Bangsa Arab dengan Yahudi tahun 1967, para pembakar semangat menyeru kepada para pejuang, “Maju terus, bersama kalian biduan fulan dan biduanita fulanah … “, kemudian mereka menderita kekalahan di tangan para Yahudi yang pendosa.

Seharusnya diserukan, “Maju terus, Allah Subhanahu wata’ala bersama kalian. Allah Subhanahu wata’ala akan menolong kalian.” Dalam peperangan itu pula, salah seorang biduanita memaklumkan, jika mereka menang, maka ia akan menyelenggarakan pentas bulanannya di Tel Aviv, ibukota Israel, padahal biasanya digelar di Mesir. Sebaliknya yang dilakukan orang-orang Yahudi setelah merperoleh kemenangan adalah mereka bersimpuh di Ha’ith Mabka (dinding ratapan) sebagai tanda syukurnya kepada Tuhan mereka.

Semua nyanyian itu hampir sama, bahkan hingga nyanyian-nyanyian yang bernafaskan Islam sekalipun, tidak akan lepas dari kemungkaran. Bahkan di antara sya’ir lagunya ada yang berbunyi,
“Dan besok akan dikatakan, setiap nabi berada pada kedudukannya …
Ya Muhammad inilah Arsy, terima-lah.”

Bait terakhir dari sya’ir tersebut merupakan suatu kebohongan besar terhadap Allah Subhanahu wata’ala dan RasulNya. Tidak sesuai dengan kenyataan dan termasuk salah satu bentuk pengultusan terhadap diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal semacam itu dilarang.

Kiat Mengobati virus nyanyian dan musik.
Beberapa langkah yang dianjurkan, diantaranya:
1. Jangan mendengarkan musik, baik dari radio, televisi atau lainnya. Apalagi jika syair-syairnya tak sesuai dengan akhlak Islam dan diiringi dengan musik.
Di antara lawan paling jitu untuk menangkal ketergantungan kepada musik adalah dengan selalu mengingat Allah Subhanahu wata’ala dan membaca al-Qur’an, terutama surat Al Baqarah. Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya, “Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya surat Al Baqarah dibaca.” (HR. Muslim)

2. Membaca sirah Shallallahu ‘alaihi wasallam (riwayat hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Demikian pula sejarah hidup para sahabat beliau.

Nyanyian yang Diperbolehkan
Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan, yaitu:
1. Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadits A’isyah,“Suatu ketika Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke bilik ‘Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata, “… dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.”), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam justru bersabda, “Biarkanlah mereka karena sesung-guhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini.” (HR. al-Bukhari).

2. Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara (lagu) pada saat pernikahan.” (Hadits shahih riwayat Ahmad). Yang dimaksud di sini adalah khusus untuk kaum wanita.

3. Nasyid Islami (nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja sehingga bisa lebih membangkitkan semangat, terutama jika di dalamnya terdapat do’a. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenandungkan sya’ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung, “Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.” Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain, “Kita telah membai’at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad.”
Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersenandung dengan sya’ir Ibnu Rawahah yang lain,
“Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat.
Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu (musuh)
Orang-orang musyrik telah men durhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah, maka kami menolaknya.”
Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung, “Kami menolaknya,. ..kami menolaknya.”
(Muttafaq ‘Alaih)

4. Nyanyian yang mengandung pengesaan Allah Subhanahu wata’ala, kecintaan kepada Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menyebutkan sifat-sifat beliau yang terpuji; atau mengandung anjuran berjihad, teguh pendirian dan memperbaiki akhlak; atau seruan kepada saling mencintai, tolong- menolong di antara sesama; atau menyebutkan beberapa kebaikan Islam, berbagai prinsipnya serta hal-hal lain yang bermanfaat buat masyarakat Islam, baik dalam agama atau akhlak mereka.

