jump to navigation

MENCINTAI ULAMA, MENINGGAL DALAM KEADAAN MULIA April 19, 2009

Posted by informationmedia in Hidayah.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

I. Awal Cerita

Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah swt tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan maupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barang siapa memiliki hati yang shaleh, maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertaqwa”. (HR. Ath-Thabrani dan Muslim)

 

            Hari kamis sore itu-lima puluh tahun yang lalu. H. Sholeh (58 thn) tengah asyik berkumpul bersama anak-anak dan isterinya. Mereka sedang melepas lelah setelah seharian bekerja. Rumahnya berada diantara deretan rumah penduduk yang padat, namun bersih dan sejuk serta tidak jauh dari jalan raya. Menjelang sinar matahari menghilang beliau makan bersama keluarganya. Badannya yang sehat tidak membuatnya pantang makanan tertentu.

 

            Selesai makan, adzan maghrib berkumandang. H. Sholeh segera bergegas mengambil air wudhu. Anggota keluarganya diingatkan untuk sholat maghrib berjamaah. Tak berapa lama dia pergi ke masjid yang jaraknya dekat dari rumah, dengan harapan agar bisa mendapatkan  shaf (barisan) pertama dibelakang imam. Waktunya banyak dihabiskan dimasjid, memang seperti itu kebiasaannya sejak dulu.

Selepas menunaikan shalat maghrib , lelaki kelahiran Bangkalan Madura itu kembali kerumahnya. Untuk mengisi kekkosongan waktu ia berbincang-bincang dengan anaknya, barangkali mereka punya masalah atau sekedar mendengarkan “curhatnya” (curahan hati). Keluarganya benar-benar harmonis, H. Sholeh bisa dikatakan seorang bapak yang sangat memperhatikan putra-putrinya.

 

            Tak terasa adzan isya pun mengalun keras menggetarkan jiwanya. Seketika dia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sorban untuk menunaikan shalat isya di masjid. Udara dingin kota Malang mulai berhembus pelan, H. Sholeh masih memiliki satu kegiatan sebelum merebahkan badannya di tempat tidur. Dia harus memimpin jamaah tahlil rutin di kampungnya setiap malam jum’at. Anggota keluarganya sudah mengetahui aktivitas tersebut. Tanpa meninggalkan pesan sedikitpun, dia ringan melangkahkan kakinya ke rumah salah satu warga yang malam itu mendapatkan giliran sebagai tuan rumah acara tahlil.

 

            Bapak Abdul selaku tuan rumah mempersilahkan jamaah yang datang duluan agar mengisi tempat didalam. Dia menyambut kedatangan H. Sholeh dengan senang hati, demikian pula dengan H. Sholeh yang senantiasa ramah dengan orang yang ditemuinya. Satu persatu jamaah tahlil lainnya mulai berdatangan memenuhi ruangan depan rumah bapak Abdul. Setelah dirasa semua anggota telah hadir, acarapun dimulai.

Susunan acara berjalan dengan lancar satu demi satu, H. Sholeh sebagai salah satu pengurus jamaah tahlil memberikan sambutan dan ceramah sebagaimana lazimnya. Dia mengingatkan agar jamaah tahlil yang sudah berjalan lama supaya tidak berhenti ditengah jalan. Maksudnya jangan sampai bubar, untuk itulah dia menginginkan diantara anggotanya tetap menjaga persatuan. Selanjutnya acara ditutup dengan do’a dan ramah tamah.

 

            Tuan rumah mengeluarkan hidangan makanan untuk menjamu jamaah, beragam jenis kue dan snack tersaji, tak ketinggalan minuman disuguhkan. Obrolan jamaah berjalan kesana-kemari, suasanya akrab. Beberapa menit kemudian kira-kira pukul sembilan seperempat, H. Sholeh yang masih duduk bersilah, kepalanya menunduk pelan kedepan. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya namun nafasnya agak sedikit berat seperti orang hendak tidur. Dia kehilangan keseimbangan lalu jatuh kepangkuan orang yang duduk disebelah kanannya.

 

Anggota jamaah lainnya yang hendak menikmati makanan tersentak kaget. Terjadi kegaduhan sekaligus kekhawatiran, mereka menanyakan apa yang sedang terjadi pada diri H. Sholeh, kebetulan di sebelah kanan tempat duduk H. Sholeh ada seorang mantri yang bekerja di rumah sakit, Bapak Yono. Yono segera memeriksa dan menyarankan agar H. Sholeh dibawa ke rumah sakit terdekat.