Di antara berbagai alat musik yang diperbolehkan hanyalah rebana. Itupun penggunaannya terbatas hanya saat pesta pernikahan dan khusus bagi para wanita. Kaum laki-laki sama sekali tidak dibolehkan memakainya. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memakainya. Demikian pula halnya dengan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Orang-orang Sufi memperbolehkan rebana, bahkan mereka berpendapat bahwa menabuh rebana ketika dzikir hukumnya sunnat, padahal ia adalah bid’ah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Turmudzi, beliau berkata, “Hadits hasan sha-hih.”).(Tim Redaksi an-Nur)

Sumber:
Rasa’ilut Taujihat Al Islamiyah, 1/ 514 – 516.
Oleh:
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Syariah adalah Kewajiban June 8, 2009

Posted by informationmedia in syariah.
Tags: ,
add a comment

Posted: 07 Jun 2009 03:43 AM PDT

Sebuah kesimpulan yang salah jika dinyatakan bahwa kekalahan partai Islam menunjukkan syariah tidak laku. Sebab, bagi umat Islam, syariah bukanlah pilihan, tetapi kewajiban yang harus dilaksanakan. Karena itu, syariah Islam bukan ditawarkan, tetapi diwajibkan.

Sejak awal syariah diturunkan bukan untuk ditawarkan kepada manusia, namun diwajibkan atas seluruh manusia. Saat itu, memang sebagian masyarakat Makkah menerimanya, sedangkan kebanyakan menolaknya. Namun, pada saat itu tidak dikatakan bahwa Islam tidak laku, tetapi belum diimani banyak orang. Ini persis sama dengan kondisi sekarang; banyak yang sudah Islam, namun sebagian besar masih sekular.

Realitas masyarakat kita yang tidak tunduk pada syariah Islam menjadi bukti bahwa sebagian besar dari mereka masih belum mengimani syariah Islam sebagai satu-satunya problem solving dalam kehidupan. Penerimaan mereka terhadap syariah masih sedikit. Ini disebabkan oleh dua faktor: faktor internal dan eksternal. Faktor internal terutama karena dakwah kita yang tidak menekankan ketundukan pada syariah Islam sebagai bagian dari keimanan, tidak mampu menjelaskan Islam sebagai sistem kehidupan yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan manusia, serta banyak kompromi/toleransi antara yang haq dan yang batil dengan alasan kekinian yang darurat. Faktor eksternal terutama karena besarnya kekuatan kafir untuk menaklukkan Islam dan umat Islam secara sistematis; mulai dari pengetahuan hingga ekonomi, politik dan militer. Akibatnya, umat Islam hidup di dalam sistem kufur demokrasi; aturan dan ukuran keberhasilan ditentukan oleh demokrasi. Tak salah jika banyak orang terjebak dalam sudut pandang demokrasi berdasarkan suara terbanyak, bukan pada suara yang paling benar. Siapa yang memperoleh suara terbanyak menjadi pemenangnya; yang mendapat suara sedikit dikatakan jualannya tidak laku, termasuk dalam hal ini syariah Islam.

Untuk mengubah kondisi tersebut, gerakan yang dilakukan harus keluar dari jalan demokrasi dan beralih ke jalan perjuangan Rasul saw.. Dalam gerakannya, Rasulullah saw. menanamkan keimanan dan ketundukan pada syariah hingga mampu membangun sistem Islam, bukan ikut-ikutan sistem kufur yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada syariah Islam sebagai sistem kehidupan, tetapi hanya sebagai nilai-nilai spiritual saja. Islam harus ditampilkan sebagai sistem kehidupan yang jauh lebih baik daripada demokrasi, bukan sebaliknya; memperbaiki demokrasi dengan nilai dan moralitas Islam.

Saat realitas demokrasi tidak bisa menghadirkan kesejahteraan bahkan jadi biang kerusakan, kita sebagai bagian dari umat Islam yang menyakini kebenaran dan kemampuan syariah dalam mewujudkan kesejahteraan harus terus mengkampanyekan syariah itu wajib dan mensejahterakan. Dengan itu, sebagian besar umat Islam menerima dan menyakini bahwa hanya syariah Islam yang mampu menjadi satu-satunya harapan meraih kesejahteraan. Umat akan bersatu menuntut berlakunya syariah Islam atas mereka. Saat itulah akan berdiri Dawlah Islamiyah ’ala minhâj an-Nubuwwah: al-Khilâfah ar-Râsyidah. Amin. [Rokhmad Sigit, pengelola blog www.pinterpol.wordpress.com; tinggal di Mojokerto].

 

Kaidah Berpolitik June 8, 2009

Posted by informationmedia in politics.
Tags: , , ,
add a comment

Posted: 07 Jun 2009 03:44 AM PDT

Menjelang deklarasi capres dan cawapres baru-baru ini kita menyaksikan dagelan politik yang menyedihkan sekaligus memalukan. Setelah mengkritik habis, marah-marah, karena SBY akhirnya memilih Budiono sebagai cawapres, detik-detik akhir sejumlah partai akhirnya tetap bergabung ke kubu SBY. Jelas inkonsisten dan mencerminkan kuatnya magnit kekuasaaan dalam politik kita.

Kita mengerti, kekuasaan itu menawarkan segala hal, terutama uang dan jabatan politik. Namun, kalau itu membuat kita plin-plan dan menggadaikan ideologi kita, tentu sangat kita sayangkan. Sebab, sikap istiqamah untuk berpegang teguh pada kebenaran dan ideologi Islam adalah hal penting bagi setiap Muslim, sekaligus kunci kemenangan dakwah.

Dengan sikap plin-plan seperti ini partai-partai telah memberikan sebuah edukasi politik terhadap rakyat, bahwa dalam berpolitik yang penting adalah kursi, persoalan ideologi tidak penting. Padahal ideologi (mabda’) adalah prinsip penting yang menjadi pedoman dasar dan yang mengarahkan partai dan perjuangannya.

Dalam konteks perjuangan penegakan syariah Islam, sikap plin-plan seperti ini akan membuat umat bertanya-tanya. Begitu murahkah mabda’ (ideologi) dibandingkan dengan kursi? Sungguh berbahaya kalau umat kemudian menjadikan sikap plin-plan partai Islam menjadi sikap mereka. Bagaimana kita menginginkan umat bisa berpegang teguh dan kokoh pada akidah dan syariah Islam, sementara partai politik yang mengklaim menyerukan syariah Islam ternyata plin-plan?

Di sinilah, sangat penting untuk menyegarkan kembali kaidah-kaidah berpolitik dalam Islam. Pertama: kaidah as-siyâdah li asy-syar’i; kedaulatan di tangan hukum syariah (al-Quran dan Sunnah). Kaidah inilah yang paling utama. Seluruh aktivitas politik kita seharusnya berpedoman pada hukum syariah. Apa saja yang dilarang Allah Swt. harus kita tinggalkan. Sebaliknya, apa yang Dia diperintahkan harus dengan segera kita laksakan.

Terikat dengan hukum syariah adalah prinsip penting. Kaidah Mâ lâ yudraku kulluhu la yutraku jalluhu dalam masalah ini tidak bisa digunakan. Kaidah ini tidak boleh membuat kita toleran dengan pelanggaran hukum syariah atau menjadi pembenaran untuk menunda kewajiban. Dalam melaksanakan kewajiban dan menjauhkan larangan harus sesegera mungkin, tidak boleh ditunda-tunda, atau dilaksanakan bertahap (tadarruj) (Lihat: QS Ali ‘Imran [3]: 133; Tafsir Al-Baghawi, II/103).

Apalagi kaidah hukum syariah bukanlah dalil. Yang menjadi dalil hanyalah al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas Syar’i. Jadi, kalau sebuah kaidah menyebabkan pelanggaran terhadap hukum syariah (bertentang dengan dalil al-Quran dan as-Sunnah) berarti ada yang salah. Bisa jadi kaidahnya salah atau penggunaannya yang keliru.

Kedua: Haytsuma yakûnu as-syar’u takûnu mashlahah; di mana ada hukum syariah di situ ada kemaslahatan. Kemaslahatan (kebaikan) adalah sesuatu yang kita peroleh setelah kita menjalankan hukum syariah. Sebaliknya, kemadaratan (bahaya, keburukan) akan kita peroleh kalau kita melanggar hukum syariah. Bukan sebaliknya.