 

            “Saya melihat ada tanda-tanda bapak telah meninggal dunia, sebab kakinya sudah dingin. Karena takut mati suri atau khawatir tuan rumah nanti yang disalhkan, akhirnya bapak dibawa ke rumah sakit, padahal bapak sudah wafat”, tutur Abdurrahim (40 tahun), salah seorang anak H. Sholeh. Dugaan anaknya ternyata benar, jamaah yang berjumlah 70 orang yang hadir pada malam itu  tidak menyangka kalau H. Sholeh akan cepat pulang kepangkuan ilahi rabbi tanpa meninggalkan isyarat apapun. Jamaah akhirnya secara bersamaan melayat ke rumah almarhum untuk mendoakannya. Banyak orang yang terkejut dengan kepergiannya yang terkesan mendadak. Mengingat hari sudah malam, jenazah disemayamkan dirumahnya. Keesokan harinya selepas shalat Jum’at, masyarakat berbondong-bondong mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Antusias masyarakat yang sangat tinggi menunjukkna kalau mereka memiliki hubungan yang sangat baik dengan almarhum.

 

            “Beliau meninggal dunianya bisa dikatakan dalam keadaan mulia, karena berada ditempat yang baik, yakni acara jamaah tahlil dan kejadiannya malam Jum’at. Semua itu karena mungkin beliau memiliki keistimewaan tersendiri. Meski ilmunya pas-pasan atau seadanya tapi beliau mau mengamalkan”, kata ustad Zaenal Fanani (35 tahun), saksi mata yang duduk di sebelah kiri almarhum.

 

Menurut pengakuan keluarganya, selama hidup beliau tidak pernah mengeluh atau mengalami sakit parah yang mengharuskannya pergi ke rumah sakit, seperti mengidap penyakit jantung. Kalaupun sakit, umumnya pilek yang mengganggu tenggorokannya dan hidungnya karena kecapeaan, kurang istirahat maupun perubahan cuaca. Almarhum memang pandai membagi waktu menjaga kesehatan fisik dan mengatur makannya. Berita wafatnya jelas membuat keluarganya shock berat, seakan mereka masih tak percaya dengan kenyataan yang terjadi, namun apa mau dikata, Tuhan Maha Tahu segala hikmahnya.

 

II. Menjamu Ulama

            H. Sholeh Muslih yang bernama asli Marhawi adalah orang madura, isterinya dua, satu bernama Mariah yang mempunyai sepuluh anak dan dari isteri kedua, dia memiliki delapan putera puteri. H. Sholeh yang biasa dipanggil abah diakui anggota keluarganya memiliki sifat adil dan bijaksana yang benar-benar diterapkan kepada siapa saja. Kenyataannya hampir seluruh kebutuhan dua keluarganya dipenuhi dan hingga sekarang hubungan mereka sangat rukun.

 

            “Abah mengutamakan pendidikan agama kepada anak-anaknya, menurut beliau kalau ilmu agama sudah dipegang, dunia bisa ikut dan berwibawa dimata masyarakat”, tutur Abdurrahim, anak kedua dari isteri tuanya.

 

H. Sholeh dibesarkan dikota yang terkenal dengan tradisi Karapan Sapinya, baginya tanah Madura gersang. Tidak ada pilihan lain selain merantau (hijrah). Dia mencari rezeki sambil berdakwah menyebarkan agama Islam di kota Malang. Lelaki yang pernah belajar di pesantren ini termasuk pekerja keras, untuk menghidupi keluarganya dia berdagang apa saja asalkan halal.

 

            Awalnya dia mulai menjual beragam jenis pakaian dan aneka macam plastik. Tentu banyak kendala yang dihadapinya, seperti sepinya pembeli, maklum pedagang baru, sehingga penghasilannya kurang memenuhi kebutuhan harian keluarganya. Namun dia pantang menyerah, jiwa merantau dan mengusung misi dakwahnya tetap menyala. Setiap orang yang singgah di tokonya akan diberi wejangan (nasihat) singkat. Umpamanya dia mengingatkan pembeli agar menyisihkan sedikit uang untuk pembangunan masjid atau memberikannya kepada anak yatim, jika ada lebihan. Dia ingin berdagang seraya memperoleh pahala.

 

            Setelah kedainya berkembang dan berjalan sukses dalam waktu yang tak sebentar, dia menyerahkan usahanya kepada anaknya untuk diteruskan. Dia mengharapkan anaknya memakai metode yang sama dalam berdagang, yakni kejujuran. Sedang dia membuka usaha baru yakni toko material yang menjual genteng, keramik, pasir, semen dan kebutuhan bahan bangunan lainnya. Disamping itu menyebarkan ajaran agama Islam tidak lepas dari cita-citanya.