Sahabat telah memberikan contoh kepada kita.Rafi’ bin Khadij berkata, pamannya berkata—ketika Rasul saw. melarang mereka dari muzâra’ah/mukhâbarah, yaitu menyewakan lahan pertanian, “Rasulullah saw. telah melarang kami dari satu perkara yang bermanfaat bagi kami, tetapi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya lebih bermanfaat bagi kami.” (HR Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad).

Menjadikan kemaslahatan sebagai panglima dalam politik sangat berbahaya. Apapun bisa dibenarkan dengan alasan kemaslahatan meskipun bertentangan dengan hukum syariah. Kalau kita bergabung dengan pemerintah sekular yang tidak menjalankan syariah Islam, kan ada manfaatnya: kita bisa mendapat fasilitas ekonomi, beberapa kepentingan umat Islam bisa kita capai, dan lain-lain. Pernyataan seperti ini tertolak dalam pandangan hukum syariah. Sebab, kalau Allah sudah melarang kita, berarti pasti ada madaratnya. Lagipula, tidak ada kebaikan hakiki, termasuk untuk kepentingan umat, kecuali dengan berhukum pada hukum syariah. Imam Ibnu Katsir, saat menafsirkan surah Ali Imran [3] ayat 104 , mengutip riwayat dari Abu Ja’far al-Baqir, bahwa Rasulullah saw. saat membaca ayat tersebut bersabda, “Al-Khayr (kebaikan) adalah mengikuti al-Quran dan Sunnahku.

Menjadikan kemaslahatan sebagai panglima politik juga membuat kita plin-plan dan tidak istiqamah. Sebab, penilaian kemaslahatan politik, kalau berdasarkan akal manusia, pasti berbeda-beda dan berubah-ubah mengikuti perkembangan politik. Inilah yang membuat mengapa partai-partai Islam tampak kebingungan untuk mengambil sikap dalam politik. Kita akan konsisten dan tegas, tidak bingung, kalau kita menjadikan hukum syariah sebagai panglima politik kita.

Ketiga: al-ghâyah lâ tubarriru al-washîlah; tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara. Ini sangat berbeda dengan kaidah berpolitik dalam sistem kapitalis. Dalam prinsip politik kapitalis, segala cara boleh dilakukan asal bisa mencapai tujuan (the end justifies the means). Inilah prinsip rumusan Niccolo Machiaveli dalam karyanya The Prince (abad ke-16). Tidak heran kalau dalam iklim berpolitik seperti ini, tipu-menipu, pengkhianatan serta saling menjatuhkan dan menghancurkan dalam berpolitik menjadi biasa.

Dalam Islam, seluruh perbuatan kita harus terikat dengan hukum syariah baik dalam hal pemikiran (fikrah), tujuan (ghâyah), metode (tharîqah) sampai pada tingkat strategi yang teknis (uslûb). Pernyataan, “Ini kan hanya strategi dalam politik,” adalah tertolak jika bertentangan dengan hukum syariah atau melanggar yang haram. Karena itu, tidak boleh membenarkan pemimpin wanita dalam pemerintahan, berkoalisi dengan partai sekuler, menyembunyikan kewajiban menegakkan syariah Islam dan Negara Islam, dengan alasan itu sekadar strategi politik.

Kemenangan dari Allah Swt. hanya akan kita peroleh kalau kita berhukum dengan hukum syariah. Mustahil dengan strategi yang melanggar hukum syariah kemenangan hakiki berupa tegaknya kekuasaan Islam untuk menjalankan syariah Islam secara kâffah (menyeluruh) akan tercapai. [Farid Wadjdi]

Source: Hizbut Tahrir Indonesia

 

Mei, Amerika Serikat Lakukan 345 Ribu PHK June 8, 2009

Posted by informationmedia in Economics.
Tags: , , , , , , , ,
1 comment so far

Posted: 06 Jun 2009 01:46 AM PDT

Wapres AS Joe Biden menyatakan tingginya tingkat pengangguran bukanlah tujuan pemerintah.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja Amerika Serikat di bulan Mei dan pemotongan kerja yang lebih sedikit pada bulan belakangan sejak krisis keuangan ini memunculkan harapan yang lebih cerah. Pasalnya, terjadi pemulihan ekonomi di negara tersebut dan akan terjadi setidaknya tahun ini.

Namun, dengan masih enggannya perusahaan untuk memperkerjakan karyawan baru, tingkat pengangguran Amerika Serikat melonjak menjadi 9,4 persen dan sepertinya masih akan tetap bergerak naik hingga 2010. Atau, kemungkinan tidak akan banyak terpaut ketika pascaPerang Dunia II yang mencapai 10,8 persen.

Departemen Tenaga Kerja Amerika, seperti dikutip dalam laman Associated Press, melaporkan kondisi ekonomi telah membuat 345 ribu pekerjaan hilang pada Mei ini. Separuhnya dari jumlah pekerjaan yang hilang pada Januari 2009. Namun, laporan departemen tersebut juga menekankan betapa sulitnya bagi 14,5 juta pengangguran Amerika menemukan pekerjaan.

Sebanyak 345 ribu pekerjaan yang hilang tersebut menurun tajam dibandingkan angka pada April 2009 yang sebanyak 504 ribu. Namun, secara rata-rata terjadi penghilangan pekerjaan hampir 700 ribu per bulan selama kuartal pertama tahun ini.

Richard Yamarone, pengamat ekonomi dari Argus Research berharap tren menurunnya PHK akan terus berlanjut sepanjang tahun ini. “Dengan kondisi tak adanya tempat lagi untuk bekerja, tingkat pengangguran beranjak ke 9,4 persen dari 8,9 persen pada April. Itu merupakan tingkat tertinggi sejak Agustus 1983,” katanya.

Sejumlah pengamat ekonomi lain mengakui, tingkat pengangguran akan mencapai 10 persen pada akhir tahun ini dan akan tetap bertambah hingga 2010. Bahkan, beberapa mengatakan akan mencapai 11 persen, lebih tinggi dari tingkat pengangguran pascaPerang Dunia II sebesar 10,8 persen pada akhir 1982.

Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyatakan tingginya tingkat pengangguran bukanlah tujuan pemerintah. Dia mengatakan, pada Senin depan waktu setempat akan mengupayakan masalah ini ke dalam usaha stimulus presiden, termasuk di dalamnya pengeluaran yang lebih banyak pada proyek pemerintah. • VIVAnews

 

Satu dari tiga Muslim merasakan diskriminasi di Eropa June 8, 2009

Posted by informationmedia in politics, syariah.
Tags: , , , ,
add a comment

Posted: 06 Jun 2009 01:00 PM PDT

Sekitar 31 persen umat Islam di Eropa merasakan tindakan diskriminasi terhadap mereka pada tahun 2008, menurut sebuah survei Uni Eropa yang diterbitkan pada hari Kamis atas 23.500 orang etnis minoritas dan masyarakat migran. Sepuluh persen dari umat Islam yang menjadi korban prasangka ini meyakini bahwa hal ini terjadi karena masalah agama mereka, sementara lebih dari setengahnya merasa asal etnis adalah alasan diskriminasi itu, menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Fundamental Rights Agency Uni Eropa. Laporan tadi, yang merupakan kumpulan pendapat muslim yang tinggal di 14 negara di Eropa dan minoritas secara umum di 27 negara anggota Uni Eropa, menemukan bahwa hingga 81 persen orang yang diwawancara tidak melaporkan tindakan diskriminasi yang dialami. Seperlima korban yang melibatkan kaum muslim khawatir atas konsekuensi-konsekuensi negatif jika mereka melaporkan tindakan tindakan diskriminatif atas mereka. Retorika Anti-asing dan anti-Muslim, yang
dalam beberapa kasus melibatkan tindakan kekerasan, telah meningkat di beberapa negara menjelang pemilu parlemen di Eropa dan sebagian analis meramalkan terjadinya tindakan anti orang asing (xenophobia) dalam pemilu pada tanggal 4-7 Juni, 2009.(www.khilafah.com)

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.