 

Dia mencoba meniru cara berjuan, berdakwah dan gaya hidup yang pernah dilakukan Rasulullah saw, meskipun dirinya menyadari tak bisa sesempurna beliau. Untuk urusan shalat wajib lima waktu, dia berusa berjamaah di masjid dan mencari posisi di depan,  kadang-kadang menjadi imam, kalupun sudah ketinggalan shalat berjamaah, dia mengadakan sendiri dirumahnya bersama isteri dan anak-anaknya. Bisa dibilang H. Sholeh jarang shalat fardhu sendirian. Puasa sunnah senin dan kamis maupun puasa sunnah syawal sudah menjadi kebiasaannya. Demikian pula shalat tahajjud setiap pukul tiga dini hari telah menjadi tradisinya.

 

            Meski pernah mengenyam pendidikan pesantren dia selalu meras kurang puas dengan ilmu agama. Tanpa mengenal waktu dan tidak malu dengan usia, dia belajar kepada siap saja yang dianggapnya bisa. Mendekati para Kyai maupun ulama adalah kegemarannya. Setiap menghadiri majelis, dia berusaha duduk di depan. Setelah mendapatkan ilmu dia langsung menyampaikannya kepada orang lain, seolah ilmu sangat penting dari hal yang lainnya.

 

H.Sholeh sangat menghormati dan mencintai ulama. Lelaki bertubuh pendek kecil namun gesit itu tidak membedakan antara panggilan ustad, kyai dan ulama. Dalam pandangannya kedudukan mereka sama tinggi karena mereka orang-orang yang memiliki ilmu agama yang memang patut dihargai. Dia selalu menunjukkan sikap tawadhu’nya (rendah hati) dihadapan mereka. Apa yang mereka katakan dan berkaitan dengan agama selalu diikutinya. Dia kerap bertanya mengenai persoalan sepele yang sebenarnya sudah banyak diketahui masyarakat.

 

            Sebagai bukti kecintaannya kepada ulama, dia senantiasa menawarkan diri menjadi pencari mubaligh bagi kegiatan masjid dan jamiyahnya. Ongkosnya dari kantong sendiri, tak heran jika hampir semua ulama di Malang pernah disinggahi dan di”ambil” ilmunya. Tidak hanya itu, ulama yang telah memberikan ceramah bersama panitia dan takmir masjid yang semuanya berjumlah lebih dari tiga puluh orang diundang kerumahnya untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Untuk kesekian kalinya biaya ditanggung sendiri.

 

            Begitu juga pada hari jum’at. Setelah selesai shalat jum’at, dia mengajak dan menjamu khotib (orang yang berkhotbah), imam jum’at beserta muadzinnya (tukang adzan) dan ulama-ulama yang ada dikampungnya untuk makan bersama dirumahnya. Apalagi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, rumahnya benar-benar penuh dengan orang-orang alim. Praktislah suasananya ramai seperti keluarga yang sedang menyelenggarakan hajatan. Rupanya tradisi ini telah dijalankannya sejak lama dan sekarang diteruskan oleh anak-anaknya.

 

 

III. Ikhlas Demi Masyarakat

            Perjuangan hidup pria yang pernah satu kali ibadah haji ini senantiasa dilakukan bersama dan untuk masyarakat. Lelaki yang kurang mahir berbahasa jawa dan sering diselingi bahasa Madura itu memang senang bergaul, bergurau dan bisa menempatkan diri. Wajar kiranya jika wibawanya muncul, pribadinya cukup disegani orang yang mengenalnya dan dianggap sebagai tokoh masyarakat.

 

            Setiap bertemu orang, dia senantiasa menitipkan pesan moral yang berkaitan dengan agama. Kerap pula dia mendatangi rumah warga yang jarang keliahatan dimuka umum, hal ini menunjukkan kepedulian dan sikap solidaritasnya yang masih tinggi. “Misalnya saya sering shalat jamaah di masjid, tapi tiba-tiba beberapa hari belakangan saya tidak muncul di masjid. Beliau itu biasanya langsung menanyakan keadaan saya. Saya sendiri sampai gumun (heran), sampe segitunya perhatian dan keikhlasan beliau terhadap warga”, papar Zaenal Fanani yang membuka pengajian anak-anak dirumahnya.

 

            Kejujurannya dalam bergaul, keberaniannya dalam berbuat benar dan istiqomahnya dalam bersikap membuat masyarakan percaya kepadanya. H. Sholeh diberi tugas untuk mengurusi berbagai organisasi dan jamiyah warga. Meski tidak sempat menimba ilmu di perguruan tinggi, dia mampu mengemban amanat tersebut. Ketua tanfidiyah tingkat kelurahan sekitar 8 tahun, ketua jamiyah tahlil, ketua jamiyah yasin, ketua hafidz qur’an bin nadhar sampai menjadi pejabat kecamatan pernah dilewatinya.

 

            Sebagai contoh, H. Sholeh pernah mengikuti satu jamiyah. Jamaah yang tercatat lebih dari lima puluh orang, namun karena ada beberapa orang yang telah meninggal dunia dan sebagian lainnya keluar dengan berbagai alasan, akhirnya jamaah yang tersisa sekitar sepuluh orang. Sementara dia menginginkan agar jamiyah jangan sampai bubar. Baginya, kebersamaan warga yang terkumpul dalam sebuah wadah sangatlah penting. Kemudian dia dipercaya dan diangkat  menjadi ketua jamiyah. Lambat laun jamaahnya bertambah banyak lagi, rupanya metode yang digunakan beliau untuk menarik anggota baru dan mengaktifkan anggota lama adalah mendatangi rumah warga satu persatu. Ternyata cara tersebut efektif dan berhasil.

 

            “Kalau jamaah yang tidak hadir, beliau setelah acara secara jamiyah mendatangi rumah orang tersebut dan menanyakan kabarnya. Biasanya pertama ngomongin kerjaan dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia. Baru kalau ngobrolnya sudah asyik, mulai menyinggung kegiatan jamiyah dan agama. Jadi sebagai ketua beliau benar-benar menjadi pelayan bagi yang dipimpinnya”, tutur Zaenal Fanani.

 

Sebagai seorang pimpinan, perilakunya patut dicontoh. Apa yang disampaikannya dihadapan masyarakat sesuai dengan isi hatinya. Karena itulah, apapun yang dilakukannya semata-mata ikhlas lillahi ta’ala. Misalnya H. Sholeh menyuruh warga untuk beramal shaleh dengan infak dan shodaqoh, sebelum mereka melaksanakan, dia terlebih dahulu melakukannya. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan lainnya, umpamanya ada pembangunan masjid, dia secara langsung ikut terlibat melakukan pengecoran selain mencari dana karena dia tercatat sebagai pengurus masjid.

 

            Selain itu H. Sholeh sangat memperhatikan generasi penerusnya, sebagai orang tua (sesepuh) dirinya menyadari potensi yang dimiliki kaum muda. Pengkaderan yang dilakukannya sangat baik, contohnya dia memberikan kesempatan kepada anak muda yang mempunyai modal pendidikan pesantren untuk tampil di masyarakat. Awalnya mereka dijadikan pembawa acara atau MC (Master of Ceremony) dalam sebuah acara. Setelah mentalnya kuat, mereka diberikan waktu untuk memberikan sambutan, bahkan ceramah.. Gampangnya generasi muda dimunculkan dengan bermacam latihan dan kegiatan.

 

            Mengingat ekonomi keluarganya mapan, setiap jum’at H. Sholeh tak segan-segan membantu janda-janda tetangga rumahnya yang kurang mampu, baik berupa uang maupun makanan, ada pula yang diberikan modal agar bisa membuka usaha kecil-kecilan. Untuk menghindari fitnah, dirinya sering kali menyalurkan sumbangan melalui organisasi dan lembaga. Namun ada juga yang langsung diserahkan secara pribadi. Sementara itu setiap kali pulang kampung Madura, dia menyempatkan diri bersilaturahim dan mengunjungi seluruh sanak kerabatnya yang lama tidak berjumpa, walaupun hanya dua menit.

 

            Kini almarhum H. Sholeh telah pulang kerahmatullah. Banyak kenangan yang tetap membekas di benak masyarakat sekitarnya maupun kebaikan yang patut kita teladani bersama. Hari-harinya dipenuhi dengan amal dan dihiasi akhlak nan mulia. Beliau memiliki karya dan semangat yang luar biasa. Rasanya, kesempatan hidup sekali yang telah diberikan Allah Yang Maha Kuasa tidak disia-siakannya. Akan tetapi kita harus menyadari sebagai manusia tentu saja H. Sholeh memiliki khilaf dan kesalahan. Adakah harapan beliau yang belum tercapai dan patut kita renungkan?.

“Saya masih ingat, dulu abah pernah berpesan jangan sampai ada diantara anggota keluarga, warga masyarakat dan umat Islam terjadi tawuran (perkelahian yang menyebabkan perpecahan). Menurut abah yang penting Islam maju”, ucap Abdurrahim, ketika menutup pembicaraannya. Semoga.

About these ads

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: